
“Mc Lee, ada untungnya kau pingsan. Dengan begitu aku tidak pusing dengar ocehanmu yang lebih bising dari suara petasan.”
Vandro meletakkan Lee di jok depan dan menarik sit belt. Tanpa sengaja wajah tampannya menyentuh buah dada Lee. Dengan cepat libidonya pun naik.
“Glek!” Vandro menelan ludah. “Ah, sial! Kenapa dia begitu menggoda sih saat ini?” Vandro teringat kejadian dalam kolam renang, saat ia mencium Lee demi menyelamatkan hidupnya dengan memberi napas buatan dari mulutnya. “Lu lagi, Dek. Kenapa mendadak bangun sih? Di saat yang tidak tepat.” Vandro mengusap beberapa kali kemaluannya, “Tidur lagi, ya. Masih terlalu pagi untuk mabok!” Lalu menutup pintu mobil menuju jok sopir.
“Selamat datang, Tuan Muda Vandro.” Asisten mobil menyapa. “Ada yang bisa Caroline bantu?”
“Naikkan suhu untuk mengeringkan pakaiannya, ya.”
“Baik, dengan senang hati.”
“Kenapa wajahmu memerah begitu?” Vandro melihat LCD dashboard Caroline berwajah malu.
“Apa anda ingin dihangatkan juga?”
“Iya. Berikan aku coffee.”
“Luwak?” Muncul gambar hewan luwak di LCD mobil.
“Ya... Seperti biasanya.”
“Pakai susu?” Display LCD mobil menunjukkan sepasang payudara berukuran jumbo. Wajah Caroline memerah di LCD.
“Iya, tapi bukan susumu.” Vandro menghela napas.
Secangkir kopi luwak masih panas keluar dari dalam dashboard. Vandro menyeruputnya perlahan.
“Apa tubuh anda ingin dihangatkan juga seperti dia?”
“Tidak perlu. Nyalakan kamuflase saja.”
“Baiklah.”
“Caroline, kita langsung menuju rumah persembunyian mantan agent.”
“Bunglon Mode On Ready.”
Vandro tersenyum, meringis menahan sakit. Jari-jarinya masih menahan luka diperutnya agar darah tidak banyak yang keluar.
“Warna dan type mobil?”
“Terserah kau saja. Yang penting setiap 3 atau 5 km berubah. Jangan beraturan perubahannya.”
“Baiklah.”
“Ingat perubahannya jangan sampai terdeteksi kamera cctv maupun satelit.”
“Siap laksanakan Tuan Muda Vandro.”
“Caroline.”
“Iya, Tuan Muda Vandro.”
“Bersihkan luka di perutku lalu kau obati.”
“Siap laksanakan Tuan Muda Vandro.”
Caroline mulai membersihkan luka di perut Vandro dengan kapas yang sudah terbasahi alkohol menggunakan jari-jarinya yang terbuat dari logam dan bisa berubah bentuk sesuai kebutuhan pemiliknya.
__ADS_1
“Apa kau sudah menemukan pelurunya?”
“Iya, peluru yang belum pernah kulihat selama menjadi doktermu.”
“Baiklah, kau simpan peluru itu. Kita akan menyelidikinya nanti.”
“Dengan senang hati Tuan Muda Vandro.”
“Aauuw... Jahit perlahan dan hati-hati.”
“Maafkan aku Tuan Muda Vandro. Aku akan lebih hati-hati dan pelan-pelan.”
“Kau masih saja tidak sabaran. Kau bisa merobek dan mengeluarkan isi perutku menjadi berantakkan.”
“Tidak akan Tuan Muda Vandro. Aku tidak sesadis itu padamu.”
“Berikan aku obat biusnya juga infus.”
“Baiklah, seperti keinginanmu.” Caroline memasang alat infus di tangan Vandro dan menyuntikkan obat bius ke dalam cairan infusnya.
“Ada lagi yang bisa kubantu Tuan Muda Vandro.”
“Hhmmm....”
“Kenapa kau menunjukkan gambar sosis dengan alat pemanggang di LCD?”
“Apa kau ingin aku hangatkan sosismu juga, Tuan Muda Vandro?”
“Hey, sejak kapan kau jadi cabul begitu?” Vandro mengernyitkan kening.
“Sejak adik kecil anda terbangun, Tuan Muda Vandro.”
“Sudah Tuan Muda Vandro.”
“Kenapa bisa? Bukankah aku mematikanmu setiap kali selesai memakirkanmu di garasi.”
“Aroma feromone Tuan mengaktifkanku secara otomatis.”
“Haish, dasar cabul. Ya sudah kalau begitu.”
“Let’s go!”
“Damn! Semoga adik kecilku tidak apa-apa.”
Flash back 15 menit lalu.
“Kalau terus bertahan tanpa melakukan perlawanan, kami berdua pasti ditangkap. Tapi tidak mungkin mereka membiarkanku hidup. Pasti aku yang lebih dulu dilenyapkan.”
“Hey, apa yang kau pikirkan?”
“Not this time!”
Tabung pemadam kebakaran terlempar ke arah musuh-musuh yang terus berdatangan lalu Vandro menembaknya.
Duuaarr!!!
Tabung meledak, kaca jendela pecah.
“Ayo!” Vandro menari Lee ke luar dari persembunyian di balik meja.
__ADS_1
Musuh masih terus menghujani mereka dengan timah panas dan beberapa diantaranya melempar barang-barang disekitar untuk menghadang kepergian Vandro dan Lee. Termasuk benda pecah belah dan meja kursi di ruangan itu.
Sebuah potongan kayu mengenai bagian sensitive Vandro saat ia memukul dan menendang benda-benda itu agar tidak mengenai mereka. Namun naas potongannya mengenai alat kelamin Vandro.
“Owh... Shiittt!”
Mereka meloncat ke luar jendela dan tercebur ke kolam renang.
“Kaauu giilaa!” teriak Lee.
Byuurr!
Mereka terjatuh hampir ke dasar kolam renang. Sebagian air tertelan, Lee tidak bisa bernapas.
Vandro mencium Lee, ia memberi napas buatan melalui mulutnya. Tapi Lee salah paham, matanya melotot dan menendang ******** Vandro setelah mendapatkan sambungan napas dari Vandro.
Wajah Vandro memerah menahan marah sekaligus merasa kesakitan. Ia menarik Lee ke atas permukaan menuju pinggiran kolam, namun Lee berontak. Lee mengira Vandro akan mencabulinya di dalam kolam renang.
Vandro menenangkan Lee dengan memeluknya, ia memberi isyarat untuk berenang menuju ke atas. Gadis itu pun membalas pelukan Vandro sampai ke atas permukaan air. Mereka berusaha naik ke pinggiran kolam renang. Vandro membantu Lee dengan mendorong bokongnya, lalu ia menaruh kedua tangannya di pinggiran kolam renang dan menekannya hingga berhasil naik. Mereka berbaring di pinggiran kolam renang dengan napas saling berkejaran tidak beraturan.
Caroline menyadarkan lamunan Vandro.
“Apa yang kau cari Tuan Muda Vandro?” Caroline memberikan kotak P3K manual lengkap dengan batu es. “Kenapa kau tidak membiarkanku mengobati lukamu yang di sana.” Caroline menunjuk ke arah segitiga pengaman Vandro.
“Untungnya aku selalu sedia P3K dan es batu dalam mobil.” Vandro mulai menekan luka memar dibagian kemauannya dengan es batu yang dibungkus kain. “Kenapa kau selalu tahu apa yang kupikirkan Caroline?”
“Aku bagian dari dirimu Tuan Muda Vandro.”
“Oh ya, aku lupa. Kau didesign khusus untukku.”
“Betul sekali Tuan Muda Vandro. Termasuk keinginan bercinta kita sama.”
“Astaga Caroline! Kau fokus saja dengan tugasmu. Jangan bahas sex terus, ya.”
“Apa kau mulai tertarik denganku Tuan Muda Vandro?” Caroline flirting.
“Tidak!”
“Mungkin kita bisa menggunakan jok belakang untuk mencobanya. Perempuan di sampingmu tidak akan sadar dengan cepat. Biarkan saja dia pingsan agar tidak mengganggu kita.” Caroline menampilkan gambar ranjang romantis. Hasil remake jok belakang mobil.
“Kalau kau bercinta denganku, lalu siapa yang akan mengemudikan mobil?”
“Jangan khawatir Tuan Muda Vandro. Aku memiliki banyak keahlian termasuk mengendarai secara otomatis.”
“Ya Tuhan! Aku pasti sudah gila bercinta dengan robot.”
“Kau tidak gila Tuan Muda Vandro tapi ganteng sya-la-la-la.”
“Caroline! Shut up!”
Mode silent on.
Caroline masih terus menggoda Vandro dengan gambar gambar erotis di LCD mobil. Vandro mengabaikannya. Ia duduk setengah terbaring. Napasnya tersengal menahan sakit kehilangan banyak darah.
“Caroline. Daripada kau terus menampilkan konten mesum lebih baik berikan aku transfusi darah O rhesus negatif.”
Caroline menunjukkan gambar transfusi dengan hati yang terus berdebar di LCD mobil.
“He he he, *****!” Vandro terkekeh melihat tampilan LCD.
__ADS_1