
Saat ini, Alisa, dan Aryan, juga Reza, masih menikmati pemandangan indah di malam hari, dengan letusan kembang api,meski saat ini bukanlah tahun baru.
"Apa iya,kata orang jika orang yang kita sayang sudah berada di surga, mereka akan berada di atas sana, dan memperhatikan kita"ujar Aryan, sambil menunjuk sebuah bintang yang paling terlihat terang tersebut.
"Entah lah yang pasti, banyak yang mempercayai nya, tapi kamu harus bersyukur, dia pergi karena Tuhan, sangat menyayangi nya, berbeda dengan ku, aku sering melihat nya, tapi, tidak ditakdirkan untuk bersama, aku selalu menguatkan hati ku, semoga suatu saat nanti bisa melupakan nya.
"semoga saja"ujar Aryan.
"sudah lah,tuan dan nyonya, sebaiknya kita bahas yang lain saja, apa kalian tidak kasihan pada ku yang masih imut ini yang tidak mengerti apa-apa"ujar Reza, yang sontak mendapatkan lemparan kulit kacang.
"ye....dasar bocah"ujar Alisa, sementara Aryan, hanya menyunggingkan senyuman.
"Oya, Reza, besok kita libur, bagaimana kalau kita pergi ke Paris"ujar Alisa.
"Aku sih terserah bos saja, dia yang paling berkuasa"jawab Reza.
"Aku terserah kalian"ujar Aryan.
mereka pun kembali melanjutkan jalan-jalan, saat ini hingga pagi menjelang mereka baru kembali ke Mension Aryan, saat ini Alisa, juga bergabung di sana.
sementara itu di Amerika, Ardi tengah sibuk membereskan barang-barang mereka berdua, saat ini Ardi, berencana untuk kembali ke Indonesia, saat Aditya, meminta nya untuk kembali , dengan murka nya, saat itu juga, Aditya, mengancam akan menceraikan istrinya, soraya yang sangat di cintai nya itu, entah apa yang sebenarnya Aditya, sembunyikan, dia rela untuk melepaskan, Soraya jika Ardi, tidak menuruti perintah nya.
walaupun Soraya, meminta Ardi, tetap bertahan di Amerika, dan tidak perlu memperdulikan dirinya, saat ini, tapi Ardi tidak ingin Soraya menjadi korban untuk cinta nya saat ini, bahkan Lala, yang mengetahui hal itu, dia langsung membujuk Ardi, walaupun Lala, harus berpura-pura, berjanji, agar apapun yang terjadi, Lala, akan tetap bertahan bersama Ardi.
saat ini, adalah hari yang menegangkan di full house, mereka merencanakan sesuatu untuk kebaikan semuanya, Elena, memberikan ide agar Lala, kembali tinggal di sana, walaupun saat ini, setatus nya adalah istri siri, Ardi, tapi mereka sangat perhatian terhadap Lala.
"Aku, setuju dengan Elena, Daddy, Lala biar tinggal di sini, jadi Ardi, akan tetap bisa bertemu dengan Lala"ujar Wiliam,sang suami.
"aku setuju"ujar Edgar, dan istrinya itu ikut mengangguk.
"Baiklah, Daddy, sendiri yang akan menjemput Lala,di bandara"ujar Edward.
"Biarkan aku saja , yang jemput, Daddy"ucap Edgardo, yang kini menatap istrinya itu, meminta persetujuan, dan istri nya pun mengiyakan nya.
perjalanan panjang yang melelahkan 24,Jam lama nya, membuat Lala, merasakan sakit, yang teramat di perutnya, saat ini, Ardi yang panik, segera menelpon seseorang tapi saat akan menutup telepon nya, tiba-tiba saja Edgardo, menghampiri mereka.
"Ardi, Lala, apa kabar,sini aku bantu"ujar Edgardo.
"Kak, istri ku, kesakitan aku tidak tau kenapa tapi dia mengeluh kesakitan"ujar Ardi yang kini langsung menggendong istri nya itu.
"Ayo, cepat kita bawa dia kerumah sakit, dan biarkan barang-barang mu, mereka yang bawa"ucap Edgardo, lagi.
"Lala, sayang bertahan lah demi anak kita"ujar Ardi, yang kini melihat Lala, bercucuran air mata,saking sakit nya, perutnya kini.
Lala, tidak menjawab, dia hanya menatap sendu pada Ardi, saat ini mobil melaju dengan kecepatan tinggi, saat ini sesampainya di depan rumah sakit, Edgardo, langsung berteriak memanggil petugas medis yang kini langsung menyambut nya, Lala, yang kini sudah tidak sadarkan diri, dia langsung dibawa masuk kedalam ruang unit gawat darurat.
sementara itu Ardi, mondar-mandir tak jelas dia begitu panik hingga asisten Edgardo, menggantikan nya, untuk mengurus administrasi, atas perintah Edgardo.
"Ardi, tenangkan diri mu, dan berdoa lah semoga Lala, dan anak mu baik-baik saja"ucap Edgardo.
"Keluarga, nyonya Lala"ujar sang dokter.
"Saya, dokter"ujar Ardi.
"Ikut saya,ada hal yang harus di bicarakan"ujar sang dokter.
"baiklah"ujar Ardi.
"Saya, ingin anda secepatnya mengambil keputusan, untuk surat persetujuan, nyonya Lala, sudah sangat parah keadaan nya, saya tidak tahu di antara ibu dan bayi yang mana yang akan anda pilih tapi saya mohon secepatnya"ujar sang dokter.
"Ardi, pilih anak kita saja"ujar Lala, yang kini tengah dipersiapkan oleh para perawat, untuk menjalani operasi.
"Tidak, sayang jangan pernah katakan itu kalian berdua harus bertahan"ujar Ardi.
"Tuan harus segera menandatangani nya, kalau tidak kami tidak akan bisa menyelamatkan keduanya"ujar dokter tersebut.
__ADS_1
"Saya mohon, dokter, selamat kan keduanya"ujar Ardi, yang kini terkulai lemas di lantai.
"Ardi, aku mohon pilih anak kita"ujar Lala, yang kini kembali kehilangan kesadaran nya.
"Tidak Lala, tidak"ujar Ardi.
Ardi pun langsung bergegas menandatangani surat tersebut, hingga Lala, berlalu masuk kedalam ruangan operasi saat ini.
"Maaf kan Daddy, sayang Daddy, bukan tidak menyayangi kalian, tapi Daddy, juga tidak bisa kehilangan mommy, kalian"ujar Ardi.
setelah lama menunggu, lampu di ruang operasi tersebut pun padam dokter pun berjalan keluar, menghampiri Ardi.
"Bagaimana Dok, apa semua berjalan lancar"ujar Ardi dan Edgardo, disusul oleh Elena dan yang lain nya.
"Anak kalian keduanya,selamat tapi nyonya Lala, keadaan nya saat ini sedang kritis, dia meminta kami menyelamatkan kedua anak nya"ujar dokter, yang tidak tega dengan permintaan terakhir Lala,meski saat ini Lala kritis
"Lala, tidak sayang kenapa kamu lakukan ini, Lala bangun"ujar Ardi, menangis histeris, dia bahkan berulang kali mengecup wajah cantik yang kini terlihat sangat pucat.
"tuan, sebaiknya anda tunggu diluar, saat ini kami akan membawa istri anda keruang ICU"ujar perawat yang kini tengah bersiap mendorong ranjang pasien tersebut, menuju ruang ICU, disinilah hidup Lala,di tentukan.
"Lala!!""ujar Ardi .
"Kamu harus sabar"ujar Edward, yang kini memeluk Ardi, Ardi pun menangis sesenggukan di pelukan Daddy, sambung nya itu, hanya pria paruh baya inilah yang selalu begitu perhatian pada nya.
"Daddy, aku takut, Lala, Daddy "ucapan nya terjeda, saat Edward memotong nya.
"Tidak sayang, Lala akan bertahan untuk anak kalian"ujar Edward, sementara itu Elena, tengah sibuk mengikuti suster yang kini mengurus bayi mungil yang kini di masukkan ke dalam inkubator, saat ini, bayi laki-laki dan perempuan itu, saat ini terlihat sedikit lemah.
"sayang-sayang aunty, kalian harus bertahan harus kuat"ujar Elena.
🌹💖💖💖🌹
satu bulan berlalu, saat ini bahkan Ardi, sudah tidak di izinkan lagi, untuk menjenguk Lala, setelah dua Minggu sebelum nya, Ardi, ketahuan menampar Aira , Aditya, murka, Ardi , benar-benar tengah mengalami kemelut hidup yang sangat serius hingga, saat ini jika tuhan tidak membangunkan Lala, lagi Ardi, sudah tidak ingin hidup lagi.
sementara itu Aira sendiri kini tengah berkumpul dengan sosialita nya, bahkan tidak pernah peduli dengan semua itu.
Lala, membuka mata, dan mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada siapapun di ruangan itu,air mata Lala,menetes di sudut mata nya.
tiba-tiba, seorang suster masuk, dia kaget saat melihat Lala, sudah terbangun dari koma nya, saat, suster itu hendak menelpon seseorang, Lala pun berkata.
"jangan hubungi siapa pun,sus, biarkan mereka mengira aku tidak pernah bangun lagi,itu akan lebih baik"ujar Lala.
"Tapi, nona, bagaimana dengan putra-putri anda, saat ini mereka masih berada di ruang perawatan bayi"ujar suster tersebut.
"Saya akan membawa mereka pergi"ujar Lala.
Sementara itu, Lala, meminta seseorang, untuk mengurus kepergian nya, saat ini.
Lima,jam kemudian,ada dua orang asisten Aryan, mereka menjemput, Lala, dengan sangat hati-hati, tanpa diketahui, oleh siapapun, mereka bahkan membantu Lala, untuk membawa kedua, anak Lala.
sementara itu, Edward dan Ardi, merasa kecolongan, tapi mereka tidak bisa mempublikasikan nya, karena setatus Lala, hanya istri siri.
dan disini lah Lala, berada di sebuah rumah, tidak jauh dari kota besar tersebut.
Lala, tinggal di pinggiran kota, saat ini sebuah rumah sederhana, yang cukup nyaman dan asri Lala, yang baru pulih dibantu oleh seorang pengasuh, untuk mengurus kedua anak nya itu.
Reza, yang saat ini semakin bersemangat karena tau Lala, sudah sehat dia selalu menghubungi Lala, lewat video call, dan Reza, selalu tersenyum, saat melihat tingkah menggemaskan walaupun hanya senyuman atau tangis nya itu.
sementara itu, Ardi, semakin gila kerja saat ini, bahkan dia tidak pernah memperhatikan kesehatan nya, sendiri hingga suatu saat ia jatuh sakit, Ardi , hanya terdiam tanpa kata, setelah dokter memeriksa nya.
"sayang kamu kenapa bisa seperti ini"ujar soraya yang kini menatap sendu pada Ardi, putra nya itu.
"momm... jangan sedih, Ardi baik-baik saja,ko, hanya saja hati Ardi, saat ini sangat sedih Lala, dia entah dimana"ujar Ardi lirih.
"Maafkan mommy, sayang semua karena mommy,mu yang tidak berdaya ini, sudah mommy, bilang jangan pernah peduli kan mommy, mommy akan baik-baik saja, walaupun tanpa Daddy,mu di sisi mommy"ujar Soraya.
__ADS_1
"Ardi tidak ingin kalian terpisah, hanya karena Ardi"ucap Ardi lagi.
tiba-tiba Aira, datang dia langsung memeluk suaminya itu yang kini, menitikkan air mata benar-benar drama queen.
sementara itu Soraya, hanya menggeleng kan kepala nya,ia merasa sangat jengah bagaimana tidak, dia tau watak asli dari menantunya itu.
Soraya, hanya terdiam di sofa ruang rawat inap tersebut.
sementara itu, Ardan, dan Sarah tengah berada di mobil, mereka hendak menjenguk Ardi, saat ini, bahkan Sarah, sangat geram dengan tingkah Aira, yang seakan tak pernah perduli lagi dengan Ardi, hingga Ardi, jatuh sakit.
"Sayang, aku tak mengerti kenapa Daddy, sekeras kepala ini"ujar Sarah.
"Sudahlah Daddy,memang seperti itu"ujar Ardan.
sesampainya di depan rumah sakit,Sarah langsung turun tanpa bantuan Ardan, yang kini memarkir mobilnya itu.
"Sayang, aku duluan"ujar Sarah, sambil berlalu pergi, bukan tanpa alasan, dia melihat seorang tengah mengobrol terlalu intim.
Ya... dia adalah Aira tapi entah siapa laki-laki yang,kini mengobrol dengan nya.
saat Sarah , hendak berteriak untuk memanggil nya, tiba-tiba Aira, berlalu pergi menuju pintu yang berbeda.
sementara itu Ardan, datang dan merangkul pinggang istri nya itu, tapi ia sedikit, heran kenapa istrinya tiba-tiba mematung, tadi dia begitu antusias ingin pergi lebih dulu.
"Ada apa gerangan istri ku ini ko tiba-tiba berhenti di sini"ujar Ardan.
"Ah, tidak apa-apa sebaiknya ayo kita pergi ke tempat Ardi"ucap Sarah.
mereka berdua pun pergi menjenguk Ardi sang kakak, yang berbeda lima menit, dengan Ardan, saat itu.
saat, Ardan masuk, terlihat Ardi, tengah memejamkan mata nya, tapi masih terlihat dari sudut mata nya, saat ini.
"Di ... aku datang"ujar Ardan.
"heummm, kalian ternyata"ujar Ardi.
"kak, Ardi, sakit apa, kenapa kamu tidak mengabari kami sebelum nya???"ujar Sarah.
"aku baik-baik saja, tidak usah khawatir"ujar Ardi.
"apanya yang baik, sudah separah ini, Ardi,mau sampai kapan kamu terus memikirkan nya??"ujar Ardan, yang tidak pernah tahu bahwa sebenarnya, Lala, sudah melahirkan anak mereka, karena bulan ini diperkirakan baru menginjak usia delapan bulan.
"Sampai saat aku mati"ujar Ardi, yang kini menatap ke sembarang arah tatapan tersebut terlihat kosong.
"Lala, andaikan saja kamu melihat keadaan kakak,ku saat ini, apa kamu akan kembali, atau tetap menjauh"ujar Ardan.
Ardan, masih mengingat betapa, jutek nya, wajah cantik Lala, terlihat ketika mereka dulu sering mengerjai, wanita tersebut, yang baru berusia delapan belas tahun, saat itu, Ardi dan Ardan baru lulus kuliah, usia nya, kurang lebih 24 tahun, saat itu, Ardi, dan Ardan memang sangat tampan, tapi bagi Lala, mereka tidak pantas ia taksir karena mereka adalah adik dari majikan nya, Edgardo.
berulang kali, Ardi dan Ardan mengerjai Lala, dalam satu hari nya, terutama Ardi, yang selalu meminta, Lala, membantu menyisir rambut nya yang sudah sangat rapi, dan itu berhasil membuat Lala, ber komat-kamit dan itu berhasil membuat Ardi, tertawa riang gembira, bersama dengan sang adik.
hingga suatu saat, Lala, yang dipanggil oleh Ardan, untuk memasuki,kamar mereka, tanpa sadar, Lala, memergoki Ardi, yang saat itu,baru selesai mandi.
"Flashback on"
"Lala, tolong bantu aku untuk bersiap"ujar Ardan.
"Iya tuan "ujar Lala yang langsung pergi menuju kamar Ardi dan Ardan, tapi saat masuk yang di dapati bukan, Ardan, melainkan Ardi, yang baru keluar dari kamar mandi, Ardi , tidak kaget dia malah tersenyum, saat itu, langsung berkata.
"ehh...ada calon suami ku"ujar Ardi.
"jangan main-main dengan hal itu tuan, karena itu tidak lucu"ujar Lala,ketus .
"kenapa heummm"ujar Ardi, yang kini mendekat, memepet Lala,ke tembok.
"tuan jangan mendekat, jangan macam-macam, atau saya akan berteriak"ujar Lala, yang kini sedang mengambil ancang-ancang untuk pergi, tapi Ardi, terus menggoda nya itu.
__ADS_1