
Juli, masih harus mengerjakan peer untuk menjaga bayi besar tersebut, Juli harus benar-benar ekstra bersabar.
setiap hari, dia harus disibukkan dengan mengurus pria, yang sudah memaksa nya untuk tetap tinggal bersama dengan nya, dan Jerry, juga pindah ke Mension.
Juli, bangun sangat pagi dan langsung mandi setelah itu dia langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan paforit, Edgar, seperti yang tertulis di buku menu milik pelayan Edgar, yang memang orang Indonesia, setiap kali Edgar, merindukan masakan ibunya sedari kecil.
Juli,sering membuat itu saat ini karena dia, ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa melakukan apa? yang Edgar, minta.
setelah selesai memasak dia langsung membangunkan Edgar, tapi yang di bangun kan tidak juga bangun, bahkan dia malah terlihat sengaja mengabaikan panggilan dari Juli.
"Baiklah tuan jika anda tidak ingin melihat saya di sini, lagi saya akan pergi"ujar Juli, yang teramat kesal karena panggilan nya di abaikan.
Juli, hendak berbalik dan pergi, tapi seketika tangan nya di cekal oleh Edgar, dan ditarik nya sedikit kasar hingga Juli , terjatuh di atas tubuh Edgar, dengan posisi berhadapan, wajah mereka hanya berjarak satu inci dan itu langsung di manfaatkan oleh Edgar, dia langsung mencium bibir Juli, ******* nya, dengan sangat kasar, setelah itu dia melepaskan tautan bibir mereka.
"Kau , belum juga mengerti bagaimana caranya membangun kan ku"ujar Edgar.
"Tapi, tuan kita bukan suami istri"
"Tapi kita sudah melakukan lebih dari itu"potong Edgar.
Juli, langsung terdiam setelah itu dia langsung beranjak pergi dari hadapan Edgar, meninggalkan laki-laki yang sedang terlihat sangat kesal pada nya.
Edgar, langsung pergi ke kamar mandi dengan hati yang sangat kesal, Juli selalu membuat jarak diantara mereka.
sementara Juli, sedang menyiapkan pakaian santai untuk Edgar, dia sedang sangat kebingungan memilih baju yang Edgar, ingin pakai.
hampir lima belas menit dia berada di dalam wal-k in closed milik Edgar, dia sangat kebingungan, hingga sebuah tangan melingkar di pinggang nya.
"kau lebih senang menatap baju milikku, dari pada aku, apa aku terlalu menjijikkan untuk dipandang"ujar Edgar, kesal.
sementara, Juli, hanya diam mematung setelah itu dia langsung pamit untuk membangunkan putra nya itu.
"Tuan, karena tadi aku bingung,mau pilih baju yang mana untuk anda, dan sekarang karena anda sudah di sini, saya pamit untuk membangunkan putra saya biar dia cepat bersiap untuk sarapan" ujar Juli, yang langsung berbalik pergi, tapi lagi-lagi, pergelangan tangan nya di pegang oleh Edgar.
"Aku tidak mengijinkan mu pergi, nona Juli Ester"ujar Edgar, sambil menatap penuh arti pada Juli.
"Tapi tuan, aku kan sudah bilang aku ingin membangun kan putra ku, apa?... aku salah"ujar Juli.
"Tentu saja,kau belum menyiapkan apa yang aku butuhkan"ujar Edgar, dia itu tidak ingin orang lain di dahulukan oleh Juli, meski itu adalah anak nya sendiri.
Juli, pun melangkah mengambil baju santai untuk pria itu, dia langsung memberikan nya pada Edgar.
setelah selesai Edgar menggunakan baju nya tadi dia turun ke bawah, tatapan dingin yang di berikan oleh Edgar, mampu membuat Juli, bergidik ngeri.
Juli, tengah menyuapi putra nya.
__ADS_1
sementara Edgar, langsung duduk, dan Juli langsung menuangkan sarapan pagi nya saat itu juga, karena kalau tidak dia akan marah seperti biasanya, bila tidak di layani lebih dulu.
Edgar, langsung menyantap sarapan nya, setelah Juli duduk, di samping nya saat ini dia kembali menyuapi putra nya, tapi saat sedang sibuk menyiapkan makan tersebut, Edgar langsung menghentikan makan sarapan tersebut lalu memanggil asisten nya, hingga membuat Juli, langsung terhenti saking kagetnya.
"Carikan pengasuh terbaik untuk putra ku, sekarang juga aku tidak ingin waktu sarapan ku terganggu hanya karena ibunya terus kerepotan mengurus nya"ujar Edgar, meninggikan suara nya, Juli yang mendengar itu dia merasa malu karena mereka menumpang di rumah tersebut, itu pikir Juli, padahal Edgar, punya maksud lain.
tiba-tiba Juli menyimpan sendok dan garpu tersebut dan langsung beranjak dari duduknya dan dia menggendong putra nya saat itu juga, tanpa permisi dia langsung pergi menuju kamar putra nya, tanpa memperdulikan tatapan Edgar, yang kini merasa tidak dihargai sama sekali.
"Juli, hentikan!!!... apa yang kamu lakukan"ujar Edgar, saat sampai di kamar putra nya dia kaget, melihat Juli sedang memasukkan barang milik putra nya kedalam koper.
"kami akan pergi, jika kehadiran kami hanya mengganggu kenyamanan Anda tuan"ujar Juli, tanpa menatap ke arah Edgar.
"Apa??... yang kamu katakan simpan kembali semua itu ikut aku sekarang juga"ucap Edgar, sambil meraih tangan Juli, yang kini memberontak.
"lepas tuan,kami akan pergi sekarang juga, aku akan mengganti uang itu setelah aku mendapat kan nya"ujar Juli.
tanpa berkata apa-apa lagi, Edgar langsung menarik lengan Juli menuju kamar nya.
"Aku tidak tau apa yang ada di otak mu saat ini yang pasti saat adalah kau sedang salah paham terhadap ku, aku berkata seperti itu, karena aku ingin putra ku ada yang merawat nya dengan baik selain mommy nya"ujar Edgar yang tidak ingin lagi menyembunyikan rahasia bahwa Jerry, adalah anak kandung nya.
"Tuan, aku tau anda merasa simpati terhadap putra ku, tapi semua itu tidak perlu, karena putra ku hanya butuh aku sebagai ibu nya bukan pengasuh lain, dan jika anda merasa keberatan dengan itu, aku akan membawa nya pergi, aku akan mengganti rugi untuk semua biyaya yang telah anda keluarkan"ujar Juli.
"kau mungkin bisa mengganti uang itu, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan darah yang mengalir di tubuh putra mu dan semua yang ada pada putra kita apa kau sadar itu, dia putra ku, akulah yang saat itu sedang melakukan program bayi tabung, dan saat itu terjadi kesalahan yang dilakukan oleh dokter yang menangani itu semua dan aku sudah lama mencari keberadaan mu dan tuhan yang kemudian mempertemukan kita" ujar Edgar panjang kali lebar.
"Hey, aku tidak akan merampas nya dari mu sayang jangan khawatir, aku hanya ingin kita menjadi satu keluarga yang utuh untuk putra kita"ucap Edgar.
"Itu tidak mungkin Daddy, siapa yang mengizinkan mu, hidup bersama dengan nya, selama ini aku bersandiwara untuk melindungi mu dan keluarga besar mu, tapi apa yang aku dapat ini?..."ucap Angela, yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua di ikuti oleh para pelayan yang hendak mencegah nya , namun tidak berhasil.
"Angela, apa yang kamu lakukan di sini, pergi, sudah berapa kali aku bilang,kau bukan siapa-siapa lagi dan kau tidak berhak untuk memberikan pendapat"ujar Edgar marah besar.
"kenapa??.... Daddy, apa aku salah, jika aku mengorbankan diri demi kebaikan mu, hingga kamu tidak pernah bisa melihat dimana letak salah nya"ucap Angela.
Juli, langsung bergegas pergi dari tengah mereka berdua Juli, tau siapa wanita itu, dia melihat foto wanita cantik itu di dalam laci meja kerja Edgar, bahkan Edgar menyimpan nya dengan sangat rapi, Juli tidak ingin menjadi wanita serakah, saat ini dia hanya ingin putra nya.
Juli langsung bergegas menuju kamar putra nya itu lalu membawanya pergi saat itu juga kebetulan Edgar, tidak menyadari itu karena dia tengah sibuk berdebat dengan mantan istri nya itu.
"Dengar Angela, sekuat apapun kamu memberikan alasan , aku sudah tidak akan pernah perduli lagi pada mu, saat ini aku hanya akan menikah dengan nya"tunjuk Edgar... tapi sedetik kemudian dia tersadar Juli tidak ada lagi di tempat nya.
🌹💖💖💖🌹
Dua Minggu sudah Juli pergi membawa Jerry, entah kemana, Edgar, bahkan sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaan nya untuk, mencari keberadaan Juli dan putra nya saat ini, Edgar bahkan tidak pernah memperlihatkan senyuman lagi, dia begitu merasa kehilangan saat ini..
sementara Juli, tidak sekalipun ingin menginat Edgar lagi Juli merasa sangat kecewa dengan Edgar, dia merasa dirinya terlalu hina, karena Edgar, selalu memperlakukan seperti wanita nakal diluar sana.
Jerry, selalu bertanya kepada Juli , tentang Edgar, tapi dia selalu berkata bahwa Edgar pergi ke luar negri.
__ADS_1
Juli, kini bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah khusus masyarakat yang tidak mampu, dia tinggal di sebuah perkampungan kumuh, yang sangat jauh dari jangkauan itulah kenapa Edgar tidak pernah bisa menemukan nya.
sementara itu di kantor, Edgar, tengah melakukan meeting penting tapi Edgar sendiri tidak bisa berkonsentrasi, yang ada di pikiran nya saat ini hanya Juli, dan Jerry, putra semata wayangnya, hingga dia langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan meeting tersebut.
"Tuan, anda masih belum selesai"ujar asisten nya.
"kau lanjutkan saja, aku tidak bisa konsentrasi sebelum anak dan, istri ku ditemukan"ucap Edgar, yang langsung pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.
Juli, saat ini tengah memasak, untuk makan malam putra nya saat ini tengah duduk bersandar di sofa usang , Jerry, tengah menikmati puding buatan mommy nya , sambil menonton film paforit nya.
Juli, sesekali menoleh ke arah putra nya itu, rumah yang sangat sederhana itu, tidak memiliki sekat antara dapur dan ruang TV, rumah itu adalah pemberian kakek tua, yang belum lama ini meninggal , pria tua itu begitu merasa iba terhadap wanita muda yang membawa, anak laki-laki, tampak kelelahan dan kedinginan, kakek tua itu memiliki dua rumah semasa hidupnya, dan yang kini ditempati oleh Juli, adalah salah satu nya.
"Jerry, cuci tangan dan kaki, setelah itu kamu makan malam dulu, duluan"ucap Juli.
"iya mom..."jawab Jerry.
sementara Edgar, saat ini sedang sibuk menelepon, semua orang kepercayaan nya, saat ini dia benar-benar sudah tidak bisa menunggu lagi, untuk bisa bertemu dengan anak dan wanita nya itu.
"Juli, kemana kamu pergi, aku sangat merindukan kalian, kembali lah kau sudah salah paham"gumam nya lirih.
Edgar,kini duduk di sofa di balkon kamar nya, dia sedang menatap langit, yang kini terlihat mendung seperti hati nya saat ini, tak terasa air mata nya menetes dari sudut mata nya.
setelah puas memandang, langit Edgar mengambil sebotol wine, dia mulai meneguknya, sedikit demi sedikit, hingga botol itu kosong Edgar, pergi menuju ranjang berharap bisa memejamkan mata nya, tapi hingga pagi tiba, mata nya tak kunjung terpejam.
Edgar, bangun dan langsung bergegas menuju kamar mandi, berharap dengan berendam di bathtub, dia bisa merilekskan tubuh nya yang terasa kaku, karena tidak bisa beristirahat sedetik pun, jiwa dan raga nya terasa sangat lelah.
Edgar, sudah keluar dari kamar mandi, dia langsung menggunakan pakaian kerja nya dia merasa sangat kehilangan sosok wanita yang selama ini selalu menyiapkan semua kebutuhan nya, termasuk kebutuhan biologis nya.
"Juli, aku tidak akan memaafkan mu, jika terjadi sesuatu pada kalian berdua"ujar Edgar lirih.
Edgar melanjutkan memakai pakaian nya dan turun dengan langkah gontai, sambil berpegangan tubuh nya terasa lemas tak bersemangat.
Edgar, sampai di meja makan untuk sarapan pagi, tapi dia tidak berselera sedikit pun, hanya meneguk secangkir kopi itupun, hanya setengah dari isi gelas.
Edgar, termenung sejenak, hingga seorang asisten menghampiri nya dan memberikan jadwal nya hari ini.
Edgar, hanya diam tanpa kata, dia bahkan sudah tidak ingin lagi kemana-mana rasa nya dunia nya sudah berakhir pagi yang biasa nya, ceria dia bisa meminta apapun sesuka hati nya saat Juli masih ada di Mension, tapi kali ini bahkan bibir nya seperti terkunci.
"Kapan kalian akan menemukan mereka, aku akan memberikan bonus sesuai yang kalian inginkan, jika istri ku ditemukan dalam keadaan baik-baik saja"ujar Edgar.
asisten nya hanya mengangguk, dia sendiri sudah sangat menyerah karena bukan, hanya satu Kota yang menjadi target pencarian, bahkan hingga ke seluruh negara bagian, tapi tidak ada petunjuk apa pun, saat ini.
Juli, seperti ditelan bumi, saat ini bahkan dia meminta bantuan kepada ketua mafia, yang berada di kota tersebut, Edgar,kini hanya bisa berdoa, semoga Juli dan putra nya bisa segera kembali ke hadapan nya.
di tempat Juli, saat ini dia sedang memandikan anak nya, Jerry akan iya bawa ke sekolah tempat ia mengajar, Juli mengajar di sebuah gedung bekas gudang penyimpanan anggur, karena tempat nya tinggal saat ini adalah perkebunan anggur.
__ADS_1