Sugar Daddy

Sugar Daddy
Part 5 New Item


__ADS_3

Aku masih mengingat kejadian semalam, saat ibu datang bersama mereka dan membawa paksa diriku meninggalkan ibu. Lalu membakar satu-satunya tempat tinggalku dan membunuh ibu. Sebenarnya, ada masalah apa ibu dengan mereka? Dan kenapa harus aku yang membayar kesalahan yang diperbuat ibu di masa lalu? Belum cukupkah aku menderita selama ini? Tidak adakah kebahagiaan yang akan kudapatkan walaupun sekali seumur hidupku?


Aku mengangkat kaki keluar dari bathtube dan mengenakan handuk. Kulihat seragam tergantung di dalam lemari kaca yang sudah mereka siapkan untukku. Aku mendekatinya, menyentuh perlahan pakaian yang nampak cantik di dalam etalase. Pakaian yang mungkin terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan sangat mahal juga didesain khusus untuk keperluan instansi tertentu.


Kujatuhkan handuk untuk mencobanya. Betapa terkejutnya diriku, saat melihat pantulan cermin yang memantulkan bayanganku sendiri.


“Ada yang salah denganku atau cermin ini?”


Aku nampak begitu berbeda di sana, hanya dalam waktu semalam. Payudaraku tumbuh dengan cepat dan cukup besar. Begitupun dengan pinggulku, lekukannya sangat indah seperti gitar spanyol. Ada satu bagian yang membuatku tidak percaya dengan perubahan diriku yang sangat pesat dalam waktu beberapa jam saja. Kulihat sebuah tanda bersinar di leherku.


“Ti-tidak mungkin!” Jari-jariku meraba halus dada yang membulat kenyal dan menuruni perut menuju pinggulku sendiri. Disaat aku mengagumi perubahan pertumbuhanku menjadi wanita dewasa, leherku mengeluarkan sinar yang terus berpindar. Muncul sebuah tanda yang belum pernah kulihat. Tanda yang mengeluarkan cahaya cukup terang.


Dengan cepat aku menampar wajahku sendiri.


Plaak!


“Aaduuh!” Jemariku mengusap-usap pipi. “Sakit. Ternyata aku tidak sedang bermimpi.” Apa seragam ini dibuat khusus untukku, ya?” Aku membolak-balikkan pakaian.


“Hey, kau! Cepatlah keluar!” Suara pria yang membawaku semalam menghancurkan kesenanganku pada tubuh baru dan rasa kagum pada pakaian baru. Dengan cepat aku mengenakannya.


“Seragam ini, pas sekali denganku.”


“Kau terlihat keren dengan setelan itu.”


Lagi, dia datang tiba-tiba. Mungkin, masih keturunan jailangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.


“Apa kau tidak punya sopan santun?”


Dia hanya membalas dengan senyuman.


“Atau kau dari tadi mengintipku saat mandi?”


“Apa kau sudah bersiap?” Pria pertama yang kulihat di kamar ini kembali menyapaku. Ia masuk kamar mandi tanpa ijin dariku. Kali ini pakaiannya terlihat santai. Berbeda dari sebelumnya yang memakai setelan jas serba hitam termasuk kemeja dan dasinya.


“Kenapa kau tidak mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk kamar mandi?”


“Untuk apa?”


“Memastikan kalau aku sudah selesai mandi dan berpakaian atau belum?”


“Tidak perlu.”


“Kenapa?”


“Karena aku tahu kau sudah selesai dan sedang mengagumi dirimu sendiri di depan cermin.”


“Apa kau ....” Pipiku memerah.


“Iya.” Tersenyum merasa menang banyak.


“Kita akan ke mana?” Aku mengalihkan pembicaraan agar dia tidak berpikiran mesum setelah melihat perubahan fisikku yang telah melewati masa puber menjadi wanita dewasa bukan remaja lagi.


“Nanti kau akan tahu.”


Aku menoleh, bocah jailangkung itu sudah menghilang.


“Kenapa?”


Aku menggeleng saat ia bertanya dengan wajah penuh curiga.


“Apa yang kau cari?” Ia menatapku keheranan karena masih berdiri tak mengikutinya.


“Tidak ada.”


Ia memberiku sebuah jaket musim dingin yang bagian bawahnya menutupi sebagian lututku.

__ADS_1


“Bocah tengil itu kemana perginya?”


“Siapa?”


“Bukan siapa-siapa.”


“Ini!”


“Apa?”


“Kau tidak malu keluar dengan pakaian minim begitu?”


“Baiklah.”


“Pakailah,” ia menyodorkan pita hitam, saat kami akan ke luar dari kamar.


“Apa perlu aku menutup mata dengan ini juga?” Mengernyitkan kening.


“Pakai atau aku congkel kedua matamu,” jawabnya ketus.


“Haish!” Mendengus kesal.


Aku menyambar pita dari tangannya, tanpa bertanya lagi langsung kupakai. Penasaran juga dengan apa yang ada di balik pintu kamar. Aku sengaja mengendorkan ikatannya agar bisa mengintip dari bawah pita, namun sial ia mengetahui apa yang ada di benakku.


“Auw!” Dia mengencangkan ikatannya, dan menambah penutup pada kepalaku.


“Jangan berani melawan atau kau tewas mengenaskan seperti ibumu,” bisiknya sambil menyumpal dan mengikat mulutku dengan kain.


“Jadi, ibu dibunuh oleh mereka. Setelah membeliku dari ibu dan memberinya banyak uang. Aku tidak pernah tahu, apa yang mereka rencanakan dan siapa dalang di balik semua ini? Ada hubungan apa ibu dengan mereka? Sehingga mereka tega melenyapkan satu-satunya keluargaku di dunia ini.”


“Jangan berani mencoba untuk membalas dendam pada kami. Kau akan mati sia-sia seperti ibumu itu.”


“Sebenarnya kau ini apa?”


“Aku?” Kurasakan ia menengok ke arahku.


Tersenyum, melanjutkan perjalanan.


“Manusia biasa tidak mungkin bisa mendengar isi hati orang lain tanpa diucapkan sama sekali.”


“Siapa bilang aku manusia?”


“Jadi, kau bukan manusia?” Aku menghentikan langkah mendengar pernyataannya.


“Tentu saja bukan.”


“Kalau kau bukan manusia, lalu apa?”


“Apa kau buta?”


“Tidak, tapi saat ini, iya.”


“Kenapa?”


“Karena kau menutup mataku, bodoh!”


“Kalau begitu, kau benar-benar buta.”


“Kau yang buta!”


“Aku?”


“Iya, kau!”


“No!”

__ADS_1


“Yes, you are!”


“Why?”


“Karena kau tidak bisa melihat mataku yang tertutup kain hitam ini.”


“Oh ....”


Aku mendengus kesal. “Kau belum menjawabnya!”


“Apa?”


“Pertanyaanku.”


“Yang mana?”


“Sebenarnya kau itu apa? Kalau kau bukan manusia!”


“Oh ....”


“Jawablah!”


“Biasa saja. Jangan nge-Gass gitu.”


“Oke,” masih menahan emosi, walau darah sudah mendidih sampai ke ubun-ubun. “Jadi, kau ini apa?” lanjutku.


“Cogan.”


“Cogan, itu apa?”


“Cowok ganteng.”


“Hah!”


Nyess, kurasakan wajahku tersiram air es mendengar jawaban monohok dari mulutnya. Kulihat wajahnya merasa bangga mengatakan kalau dirinya pria tampan.


“Kepedean banget ini orang, sok keren,” batinku.


“Emang,” jawabnya dingin. “Sudah cepat jalannya.” Ia mendorongku. “Jangan jadi siput! Kau ini bukan puteri solo,” lanjutnya menarikku mengikuti langkah kakinya yang semakin cepat.


Kurasakan sejuknya angin menyentuh lembut pipiku. Sepertinya aku sudah berada di luar ruangan. Samar kudengar percakapan mereka menggunakan bahasa asing. Mungkin membicarakan pekerjaan atau sekedar bercandaan yang hanya diketahui oleh mereka saja.


Tidak lama kudengar suara mesin mobil baru saja tiba di dekatku.


“Ayo, masuk!” Seorang pria mendorongku ke dalam mobil setelah ia membuka pintunya.


Aku tidak ingin mengatakan apa pun dalam hatiku, agar mereka tidak bisa membaca apa yang kupikirkan. Walaupun sangat penasaran, siapa mereka sebenarnya dan aku akan dibawa kemana?


🔫💣🔪


Aku membiarkan diriku terombang-ambing mengikuti mobil yang melaju dengan cepat. Dengan begitu aku bisa menebak kira-kira akan dibawa kemana? Aku hanya berharap bisa membuka borgol dengan jepit rambut yang kucuri dari Nanny lalu kabur dan berlari sekencang-kencangnya.


Aku masih berusaha membuka borgol dengan jepit rambut milik Nanny, namun mobil yang dikemudikan melaju semakin tidak karuan dan membuatku kesulitan menggunakan jepit ini sebagai kunci. Karena tubuhku ikut terombang-ambing mengikuti setiap belokan. Naik turun tanjakkan dari jalan yang dilalui mobil yang kunaiki, membuat perutku terasa dikocok-kocok dan terasa mual.


“Saya berani taruhan, dia akan kalah dalam 1 ronde.”


“Tidak mungkin, biasanya yang pertama kali melakukannya pasti bermain lama.”


“Apa yang mereka bicarakan?” Perutku semakin mual mencium bau alk*h*l dari mulut mereka.


“Sudah pasti dia akan dibeli dengan harga tinggi, ha-ha-ha.”


“Memangnya aku barang dagangan diperjual belikan!”


“Kalau itu saya setuju, ha-ha-ha.”

__ADS_1


“A-apa?! Mereka benar-benar akan menjualku!”


🔫💣🔪


__ADS_2