
“Andai masih ada Tante. Mungkin hidupku tidak seburuk ini. Kenapa juga dia pergi meninggalkanku begitu saja hanya karena beda pendapat dengan ibu. Setidaknya itu alasan yang ibu katakan saat aku menanyakan penyebab Tante pergi tanpa permisi. Harusnya Tante membawa serta diriku dan meninggalkan ibu sendirian. Mungkin dengan begitu ia bisa berubah menjadi lebih baik dan menyadari kesalahannya selama ini.”
Aku tak henti memandangi foto Tante yang menggendongku saat berusia satu tahun. Hanya foto inilah yang kupunya untuk mengobati rasa rinduku padanya atau penyembuh sedih di saat kuterluka karena ibuku.
Alarm berbunyi, pengingat PR harus dikerjakan. Suaranya menyadarkan lamunanku dan kembali ke masa kini bukan mimpi lagi.
“Sialan! Susah banget lagi tugasnya. Ternyata benar harus dikerjakan kelompok, tapi mana ada yang mau bekerja sama denganku? Setiap hari mereka selalu membullyku, bahkan guru pun tak perduli dengan kenakalan muridnya yang di luar batas terhadapku!”
Mataku terhenti di sebuah gaun putih milik ibu dan seragam sekolahku. Pakaian yang sudah selesai kusetrika dan terlipat rapih dalam lemari tanpa pintu. Tiba-tiba teringat kejadian tadi sore.
“Anak tadi itu, benar manusia atau jailangkung, ya?” Garuk-garuk hidung. “Bodoh amat lah! Jangan-jangan dia akan datang lagi, kalau aku membicarakannya.” Mengacak-acak rambut. “Lebih baik mengerjakan PR Fisika saja.” Menyisir rambut dengan jari-jari, bergaya sok cantik.
Terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
“Tumben, masih sore ada yang memakirkan mobil.” Kulirik arloji menunjukkan pukul 07.00 pm.
“Bukankah ibu bilang akan datang pukul 20.00 tapi jam segini sudah ada yang bertamu?”
Penasaran dengan siapa yang datang, kuberanikan diri menuju ruang tamu dan mengintip dari balik tirai jendela.
Sorot lampu mobil menembus jendela ruang tamu. Kulihat ibuku datang bersama teman kencannya malam ini.
“Itu ‘kan ibu. Lalu siapa mereka? Apalagi yang ia lakukan di luaran sana? Pelacur itu tak pernah kehabisan drama dalam hidupnya!"
Tak seperti biasanya, kali ini ia datang dengan beberapa orang yang terlihat misterius. Mereka ke luar dari mobil Audy hitam dengan plat nomor SU 9412 DD.
Mereka menggunakan jubah bertudung hitam dengan setelan jas serba rapih. Sementara pakaian ibuku yang tadi saat berangkat berwarna serba merah berubah hitam. Sama gelapnya dengan yang digunakan mereka.
Aku mengintip dari balik tirai jendela. Mereka terlihat hati-hati sekali. Tidak ingin ada yang tahu kedatangannya ke gubuk deritaku.
Entah, apa yang mereka bicarakan di luar sana. Aku menerka mereka terlibat debat yang akhirnya membuat ibuku mengalah dan mengantarkan seorang pria menuju rumah kami.
Tak ingin ibu tahu, aku sedang memata-matai mereka. Aku pun langsung beranjak dari kursi ruang tamu. Secepat kilat berlari menuju kamar dan memasang headset. Pura-pura mendengarkan lagu favoritku sambil mengerjakan PR.
Sungguh, hati ini sudah tidak perduli lagi. Apa pun yang akan mereka lakukan nanti, bukan urusanku.
Hanya saja, kenapa mereka harus melakukan aktifitas binatang itu di gudang tua ini?
Apa mereka tak mau keluar uang sedikit pun?
Modal untuk sewa hotel melati untuk bercinta!
“Gubrak!” Suara pintu dibanting orang saat membukanya.
“Bangun!” Ibu membuka pintu dengan kasar dan menarik selimutku.
__ADS_1
Aku terbelalak kaget, melihat mereka sudah berada dalam kamar.
“Ka-kalian! Apa yang kalian lakukan di kamarku?”
“Dia anakmu?” Seorang pria berkaca mata hitam melepas tudungnya, dia terlihat seperti Mafia.
“Bukan, dia hanya benalu di hidupku!” Ibuku menyalakan rokok, tangannya gemetaran nampak stress sedang menyapanya malam ini.
“Apa katamu?! Kau menganggapku parasit dalam hidupmu?”
“Benalu yang cantik.” Senyum menyeringai.
“Bawa dia!” Pria tadi menyuruh teman-temannya yang menurutku terlihat seperti anak buahnya.
Aku beranjak dari kasur mencoba kabur.
“Ti-tidak!” Aku berontak. “Le-lepas!” Berusaha melawan mereka namun kalah telak.
“Kau harus ikut dengan kami!”
“Bu, apa yang kau lakukan padaku?” Mereka menyeretku ke luar kamar.
Aku menoleh ke belakang melihat ibu, wajahku memelas meminta tolong. Tapi, dia membuang mukanya, seakan jijik melihatku.
Dari dalam mobil aku melihat pria tadi memberikan sejumlah uang pada ibu. Dia tertawa senang dan menghamburkan uang itu.
“Bu, apakah aku sehina itu? Sehingga kau tega menjual darah dagingmu sendiri? Bukankah selama ini aku hidup hasil jerih payah keringatku sendiri tanpa merepotkanmu sama sekali, Bu?”
Setelah beberapa meter mobil meninggalkan rumah, aku melihat kobaran api dari kaca spion atas mobil.
“Kobaran api, sangat besar. Apa mungkin benar yang kulihat? Jangan-jangan....”
Penasaran dengan apa yang terbakar, aku menoleh ke belakang.
Ternyata api besar itu adalah rumahku yang sedang dilahap habis si jago merah dan telah berubah menjadi api unggun.
“I-iibuuu...!!!” Aku berteriak sekuat tenaga, meronta melawan mereka berusaha ke luar dari mobil namun sia-sia.
“Diam! Kalau kau tidak bisa tenang aku akan memukulmu.”
Ketika sebuah kain hitam mendarat di hidungku dan membuat pandanganku kabur, lemas, hingga pingsan.
Samar kudengar, “Ibu dan anak sama saja merepotkan!” ucap orang yang membiusku.
“Setidaknya kita sudah menyapu bersih kediaman mereka,” sahut temannya yang masih memegangi kedua tanganku.
__ADS_1
“Semoga polisi tak menemukan jejak kita,” sopir menambahkan, mereka tertawa bersamaan hilangnya kesadaranku.
⭐⭐⭐
“Cuit, cuit, cuit,” suara burung berkicau di pagi hari.
Angin berhembus sepoi-sepoi membuat daun saling bergesekkan. Sebagian jatuh ke tanah karena sudah layu, kering kecoklatan.
Sesekali dahan mengatuk-ngatuk jendela. Seakan mengetuk ingin masuk ke dalamnya.
Kurasakan hangat cahaya matahari menyapaku. Menyentuh lembut pipi namun menyilaukan mata.
Saat kubuka kedua mata yang masih terasa berat, kulihat seorang pria sudah duduk di hadapanku tanpa berkedip sedikit pun. Rupanya ia sudah menungguku terbangun.
Aku beranjak kaget, merubah posisi dari terbaring menjadi duduk. Wajahnya masih datar tanpa ekspresi.
Mataku berkeliaran melihat seisi ruangan yang sangat asing. Sebuah kamar yang cukup mewah, lengkap dengan perabotan mahal.
Kami saling terdiam. Pria itu masih mematung tak bergerak sedikit pun.
Entah ... apa yang dia pikirkan tentangku? Mungkin juga dia tertidur dengan posisi yang tak biasa. Bisa jadi pingsan dengan fisik yang terjaga.
“Aku sadar kok, tidak tidur. Apalagi pingsan.”
“Bagaimana bisa dia mendengar isi hatiku, siapa dia sebenarnya dan aku berada di mana?”
“Kamu berada di salah satu Mansion Sugar Daddy.” Pria itu berdiri dan membuka tangannya sangat lebar,
“Welcome to Mansion Sugar Daddy.” Berjalan pergi ke luar kamar.
Aku beranjak dari kasur, bergerak perlahan menuju jendela, berniat meloncatinya dan kabur.
“Jangan main-main di luar jendela, kamu tidak tahu 'kan sesadis apa mereka di sana.”
“Lagi, dia bisa membaca pikiranku. Sebenarnya siapakah pria misterius ini?” Aku menoleh ke jendela, bagaimana mungkin ranting pohon berubah menjadi ular berbisa dan dedaunannya menjadi ulat bulu.
“Mungkin saja, mereka akan cepat menyantap habis tubuh molekmu. Apalagi dengan pakaian seperti itu.”
Dia menutup pintu rapat, meninggalkanku sendirian di kamar yang warnanya serba hitam.
“Apa yang dia bicarakan?” Aku melihat tubuhku.
Secepat kilat naik kembali ke atas kasur dan menutupinya dengan selimut. Saat kusadar tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku.
Aku tak tahu, ini mimpi atau kenyataan?
__ADS_1
Sulit untuk kubedakan. Berharap kejadian semalam itu mimpi, juga pagi ini.
Namun kusemakin yakin semua ini adalah kenyataan. Saat kulihat pergelangan tanganku lecet tergores.