
Lala, hanya bisa pasrah saat Ardi tidak mengizinkan nya untuk bekerja tapi dia tidak habis akal dia berpura-pura untuk berbelanja saat ini padahal dia hendak menemui bosnya.
"aku yang akan mengantar mu belanja"ujar Ardi, saat ini sudah berdiri di hadapan Lala.
"Ardi, please aku juga belanja bukan di mall, lagi an kamu tidak akan pernah nyaman berada di sana ini pasar tradisional jadi kamu tunggu di sini saja"ujar Lala.
"tidak di sana atau tidak sama sekali"ujar Ardi memberikan ultimatum.
"owh ya Allah, mau sampai kapan begini terus"ujar Lala, yang kembali masuk kedalam dia bahkan kembali masuk kamarnya.
"Lala sayang, katanya mau belanja ayo"ujar Ardi.
"belanja saja sendiri tuan Ardi, yang terhormat"ujar Lala, yang langsung membanting pintu kamar nya.
"sayang ayolah, jangan seperti ini"ujar Ardi, tapi tidak mendapatkan respon dari Lala, hingga Rara , datang menangis histeris, dia langsung mencari Lala.
"hiks hiks hiks hiks..
kakak, aku ingin mati saja kak, aku tidak mau hidup lagi, jika semua orang selalu mempermasalahkan setatus sosial di antara kita, hingga aku bahkan tidak diperbolehkan mengikuti ujian di kelas ku karena aku di anggap parasit"ujar Rara, yang mengadu bahwa teman-teman nya yang orang kaya itu protes akan mogok ujian bila Rara, mengikuti jadwal yang sama dengan mereka semua.
""sayang "ucap Lala, sambil memeluk Rara, yang masih bergetar karena tangis nya saat ini.
"sayang siapa yang berani melakukan ini padamu"ujar Ardi.
"stop, tuan cukup biar aku saja yang mengurus urusan keluarga ku"ucap Lala, memotong.
sesaat Ardi terdiam dia langsung kembali duduk di tempat nya tadi.
"Rara, yang sabar ya jangan putus asa, kakak,janji setelah kak, Reza, sembuh kakak, akan pergi ke luar negeri untuk bekerja,di sana gajinya lumayan besar, dan bisa mencukupi kebutuhan kalian,kakak, janji tidak akan pernah ada orang yang akan mengucilkan mu lagi"ujar Lala, yang langsung memeluk adiknya itu.
Rara, sedikit tenang,dia langsung masuk kedalam kamar nya, saat itu juga, sementara Ardi, tengah menatap tajam kearah nya, dia sangat marah mendengar pembicaraan Lala pada adiknya itu.
"siapa yang mengizinkan mu, pergi heuhhhhh"ujar Ardi.
"aku tidak perlu izin kamu tuan"ujar Lala.
"aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi,uangku masih bisa untuk memberikan mu kebahagiaan"ujar Ardi.
"aku tidak pernah mengharapkan belas kasihan dari orang lain, selama nyawaku masih ada"ujar Lala.
"aku bukan orang lain Lala"ujar Ardi.
"kamu bukan siapa-siapa aku tuan"ujar Lala, ternyata pertengkaran mereka sedari tadi di saksikan oleh Reza, yang kini menatap mereka sambil berderai air mata.
"jika aku adalah beban bagi kakak, lebih baik aku mati saja"ujar Reza, sambil berlalu menuju pintu keluar dengan kursi roda nya.
"Reza, sayang stop jangan pernah lakukan itu jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah beban,kakak, sayang sama kamu, kalian berdua adalah kesayangan kakak, kakak mohon berhenti Reza"ujar Lala, yang kini berusaha menghentikan Reza.
"lepas kan Reza,kak, Reza selama ini hanya menjadi beban untuk kalian berdua, Reza, sayang kalian, Reza tidak ingin lagi membebani kalian berdua"ujar Reza.
"Reza, kamu anak laki-laki, apa kamu tidak malu dengan kakak mu Lala, saja bisa tegar menghadapi ujian ini masa kamu laki-laki gampang putus asa"ujar Ardi, bukan tanpa alasan Ardi, hanya ingin menghentikan Reza.
"Ardi, aku mohon tinggalkan kami sekarang juga"ujar Lala.
"tidak urusan kalian mulai saat ini urusan ku juga"ujar Ardi tetap ngeyel.
tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah kontrakan tersebut, seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.
"Ardi, sayang aku mencari mu"ujar seorang wanita cantik yang datang bersama dengan seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah ayah nya.
"untuk apa?? kamu datang kemari"ujar Ardi.
"wajar saja dia mencari mu, dia tunangan mu, dia saja wanita ****** bisa menahan mu disini"ucap pria tersebut, yang sontak membuat mata Lala, mengeluarkan badai Air mata nya.
"sudah cukup tuan, kalian para orang kaya, memang punya segalanya, tapi anda tidak berhak menghina kami karena kita tidak saling mengenal dan anda tidak punya hak untuk itu"ujar Lala.
"hey, perempuan rendahan, jaga bicaramu"ujar Aira.
"kalian datang hanya untuk menghina ku, aku ucapkan terima kasih, atas segala nya silahkan kalian tinggal kan rumah ini dan itu juga berlaku untuk anda tuan Ardi"ujar Lala, yang kini mendorong kursi roda milik Reza , menuju kamar nya.
__ADS_1
Air mata Lala, tidak bisa berhenti berderai membasahi pipinya,kini bahkan mengenai kepala Reza.
Reza, mendongak, ke atas di tatapnya wajah yang kini tengah berlinang air mata, di hadapan nya.
"Kakak, tidak usah khawatir, mulai saat ini Reza, berjanji akan membalas rasa sakit Kaka atas hinaan, mereka terhadap kakak"ujar Reza.
"sayang kita, tidak perlu membalas mereka dengan apa pun, biarlah Allah yang akan membalas kan semua nya"ujar Lala, yang kini memeluk erat adiknya itu .
sementara itu di luar setelah perdebatan alot antara Ardi dan Aira, wanita itu pun pergi setelah Ardi mengancam akan membatalkan pernikahan nya.
Ardi , kembali ke dalam, dia hendak menemui Lala, saat itu tapi Lala , malah melewati nya dia pergi membawa tas nya dan tidak menghiraukan ucapan Ardi, bahkan berkali-kali, menepis tangan Ardi, yang berusaha menghentikan nya.
langkah pertama yang kini ia ambil, Lala mendatangi sebuah club malam dia hendak menemui seseorang yang dulu sempat menawarkan pekerjaan pada nya, saat ini dia benar-benar sudah nekad apa pun pekerjaan nya dan resiko nya dia siap menanggung nya demi kebahagiaan kedua adiknya, saat ini dia akan menutup kuping dikala orang menghinanya tapi dia tidak ingin lagi mendengar hinaan untuk adiknya itu.
sesampainya di sana, kebetulan orang yang hendak ditemui nya sedang duduk santai saat ini, seorang pria tampan di temani seorang mucikari, Lala duduk di hadapan mereka.
"maaf tuan apa pekerjaan yang anda tawarkan kepada saya saat itu masih berlaku"ujar Lala to the points.
"ehh, kamu ternyata"ujar pria itu.
"iya, saya tuan"ujar Lala.
"tentu saja masih tapi tidak di sini, pekerjaan nya di luar negeri sana gajinya lumayan besar, tapi pekerjaan nya lumayan padat"ujar pria tersebut.
"saya siap tuan tapi masih butuh waktu seminggu minimal untuk saya mencari tempat baru untuk keluarga saya, sementara apa bisa saya bekerja di sini, untuk bekal adik saya nanti"ujar Lala.
"kamu bisa jual diri di sini"ujar wanita itu menimpali.
Lala, terdiam sejenak, tapi kemudian laki-laki itu menimpali.
"jangan dengarkan dia, kamu pulang lah, ambilah ini sebagai Depe pertama mu sebelum pergi ke luar negeri anggap itu uang saku"ujar pria tersebut, dan langsung menyuruh Lala, kembali, sebenarnya pria itu bukanlah orang jahat dia menyelidiki kehidupan Lala, selama ini dia hanya merasa iba pada nasibnya gadis malang tersebut, dan tanpa sepengetahuan Lala, dia hendak mempekerjakan Lala,di restoran milik nya.
"baiklah tuan terimakasih saya permisi dulu"ujar Lala.
Lala pun keluar dari club' malam tersebut, saat hendak menaiki motor nya, tiba-tiba lengan nya di cekal oleh seseorang.
Lala di seret untuk masuk kedalam mobil sport tersebut.
"kita pulang sekarang juga"ucap Ardi.
"aku pakai motor"ujar Lala, yang hendak turun.
"motor mu sebentar lagi akan musnah kau lihat itu"ujar Ardi, yang menunjuk ke arah motor yang sedang di ambil pencuri, Ardi membiarkan nya begitu saja,ada satu kelegaan bagi Ardi, saat ini dia berharap Lala, tidak pernah pergi sendirian lagi.
"hey hentikan motor ku"teriak Lala dari dalam mobil.
"jalan "ujar Ardi, pada sang asisten.
"berhenti itu motor ku, aku mohon berhenti"ujar Lala, sambil berderai air mata,beban pikiran nya semakin bertambah saja kini ia harus melunasi motor yang belum lunas itu.
"berhenti biarkan aku mengejar maling itu, apa kamu tau motor itu belum lunas, aku bahkan baru akan bekerja satu Minggu lagi di luar negeri"ujar Lala, keceplosan.
"tidak aku tidak akan pernah biarkan itu terjadi kamu hanya akan di sini bersama dengan ku "ujar Ardi, menatap tajam pada Lala.
"kembali ke Mension"ujar Ardi.
"tidak berhenti aku mau pulang adikku menunggu ku"ujar Lala.
"mereka akan segera menyusul"ujar Ardi.
Lala, tidak pernah menang dia hanya bisa pasrah dan menyerah rasanya tenaga nya sudah habis saat ini.
sementara itu Lala hanya terdiam bahkan dia tertidur pulas di dalam mobil saat ini, Ardi yang melihat itu langsung tersenyum, saat ini dia menang .
sesampainya di Mension, dia langsung bergegas membawa Lala, masuk ke dalam kamar nya, Ardi meminta asisten pribadi nya untuk membawakan tas milik Lala,kekamar nya saat itu juga.
"Lala, sayang aku akan mencari tahu siapa yang akan membawa mu ke luar negeri sana"ujar Ardi lirih.
saat asisten nya membawa tas nya Ardi, langsung mengambil tas tersebut dan membuka,tas Lala dia mengambil cek yang diberikan oleh pria tersebut dan Ardi, langsung meremas nya, dan membuangnya.
__ADS_1
"Hanya demi uang yang tidak seberapa ini kamu membahayakan diri masuk kedalam lubang buaya, kenapa heumm... kenapa???"teriak Ardi frustasi, cek itu memang tidak ada apa-apa nya di mata Ardi, tapi bagi Lala,itu sangat lah besar bisa buat bekal adiknya kelak, saat dia pergi ke luar negeri selama satu bulan sebelum dia gajian.
tapi Ardi, tidak perduli dengan semua itu, dia punya uang dan kekuasaan, saat ini, dia tidak ingin Lala, pergi dari nya, dia akan berusaha keras mencegah nya bila perlu saat ini Ardi, akan membuat Lala, mengandung anak nya.
Ardi, mengunci pintu, dan hal yang ia rencanakan itupun terjadi,meski Lala, berontak minta di lepaskan, tapi Ardi tidak mau mendengarkan Lala, sampai berulang kali Ardi lakukan itu, Lala hanya bisa menangis saat ini tenaga nya kalah dengan Ardi.
pagi menjelang, Lala, tersadar, dia melihat dirinya hanya berbalut selimut, dan di samping nya ada pria yang semalam memaksa nya menerima benih nya.
"kamu sungguh keterlaluan tuan aku benci kamu"Gumam nya lirih,ada rasa perih di hati nya, saat ini lagi-lagi Ardi, memaksakan kehendak kepada diri nya saat ini.
Lala bangkit dari tempat tidur nya saat ini dia langsung menggulung tubuh nya dengan selimut tebal tersebut dan pergi menuju kamar mandi setelah memunguti pakaian nya di lantai.
Lala,kini membersihkan tubuh nya yang sudah sangat lengket dia bahkan menangis tanpa suara di bawah guyuran shower tersebut, saat ini, Lala, tidak tau lagi harus bagaimana, dia sudah berusaha menjauh dari Ardi, tapi entah kenapa, Ardi, selalu saja menemukan jejak nya dimana pun.
setelah selesai membersihkan diri, akhirnya Lala keluar dari kamar mandi dan kini sudah lebih segar, Lala, berjalan hendak membuka pintu namun tidak bisa.
saat Lala, terus mencoba untuk membuka pintu tiba-tiba Ardi, bangun lalu menatap kearah nya.
"pintu itu tidak akan terbuka sampai kamu mengandung anak kita"ujar Ardi.
"kamu mimpi tuan sampai kapan pun itu tidak akan terwujud"ujar Lala yang kini tetap berdiri mencoba membuka pintu, hingga suara ketukan dari luar terdengar keras.
"Ardi, aku tau kamu di sini buka sayang"ujar Aira.
"calon istri mu sudah datang"ujar Lala, dia kembali ke arah nakas mengambil tas selempang nya itu, saat dia akan pergi, Ardi menarik tangan Lala, hingga terjatuh ke tempat tidur dia menindih Lala, seakan sedang berbuat lebih jauh,lalu Ardi berkata "buka pintu"ujar Ardi, dan tiba-tiba pintu itu terbuka lebar.
"Ardi, kamu sedang apa heuhhhhh,dasar perempuan ****** "ujar Aira, tiba-tiba Lala langsung berhasil melepaskan diri, namun seketika sebuah tamparan keras mendarat di pipi nya, Aira adalah pelakunya, Ardi menahan tangan Aira yang lagi-lagi akan mendarat kan tamparan tersebut, tangan Ardi, mencengkeram kuat hingga Aira, meraung kesakitan.
"lepas Ardi, sayang sakit"ujar Aira, sementara itu Lala, yang masih merasakan panasnya tamparan Aira,kini dia hendak berbalik ingin pergi tapi Ardi langsung membawa nya kedalam pelukan.
"lepas kan aku aku harus pulang"ujar Lala, tapi Ardi menggeleng cepat dia bahkan mengecup bekas tamparan tersebut berkali-kali,sebelah tangan nya masih memberikan Aira, pelajaran hingga Aira, mohon ampun.
Aira, langsung bergegas pergi, tapi dia langsung menelpon seseorang untuk memberikan pelajaran bagi Lala, lewat adiknya saat ini.
Ardi masih memeluk Lala, saat ini Air mata Lala,luruh begitu saja.
"Ardi, aku mohon lepaskan aku perbedaan antara kita terlalu jauh, aku tidak ingin jadi benalu dalam hidup mu, biarkan aku hidup bebas bersama mereka adikku, aku mohon"ujar Lala.
"kamu bisa minta apapun dari ku, kecuali satu hal jangan memintaku hal yang tidak mungkin, sayang aku sangat mencintaimu kamu mengerti itu"ujar Ardi, lembut dia mencoba memberikan pengertian.
Lala, terdiam dia bahkan tidak berkata apa-apa lagi, sudah lelah rasanya jika harus terus meminta kebebasan nya.
Lala kini duduk di sofa bersama dengan Ardi, yang baru saja selesai mandi, tiba-tiba dering handphone,milik Lala, berbunyi, Lala langsung menyambar nya.
📱"halo Reza,ada apa?"ucap Lala.
📱"hiks hiks... kakak, Rara kak"ujar Reza, tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
📱"halo Reza, bicara yang jelas ada apa sayang"ujar Lala, yang panik.
📱"Rara, meninggal La"ujar Rido, yang mengambil alih handphone nya.
📱"apah.... tidak itu tidak mungkin kalian pasti bercanda ia kan ayo katakan hiks, hiks jangan bercanda ini gak lucu ya Rido,ini tidak mungkin tidak...!!!"""Lala, langsung terjatuh lemas sementara itu Ardi, berusaha mencari tahu apa yang terjadi saat ini, dia berusaha menanyakan itu pada Lala, namun hanya tangis yang Lala lakukan sebagai jawaban Lala berkali-kali berusaha untuk berjalan ia ingin segera pergi namun lagi-lagi ia terjatuh, tubuhnya benar-benar lemas tak berdaya.
"tuhan semoga semua ini tidak benar, semoga semua hanya mimpi kalo semua ini kenyataan aku benar-benar akan membenci diriku sendiri "ujar Lala, dia berjalan gontai berkali-kali hampir terjatuh, hingga Ardi membopong tubuh nya membawa kedalam mobil, bukan tidak tahu Lala, jalan tertatih, tapi dia saat itu sedang mencari informasi dari anak buah nya.
"sayang, kamu harus kuat aku tau ini berat tapi semua sudah kehendak Tuhan"ujar Ardi, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah duka.
sesampainya di rumah, Lala langsung berlari menghampiri jenazah yang baru saja tiba dari rumah sakit.
"Rara,de jangan tinggalkan kakak,de kakak hanya punya kalian berdua kakak , mohon bangun de bangun"Lala, berteriak histeris saat ini dia minta semua orang membangunkan Rara, termasuk pada Ardi.
"Ardi, tolong bangunkan adikku Rara, bilang sama dia sudah cukup jangan buat aku takut, kamu tadi bilang aku boleh minta apapun pada mu asal jangan perpisahan, sekarang kamu buktikan tolong bangunkan dia Ardi ... please aku ingin dia bangun"ujar Lala, saat ini dia memohon mengiba pada semua orang, Ardi , masih memeluk nya erat memberikan ia kekuatan, tapi Lala, hanya manusia biasa, jiwa nya benar-benar terguncang hebat saat ini, dia benar-benar terluka luar dalam, hingga ia tak sadarkan diri,di susul oleh Reza.
Ardi, meminta asisten nya mengatur acara pemakaman hingga selesai, dia langsung membawa Lala, kerumah sakit, kondisi Lala, sangat lemah saat ini sementara itu Reza,di urus oleh asisten Ardi, yang lain nya bersama dengan Rido.
dirumah sakit saat ini, dokter, menyarankan agar Ardi, membawa Lala, pada dokter ahli jiwa, bukan tidak mungkin Lala, akan mengalami gangguan mental saat ini, jika dilihat dari kondisi itu.
Ardi, memeluk erat tubuh lemah itu dia berurai air mata, dia tidak akan pernah membiarkan Lala, sampai masuk rumah sakit jiwa, sekalipun jiwanya terganggu, Ardi, yakin Lala, akan baik-baik saja, bersama dengan nya,meski dokter menyatakan dia harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit jiwa,agar jiwanya tertolong.
__ADS_1
"sayang, kamu harus kuat, masih ada aku Reza, dan buah hati kita"ujar Ardi, yang baru mengetahui kalau ternyata Lala, tengah mengandung saat ini usia kandungan nya tepat dengan tanggal dimana mereka melakukan itu.