Sugar Daddy

Sugar Daddy
#cinta yang bagaimana#


__ADS_3

sementara Lala, masih diam hingga Ardi, semakin dekat.


"selamat untuk kebahagiaan Anda, tuan semoga langgeng tidak usah khawatir, saya akan melakukan apa yang anda perintahkan"ujar Lala, sambil beranjak pergi.


"apa itu benar??"ucapan Ardi terjeda apa kamu akan melakukan apapun yang ku perintahkan??"ujar Ardi.


"ya tuan "ujar Lala,dingin.


"apa kamu akan melakukan hal itu, jika aku pinta"Ardi menunjuk ke arah ombak.


"apa yang anda minta tuan"ujar Lala.


"aku minta kamu bunuh diri, bagaimana??"ujar Ardi,sambil menatap wajah wanita yang sangat ia rindukan itu.


"baiklah tuan"ujar Lala,sambil berjalan cepat menuju deburan ombak, hingga setengah badan nya hampir tenggelam, tiba-tiba saja lengan kokoh itu merangkul nya, dan langsung menyeretnya ke tepian .


"apa kamu gila,atau bodoh heuhhhhh,ini yang kamu katakan bahagia??"ujar Ardi.


"sesuai permintaan anda, akan aku lakukan, karena, saya hanya budak yang terikat kontrak kerja di sini, apa pun perintah tuan muda akan saya lakukan"ujar Lala,datar tanpa ekspresi.


"aku bukan tuan mu, camkan itu, tidak kah ada sedikit rasa untuk ku, setidaknya walaupun hanya seujung kuku saja"ujar Ardi, sambil menggenggam kedua bahu Lala, tapi wanita itu hanya menggeleng, tiba-tiba saat Ardi , hendak memeluk nya Aira datang, dia langsung memeluk Ardi.


"sayang kamu sedang apa di sini heummm, aku mencari mu aku tidak bisa tidur,eh... kamu ko basah begini, kenapa ?!main Air, malam begini, nanti kamu bisa masuk angin"ujar Aira, sambil memeluk erat tubuh Ardi.


sementara itu Lala, langsung bergegas pergi lewat samping mereka, hingga tangan Ardi , berhasil menggenggam tangan Lala, padahal sebelahnya lagi, tengah memeluk Aira.


Lala, langsung berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Ardi, hingga lengan nya terasa sakit, mungkin tergores kuku Ardi, dan tangan kekar nya itu.


setelah lepas, Lala, langsung pergi berlari menuju rumah belakang, tanpa siapapun tau mereka mungkin sudah terlelap semua.


Lala, langsung membersihkan diri di bawah guyuran air shower, yang hangat, jangan lupa di sana mereka di perlukan sama oleh Edgardo, pasilitas kamar yang nyaman, untuk para pelayan, Edgardo, tidak ingin ada pelayan yang merasa tidak nyaman, saat bekerja dengan nya.


Lala, menangis tanpa suara di bawah guyuran shower, saat ini dia ingin sekali pergi, tapi tidak mungkin bisa untuk membayar denda sebuah kontrak kerja, karena ,uang nya tidak cukup untuk itu.


Lala, pun membaringkan tubuhnya di kasur, saat setelah mengeringkan rambut nya saat itu juga, dia berusaha memejamkan mata, tapi yang ada malah air mata nya yang masih mengalir deras, saat ini.


"tuhan kuatkan aku untuk melewati semua ini, aku rela,kan dia bahagia bersama dengan nya, aku ikhlas tuhan, tapi aku mohon, jangan buat dia terus menujukan rasanya yang lalu terhadap ku, aku tidak sanggup"gumam nya lirih.


Lala, pun tertidur pulas di sela, Isak tangis nya, dia sangat lelah jiwa raga nya saat ini hingga pagi menjelang, saat ini jadwal dia memasak untuk sarapan pagi, Lala pun di bantu seorang pelayan lainnya untuk menyiapkan sarapan paforit, Ardi dan Aira, saat itu juga, hingga selesai, tepat pukul tujuh, Aira, dan Ardi,tampak lebih segar saat ini mereka sudah duduk di kursi meja makan tersebut, dan Lala, langsung menyiapkan sarapan untuk tuan muda nya dan tunangan nya itu.


"jika tidak ada lagi yang anda perlukan saya permisi tuan muda"ujar Lala.


"tetap di sini sampai saya selesai sarapan"ujar Ardi,tegas.


Lala, hanya mengangguk pasrah, sambil berdiri di samping mereka, Aira, menyuapi Ardi, dengan sendok bekas nya, saat itu dan Ardi menerima nya dengan sangat bahagia, hingga isi piring keduanya tandas Ardi, meneguk jus jeruk hingga habis, tapi Aira, tiba-tiba, membuat ulah dengan menyemburkan cairan yang sedang dia minum kearah Lala, sambil menggebrak meja.

__ADS_1


"minum macam apa heuhhhhh, yang kamu siapkan untuk ku, hingga rasanya sangat aneh,kau tidak becus bekerja,lalu untuk apa masih ada di full house ini"ujar Aira, sambil bertolak pinggang, sementara Lala, masih mengusap cairan di wajah nya, yang di semburkan secara sengaja oleh Aira,sambil meminta maaf, atas kesalahan yang tidak pernah ia buat sama sekali.


"maaf nona, muda tadi semua nya sudah benar-benar di perhatikan mungkin saya yang salah maafkan saya nona muda"ujar Lala , sambil membungkuk, sementara itu Ardi, mengepalkan tangannya di bawah meja, dia begitu merasa sakit, melihat, Lala, yang pasrah dengan perlakuan Aira, saat ini.


"sudah kau bisa pergi, sekarang,biar yang lain yang membereskan semua kekacauan ini"ujar Ardi.


Lala, pun pergi, saat itu juga dia langsung bergegas menuju rumah belakang, dan tidak kembali, sampai jam untuk nya, sarapan pagi pun terlewat dan kini hampir jam makan siang,


Ardi, menyibukkan, diri nya dengan pekerjaan nya yang ia bawa kemari saat ini Ardi, bahkan tidak tau kalau Lala, bahkan tidak ikut sarapan ataupun makan siang dengan rekan nya, saat di dapur, Ardi turun di temani oleh Aira, saat ini sambil bergelayut manja di lengan Ardi, setelah tiba di meja makan, semua pelayan langsung menghampiri dan menyiapkan makan siang untuk mereka berdua, Ardi, melihat wajah-wajah tanpa suara itu, tapi yang ia cari bahkan tidak ia temukan.


sementara itu Lala, tengah duduk di bawah pohon rindang,di samping rumah belakang di sana terdapat ayunan dia duduk di atas nya, sambil melamun, bahkan tidak jarang Air mata nya menetes tanpa permisi, selama dia bekerja,baru kali ini dia diperlakukan seperti sampah, oleh tamu maupun majikan nya langsung.


Lala, masih setia dengan lamunan dan air mata nya, saat ini hingga, seorang wanita paruh baya datang, memberikan nampan berisi makanan, sesuai perintah Ardi, bahkan di situ ada tulisan tangan, Ardi.


"aku tidak suka melihat, orang menyiksa diri sendiri, jika benar kau bahagia, dengan menjauhi ku maka buktikanlah ucapan mu itu, ingat tinggal beberapa hari lagi, aku akan menikah dengan nya, jadi kamu tidak boleh sakit atau pun beralasan lain aku ingin kau ikut andil dalam persiapan pesta ku nanti.


"BI... tolong bawa kembali makanan itu, aku sudah kenyang"ujar Lala,lirih.


"Lala, kamu belum makan sedari pagi dari mana kamu kenyang"ujar pelayan paruh baya tersebut.


"bibi lihat ini, aku masih punya banyak stok di kamar ku"ujar Lala,sambil memperlihatkan plastik, bekas roti, yang ia simpan untuk berjaga jika di perlukan, padahal dia sama sekali tidak makan apa pun sedari pagi, Lala, berjalan menuju kamar nya, dan langsung mengambil botol air mineral, saat itu juga.


sementara si full house, Ardi melempar nampan tersebut dia marah, karena tidak sedikit pun niat baik nya di terima, Ardi langsung pergi menuju kediaman Lala, dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


🌹💖💖💖🌹


sementara itu Ardi, hanya menatap tajam kearah wanita yang kini masih membuang pandangannya ke arah lain.


"katakan,kalau kamu cemburu, dan katakan bagaimana rasanya sakit bukan,lalu kenapa kamu terus-terusan menolak ku, kenapa??"ujar Ardi.


"aku tidak ada hak untuk cemburu tuan,memang nya, siapa aku?? aku bukan siapa-siapa, dan keberadaan ku di sini hanya seorang pelayan, jadi tidak ada hak untuk saya cemburu tuan, dan anda keliru, jika anda bilang saya tersakiti,saya bukan"ucapan Lala, terhenti, karena Ardi, mencium bibir nya saat itu juga, dengan sedikit kasar, hingga, tetesan air mata Lala,jatuh seketika.


Lala, mendorong dada bidang Ardi,agar menjauh dari hadapan nya, saat itu juga.


"apa aku serendah itu di mata anda tuan, hingga kau tega memperlakukan aku seperti ini, apa aku seperti ******,hiks hiks hiks hiks"Lala, berlari menuju kamar mandi, dia membasuh wajah nya berkali-kali, dan mengusap bibirnya kasar, dia terduduk di lantai kamar mandi tersebut, Isak tangis nya, sengaja ia tahan agar tidak ada yang mendengar termasuk Ardi, yang kini berdiri dan mengetuk pintu yang terkunci tersebut.


"La...buka pintu nya, aku mohon jangan begini, apa susah nya, kamu berkata ia, jangan pernah berpaling dari ku lagi la, aku mohon, aku sayang kamu Lala, aku sudah berusaha untuk yang terbaik demi cinta kita, Lala.... cepat keluar, dan katakan jika kamu memiliki rasa yang sama dengan ku, tapi jika tidak kamu boleh tidak keluar"ujar Ardi, sambil menghapus air mata nya saat itu juga.


setelah menunggu hampir satu jam, Ardi pun, melangkah pergi menuju full house , sementara Lala, langsung keluar dari kamar mandi, biarlah Ardi, menganggap nya, tidak punya perasaan lagi, yang penting Ardi, bahagia bersama dengan Aira, yang tinggal beberapa hari lagi.


sementara itu Lala, tiba-tiba saja mendapatkan telpon bahwa,sang ibu masuk rumah sakit, saat itu Lala, langsung menghubungi Edgardo, walaupun dia sadar kontrak kerja nya belum berakhir, Lala, menangis di telpon Edgardo,pun memberikan dia izin untuk kembali pada keluarganya, bahkan ia membebaskan diri nya dari denda, karena Edgardo, sudah buat berbagai pertimbangan saat ini dia tau Ardi, sedang merencanakan pernikahan nya di rumah nya tersebut, dan Edgardo, bukan manusia kejam, dia tau Lala, akan semakin tersakiti jika dia tetap mempertahankan nya di sana.


Lala, pun berkemas, saat itu juga, dia bahkan berpamitan kepada seluruh pelayan dan scurity di sana, karena saat ini dia akan pulang untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi, sementara itu, Ardi, hanya bisa menahan gejolak di hati nya saat ini,antara marah tidak rela rindu dan benci, menjadi satu Ardi , sangat berharap Lala, datang ke pelukan nya saat ini juga, tapi sayang harapan tinggal harapan, Ardi hanya bisa memandangi wanita yang ia cintai pergi.


"harus dengan cara apa aku, membuat mu tetap berada di samping ku Lala, rasanya aku sudah tidak sanggup lagi, seperti ini terus, aku tau cinta kita masih ada di hati mu,tapi kenapa La... kenapa kamu begitu keras kepala, hanya karena Daddy, sempat mempertanyakan keraguan nya saat itu juga kamu langsung menyerah begitu saja"Gumam, Ardi lirih.

__ADS_1


kini Lala, sudah berada di halte bus, untuk kembali ke kampung halaman nya, saat itu juga, dengan berbekal ongkos, seadanya, karena Lala, tetap menitipkan uang, sebagai bayaran denda, untuk tiga Minggu, kedepan, walaupun masih kurang, dia menitipkan nya di. scurity.


"bismillah, semoga semua nya lancar,ibu semoga ibu sehat seperti sedia kala, Lala, benar-benar rindu ibu, aku mohon bertahan dan tunggu Lala, kembali"Gumam, Lala, sesaat setelah menaiki bus tersebut menuju Palembang.


sementara itu, Ardi, saat ini langsung bergegas menuju Jakarta, bersama dengan Aira, bukan tanpa alasan, Ardi, sudah muak dengan rengekan Aira, yang tidak bisa mengerti dirinya, Ardi, bahkan mengundurkan jadwal pernikahan nya saat itu juga.


dengan alasan, bahwa, Aira, masih belum siap untuk di jadikan istri, karena sikap manja yang sangat keterlaluan menurut nya, hingga pihak keluarga Aira, memohon,agar Ardi, bersabar dan tidak membatalkan pernikahan mereka walaupun jadwal nya di undur enam bulan lagi.


sebenarnya ada alasan lain,di hati Ardi, saat ini dia tidak pernah menginginkan pernikahan tersebut, sekalipun terjadi, Ardi sudah menyiapkan surat perjanjian untuk mereka nanti.


satu bulan sudah berlalu, dari semenjak kepergian Lala, Ardi, semakin gila kerja, hingga berkali-kali, hampir masuk rumah sakit akibat kelelahan, Ardi, sudah tidak ingin hidup lagi jika Lala, benar-benar tidak bisa ia miliki, entah kenapa rasa cinta nya terhadap Lala, begitu besar, padahal dulu Lala, adalah wanita yang sering ia kerjain bersama dengan Ardan, mungkin kah ini karma untuk nya.


"Lala, apa kamu baik-baik saja di sana, apa aku masih ada di hati mu, saat ini, hiks hiks hiks hiks"Ardi, menangis, dalam sepi di apartemen nya sambil menyesap minuman beralkohol yang sudah habis sembilan kaleng saat ini.


sementara itu Lala, tengah berduka, saat ini ibu yang selama ini merawat nya,kini telah berpulang ke pangkuan illahi, segala cara sudah dilakukan oleh Lala, termasuk meminjam uang kepada rentenir, untuk biaya operasi ibunya, tapi nihil semua tidak ada gunanya,sang pencipta lebih sayang pada ibunya dibandingkan dengan segala pengorbanan nya saat ini.


semua ladang dan rumah satu-satunya yang kini ia tempati bersama dengan kedua adiknya, yang masih sekolah, dan sangat membutuhkan kasih sayang ibunya,kini sudah di segel oleh rentenir tersebut, hingga, mereka terpaksa harus segera pindah, dari rumah yang penuh kenangan tersebut.


Lala, membawa serta kedua adiknya,ke Bandung, rencana nya dia akan mencari kerja di sana, dengan bantuan sahabat nya, saat ini, dan dia akan mengontrak rumah dengan uang sisa ibunya berobat.


sesampainya di Bandung, Lala, dan kedua adiknya saat ini di jemput oleh sahabat Lala,yaitu Rido, dia langsung di bawa untuk mencari kontrakan yang harganya paling murah, tapi nyaman untuk mereka tinggal bertiga, saat ini bahkan adik bungsu nya, berusia lima belas tahun dan sudah lulus SMP, sementara adik pertama nya, Reza, yang kini harus nya bersekolah, SMA,kelas dua dia dinyatakan lumpuh dan harus memakai kursi roda untuk beraktivitas, sehari-hari nya.


Lala, adalah kakak, yang sangat bertanggung jawab, dia tidak serta-merta meninggalkan mereka berdua, dalam keadaan seperti itu, baginya, susah senang mereka akan tetap bersama, seperti saat ini, Reza, yang sering melamun sendiri karena ketidak berdayaan nya saat ini, Lala, tidak pernah membiarkan itu terjadi, Lala, selalu memberikan dia semangat.


"Reza, apa pun yang terjadi, selama kakak, masih bernyawa, kakak, tidak akan pernah membiarkan kalian berdua, kekurangan, kakak, akan berjuang hingga titik darah penghabisan, hanya kakak, minta bangkit lah dan semangat untuk sembuh,biar bagaimanapun kakak, hanya punya kalian,di dunia ini, jika kamu pun , menyerah lalu untuk apa kakak, hidup dan berjuang selama ini"ujar Lala.


"kakak aku hanya beban untuk kalian berdua"jawab Reza.


"hey, sayang kamu sayang kakak, bukan ayo katakan kamu sayang kakak, bukan ingat kah pesan terakhir ayah, bahwa kita, harus tetap bersama dalam keadaan apapun, dan kakak, ingin kamu tetap semangat, kita berjuang sama-sama "ujar Lala, sambil memeluk erat adiknya itu, dan Rara, juga memeluk kedua kakak nya itu.


"dengar kan kakak, mulai besok kakak, akan sibuk bekerja, dan tugas kamu Ra... sepulang sekolah, kamu harus menjaga kakak, Reza"ujar Lala.


"Rara, tidak ingin sekolah lagi kak,biar Rara, merawat kak, Reza,di rumah sambil jualan nasi uduk"ujar Rara.


"sayang, kamu masih kecil, sebaiknya lanjutkan pendidikan mu,soal kakak Reza, kakak, sudah menyuruh orang untuk menjaga nya, sewaktu kakak, kerja, dan kakak, harap kamu tetap sekolah Ok,ayo bantu kakak, jangan buat kakak, merasa berdosa, pada ayah dan ibu"ujar Lala, dan mereka pun setuju, saat ini adalah makan malam pertama bagi mereka, saat ini Lala, menyuapi Reza, walaupun Reza, bisa makan sendiri, karena hanya, kakinya yang lumpuh.


mereka pun, tidur di kamar yang terpisah, tepat nya Reza, yang beda kamar karena dia laki-laki seorang,di rumah tersebut, saat ini dengan alas tidur seadanya, mereka tertidur saking lelahnya, setelah perjalanan jauh.


ke esokan pagi nya, setelah Lala, mendapatarkan Rara,di SMA, negeri, di daerah tersebut, Lala, langsung bergegas menuju tempat kerja nya,yaitu sebuah kafe, yang lumayan mewah, dia di bantu oleh rekan nya saat ini.


Lala, tidak lupa mengirim pesan pada adiknya Reza, untuk makan siang, karena, sebelum pergi Lala, sudah menyiapkan nya di meja, meskipun makanan tersebut, sudah dingin, tapi itupun mereka syukuri sebagai nikmat yang Tuhan berikan.


sementara itu di sekolah, Rara, hanya membeli roti coklat, untuk mengganjal perut, dia tidak ingin menyusahkan kakak , pertama nya karena dia tau Lala, belum memiliki uang.


Sore, pun tiba, mereka pun kembali berkumpul saat ini mereka bahkan makan bersama, Lala, tidak lupa bertanya bagaimana hari, pertama mereka tinggal di Bandung, dan hanya itu salah satu cara,agar ia tau apa yang di rasakan oleh adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2