Sugar Daddy

Sugar Daddy
Part 3 Son Daddy


__ADS_3

Di ruang perpustakaan.


“Aku sudah lama mencarimu. Akhirnya kau menjadi milikku.” Seorang pria setengah baya baru saja melihat anak buahnya membawa seorang anak perempuan dari balik jendela perpustakaan.


Knock knock knock.


“Permisi, boleh saya masuk, Tuan?”


“Masuklah. Bawakan kabar baik buatku.”


Terlihat pria bertubuh tinggi kekar dengan kaos santai bercelana bahan menghadap ke jendela sambil membaca buku.


“Iya, Tuanku.”


“Kau sudah bertemu dengannya?” Seorang pria berumur sekitar 50 tahun masih asik membaca buku tanpa melihat lawan bicaranya.


“Sudah, Tuan.”


“Bagaimana?” Dia menaruh buku kembali ke tempatnya, lalu jemarinya menyusuri barisan buku. Matanya membaca judul satu per satu mencari buku lainnya dari rak penyimpanan.


“Secara fisik mirip dengan ayahnya, tapi untuk kemampuan sepertinya dia mewarisi bakat ibunya.”


Seorang yang memakai pakaian serba putih itu tersenyum senang mendengar kabar dari salah satu anak didiknya.


“Apa kau akan menemuinya, Tuanku?”


“Belum waktunya.”


“Baiklah. Apa ada yang anda butuhkan lagi, Tuan?”


“Tidak ada. Kau boleh pergi.”


Pemuda berpakaian serba hitam pamit keluar ruangan setelah mencium tangan pria itu. Ia meninggalkannya sendirian di ruang perpustakaan.


“Tunggu!”


Pemuda itu menghentikan langkahnya. Keringatnya mulai menetes. Ia merasa takut telah melakukan kesalahan dan diketahui oleh Tuannya.


“A-ada apa, Tuan?”


“Bantu dia bersiap. Malam ini perburuannya akan segera dimulai.”


“Apa?!” Membalikkan badan dengan cepat. “Secepat itu ‘kah? Kau tidak takut kehilangan dirinya seperti kau kehilangan Cat... le-ya.” Menelan ludah.


Pria yang disebut Tuan tadi menghentikan membaca buku dan melirik ke arahnya.


“Ah, maafkan saya, Tuan. Maksudku, apa tidak sebaiknya dia belajar di sekolah lebih dulu? Seperti anak-anak seumurannya. Sampai dia benar-benar siap diterjunkan ke lapangan.”


“Tidak! Aku ingin melihat sejauh mana kemampuan instingnya. Sehingga aku bisa tahu sejauh mana perkembangannya, sebelum dan sesudah pelatihan.”


“Baiklah. Jika itu keinginan Tuan, akan saya laksanakan.” Membungkuk dan memberi hormat.


“Saya ingin tahu genetik siapa yang lebih dominan dalam diri anak itu.” Senyum menyeringai.


“Baik, Tuan.” Pemuda tadi berjalan mundur hingga ke ujung pintu. “Saya akan menyuruh Nanny menyiapkan perlengkapannya,” lanjutnya.


Pria tadi memandang foto yang terselip dalam buku yang dipegangnya. Sebuah foto wanita berusia sekitar 20 tahunan.


“Catleya, aku pernah kehilangan anak berbakat sepertimu. Karena kau melanggar peraturan Agent. Tapi, sekarang kudapatkan buah cinta kalian yang lebih hebat dari senjata yang pernah kubuat bahkan senjata biologis sekalipun. Kau akan membayar pengkhianatanmu dengan pengabdian anakmu padaku, he he he.”


🔫💣🔪


Di ruang pantry.

__ADS_1


“Nyaris saja ketahuan. Untung Tuan tidak curiga. Kalau sampai dia tahu, habislah riwayatku. Sebaiknya aku cari Nanny.”


“Ada yang bisa kubantu, Tuan muda?”


“Nanny.”


“Iya, Tuan.”


“Son Daddy menyuruhmu menyiapkan tamu baru kita.”


“Baiklah.”


“Jangan lupa berikan dia sarapan dulu, baru kau membantunya berkemas.”


“Tentu saja.”


Wajah Nanny menyimpan pertanyaan yang takut jika dilontarkan pada majikannya. Seakan tahu isi pikiran kepala asisten rumah tangganya, ia bertanya menyelidik.


“Kenapa?”


“Maaf, kalau boleh tahu. Apa benar dia puteri Catleya?”


“Mungkin, kenapa kau ingin tahu?”


“Hanya khawatir.”


“Apa yang kau takutkan?”


“Apa Big Daddy sudah mengaktifkan sel dalam dirinya?”


“Belum. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”


“Syukurlah.” Bernapas lega.


“Apa?!”


“Kau tak perlu kaget. Son Daddy yang menyuruhku”


Nanny terdiam, wajahnya sangat kaget mendengar pernyataan salah satu Tuan mudanya itu.


“Dari pada kau memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Sebaiknya cepat kau menyiapkan makanan untuk kami, untuknya juga, yaa.”


“Baik, Tuan.”


Tuan muda meninggalkan Nanny dengan wajah masih penasaran bercampur khawatir.


“Ah, Nanny.” Tuan Muda menghentikan langkah kakinya.


“Iya, Tuan.”


“Kau masaklah sesuai pesanan Son Daddy untuk anak itu. Jangan membuat makanan atau menyamakan dengan menu untuk Tuan dan Nona yang lain.”


“Ta-tapi, Tuan.”


“Sudah, kau ikuti saja perintahnya. Jangan banyak tanya!”


“Baiklah.”


Tuan Muda meninggalkan Nanny, ia berpapasan dengan asisten baru yang akan memasuki pantry.


“Hormat, Tuan Muda.”


Tuan Muda tidak melihat ke arahnya. Tatapannya jauh ke ujung koridor. Ia menganggap tidak ada orang lain di sana, selain dirinya.

__ADS_1


🔫💣🔪


Seorang perempuan muda memasuki pantry setelah melihat Tuan mudanya baru saja keluar dari sana. Wajahnya menyimpan banyak pertanyaan yang akan dilontarkan kepada Nanny.


“Nanny.”


“Apa yang kau lakukan di sini?”


“Kebetulan lewat.”


“Apa kau bertemu dengan Tuan Muda?”


“Iya, tadi aku berpapasan dengannya.”


“Kau tidak menguping pembicaraan kami, bukan?”


“Tidak. Aku baru saja datang.”


“Apa kau sudah selesai membersihkan kamar untuk tamu yang baru datang dini hari tadi?”


“Sudah. Itu juga yang ingin kubicarakan denganmu.”


“Kenapa?”


“Apa kau sudah melihatnya?”


“Belum.”


“Wah, sayang sekali. Padahal wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Jika memang dia puterinya Catleya.”


“Hush, jaga bicaramu.” Nanny menutup mulut asisten rumah tangga yang 30 tahun lebih muda darinya. Mungkin usianya sekitar 20 tahunan. “Mansion ini area terlarang untuk menyebut nama mereka,” lanjutnya sambil tengak-tengok memastikan tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua. “Untung tidak ada yang mendengarnya. Kalau ada orang lain di sini, tamat riwayat kita berdua!”


“Maafkan aku, Nanny.” Asisten menjewer kedua telinganya sendiri.


“Kau beruntung membahasnya denganku.” Nanny mencubit gemas salah satu asistennya itu. “Jika yang lain tahu, habislah riwayatmu,” lanjutnya setengah berbisik.


“Tolong, jangan beritahukan hal ini pada yang lain.” Asisten memohon dengan menyatukan kedua tangan dihiasi wajah sedih memelas.


“Baiklah, tapi kau harus janji jangan menceritakan tentang mereka ke pegawai yang lain.”


“Aku janji,” dua jari Asisten terangkat. “Terima kasih, Nanny,” lanjutnya memeluk Nanny.


“Sudah, jangan berlebihan begitu. Bukankah kau masih ada pekerjaan?”


“Siap, Nanny.”


“Aku pun ingin mengantarkan sarapan ini padanya. Kau jangan lupa siapkan seragam untuknya, sudah kau ukur badannya?”


“Sudah kubuatkan juga seragamnya, sekarang sedang dijemur. Semoga siang kering bisa langsung dipakai olehnya.”


“Oke, pastikan seragamnya beda dari yang lain dan nampak bagus, ya. Kalau tidak Tuan akan menghukum bahkan memecatmu.”


“Tidak mungkin. Design yang kubuat sudah disetujui oleh Tuan. Jadi, pasti menarik hasil seragamnya."


“Ya sudah. Lanjutkan pekerjaanmu yang lain. Aku akan menuju kamarnya, sebelum sarapan ini menjadi dingin.”


“Sedingin Mansion dan hati Tuan muda tanpa kehadiran Catleya.”


Nanny melirik tajam, “Dasar anak nakal!” Asistennya lari ketakutan meninggalkannya sendiri dalam pantry. “Hey, kau mau lari kemana? Aku belum selesai membuat perhitungan denganmu, bocah!”


“Ampun, Nanny. Aku pamit ambil seragam dulu, ya. Mungkin sudah kering,” teriaknya sambil berlari.


“Firasatku buruk. Lebih baik mengambil libur sebelum keadaan semakin hancur,” batin Nanny. “Akhirnya matang juga. Semoga anak itu suka,” lanjutnya menyiapkan peralatan makan.

__ADS_1


🔫💣🔪


__ADS_2