Sugar Daddy

Sugar Daddy
Part 4 Katalis


__ADS_3

Nena, salah satu nama asisten di Mansion Sugar Daddy berlari tanpa melihat ke depan dan menabrak seseorang. Ia terjatuh, dengan cepat memijit anggota tubuhnya yang sakit.


“Kenapa kamu berdiri di tengah lorong? Jangan harap saya akan minta maaf ya atas kesalahanmu,” teriaknya tanpa melihat sosok yang masih berdiri mematung di hadapannya.


“Kau tidak apa-apa, Nona?” Pria itu mengulurkan tangan, mencoba membantunya berdiri.


Nena melihat sebuah cincin melingkar di jari telunjuk pemuda itu. Cincin khas yang hanya dimiliki Tuan Muda di Mansion tempatnya bekerja. Perlahan wajahnya mendongak ke atas. Dilihatnya wajah tampan sedang tersenyum ke arahnya, masih mengulurkan tangan padanya.


“Tu-tuan Vandro.” Nena yang tadinya duduk karena terjatuh, cepat-cepat melipatkan kedua pahanya memberi hormat kepada majikannya. “Ma-maafkan kelancangan saya, Tuan.” Ia menundukkan dan menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah berulang kali. “Saya tidak tahu kalau itu anda. Sa-saya kurang hati-hati saat berlari di koridor. Tolong jangan hukum saya. Saya mohon jangan laporkan ke Daddy. Saya masih ingin hidup dan bekerja padanya.”


“Cantik juga.” Vandro tergoda dengan kemolekan tubuh Nena. Jari telunjuknya mengusap-usap dagu. Setengah berpikir mesum setelah melihat keseluruhan tubuh Nena. “Asisten ini bukannya yang tadi bicara dengan Nanny saat kutinggal di Pantry?” batin Vandro. “Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya bersenang-senang dengannya. Aku sedang bad mood. Banyak yang harus dikerjakan.” Vandro berlalu meninggalkan Nena yang masih memohon. “Kau beruntung kali ini selamat. Aku akan buat perhitungan denganmu suatu hari nanti,” lanjutnya.


Wajah Nena pucat pasi mendengar kata yang terucap dari mulut Tuan Muda Vandro. Badannya mendadak lemas dengan keringat dingin yang sudah membasahi sebagian seragam yang dikenakannya.


“Di-dia akan menyiksaku setelah urusannya selesai,” ucap Nena pelan dengan bibir bergetar. “Aku tidak akan selamat.” Nena tergulai lemas di lantai.


🔫💣🔪


“Semalam itu apa yang terjadi? Baru saja aku bermimpi sangat aneh!” Aku memperhatikan keseluruhan isi ruangan, tempatku berada saat ini. “Sebenarnya, tempat apa ini?”


Tok-tok-tok.


“Boleh saya masuk?”


“Masuklah.” Aku sudah bersiap menggunakan kabel headset untuk mencekiknya. Jika dia melarangku untuk ke luar dari kamar aneh ini.


“Sarapanmu, 15 menit lagi saya akan kembali membawa piring kotornya.”


“Sial!” batinku, melihat perempuan tua yang muncul dari balik pintu mengantarkan nampan berisi makan dan minum untukku. “Kenapa bukan pria tadi saja yang muncul. Dengan begitu aku tidak akan merasa bersalah sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Aku memperhatikan wanita tua paruh baya meletakkan barang bawaannya di atas meja kecil yang menyatu dengan ranjang kasur. “Aku tidak mungkin tega mencekiknya hingga mati dengan kabel headset ini. Apalagi wajahnya penuh cinta kasih, tidak sekejam pria kulkas tadi,” lanjutku dalam hati.


Hidungku mencium aroma yang membuat perutku semakin keroncongan dibuatnya. Perempuan itu tersenyum mendengar perutku yang kelaparan dan sudah tidak bisa dikompromi lagi.


“Habiskan makanannya, lalu mandi yang bersih. Saya sudah menyiapkan pakaian baru buatmu.” Dia menunjuk sebuah pintu di pojok kiri dan berlalu pergi.


“Tu-tunggu!”


Ia menghentikan langkahnya.


“Kau, siapa?”


“Aku, Nanny.” Tersenyum ramah.


“Maksudku, kau itu apa pemilik rumah ini?”

__ADS_1


“Bukan.”


“Lalu?”


“Aku hanya kepala asisten rumah tangga di sini.”


“Kalau kau bukan tuan rumahnya, lantas siapa pemiliknya?”


“Maafkan aku, Nona. Pekerjaanku banyak. Sebaiknya kau sarapan daripada membuang waktumu mencari tahu dari orang yang tidak tahu apa-apa sepertiku.”


Nanny pamit keluar kamar. Aroma makanan yang ia hidangkan, tercium sangat wangi dan masih terus menusuk hidungku. Membuat perutku bertambah keroncongan mengalahkan musik underground.


Pikiranku menolak menyentuh hidangan yang dia sajikan tepat di hadapanku, tapi perutku memaksa untuk memakannya. Penasaran dengan isinya, aku pun membuka penutupnya.


Sepiring beef stick wagyu berukuran jumbo tertata cantik dengan saos barbeque lengkap dengan french fries yang sangat banyak. Ditambah mayonnaise, saos tomat juga sambal pedas.


Makanan yang sejak dulu aku inginkan namun tak pernah kesampaian karena kemiskinan. Aku hanya bisa mendengar rasanya sangat enak dari mulut teman-temanku yang setiap weekend pergi ke restaurant cepat saji bersama keluarga mereka. Beruntung kali ini aku bisa menikmatinya, walaupun sekali seumur hidupku.


Benar saja, rasanya sangat lezat. Tak heran banyak orang yang ketagihan untuk menyantapnya. Walaupun merogoh kocek lebih dalam demi bisa menikmatinya lagi.


Kentang yang begitu crispy, dicocol saos dan mayonnaise. Benar-benar perpaduan rasa yang begitu nikmat. Apalagi setiap tetes jus yang muncrat ke luar saat daging tertusuk garpu, “Ah ... guuriih sekali.” Membuat lidahku tak berhenti bergoyang.


Aku benar-benar lupa, sedang berada di mana. Saat ini, aku hanya ingin menghabiskan makanan surga ini tanpa sisa, menjilati piring dan garpunya sampai bersih.


Aku bersendawa sambil menutup mata, meneguk kembali jus terakhir yang tersisa di gelas.


“Uhuk!”


Tersedak.


Saat aku membuka mata, bocah tengil yang mengagetkanku kemarin, muncul kembali di hadapanku.


“Enak, nih. Boleh minta, gak?”


“A-apa yang kau lakukan di sini?”


“Menunggumu.” Kedua tangannya memangku pipi. Ia masih asik memandangi wajahku tanpa berkedip sedetik pun.


Aku mengernyitkan kening. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan menjawab kebingunganku.


“Kamu senang, ya? Berada di sini?” Senyum.


“Cih!” Aku melanjutkan meminum jus setelah meludahinya, namun ia menghindari dengan sangat cepat.

__ADS_1


“Masa? Ckckck. Cantik-cantik, galak banget. Melebihi anjing doberman.”


Aku membuang muka, masih berpikir dia masuk dari mana? Kenapa dia bisa ada di hadapanku tanpa bersuara.


“Bohong! Buktinya kamu melahap habis sarapan yang di sediakan Tuan rumah.”


“Memang kenapa kalau aku menghabiskan sarapan ini?”


“Itu berarti kau menikmati makanannya dan sangat senang berada di sini, ‘kan?”


“Aku sangat lapar karena semalaman belum makan. Bukan karena menyukai makanannya apalagi betah tinggal di tempat semisterius ini.”


“Kamu kalau bohong mukanya lucu, mirip pantat ayam, he-he-he.”


Aku melempar bantal ke arahnya. Dia menghindar dengan cepat atau bantal itu baru saja menembusnya hingga terjatuh ke lantai.


“Kenapa menungguku?”


“Mau mengajak main.”


“Main apa?”


“Peluk aku, kau kucium.” Anak tengil itu mempraktikkannya dengan memonyongkan bibirnya kearahku sambil memeluk dirinya sendiri.


“Dih, alay!"


“Bukan alay, tapi gombal.”


“Lebay, Huh!” ucapku sambil meniup wajahnya.


“Huft. Kamu bau!” Ia menutup hidungnya. “Mandi dulu sana.”


“Hey, apa yang akan kau lakukan padaku?” Dengan cepat dia membopongku dari kasur ke kamar mandi.


“Lepaskan! Turunkan aku, bed*bah!” Dia menyeburkanku ke dalam bathtube. Entah bagaimana caranya? Ia melakukannya dengan sangat cepat, bahkan dalam hitungan detik.


“Ha-ha-ha,” ia tertawa senang lalu menghilang.


Kuyakin wajahku saat ia melemparku ke bathtube dan terkena cipratan air sangatlah payah. Seperti biasa saat kubuka mata bocah tengil itu sudah lenyap tanpa jejak.


“F*ck!” Aku memukul-mukul air dalam bathtube. “Akan kuremas wajahmu seperti keripik.” Kugerakkan jemari berulang kali (***-remas) dengan sangat kesal sambil membayangkan wajahnya.


🔫💣🔪

__ADS_1


__ADS_2