
Masalah Ardi, selesai kini tinggal kebahagiaan, mereka yang terlihat, masalah Airin, sudah Ardi, berikan pengertian pada Lala.
sementara itu di Indonesia saat ini Soraya, tengah berulang tahun, tapi Soraya, menolak perayaan, dia hanya ingin pergi mengunjungi makam suaminya, Aditya saat ini bahkan Edward, dan anak-anak nya, ikut kesana.
mereka berdoa bersama, tapi ada satu hal yang membuat pemandangan terasa, indah di dalam kesedihan yang masih membelenggu Soraya, sedikit berkurang,di saat ini karena saat ini mereka berkumpul di makam tersebut, sambil berdoa bersama.
"Mas,kami datang , apa kabar mu di sana, lihat lah mereka disini tapi Ardi, belum sempat pulang, hari ini"ujar Soraya.
"momm... aku disini "ujar Ardi, yang langsung memeluk Soraya.
"sayang, kamu di sini nak dan menantu ku,cucu ku"Soraya memeluk mereka semua.
"kami tidak ingin , membuat mommy,sedih jika aku tidak datang Daddy, maafkan aku hiks hiks hiks hiks, Daddy, aku tidak ingin ini terjadi andaikan saja Daddy, bicara saat itu aku tidak akan membiarkan Daddy, seperti ini, aku durhaka Daddy, aku durhaka"tangis Ardi, pecah di depan batu nisan Daddy nya saat ini Ardi, sangat merasa bersalah.
kini mereka pun, kembali ke full house, Ardi, dan Lala, seluruh keluarga juga sedang berbincang sambil membuka satu persatu kado dan ucapan selamat ulang tahun dari rekan bisnis Aditya, dan Edward juga anak-anak nya, karangan bunga di rumah itu hampir memenuhi seluruh ruangan begitu juga kado ulang tahun, meski mereka tidak membuat perayaan untuk Soraya.
semua memiliki keluarga bahagia saat ini hanya Anisa, saudara kembar Alisa, yang sampai saat ini dia masih melajang, kedua kakak,beradik itu, terlalu trauma dengan yang namanya pria.
kalau Alisa, trauma penghianatan, berbeda dengan Alisa, dia terjebak cinta seorang polisi beristri, lebih tepatnya, pria itu membohongi nya, berawal saat Anisa, tengah melakukan meeting di Jakarta tepatnya di sebuah cafe , Anisa, tengah fokus membahas kerja sama nya dengan klien nya itu, saat itu dia berada di sebuah ruangan yang hanya terhalang oleh dinding kaca,mata Alisa, bertemu pandang dengan seorang pria yang berseragam polisi, yang saat itu tersenyum manis pada Anisa.
tapi Anisa, hanya bersikap biasa saja, hingga saat di parkiran, Anisa, lagi-lagi bertemu dengan pria itu, bahkan saat itu pria yang memiliki name tag ,Adam, menghampiri nya, dia langsung mengajak Anisa, berjabat tangan.
"Hay, nama ku Adam, boleh aku tau nama mu Nona"ujar Adam.
"Anisa"ujar Anisa, yang langsung pamit pada Adam dan kedua rekan bisnis nya, sambil melajukan mobil sport nya.
Adam pun tersenyum setelah itu dia langsung pergi bersama sahabat nya, dengan mobil dinas nya.
Anisa, sempat menyunggingkan senyum, saat mengingat wajah pria tampan itu yang berani mendekat kepada nya, meski pun dia memiliki julukan Miss jutek, selama ini.
setelah itu, beberapa bulan kemudian, setelah bisnis nya di Jakarta usai, dia kembali ke Hongkong, tempat nya selama ini menjalankan perusahaan milik Daddy nya, yang dulu pernah di urus langsung oleh Aditya, saat sedang menghindari kesedihan, dan di saat dia tergoda dengan wanita yang tak lain adalah sekertaris nya sendiri.
Anisa,memang bukan wanita yang selalu menjalani hidup glamor, dia adalah wanita pekerja keras, mungkin dia punya semua nya, sedari kecil, tapi baginya, tidak seharusnya semua itu jadi ajang pamer, Anisa, lebih suka berpenampilan sederhana, walaupun tak dipungkiri, semua barang branded terpanggang jelas di tubuh nya, tapi sikapnya, yang tidak sombong dan selalu sibuk bekerja, dia bahkan tidak punya waktu untuk berpacaran.
Saat itu Anisa, tengah berada di sebuah gedung pertunjukan, Anisa, datang karena sahabat nya yang kini mengadakan pertunjukan sulap tersebut, Alisa, duduk di kursi paling depan, dia tamu VVIP, saat ini.
Anisa, fokus, kedepan, saat ini hingga acara sampai selesai, tapi seketika terdengar seseorang yang menyebut nama nya saat itu.
"Anisa, apa kabar??"ujar seseorang yang terlihat tidak asing mereka pernah bertemu tapi entah dimana, Anisa lupa.
mereka akhirnya, berbincang, meski pun, Anisa, sedikit malas untuk berbicara dengan orang yang baru ia kenal, saat mereka tengah sibuk mengobrol, tiba-tiba, saja muncul seorang wanita, yang langsung menyiram jus jeruk tepat di kepala Anisa.
Anisa,kaget dan langsung berdiri, saat itu juga dia berteriak marah, hingga menampar pipi wanita yang sudah berbuat kurang ajar pada nya.
keributan pun terjadi, hingga saat wanita yang mengaku sebagai istri Adam itu hendak membalas tamparan Anisa tapi di gagalkan oleh para bodyguard, yang kini tengah berdiri melindungi, Nona, muda nya itu.
"Siapa kau jangan kurang ajar dengan Nona muda"ujar seorang kepala bodyguard.
"mundur lah, dia hanya salah paham, aku bisa mengurus nya"ujar Anisa, meminta anak buah nya mundur,Adam , yang berusaha keras untuk melerai,kini menatap lekat wajah Anisa yang sudah di bersihkan oleh asisten nya itu.
__ADS_1
"Maafkan atas,sikap ku tadi, aku refleks"ujar Anisa.
"Hay,kau plakor , akan aku tuntut semua perbuatan mu saat ini"ujar wanita itu, Adam, sudah berusaha membuat wanita itu agar diam, tapi tidak bisa.
heumm... silahkan tuntut aku dengan pasal terberat sekalipun, jika aku benar-benar salah, dan satu hal lagi, siapkan pengacara terhebat, untuk menghadapi kakak,ku nanti"ujar Anisa, yang langsung menunjukkan foto Elena,sang pengacara handal yang selama ini selalu berjaya memenangkan persidangan berbagai kasus dari yang terkecil hingga kelas kakap, siapa yang tak tau dengan wanita multi talenta itu hingga saat ini.
tiba-tiba,Adam meminta maaf, pada Anisa, yang kini tengah tersenyum manis pada istri nya itu, setelah itu dia pun berlalu pergi.
"Anisa, tolong maafkan dia"pinta Adam.
"Aku akan memaafkan dia, tapi kamu juga harus berjanji jangan pernah mendekati wanita lain, jika memang kau sudah memiliki pasangan, karena itu bisa terjadi salah paham seperti saat ini"ujar Anisa.
Anisa, yang tadinya mulai tertarik, dengan Adam tapi sedetik kemudian,rasa kagum nya itu, menjadi benci yang teramat bagaimana tidak, Anisa, saat ini merasa di permalukan.
dari, saat itu lah Anisa, enggan untuk dekat dengan pria mana pun, Anisa, lebih baik hidup sendiri, karena menurut nya laki-laki di luaran sana itu semua nya buaya.
Anisa, dan Alisa, masih menikmati kesendirian nya hingga saat ini.
meskipun Alisa, saat ini masih galau karena Aryan, masih gencar mengejar cinta nya, setelah kepergian Adri, dan penghianatan Aryan, saat ini hatinya semakin keras untuk hidup sendiri.
🌹💖💖💖🌹
Soraya, saat ini tengah kurang enak badan, dia bahkan tidak mau menyentuh makanan nya, sedikit pun, saat ini, hingga Edward, turun tangan hendak menyuapi Soraya.
"sayang, makan lah, ingat kamu harus baik-baik saja, jika tidak suamimu akan sedih melihat mu seperti ini.
"Waktu, apa maksud mu honey??"ujar Edward, tidak terima Soraya yang kini sedang putus asa.
"Aku merindukan nya, Daddy, aku tidak sanggup harus terus berpura-pura kuat, aku"ucapan Soraya, terhenti saat Edward, menempel kan jari telunjuk nya di bibir soraya.
"Aku tidak ingin mendengar mu, berkata seperti itu lagi, ingat Honey, yang mencintai mu bukan dia saja,kami semua juga mencintai mu,kami juga akan sangat kehilangan mu jika kamu tiada, jadi jangan pernah egois, hanya dengan memikirkan diri mu sendiri, pikir kan mereka juga"ujar Edward.
"Daddy, kamu tidak pernah mengerti karena kamu tidak pernah merasakan kehilangan seseorang dalam hidup mu"ujar Soraya.
"kamu salah honey, aku bahkan mengalami kehilangan, seseorang yang begitu berarti untuk hidup ku, hingga saat ini, dan kamu tau saking sakit nya, aku ingin mengakhiri hidup ku, hanya dengan satu kesalahan, aku harus merelakan dia untuk orang lain, hingga saat ini aku masih harus tetap ikhlas wanita yang sangat ku cinta mencintai orang lain"ujar Edward, berapi-api.
Deg....
Tiba-tiba, Soraya, merasa bak di timpa bongkahan batu besar, bagaimana tidak dia baru tau siapa yang di maksud dengan Edward, dan tanpa ia sadari dia telah menyakiti pria yang begitu baik selama ini, meski pun dulu Edward, pernah melakukan kesalahan,satu kesalahan yang menurut nya fatal hingga mampu memisahkan cinta di antara mereka.
Edward, yang begitu mencintai Soraya, saat itu, dia harus merelakan cinta nya di ambil alih oleh orang lain, hanya karena dia tidak ingin wanita itu terus-terusan menderita bila berada di sisi nya.
"Daddy"gumam Soraya lirih.
"kamu,tau aku harus mengikhlaskan dirimu untuk hidup bersama dengan nya, walaupun saat itu hingga kini cinta itu begitu besar hanya untuk mu tapi aku harus tetap menahan diri ku,demi kebahagiaan mu"ujar Edward.
"Aku, hiks hiks hiks, maafkan aku Daddy, aku"ujar soraya, tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Sudah lah sayang, aku tidak akan meminta mu untuk kembali, dan aku tidak akan bertanya tentang perasaan mu padaku, yang aku inginkan saat ini adalah melihat mu sembuh dan selalu baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup untuk ku, karena cinta itu tidak harus memiliki, cukup melihat mu baik-baik saja itu sudah buat aku bahagia"ujar Edward, yang kini mulai menyuapi bubur itu ke mulut Soraya, yang mulai mau memakan nya, saat ini.
__ADS_1
Edward, tersenyum manis pada Soraya, yang kini sudah menghabiskan makanan nya hingga tandas,lalu Edward, memberikan minum, pada wanita yang selama ini sangat ia rindu, walaupun sering bertemu, tapi selama ini dia milik orang lain.
Soraya , menatap Edward, yang kini tengah menatap nya,ada perasaan hangat yang kini mereka rasakan.
"Aku harap, sebelum aku kembali ke Amerika, kamu sudah baik-baik saja,agar aku bisa tenang saat akan meninggalkan mu"ujar Edward, yang baru memberi tahu, rencana nya saat ini.
"Untuk apa pergi ke sana??"ujar Soraya,ada nada tidak rela, yang dapat di tangkap saat ini, oleh Edward.
"Aku berniat menghabiskan sisa umur ku,di tempat kelahiran ku, rasanya aku rindu dengan mommy, dan Daddy, saat ini"ujar Edward.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak"ujar Soraya beralasan.
"mereka, sudah dewasa, sudah bahagia saat ini, dan mereka bisa mengunjungi ku, jika mereka mau"ujar Edward, sambil menatap kedepan .
"pergilah tidak usah menghawatirkan aku, aku bisa mengurus diri ku sendiri, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku juga akan kembali ke Bandung, aku akan tinggal di sana di rumah peninggalan Ayah"ujar soraya tidak mau kalah.
"Tapi dengan siapa kamu di sana honey, sudah lah, tinggal saja di sini,ini rumah mu juga"ujar Edward
"Kamu pikir , hanya kamu yang bisa punya keinginan, aku juga sama aku ingin menghabiskan sisa hidup ku,di sana, sendirian,itu sudah pasti karena mereka sudah memiliki kesibukan mereka masingmasing"ujar Soraya, tidak mau kalah.
"Tapi aku tidak akan mengizinkan nya, kamu itu wanita, bagaimana jika kamu sakit siapa yang akan mengurus mu di sana??"ujar Edward.
"Aku bisa merawat diri ku sendiri, lagian di sini juga aku hanya akan tinggal bersama dengan para pelayan,lalu apa bedanya, disini dan di sana"ujar Soraya lagi.
"Aku tidak akan biarkan itu terjadi, kamu harus tetap di sini"ujar Edward.
"Daddy, kamu tidak bisa egois, seperti itu dong kalau kamu saja bisa pergi kenapa aku tidak"ujar soraya, kesal.
"pokoknya tidak,itu sudah keputusan final, aku tidak akan membiarkan mu pergi"ujar Edward.
"Aku bisa pergi, setelah kamu pergi Daddy"ucap Soraya lagi.
"honey, Aku tidak mau di bantah"ujar Edward.
"Daddy, aku sudah bukan anak-anak lagi"kata Soraya.
"Baiklah aku tidak akan pergi, selagi kamu tetap ngotot, ingin pergi"ujar Edward.
"pergi, saja, tidak ada yang melarang mu untuk pergi, aku juga bebas pergi kemana pun"ucapan soraya, sontak membuat Edward kesal, dia langsung pergi membanting pintu, entah kenapa, Edward, tidak ingin Soraya membantah ucapan nya saat ini.
Edward, pergi ke taman belakang, dia duduk di bangku taman tersebut sambil menghisap rokok yang baru saja ia nyalakan.
Edward, menghisap rokok itu, dengan tenang tatapan nya lurus kedepan saat ini, bayangan masalalu, saat mereka baru miliki anak itu, terlintas di benak Edward, Soraya, begitu memperlakukan nya sepenuh hati, walaupun kadang, sikap keras kepala nya selalu hadir di saat mereka tengah membahas sesuatu, tapi bagi Edward, Soraya terlalu manis, saat seperti itu, hingga rasa cinta nya semakin besar.
"Sayang, kamu masih seperti dulu, aku merindukan saat-saat itu"gumam nya lirih.
sementara itu, Soraya,kini telah meneteskan air mata nya, dia rindu Aditya, dia tidak memiliki teman curhat, bila nanti Edward, pergi meninggalkan nya, Soraya, hanya punya anak-anak yang memiliki kesibukan masing-masing dengan jadwal yang padat bahkan hingga saat ini, mereka hanya bisa berkumpul hari weekend saja, dan hari tertentu lainnya.
"Daddy, andaikan kau bawa aku pergi"ujar Soraya sambil terisak .
__ADS_1