
ambillah itu untuk membayar semua yang terjadi semalam aku tidak mau mendapatkan nya dengan geratisaan dan hitunglah jika kurang kamu bisa katakan pada ku"ucap Wiliam, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Elena, mematung lalu berkata,"seperti itu kah aku diminta mu, baik'lah anggap saja aku sedang berbaik hati dan itu adalah bonus untuk mu"ucap Elena,sambil beranjak pergi, tangis pilu itu pecah selama Elena, berada di perjalanan, sementara itu Wiliam,merutuki perbuatan nya saat ini dia menyadari dia sudah melukai hati wanita yang sangat di cintai nya itu.
Wiliam, langsung menyusul Elena, ke apartemen nya, saat itu juga beruntung Elena,ada di sana tanpa mengetuk pintu kini Wiliam, sudah berada di dalam kamar Elena, yang masih menangis sesenggukan di atas ranjang, Wiliam langsung memeluk nya dia pun ikut menangis dan membawa Elena dalam pelukan nya saat ini.
"maaf kan aku sayang, aku hilang kendali, aku sungguh sangat kecewa mendengar ucapan mu yang selalu ingin pergi jauh dari ku, aku tidak ingin kan itu, aku mencintaimu sungguh sangat mencintaimu aku mohon maaf kan aku"ucap William sambil mengecup puncak kepala wanita yang kini berada dalam pelukan nya saat ini.
"Wil apa kamu tau aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan mu, tapi kamu bukan milikku, dan aku harus sadari itu, aku berusaha mengalah dan pergi menjauh dari mu"ucap Elena.
"aku hanya milikmu sayang, aku hanya menginginkan mu, aku sangat mencintaimu, dan aku janji akan selalu membahagiakan mu, aku mohon menikah lah dengan ku"ucap Wiliam lembut, dia mencium bibir Elena, dengan sangat lembut dan mereka pun kini saling *******, dan rasa sakit yang mereka rasakan tadi menguap begitu saja entah kemana, Elena langsung melihat tangan Wiliam yang masih juga belum di obati.
"sayang kamu itu keras kepala duduk lah aku akan mengobati luka mu"ucap Elena, yang kini menyuruh Wiliam, duduk di samping ranjang Elena, langsung mengambil handuk kecil dan Air hangat di baskom kecil, dan mengambil obat yang ada di kamar nya.
Elena, dengan telaten, membersihkan luka di tangan Wiliam,lalu dia mengoleskan salep sambil meniup nya penuh kelembutan, dan setelah itu dia membalut luka tersebut dengan perban, yang ia lilitkan dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin Wiliam, kesakitan, sementara itu yang di obati masih tersenyum, dan menatap kagum pada kekasih nya itu.
"terimakasih honey"ucap Wiliam.
"sama-sama, setelah itu jangan biarkan luka nya terkena air"ucap Elena.
"lalu bagaimana cara ku untuk mandi sayang"ucap Wiliam, yang kini manja pada Elena.
"kamu bisa mandi dengan bantuan asisten pribadi mu"ucap Elena.
"aku hanya ingin kamu yang membantu ku bukan yang lain"ucap Wiliam.
"Wili, jangan bercanda, kita tidak serumah bahkan kita belum menikah apa kata orang nanti"ucap Elena.
"perduli setan dengan ucapan orang ,toh semua kita yang jalani kita bahkan sudah melakukan hubungan suami istri, kemaren"ucap Wiliam, begitu penuh percaya diri.
"Wiliam, please jangan bahas itu lagi"ucap Elena.
"kenapa, apa?? kamu menyesal"ucap Wiliam.
"Wil please aku sedang tak ingin berdebat , aku akan menjemput putra ku di full house adikku, saat ini jika, kamu ingin di sini, terserah jika kamu butuh apa-apa kamu bisa minta asisten ku ada di bawah"ucap Elena.
"baiklah, jika aku ingin tidur bersama pun aku akan meminta nya menemani ku"jawab Wiliam, yang kini sangat kesal.
"terserah kamu saja"ucap Elena.
"kamu, benar-benar tidak,perduli jika aku tidur dengan wanita lain??"ucap Wili yang kini menahan emosi nya.
"aku tidak ada hak untuk melarang mu, Wiliam, aku bukan istri mu"jawab Elena yang langsung di tarik kasar oleh Wiliam
"itu, adalah salah nya kamu aku akan segera menikah dengan mu, bahkan jika perlu saat ini juga"ucap Wiliam.
"Wili, aku terlambat menjemput putra ku"ucap Elena.
"berhenti berkata seperti itu putra mu baru tumbuh di rahim mu, dia anak Al Bara, apa kamu mencintai pria itu juga"ucap Wiliam, dengan nada tinggi.
"Wili, aku sangat menyayangi mereka sudah seperti keluarga ku, dan Addrian, adalah putra angkat ku, mau tak mau kamu harus terima itu, tapi aku tidak akan memaksa mu untuk bisa menerima nya, karena kamu juga bukan siapa"ucapan Elena terhenti saat ini dia langsung mendapat bungkaman dari bibir Wiliam.
"jangan pernah katakan itu lagi, baiklah-baiklah aku akan pergi dengan mu saat ini juga"ucap Wiliam.
mereka pun pergi di perjalanan, Elena, menepikan mobilnya di depan restaurant, untuk mengisi perut nya yang terasa sangat lapar saat ini.
"sayang kamu mau makan apa heumm"ucap Elena , lembut.
"aku terserah kamu saja, aku pasti makan dan kamu sendiri yang akan menyuapi ku, karena tangan ku sakit"ucap Wiliam.
"baiklah"jawab Elena,sambil memesan makanan untuk mereka berdua, tidak menunggu lama makanan pun sudah tersedia di meja mereka, dan Elena, langsung menyuapi Wiliam nasi dan SOP buntut dan juga beberapa menu lain nya sambil sesekali menyuapkan makanan kedalam mulutnya sendiri.
setelah selesai makan mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan hingga mereka sampai di pulau pribadi milik Daddy nya saat ini Wiliam, merasa sangat senang melihat pemandangan yang indah terpangpang di hadapan matanya, apa lagi kedatangan nya saat ini bersama orang yang sangat di cintai nya.
"masuk lah sayang,ini adalah full house pribadi milik Edgardo,adik ku"ucap Elena.
pelayan pun menyambut nya, saat itu juga .
"apa Daddy,ada di sini ??"tanya Elena, pada seorang pelayan.
"ya Nona Elena, tuan besar sedang berada di ruang baca bersama tuan muda"jawab pelayan tersebut.
"lalu dimana Senny dan Aryanti juga putra ku??"tanya nya lagi.
"mereka sedang berada di lantai atas tuan muda kecil sedang rewel sedari kemaren, bahkan tuan besar sudah berkali-kali, membujuknya, tapi tuan muda kecil, tidak mau diam juga mungkin dia merindukan anda Nona"jawab pelayan tersebut.
"sayang, kamu tau kan sekarang, biarpun dia tidak lahir dari rahim ku tapi ikatan batin di antara kami sudah terjalin sedari ia belum lahir "ucap Elena, Wiliam hanya diam tak menjawab, tapi dia terus mengikuti langkah Elena,menuju lantai atas.
__ADS_1
sesampainya di sana Elena, langsung mengambil alih, Addrian yang kini menangis sesenggukan bahkan wajahnya sudah sangat merah mungkin karena terlalu lama menangis dia bahkan menolak untuk minum asi.
"sayang,ini mommy, sudah ada di sini maaf kan mommy , kemarin, mommy banyak urusan"ucap Elena, yang langsung menghujani putra nya dengan kecupan saat ini, dan bayi itu langsung diam bahkan tangan nya menggenggam erat tangan Elena, yang kini menggedong nya.
"wah curang ni giliran mommy, nya yang gendong bunda di lupain begitu saja"ucap Aryanti, yang tersenyum bahagia, karena putra nya saat ini langsung diam dan menyusup di dada Elena.
"dia tau mommy nya datang iya kan sayang"jawab Elena, dan Wiliam, langsung tersenyum tidak percaya.
sementara itu Senny, tersenyum melihat mereka berdua, tapi senyuman nya terhenti, saat melihat sosok wajah tampan dan gagah bersandar di depan pintu.
"kak, Elena, kamu membawa nya"ucap Senny,tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"maaf aku tidak memberitahu sebelumnya, dia Wiliam"ucap Elena, yang kini tersenyum ke arah Wiliam.
"sayang bobo, nya sambil mommy,jalan ya mau ngantar uncle Wiliam,dulu untuk istirahat"ucap Elena,sambil berjalan membawa Addrian,di dalam dekapan nya saat ini.
"sayang, ikut aku"ucap Elena.
"kemana??"kata Wili, sedikit penasaran.
"ke,kamar ku kamu pasti cape"ucap Elena.
"tidak aku hanya ingin menemui, Daddy mu saat ini juga"ucap Wiliam.
"baiklah ayo turun"ucap Elena yang kini menuruni tangga, dengan sangat hati-hati, karena saat ini ada bayi dalam gendongan nya.
sesampainya di bawah Elena,mengajak Wiliam duduk di ruang keluarga, dia juga meminta pelayan membuatkan minum untuk Wiliam, dan meminta salah satu nya memanggil Edward.
"sayang apa kamu suka tempat nya"ucap Elena, yang kini fokus mengecup putra nya itu sesekali dan mengelus tubuh bayi gembul tersebut, yang kini terpejam dalam dekapan sang mommy, tidak menunggu lama, Edward pun datang menghampiri mereka bertiga.
"sayang kamu datang"ucap Edward, yang kini mengecup puncak kepala putri nya dengan sayang.
"iya Daddy, aku takut Addrian, merindukan ku"ucap Elena.
"dia memang sangat merindukan mu, bahkan yang biasanya anteng saat Daddy, gendong dia tidak mau diam dan tangis nya tidak berhenti selain saat dia lelah dan tertidur"kata Edward.
"iya Daddy, dia langsung tidur, saat Elena, gendong memang putra ku yang sangat manja"ucap Elena.
"dia tau mommy, nya sangat memanjakan nya selama ini bahkan sebelum dia lahir ucap Edward,lalu Edward menoleh pada pria di samping putri nya itu.
🌹💖💖💖🌹
"ternyata kamu sudah sangat dewasa saat ini dulu, saat kau sering mengikuti Daddy,mu ke kantor ku masih sangat kecil"ucap Edward.
sementara itu Edgardo, yang langsung memanggil nya kakak,ipar Elena, langsung mencubit perut adiknya itu.
"ih Elena, sakit tau"ucap Edgardo, sementara itu Senny, tersenyum puas melihat Edgardo, kesakitan.
"sayang belaian aku, kamu lihat kan kakak ipar mu jahatin aku"ucap Edgardo.
"Edgardo, sebaiknya kamu segera siapkan jamuan makan malam untuk Wiliam"ucap Edward.
"heumm, baiklah-baiklah Daddy, ternyata kalian itu kecanduan masakan ku"ucap Edgardo, yang kini berjalan menuju dapur kesayangan nya, pria ini memiliki, kecintaan terhadap dapur nya yang tidak boleh di sentuh siapa pun, dapur khusus, dia sendiri dan pelayanan juga dapur nya lain lagi terpisah, Edgardo tidak ingin barang-barang nya di sentuh orang lain entah lah saking hobi memasak dia hanya mengizinkan istri tercinta nya yang memasak di sana itupun dengan pantauan nya.
sementara semua nya tergelak, Wiliam, juga merasa sedikit aneh kenapa tuan rumah yang memasak bukan pelayan.
"sayang jangan heran, adikku itu adalah koki handal dan dia memiliki dapur khusus, miliknya dan tidak ada siapapun yang boleh masuk dan menyentuh barang-barang nya, di sana jika ada yang bergeser sedikit saja dia pasti murka"ucap Elena, menjelaskan.
Wiliam,baru mengerti maksud Elena, saat ini ternyata Edgardo, cowok yang sangat perfeksionis, dia sangat menjaga kebersihan dan kerapihan, pantas saja hunian nya sangat nyaman.
"tapi jangan lupa jika ke empat adik nya hadir, dia tidak akan bisa berkutik dengan adik kesayangannya itu, yang sesuka hati melakukan apapun di sini, bahkan Edgardo, tidak bisa marah saat kedua adiknya yang laki-laki, mengerjai para pelayan hingga rumah ini berantakan, dan saat mereka kembali ke habitat nya baru Edgardo , bisa lega"ucap Senny,baru saja di sebutkan mereka berempat datang.
"Daddy,kakak, aku datang"ucap mereka berempat yang menghambur ke pelukan Edward lalu Elena, dan Senny, Ardi mengecup Elena dan Ardan Juga,hal itu membuat Wiliam,geram.
Edward, langsung memecahkan suasana.
"kalian datang di jam segini"tanya Edward.
"hehehe,iya Daddy,kami rindu kalian semua, dan keponakan ku ucap mereka sambil mencium bayi mungil tersebut bergantian.
"satu lagi di mana kak??"ucap mereka kompak.
di atas tapi jangan buat dia bangun atau kalian tanggung sendiri akibat nya, kakak, kalian sedang masak"ucap Senny, mencegah mereka.
"ya gak seru nih kenapa mesti tidur di jam segini coba??"ucap kedua laki-laki yang berusia sembilan belas tahun tersebut.
"karena mereka masih bayi sayang, sudah taro dulu barang-barang kalian,nanti kakak mu marah dan di sini ada peraturan baru jika membuat seluruh rumah berantakan maka ada hukuman nya"ucap Edward, mengantisipasi .
__ADS_1
"yah Daddy, gak asik nih kita kesini juga liburan iyakan, jadi terserah kita,toh mommy, juga akan lama di Hongkong, jadi dia nitipin kita sama Daddy"ucap Ardi yang memberikan surat dari Soraya untuk menjaga mereka sementara Edward pun, hanya berkata dalam hati.
"akan ku jaga amanah mu sayang kamu tidak perlu khawatir"ucap Edward .
"baiklah segera bersihkan diri kalian setelah itu kita makan malam" ucap Edward, mereka pun menurut.
"sayang mereka siapa??"tanya Wiliam penasaran.
"adikku sayang , mereka satu mommy beda Daddy, dengan ku tapi kami saling menyayangi dan saling menjaga karena, Daddy, Aditya juga sama menyangi kami"ucap Elena.
"jadi waktu itu kamu beli mobil untuk yang mana"ucap Wiliam penasaran untuk kedua adik laki-laki ku, karena yang perempuan sudah di belikan Edgardo, saat mereka masuk SMA.
"heumm... kenapa cuman satu"ucap Wiliam.
"mereka sudah terlahir kaya, dan mereka sudah punya semua nya, tapi mereka yang manja selalu ingin sesuatu dari ku, yang perempuan itu manja pada Edgardo"jelas Elena.
"begitu ya"ucap Wiliam.
"sayang aku mau menidurkan Addrian dulu, nanti aku kembali "ucap Elena, yang berjalan menuju tangga.
"uncle, aku ingin bicara serius"ucap Wiliam.
"silahkan"ucap Edward.
"aku ingin menikah dengan Elena, Minggu depan"ucap Wiliam,to the points.
"aku menyerahkan semua pada putri ku,biar bagaimanapun semua menyangkut kebahagiaan nya, aku tidak akan ikut campur hanya akan mendoakan yang terbaik semoga kamu tidak membuat nya menangis"ucap Edward.
"Daddy,kami laper"ucap Alisa dan Anisa.
"sebentar sayang,kakak mu sedang menyiapkan makan malam"ucap Edward lembut, mereka berdua pun kini duduk di samping Edward sambil memeluk Daddy, sambung nya itu.
"Daddy, rasanya Daddy, sudah lama tidak mengunjungi mommy,di Mension, apa Daddy, tidak kangen mommy"ucap keduanya tanpa dosa.
"Daddy,sibuk sayang , tidak apa-apa kan yang penting mommy, kalian baik-baik saja"ucap Edward, yang kini tersenyum pada Wili, memberikan pengertian.
"heumm, tapi sepertinya mommy, juga merindukan Daddy, dan kakak"ujar Alisa dan Anisa.
"lain kali kami berkunjung"ucap Edward.
"baiklah Daddy,Oya Daddy , Om, tampan ini siapa"ucap keduanya.
"dia calon suami kak, Elena.
"ya ampun Elena,mau menikah,jahat amat tidak mengabari kami semua"ucap ke empat nya kompak, Ardi dan Ardan,dini berada di belakang mereka.
"baru mau sayang sudah duduk kalo bicara sambil berdiri itu tidak sopan "ucap Edward, mereka pun langsung bergegas duduk di sofa tersebut.
"Hay kakak,ipar"ujar mereka berdua.
"stop jangan kelewatan"ujar Elena, yang tau gelagat adiknya itu.
"Elena,jahat aku bilang Daddy, saja ah"ucap mereka berdua yang langsung mengusir kedua gadis yang kini masih memeluk Edward dari samping.
"ada, apa heumm, Edward pura-pura tidak tahu dengan niat mereka.
"Daddy,di kampus, sedang sibuk ingin mengadakan tour keliling dunia, dan kami juga mau ikut,kalo Daddy ngizinin beliin tiket pesawat nya Daddy"ucap Ardi.
"tidak , kalian punya jet pribadi, pakai saja itu"ucap Edward, yang langsung menolak keras.
bukan apa-apa, Edward, tidak mengizinkan mereka pergi karena sebelumnya soraya, sudah berbicara pada nya jauh-jauh hari agar tidak menuruti keinginan mereka, itulah kenapa Soraya menitipkan mereka, saat ini.
"yah Daddy gak asik nih jet pribadi nya sedang di gunakan Daddy ke Hongkong"ujar Ardi.
"ya tunggu, mereka kembali"ucap Edward.
"punya Daddy, saja ya"ucap Ardan.
"punya Daddy,ada di Amerika,di pakai kakak Edgar"ucap Elena.
"ah Ardi bagaimana ini gagal kita liburan keliling dunia mengajak para Tante "ucap Ardan keceplosan.
"apa yang kalian katakan, coba bicara sekali lagi,pantas saja mommy ingin mengirim kalian sekolah di Hongkong ternyata begini kelakuan kalian,dengar ya ,kakak, akan cabut semua pasilitas kalian jika kalian tidak berubah, dan biar kalian tau Rasa nya hidup tanpa uang dan Daddy, Aditya, akan setuju dengan itu bagaimana"ucap Elena, tegas, Wili yang melihat itu ada rasa bangga ternyata calon istri nya itu memiliki sifat kebiuan dan sangat tegas .
"ampun Elena, kami janji tidak akan mengulanginya lagi"ucap Ardi dan Ardan yang kini menyesal.
"kakak, tidak mau dengar itu terulang lagi,kalau tidak kalian siap-siap hidup miskin"ucap Elena.
__ADS_1
"iya,kak stop aja fasilitas nya, miskin kan mereka berdua, aku juga kesal dengarnya"ucap Edgardo yang kini di bantu Senny, merapikan hidangan di meja makan.
"Elena, jangan ya ampun kami tidak akan pernah berbuat nakal lagi"ucap keduanya, Edward pun tersenyum puas, saat ini ada yang bisa membuat mereka takut.