Sugar Daddy

Sugar Daddy
#Introgasi#


__ADS_3

Sore ini adalah sore yang sungguh berat untuk Juli, setelah menemui putra nya di rumah sakit,kini dia harus meninggalkan putra nya itu sendirian di sana, sakit rasanya hati nya tak tega meninggalkan putra semata wayangnya itu, sendirian disaat dia sedang berjuang antara hidup dan mati beruntung suster Liliana, selalu bersedia membantu nya untuk menjaga putra nya Jerry.


Julia, berjalan gontai menuju taksi yang sudah terparkir di halaman rumah sakit tersebut, karena sebelumnya Juli, sudah memesan nya sebelum dia pamit pada putranya itu, beruntung putra adalah anak yang penuh pengertian sedari kecil dia selalu mengiyakan apa pun yang menjadi keputusan sang ibu.


setelah masuk kedalam taksi yang sudah bersiap untuk melaju, Juli, menarik nafas panjang, malam ini dia akan kehilangan kesucian nya.


sesampainya di depan gerbang Mension tersebut, Juli yang baru tiba, dia berdiri menatap ke atas langit, untuk menahan air mata nya, yang hampir jatuh.


"hah ......"helaan nafas berat dari Juli saat ini dirinya, sudah tidak bisa mundur lagi, baginya jangan kan hanya kehilangan kesucian, kehilangan nyawa pun dia rela demi putra yang sangat dia cintai, yang bahkan tidak pernah di ketahui siapa ayah dari putra nya itu.


Juli, pun masuk setelah memencet bel pintu gerbang tersebut, tidak menunggu lama scurity yang berjaga pun, langsung bergegas membuka pintu dan mempersilahkan nya untuk masuk.


Juli, masih harus berjalan jauh dari gerbang utama menuju halaman rumah yang begitu luas, saat ini .


setibanya di depan pintu Juli, pun di sambut dengan baik oleh para pelayan rumah tersebut, karena Edgar, mengatakan bahwa Juli, adalah wanita nya.


"Nona, Juli, tuan sudah menunggu anda di ruangan nya"ucap seorang pelayan.


Juli, hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, dia mengikuti pelayan tersebut menuju ruangan Edgar, yang ternyata ruang kerja nya.


sesampainya di sana pelayan tersebut mengetuk pintu, setelah mendengar perintah dari Edgar, untuk masuk ke dalam mereka berdua pun masuk.


"Tuan Nona Juli, sudah datang"


"duduk lah, dan tolong buatkan minum untuk kami berdua"ujar Edgar.


"Baik, tuan"ujar pelayan itu lalu beranjak pergi.


"kau datang naik apa??...kesini"ujar Edgar, sengaja ingin tahu.


"Naik taksi tuan"jawab Juli.


"kenapa?... tidak menelpon ku untuk menjemput mu"ucap Edgar lagi.


"Saya tidak punya no anda tuan"ujar Juli singkat.


"Owh,ya ampun kenapa??... tidak bertanya pada orang di rumah ku"ujar Edgar lagi.


"Saya, tidak berani"jawab nya lagi.


"Tuan apa ??... tugas saya bisa di mulai sekarang, saya mungkin akan kembali lebih awal setelah itu saya ingin minta izin untuk pulang setelah itu saya ingin menemani putra saya malam ini, dan kalau bisa boleh kah tugas saya dikerjakan siang hari"ujar Juli.


"Aku tidak pernah meminta mu untuk bernegosiasi dengan ku"ucap Edgar dingin.


"kau tidak usah khawatir dengan putra mu aku sudah menyuruh orang kepercayaan ku untuk menemani nya saat kau bermalam dengan ku disini"ujar Edgar.


"Maaf kan saya tuan"ujar Juli, sambil menunduk.


"Bantu, aku menyelesaikan kan pekerjaan ku, aku tau kau memilih skill yang mumpuni untuk semua itu"ujar Edgar.


"Tidak, tuan anda salah saya tidak pandai dengan urusan pekerjaan itu"ujar Juli.


"baiklah tolong buatkan aku makan malam "ujar Edgar lagi.


"Apa makanan paforit tuan , akan saya coba untuk memasak nya untuk anda"ujar Juli lagi.


"Buatkan aku soto "ujar Edgar.


"Apa itu soto"ujar Juli, karena di Amerika tidak ada yang namanya soto, wanita itu cukup bingung.


"ahhhhhh... sudah lah lupakan buatan aku apa saja yang penting bisa ku makan"ucap Edgar lagi.


"Baiklah tuan"ujar Juli, sambil berjalan menuju dapur dengan dengan bantuan pelayan dia akhirnya sampai di dapur yang begitu mewah tersebut, Juli langsung membuka lemari es, dia mengambil beberapa bahan makanan.


Juli berkutat dengan peralatan masak nya wanita itu bisa memasak, karena sudah terlatih,dulu pun saat masih tinggal bersama kedua orang tua nya, Juli selalu belajar memasak bersama dengan ibunya.


Tiba-tiba, saat Juli sedang memasak sepasang tangan kekar itu memeluk nya dari belakang, Edgar , memeluk pinggang Juli, sambil menghirup aroma parfum yang Juli kenakan.


Juli, yang kaget berusaha menetralkan perasaan nya,agar bisa tenang menghadapi sikap pria yang baru dua hari ini dia kenal.

__ADS_1


"Tuan, aku sedang masak"ujar Juli.


"Yang bilang kamu sedang mencuci siapa"ujar Edgar, tidak mau kalah.


"Tapi tuan"protes namun Edgar, sudah begitu bernafsu untuk bercinta dengan Juli, entah dorongan dari mana,sikap Edgar, yang sampai memperlakukan wanita seperti seorang pe**cur.


"Tuan, tolong sabar Sebentar saja, ya harus menyelesaikan masakan saya"ucap Juli.


"ikut aku bukan kah kamu ingin segera membereskan pekerjaan mu"ujar Edgar, menarik lengan Juli, dan meminta orang lain menyelesaikan tugas nya.


sesampainya di dalam kamar, Edgar, langsung mendorong Juli ke atas ranjang nya, dia langsung mengungkung Juli, yang saat ini sedang sangat gemetaran, wanita itu benar-benar ketakutan, bukan apa-apa ini adalah pengalaman pertama nya di perlukan seperti itu oleh pria yang baru saja di kenal nya.


namun Edgar, bukan mengungkung Juli untuk melakukan hubungan intim, melainkan untuk mengintrogasi Juli.


"Juli, aku ingin tahu dimana??ayah kandung dari putra mu itu "ujar Edgar.


"Aku tidak pernah punya suami"ucap Juli , jujur


"Kalau kau tidak pernah punya suami berarti anak itu tidak memiliki ayah...?? tapi apa mungkin wanita bisa hamil tanpa seorang pria, apa enam tahun lalu kau tidur dengan seseorang??"ujar Edgar lagi.


Juli, hanya diam dia tidak ingin menjawab pertanyaan, yang membuat dia harus mengingat rasa sakit nya, karena telah dibuang oleh keluarga yang sangat mencintai nya dulu, Daddy, mommy itu begitu kecewa nya saat itu.


bukan hanya keluarga nya,tapi pria yang sangat ia cintai pun,harus membenci dirinya, karena peristiwa itu.


"kenapa??... kamu diam saja Juli, jawab aku aku ingin tau semua nya"ujar Edgar lagi.


"Maaf tuan tugas saya hanya melayani anda, bukan untuk menjawab pertanyaan anda, apa lagi itu adalah urusan pribadi saya"ucap Juli yang langsung berusaha melepaskan diri dari Edgar.


"Kau harus menjawab pertanyaan ku, saat ini juga!!!... siapa??... Ayah dari anak mu, aku butuh kejelasan"ujar Edgar tempa menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Sudah cukup tuan, lebih baik saya kembali kan uang sudah pinjam sekarang juga"ujar Juli yang berusaha melepaskan genggaman tangan Edgar yang semakin kuat.


"Jangan gegabah, sekali saja kamu berontak maka anak itu akan menghilang selama nya dari hidup mu"ujar Edgar tidak terima.


"A .... apa maksud mu tuan"ujar ucap Juli, semakin gelagapan ketakutan,takut kehilangan putra nya itu.


"kau mau jawab jujur, atau kau akan kehilangan putra mu itu"ancam Edgar.


🌹💖💖💖🌹


Edgar benar-benar kaget, saat Juli, menjelaskan bahwa putranya itu hadir karena sebuah kesalahan, tepat nya akibat kelalaian seorang dokter ahli kandungan, yang seharusnya memeriksa, kesuburan nya dan memastikan bahwa dirinya masih virgin, saat itu, karena hendak menikah, Juli malah mendapat musibah di balik anugerah yang terlambat untuk ia sadari, awalnya Juli, berusaha untuk bunuh diri, setelah mommy dan Daddy nya, itu mengusir nya saat itu juga dia hanya membawa satu buah koper berisi baju dan sedikit uang bahkan malam itu dia terlunta-lunta di jalanan, hingga seorang wanita menawarkan untuk bermalam di rumah nya, karena malam semakin larut, wanita itu tidak tega melihat Juli terduduk di bawah guyuran air hujan dengan koper kecil di samping nya.


Edgar,kini menatap lekat wajah cantik itu,ada Air mata yang terus mengalir deras dari wajah cantik itu.


wanita yang selama ini ia cari karena ingin mendapatkan kejelasan, tumbuh atau tidak nya pewaris tahta nya itu.


Edgar, hanya berusaha membuat wanita itu, tenang sambil menatap lekat wajah itu Edgar mendekat kan wajah nya, setelah itu dia mencium bibir Juli, dengan lembut, Juli hanya diam tak membalas ciuman itu sama sekali.


Tapi Edgar tidak ingin kehilangan momen itu saat ini dia langsung menggigit bibir bawahnya Juli hingga dia membuka mulutnya ingin marah tapi sesaat kemudian lidah Edgar sudah masuk ke dalamnya dan membelikan lidah nya berulang kali dengan lidah milik Juli.


Edgar, menahan tengkuk Juli, terus memperdalam ciuman tersebut dan ciuman itu semakin menuntut Juli, yang sadar akan tugas nya,


Juli mulai membalas ciuman tersebut, hingga Edgar, semakin menurunkan ciuman nya ke arah leher lalu setelah itu terjadi lah apa yang di inginkan Edgar, untuk mengikat wanita itu agar terus berada di sisi nya, dan setelah kontrak itu berakhir dia akan menggunakan putra nya itu untuk mengikat nya , tetap bersama dengan nya.


jam makan malam tiba tapi Juli, tidak turun untuk mengisi perut nya yang sudah sangat keroncongan, akibat perbuatan pria yang kini berbaring di samping nya, dia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk berdiri bahkan untuk bergerak pun terlalu sulit tangis nya tidak berhenti sedari tadi walaupun hanya lelehan air mata,demi pengobatan putra nya, dia rela menjual kehormatan nya saat ini.


sementara Edgar, yang sudah sangat lama tidak merasakan indahnya surga dunia, setelah di khianati oleh istrinya itu, dia begitu agresif dan tidak membiarkan wanita nya, istirahat sebentar saja, walaupun Juli, menjerit kesakitan, saat pertama kali dia menerobos gawang nya.


Juli, masih duduk menunduk menjadikan lutut sebagai tumpuan telapak tangan nya yang menutupi bagian wajah nya sambil menangis.


Edgar, membuka mata dia sendiri merasa bersalah karena telah menjadi pria bejat saat ini dia tadinya hanya ingin mengintrogasi Juli, tapi entah kenapa,ada dorongan kuat dalam diri nya, bahwa dia tidak boleh kehilangan wanita yang telah mengandung dan merawat anak nya selama ini bahkan wanita itu rela melakukan apapun berjuang keras untuk putra semata wayangnya selama ini.


Edgar, mendekat lalu berkata"Maafkan aku, mulai saat ini, aku akan menanggung biaya hidup mu dan anak mu"ucap Edgar, yang tak kunjung menjelaskan bahwa putra Juli adalah anak kandung nya.


"Tidak perlu meminta maaf, tuan kau tidak bersalah karena ini sudah menjadi kewajiban ku untuk membayar hutang ku pada mu, yang mungkin tidak akan pernah terlupakan untuk seumur hidup saya"ucap Juli, sambil menghentakkan tangisnya, dia mengusap wajah nya dengan kasar dia tersenyum di paksakan, setelah itu dia bangkit walaupun sulit mengambil baju nya yang masih berada di bawah lantai lalu bertanya pada Edgar.


"Tuan, apa boleh aku meminjam kamar mandi Anda??"ujar Juli.


Edgar, hanya mengangguk, dia tidak berkata sedikit pun, dia merasa sangat bersalah pada wanita itu, tapi dia harus melakukan itu untuk memastikan ucapan nya benar atau tidak nya.

__ADS_1


meski pun Edgar, sudah kebablasan, saat tadi sore.


tidak sampai sepuluh menit Juli, sudah keluar dengan baju nya yang semula, dia terlihat segar meski guratan kesedihan masih terlihat jelas di wajah nya.


"Turun lah kita akan makan malam bersama"ujar Edgar.


"Maaf, tuan saya tidak lapar, silahkan anda sendiri yang makan"ucap Juli.


"Juli ingat, apa yang aku ucapkan tidak bisa di bantah"ujar Edgar.


"Tapi tuan"


"Tidak ada tapi-tapian turun lah dan tunggu aku di bawah"ujar Edgar.


"Baiklah tuan"ujar Juli, pasrah Juli, berusaha berjalan senormal mungkin, walaupun rasanya sangat menyakitkan, tapi dia tidak ingin terlihat lemah.


"Kenapa??... jalan mu seperti itu"ucap Edgar, tanpa rasa bersalah.


Juli, tidak menjawab dia terus berjalan, berusaha mempercepat langkahnya saat ini.


sementara Edgar, pergi masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, di bawah guyuran shower, Edgar, terdiam bayangan apa yang terjadi sore tadi begitu membuat nya, merasa bersalah tapi sesaat kemudian dia tersenyum manis,kala mengingat betapa, indah tubuh wanita yang selalu menutupi tubuh nya dengan baju yang terlihat kebesaran.


dan jangan lupa, dia kembali merasakan bahagia setelah menjadi laki-laki pertama bagi ibu dari anak nya tersebut, dia langsung buru-buru menyelesaikan mandi nya dan bersiap untuk turun ke bawah, saat itu juga.


sesampainya di meja makan, Edgar langsung duduk, di hadapan Juli, yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya, selama menunggu nya.


"Angkat wajah mu, saat berada di meja makan karena tidak mungkin makanan itu berjalan sendiri masuk kedalam perut mu, jika kamu terus menunduk seperti itu"ucap Edgar, berusaha untuk membuat Juli , untuk bersikap biasa saja.


Juli pun mengangkat wajahnya, saat ini mereka sama-sama terdiam, tidak ada satupun yang memulai untuk mengambil makanan.


"Tuan, jika anda, tidak ingin makan, sebaiknya aku pergi saja"ucap Juli, memberanikan diri untuk bicara.


"Bagaimana aku mau makan, sedang kau saja tidak menyiapkan nya untuk ku "ujar Edgar, yang berhasil membuat Juli,kaget dia bahkan sudah lupa untuk melakukan tugas nya saat ini saking sedihnya.


"M maaf kan aku tuan, sekarang anda mau makan apa"ujar Juli.


"Tidak usah, aku tidak ingin dilayani dengan keterpaksaan"ujar Edgar, yang langsung memanggil pelayan yang nyatanya tidak berada di sana.


"Tuan, saya minta maaf, biarkan saya yang mengambil makanan untuk anda"ucap Juli, sambil mengangkat piring milik Edgar, dan mengisi nya dengan makanan tapi Edgar, tidak menerima apa yang diberikan oleh Juli, saat ini.


"Tuan, saya mohon maaf, jika perkataan maaf saya kurang, saya akan bersujud,di kaki anda"ujar Juli.


tapi Edgar,malah berlalu pergi dari tempat itu, dia tidak ingin berdebat dengan Juli, yang benar-benar membuat nya tidak berselera makan, dia langsung masuk ke dalam ruang kerja nya, saat ini bahkan langsung membanting pintu nya saat Juli, hendak masuk untuk meminta maaf.


"Tuan, saya janji akan mengembalikan uang anda, setelah saya kembali besok, saya akan mengantar kan uang nya pagi-pagi sekali, maaf sudah merepotkan Anda, sampai jumpa besok"ujar Juli, yang langsung berlari pergi menuju pintu gerbang, tapi sialnya gerbang itu di kunci otomatis, tidak ada yang mau membuka kan nya, Juli ingat ada pagar samping gerbang yang di peruntukan bagi para pelayan, tapi saat akan memegang pintu tersebut,suara seseorang menghentikan langkahnya.


"berapa banyak uang mu untuk membayar hutang yang telah aku pinjam kan pada mu karena uang itu adalah uang perusahaan"bohong pria itu.


"Saya akan mencicil bunga nya tuan,uang anda akan kembali dengan utuh"ucap Juli tanpa menoleh ke arah Edgar, yang kini mengepalkan tangannya.


saat hendak membuka pintu lagi, tangan Edgar mencekal lengan Juli, dengan erat dia tidak memperdulikan Juli, yang meringis kesakitan.


"wanita yang sudah ku beli tidak akan bisa keluar dari sini tanpa seizin ku mengerti"ujar Edgar, yang langsung membawa Juli, kembali masuk ke dalam.


sesampainya di dalam Edgar langsung menghempaskan tubuh Juli,di sofa ruang tengah.


"Renungkan semua kesalahan mu, sebelum kau menyadari nya,kau tidak ku izinkan pulang atau menemui putra mu itu, dan jika kau kabur maka jangan harap putra mu itu akan selamat"ucap Edgar.


"Tuan, aku mohon jangan kurung aku di sini, aku harus pulang putra dan ibuku, membutuhkan ku saat ini"ujar Juli, sambil menggenggam tangan Edgar berharap bisa di ijinkan untuk pulang.


"Aku sudah bilang jangan jadikan itu sebuah alasan, karena aku sudah mengurus semuanya,kau hanya harus merenungkan di mana letak kesalahan mu itu"ucap Edgar tegas.


"Tuan aku tau kesalahan ku, adalah aku tidak melayani mu dengan baik itu kan yang anda maksud "ucap Juli meminta penjelasan.


"Bukan itu saja kesalahan mu adalah sifat keras kepala mu, aku tidak ingin melihat itu terjadi lagi,ingat Juli, aku tidak akan memaafkan sedikit saja kesalahan yang kau lakukan akan berakibat fatal bagi ibu dan putra mu itu"lagi-lagi Edgar, mengancam.


Juli, duduk di sofa itu sambil menunduk, dia benar-benar, seperti wanita yang suka menggadaikan tubuh nya, saat ini.


air mata nya luruh begitu saja, tapi kemudian dia mengusap kasar wajah nya, dia merasa malu dengan dirinya sendiri, bahkan tidak bisa melihat cermin sedikit pun, dia merasa dirinya sangat kotor, meski dia memiliki alasan kuat untuk itu.

__ADS_1


Edgar, pergi dari ruangan tersebut, dia langsung meminta pelayan membawa kan makan malam nya ke dalam kamar dan meminta Juli, untuk menyusul nya.


"


__ADS_2