
Setelah diputuskan akhirnya Soraya, pergi ke Amerika, bersama Edward dan Elena.
Mereka pun kembali ke negara yang di tinggali selama ini, hanya Alisa yang tetap tinggal di Indonesia bersama dengan Edgardo.
sementara itu, Anisa, pergi menuju rumah Edgardo, ingin mengisyaratkan diri nya yang begitu lelah.
dengan pekerjaan nya dan hati nya, setelah selama ini dia terlalu gila kerja.
Ardan, yang selama ini pindah ke London, dan Ardi masih di Amerika, tapi tidak satu kota dengan sang kakak dan Edward, mereka berpisah setelah sampai bandara.
mereka pun pergi ketempat tujuan masing-masing.
sementara itu di dalam full house milik Edgardo, ketiga anak Soraya,kini tengah berbincang setelah menikmati sarapan, pagi walaupun sebenarnya mereka sedang tidak ingin, tapi Senny, selalu memaksa ketiga nya, dan memberikan support kepada ketiga nya bahwa akan ada keajaiban untuk mommy, mereka sebentar lagi.
Anisa, terus menerus, mengirim pesan pada Edward, menanyakan kondisi mommy nya saat ini,andai ia bisa tinggal lama, di sana mungkin akan lebih baik kalau dia yang menemani ibu nya itu berobat.
tapi sayang, dia masih harus mengurus perusahaan yang selalu Daddy nya, wanti-wanti kan pada dirinya, adalah perusahaan peninggalan kedua orang tua Aditya, selama ini, walaupun itu hanya cabang perusahaan, karena pusat nya, berada di Jakarta, yang di urus oleh Alisa saat ini.
Anisa, kapan kamu akan kembali ke Hongkong, kakak, harap kamu tinggalkan perusahaan di sana, dan segera lah kembali kemari, biarlah perusahaan itu di urus oleh orang kepercayaan Daddy, Aditya"ujar Edgardo.
"Tidak semudah itu kak, aku harus terus mengurus nya seperti janji ku pada Daddy, selama ini, ya aku juga rindu, negara ini, tapi semua butuh proses"ujar Anisa.
sementara Alisa, hanya diam menyimak obrolan mereka, jujur, Alisa sendiri sudah merasa lelah, tapi harus bagaimana lagi mereka semua sudah penuh dengan tanggung jawab masing-masing, dan lagi Alisa, tidak ingin kehilangan kepercayaan Daddy nya yang kini telah tiada, Aditya, begitu percaya Alisa mampu memegang perusahaan itu, dan Alisa pun membuktikan nya, selama ini dan Aditya , begitu bangga pada putri nya itu.
sementara itu di tempat lain, Kenzo,baru sampai di bandara Soekarno-Hatta, saat ini dia meminta, Anisa, untuk menjemput nya.
📱"halo Honey, aku sudah sampai Jakarta, jemput aku sekarang juga"sementara itu Anisa, hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba untuk bisa bersikap biasa saja.
📱"Tunggu, sopir ku yang jemput"ujar Anisa.
📱"Tidak aku hanya ingin, kamu yang menjemput ku, jika tidak aku tidak bisa menjamin semua nya akan baik-baik saja"Ancaman Kenzo.
📱"Kenzo, tolong mengertilah, saat ini sedang tidak baik-baik saja dan aku tidak bisa konsentrasi untuk menyetir mobil sendiri, dan satu lagi posisi ku saat ini juga sangat jauh dari lokasi tempat mu berada mungkin akan sampai nanti malam"ujar Anisa.
📱"kamu atau tidak sama sekali, aku tidak perduli berapa lama waktu nya, aku akan menunggu"ujar, Kenzo.
📱"Maaf Kenzo aku tidak bisa datang"ujar Anisa lemas.
Anisa, pun pamit ke kamar nya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang nya saat ini, bukan hanya fisik nya yang lelah tapi jiwa nya juga.
handphone, Anisa, berkali-kali berdering sedari tadi tapi Anisa, enggan untuk mengangkat nya, Anisa yang sudah meminta sopir pribadi mommy nya dan menyuruh nya untuk menjemput nya ke bandara, iapun memejamkan mata nya saat ini.
hingga, terlelap, bahkan melewatkan jam makan malam dan siang nya, Anisa, hanya ingin tidur tanpa gangguan dari siapapun.
sementara itu sang sopir yang sampai di area bandara,itu melihat seseorang yang mirip dengan foto yang nona muda nya kirimkan tadi, dia langsung menghampiri laki-laki yang sedang duduk menikmati minuman kaleng tersebut.
"Maaf apa anda tuan Kenzo"ujar sang sopir yang langsung memperlihatkan ponsel milik nya menunjukkan foto Kenzo, dan Kenzo yang melihat itu dia hanya tersenyum dalam hati nya karena ternyata, Anisa, masih menyimpan foto dirinya selama ini, biarpun dia selalu membuat dia kecewa.
"kemana, nona mu, kenapa bukan dia yang menjemput ku"ujar Kenzo, yang langsung duduk di kursi penumpang di belakang setelah sang sopir membuka pintu untuk nya.
"Nona, muda, sedang berada di full house, tuan Edgardo, saat ini dia mungkin terlalu lelah saat ini, Karena,dua hari ini dia bolak-balik ke Bandung, karena nyonya sakit, dan sekarang di bawa ke Amerika oleh tuan Edward"ujar mang Udin.
"Siapa, Edward"ujar Kenzo bertanya.
"Dia , Ayah nya tuan muda Edgardo, dan nona Anisa"ujar mang Udin.
"Owh"sahut Kenzo.
"Tuan muda,mau langsung saya antar ke hotel milik tuan Edgardo, atau ke apartemen nona muda"ujar mang Udin bertanya.
"Aku ingin pergi ke tempat dimana Anisa, berada"ujar Kenzo, tegas.
"Tapi tuan,nona bilang dia sedang tidak ingin menemui siapa pun, saat ini"ujar mang Udin.
"Kesana atau kau ingin segera pulang menghadap Tuhan mu"ujar Kenzo, yang menatap tajam kearah mang Udin, beruntung mang Udin,pandai bahasa Inggris, jadi dia nyambung berbincang sedari tadi, ia bergidik ngeri setelah melihat tatapan tajam dari Kenzo, Kenzo, selalu berbicara lembut tapi jika dia sedang murka, tatapan matanya saja sudah cukup untuk mengusir lawan bicaranya.
__ADS_1
mang Udin yang gelagapan, dia langsung diam dan pasrah saat ini dia membawa mobil nya menuju full house, meski itu sangat melelahkan, karena sangat jauh dari bandara butuh waktu lima jam perjalanan, apa lagi kalau jalanan macet itulah kenapa Anisa, tidak bisa menjemput nya.
"Kira-kira berapa lama, waktu nya untuk sampai ke sana"ujar Kenzo, bertanya.
"Li Lima jam tuan"ujar mang Udin.
"Apa, jadi tempat nya jauh kenapa tidak menggunakan helikopter saja"ujar Kenzo.
"Saya tidak bisa, mengemudikan nya tuan itulah kenapa, saat ini nona tidak menjemput anda"ujar mang Udin.
"Ya sudah lanjutkan saja aku tidak perduli aku hanya ingin istirahat saat ini"ujar Kenzo.
Kenzo, pun langsung merebahkan tubuh di kursi penumpang tersebut dia memejamkan mata nya saat ini sebenarnya dia sangat ingin beristirahat langsung di hotel, atau apartemen yang di tawarkan, oleh mang Udin tadi karena begitu lelahnya saat ini setelah perjalanan jauh, tapi dia hanya ingin istirahat bersama dengan Anisa, wanita yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.
sementara itu Anisa, masih terlelap, hingga ketukan pintu kamar terdengar sangat nyaring.
tok tok...
"Nona, muda di bawah ada tamu yang ingin bertemu anda"ujar seorang pelayan.
"Kan ada kak, Edgardo,di bawah kenapa?? harus aku yang menemuinya"ujar Anisa, yang merasa sangat lelah.
"Tapi,mang Udin bilang, dia tamu penting nona muda"ujar pelayan itu lagi.
"Ia, baik'lah tolong tunggu sebentar"ujar Anisa, yang bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa berkeringat.
hampir setengah jam lebih, Anisa, masih belum juga turun dan setelah itu dia keluar dan sudah tampak segar ini sudah jam sepuluh malam, dan orang-orang sudah beristirahat di kamar nya, kecuali kakak, nya Edgardo, yang masih berada di ruang baca, hingga saat ini.
sesampainya di bawah, Anisa, berjalan menuju ruang tamu, dia meminta pelayan untuk membawa minum untuk tamu nya saat ini.
sesampainya di sana, dia melihat seorang pria yang sedang berdiri membelakangi nya, sedang menatap ke arah pantai dari dinding kaca tersebut, Anisa, sudah tau siapa laki-laki itu, saat ini dari postur tubuh nya, dan parfum yang selalu ia gunakan selama ini.
"Kamu disini"ujar Anisa, pria itu langsung berbalik dan menatap wajah Anisa,lekat, dia sebenarnya ingin langsung memeluk wanita itu seperti biasanya tapi Kenzo, sedang sangat kesal, saat ini.
"Kenapa apa aku tidak boleh kemari heuhh ??"ujar Kenzo,pelan tapi mampu membuat hati tersayat jika di katakan oleh orang yang spesial saat ini.
"Delapan jam honey, apa kamu pikir itu tidak melelahkan tapi karena aku sangat merindukan mu, aku tidak mempermasalahkan hal itu,demi dirimu"ujar Kenzo, yang kini mendekat dan duduk di samping Anisa, dia langsung memeluk wanita nya itu kecupan mendarat di bibir Anisa.
"Kenzo, maafkan aku aku sedang terlalu banyak pikiran saat ini, andaikan saja aku punya waktu cukup, aku ingin pergi ke sana"ujar Anisa, yang kini menitikkan air mata, dia baru bisa meluapkan rasa sedihnya itu didepan pria yang selama ini ia kenal.
"Menangis lah sayang jika itu membuat mu lebih tenang"ujar Kenzo, yang kini membawa Anisa, kedalam dekapannya.
"Anisa"ujar Edgardo, yang tidak suka melihat adiknya itu di peluk oleh pria lain selain dirinya, Edgardo, cemburu pada siapapun, kecuali suaminya nanti.
"Kakak"ujar Anisa, yang langsung melepaskan diri dari dekapan Kenzo, dan langsung mengusap air mata nya.
"Iya, besok kamu bisa pergi ke Amerika, untuk menyusul mommy, aku sudah menyuruh asisten ku, untuk mengurus perusahaan mu di Hongkong"ujar Edgardo, lagi.
Edgardo, yang tau siapa Kenzo, setelah melihat wajah nya, dia merasa takut adiknya kenapa-napa saat ini.
Edgardo tidak tahu, bahwa selama ini Kenzo lah yang melindungi adiknya dan perusahaan Anisa, dari para saingan bisnis nya yang kejam dan licik.
"Baiklah kak"ujar Anisa yang tidak melihat tatapan tak suka dari Kenzo,atas jawaban Anisa, terhadap kakak nya.
"sekarang tidurlah besok kamu harus bersiap pagi-pagi sekali"ujar Edgardo lagi.
"Baiklah kak, tapi biarkan aku mengantar kan tamu ku ke kamar nya"ujar Anisa lagi.
"Ya"ujar Edgardo yang langsung pergi menuju kamar nya.
"Tamu heuhhhhh,ya aku hanya tamu"ujar Kenzo, yang kini menatap lekat wajah Anisa, terlihat ada kekecewaan dari tatapan mata nya itu.
"Ken, aku mohon mengerti lah, tidak mungkin kalau aku bilang bahwa kamu adalah....ah sudahlah lupakan perkataan ku"ujar Anisa.
"Aku apa,ayo katakan??"ujar Kenzo, dengan nada marah meski pelan tapi penuh penekanan.
__ADS_1
"Ken, maafkan aku,ayo aku antar kamu ke kamar mu"ujar Anisa, yang kini membawa koper, milik Kenzo, tapi langsung di rampas oleh Kenzo.
"Seperti nya aku tidak diterima di sini lebih baik aku pergi"ujar Kenzo, yang benar-benar merasa tak di anggap.
"Ken, please jangan seperti ini, aku hanya belum siap dengan semua ini please mengerti aku, atau kamu memang tidak pernah mau mengerti aku, karena dia"ujarnya lirih.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tau kamu tidak ingin aku ada di sini"ujar Kenzo, yang hendak pergi.
"Ken, jika kamu pergi berarti, semua nya benar"ujar Anisa, sambil membalikan badannya hendak pergi dari hadapan Kenzo dan jangan lupa Air matanya itu mengalir deras dari matanya saat ini, sedetik kemudian lengan nya di tarik Kenzo, dan saat itu juga Kenzo, mencium bibir nya, dengan sangat keras, hingga Anisa, berontak tapi beberapa detik kemudian, ciuman itu berubah menjadi lembut, Anisa yang kini memeluk erat tubuh nya.
setelah ciuman itu terlepas"jangan pernah meragukan perasaan ku ini , hanya kamu satu-satunya yang bertahta di hati ini, sementara mereka hanya pemuas nafsu ku, jadi kamu bisa pikirkan wanita macam apa mereka itu"ujar Kenzo.
"Ayo,antar aku ke kamar mu"ujar Kenzo.
"Ken"ujar Anisa, melirik ke arah pria itu.
"Apa bedanya honey sekarang atau pun nanti sama saja"ujar Kenzo,cuek .
"Berarti aku sama seperti mereka begitu "ujar Anisa.
"Ok....ok baiklah-baiklah aku ke kamar ku"ujar Kenzo mengalah dia hanya tidak ingin melihat wanita nya cemberut.
mereka pun berjalan menuju pintu masuk kamar tamu, dan setelah itu dia langsung membuka nya, dan mempersilahkan Kenzo masuk, dan menyimpan koper milik Kenzo di samping ranjang nya.
"istirahat lah ini sudah malam, atau kamu bisa membersihkan diri terserah kamu"ujar Anisa.
"Aku lapar"ujar Kenzo.
"Aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan kemari"ujar Anisa.
"Aku tidak ingin orang lain, aku rindu masakan mu jika kamu tidak keberatan"ujar Kenzo, manja.
"baiklah, aku akan membuat kan makan untuk mu, sebetar lagi kamu bisa membersihkan diri"ujar Anisa,sambil berlalu pergi ke luar dari kamar.
Anisa, memasak makanan kesukaan Kenzo, saat ini maklum lah, di rumah besar tersebut, memiliki banyak bahan makanan seperti di hotel internasional, karena Edgardo sendiri adalah koki handal meskipun dia adalah seorang pengusaha.
Anisa, membuka buku resep dan mengambil satu menu masakan yang kakak, nya tulis di sana, iseng-iseng dia ingin mengikuti tips dan resep milik kakaknya, setelah hampir satu jam berkutat di dapur milik Edgardo, yang selama ini tidak pernah di sentuh oleh siapa pun kecuali Edgardo sendiri, dia meminta bantuan pelayan untuk membersihkan tempat tersebut, karena dia tau kakak nya itu tidak suka ada noda sedikitpun di sana, setelah selesai Anisa, membawa makanan tersebut di atas nampan membawanya menuju ke kamar tamu, tidak lupa segelas jus dan air putih.
"Ken,ini makanan mu,kau dimana"ujar Anisa.
"honey aku disini"sahut Kenzo dari arah balkon, pria itu masih menggunakan bathroob, saat ini karena baru saja selesai mandi, dengan rambut yang masih klimis saat ini.
"Makan lah"ujar Anisa yang menyimpan makanan tersebut di atas meja depan sofa kamar tersebut.
"Temani aku makan"ujar Kenzo, lagi.
"Baiklah, hanya temani saja bukan,baiklah" ujar Anisa, yang kini duduk di samping Kenzo.
"Aku ingin kamu juga ikut makan"ujar Kenzo.
"Ken aku tidak lapar dan kamu tau sendiri ini jam berapa"ujar Anisa.
tapi Kenzo, malah diam tak berkata lagi dia langsung melahap makanan yang ada di hadapannya nya itu, saat ini.
Kenzo, hendak menyuapi Anisa, tapi Anisa, menolak untuk makan hingga Kenzo berkata"Aku tidak suka dengan wanita yang terlalu menjaga tubuh nya, hingga menyiksa diri, aku suka wanita yang tampil apa adanya"ujar Kenzo.
"Aku butuh itu agar aku tidak, gampang merasa lelah saat bekerja mengertilah, aku juga sudah terbiasa tidak makan malam se larut ini hanya saat itu saja demi keponakan ku"ujar Anisa.
"Owh, jadi aku tidak berarti bagimu"ujar Kenzo lagi dan itu langsung membuat Anisa langsung memegang tangan Kenzo yang langsung memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya, saat ini Anisa, hanya tidak ingin berdebat lagi, rasanya sudah lelah dan ia melihat Kenzo yang saat ini tersenyum.
setelah selesai makan Kenzo, saat ini tengah memeluk Anisa, sambil berdiri menatap bintang.
"Aku akan menemani mu di Amerika, untuk membantu mommy mu berobat bahkan jika di perlukan donor jantung aku akan memberikan itu untuk nya, aku tau dimana harus membelinya"ujar Kenzo.
"Terimakasih, tapi aku tidak ingin, mommy merampas nyawa orang demi bertahan hidup"ujar Anisa.
__ADS_1
"Honey"