
Kurasakan tubuh ini sudah tak bergerak. Dengungan dalam telinga pun berhenti. Pastinya mobil sudah sampai di tempat tujuan mereka. Pria yang memborgolku, menarik lenganku ke luar mobil.
Tercium aroma berbagai macam angg*r dan k*ktail yang sangat pekat, bercampur musik keras yang bisa membuat badan ikut bergoyang mengikuti iramanya. Tebakanku, tempat ini adalah Bar atau N*ght Cl*b.
“Boneka baru?” Suara seorang pria menyambut kedatanganku.
“Ya, begitulah. Sampai Daddy menerjunkannya ke lapangan,” jawab pria di sampingku.
“Wow, sejauh mana dia belajar?” tanyanya penasaran.
“Biar instingnya yang berbicara, ha-ha-ha.”
“Whooaa ... Saya suka singa liar, ha-ha-ha.”
Pria itu terus mendorongku maju berjalan, sehingga kakiku menabrak-nabrak benda di depan yang ternyata anak tangga. Aku menaiki setiap anak tangga sebelum menuju pintu masuknya.
“Apa tidak sebaiknya dibuka saja penutupnya?”
“Nanti saja kalau sudah dalam kamar.”
“Aku benar-benar penasaran dengan wajah dan suaranya.”
“Tunggu saja. Wajah dan fisiknya tidak akan mengecewakan kalian he-he-he.”
“Apa yang sedang mereka bicarakan? Siapa para baj*ngan ini sebenarnya? Shitt! Aku benar-benar menjadi anak perawan di sarang penyamun.”
🔫💣🔪
“Sudah tinggalkan dia di dalam, let’s get party!” Pria itu mendorongku masuk ke sebuah ruangan. Aku berjalan perlahan menelusuri setiap sudutnya, kosong.
“Akhirnya, borgolku terlepas. Beruntung aku memiliki jepit rambut Nanny.” Aku mengusap pergelangan tangan yang sakit, memar.
Jemariku langsung membuka penutup kepala, melepas ikatan di mata dan mulutku. “Gigiku kering, berasa tonggos seperti kingkong.” Aku menggerakan rahangku sambil memijit lembut dengan jari-jari. “Ruangan apalagi ini? Gelap tanpa cahaya sedikit pun, tak ada perabotan juga.” Aku terus meraba berharap menemukan sesuatu yang bisa kupakai untuk mencari tahu.
“Apa kau membutuhkan bantuanku?”
Suara yang familiar terdengar lembut di telingaku, membuat hasratku sedikit naik. Desah napas itu, aku bisa mengenalinya. Dia sedang bermain di sekitar leherku.
“Jangan menggodaku! Kau kira aku akan tertarik dengan setan sepertimu.” Aku menahan napsu yang hampir tak terkontrol. Pastinya emosiku saat ini sedang memuncak dan menolak turun.
“Aku bukan setan, tapi teman bermain. Mau ‘kah kau berteman dan bermain denganku?” Jemari hangatnya meraba leherku, berjalan turun ke dada perlahan. Sementara jari tangannya yang lain bergerak turun ke perut, nyaris menyentuh kelaminku.
“STOP!” Aku menghempas kedua tangan yang sedang memelukku, dan menjauhinya.
“Hey, tak ada seorang pun di sini. Aku tahu kau menginginkannya juga. Lagi pula, ruangan ini semakin dingin. Mereka sengaja ingin membunuhmu secara perlahan. Bukankah lebih menyenangkan memberikan suatu hal yang sangat berharga dalam dirimu ke pada orang yang mencintaimu.”
“Dasar Iblis jal*ng! Beraninya kau bicara begitu padaku.” Aku melempar sepatu, pintu terbuka. Pupil mataku menyempit, kulihat seorang pria berdiri di sana.
“Wah, baru juga datang sudah disambut oleh sepatu terbang.” Dia memungut sepatuku. “Apa kau Peter ***?” Tangannya memberikan sepatuku. “Atau Cinderella?” Ia menarik lenganku. “Ayo, ikut denganku. Ada yang ingin kuajarkan padamu.”
“Hey, tunggu!”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu namamu.”
“Lalu?”
“Bolehkah aku tahu?”
“Tentu saja.”
__ADS_1
“Siapa namamu?” Aku menyodorkan tanganku padanya.
“Vandro.” Ia membalasnya dengan hangat.
“Namaku, Mc Lee.”
“Ya. Aku sudah tahu.” Ia mengusap-usap punggung jemariku dengan jemarinya. Reflek aku melepaskannya, ia tersenyum tengil.
Seperti biasa, bocah mesum itu menghilang ketika ada orang lain yang datang. Aku semakin yakin kalau dia itu setan yang terus menjahiliku. Entahlah, mungkin aku yang sudah gila hingga berhalusinasi?
“Kau akan membawaku ke mana?”
“Lihat saja nanti. Kau pasti akan tahu.”
“Apa kau akan memberiku kejutan yang membuatku sport jantung?”
“Lebih dari itu.”
“Apa maksudmu?”
“Kau akan mati berdiri.”
“*What the *****!”
🔫💣🔪
Sepuluh menit sebelumnya di ruang kamera.
“Mereka sudah memasukan Obyek ke ruang penelitian.”
“Turunkan suhu menjadi 15°C. Saya ingin tahu sejauh mana pertahanan tubuhnya?”
“Tuan Muda Vandro, suhu Objek meningkat menjadi 90 % apa kita tetap melanjutkan penelitian ini?”
“Baik, saya nyalakan lampunya, ya?”
“Tak perlu saya akan menjemputnya.” Menunjuk Obyek berwarna merah.
🔫💣🔪
“Apa kau tahu, kenapa mereka membawamu kemari?”
Aku menggeleng, masih mengekor padanya sambil melihat-lihat sekitar lorong yang kami lalui.
“Kau akan tahu nanti. Semua tergantung pilihanmu.”
“Pilihan? Apa maksudnya? Sebenarnya mereka itu siapa dan ada hubungan apa dengan ibuku?” batinku menerka-nerka pekerjaan pria-pria bertampang misterius.
“Kau akan tahu sebentar lagi, Lee.”
Lagi, dia selalu tahu apa yang ada di benakku tanpa ku berucap sama sekali. Kali ini, dia membawaku ke sebuah ruangan. Betapa terkejutnya melihat mereka yang berada di sana. Para wanita yang melenggak-lenggokkan tubuh indahnya tanpa terbalut kain sehelai pun di atas meja bartender.
“Pilihan pertamamu, ingin seperti mereka?” Pria itu membuka pintu pertama.
“Tidak, kenapa aku harus menjadi serendah itu!”
“Kenapa kamu menolaknya? Utang ibumu pada kami sangat banyak. Jika dia tidak bisa membayarnya kau harus bekerja pada kami.”
“Dengan menjadi penari striptis?” Aku mengernyitkan dahi, setengah tak percaya dengan yang kulihat tadi.
“Tidak juga, ini kan pilihan pertama yang kuberikan padamu.”
__ADS_1
“Lalu, pilihan kedua?” Aku penasaran, berharap ada yang lebih terhormat dibandingkan menjadi penari erotis tanpa busana.
“Kau sudah tahu jawabannya.” Ia melirik sebuah kamar yang berisi para pelac*r di pintu ke dua.
“Tidak adakah pilihan lain?” Aku merinding melihatnya, sedikit ketakutan jika harus berakhir menjadi manusia amoral paling hancur.
“Maksudmu, menjadi pelayan pribadi Sugar Daddy seperti yang dilakukan ibumu?”
“Aku menolak!” ucapku tegas. “Tak kusangka ibu asisten pribadi pemilik rumah b*rdir ini,” batinku mendengar pengakuan pria yang sejak tadi bersamaku.
“Kalau semua pilihan kau tolak. Apa kau memilih dijual kepada klien kami dengan harga yang tinggi?” Ia terkekeh.
“Cih!” Aku meludahinya.
Dia hanya terdiam, dengan cepat mengelapnya dengan sapu tangan hitam yang sudah diberi antiseptik.
“Baiklah, mungkin kau memilih mengikuti jejak ayahmu?”
“Kau mengenal ayahku?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?”
“Semua orang di sini mengenalnya.”
“Apa pekerjaannya?”
Aku penasaran menunggu jawaban dari mulutnya yang masih terkunci sambil menatapku.
“Kau yakin?” Ia tersenyum menyeringai, berhasil membuatku penasaran.
Tanpa pikir panjang aku mengangguk.
“Kau akan tahu besok.” Tersenyum merasa menang.
“Hah?”
“Sekarang istirahatlah.”
“Damn! Kenapa aku harus menunggu sampai besok?”
“Kenapa kau berisik sekali?”
“Aku ingin tahu sekarang juga.”
“Apa perlu kupotong lidahmu?”
“Apa kau sesadis itu?”
“Atau kujahit saja bibirmu, ya?”
“Kenapa kau setega itu padaku?”
“Apa kau menaruh hati padaku?”
“Kau kepedean sekali!”
“Lee, kalau kau tidak suka padaku kenapa kau berharap aku akan berbuat baik padamu?”
Aku mendengus kesal dan masih mengikutinya, seperti kerbau dicocok hidungnya. Kemanapun ia melangkah, aku mengekor di belakangnya. Tanpa ada niat untuk kabur karena aku tidak sabar menunggu esok hari demi mendapat jawaban dari pertanyaan yang kucari selama ini.
__ADS_1
Dia mengantarkanku ke kamar tidur yang hanya ada sebuah kasur busa dengan bantal saja. Tidak ada seprei maupun selimut. Bahkan jendela pun tidak ada, “Ini bukan kamar, tapi ruang isolasi!” batinku begitu melihat isi kamar dari pintunya yang terbuka sangat lebar.