
Setelah Matteo tertidur Arka keluar dari kamarnya lalu menghampiri Mawar yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Kamu gapapa?" tanyanya mendekat dan duduk di samping Mawar.
Mawar hanya menggelengkan kepala seraya membalas pertanyaan Arka itu.
Banyak yang ingin Mawar tanyakan pada Arka namun ia sadar bahwa dia bukan lagi siapa-siapa.
"Tadi meetingnya ditunda satu jam dan aku harus balik lagi ke kantor, kalo ada apa-apa telelon aku aja. Permisi," ujar Arka meninggalkan Mawar di ruang tengah.
Mawar sadar sikap Arka kini mendingin padanya, mungkin kah Arka sudah lelah memperbaiki semuanya?
"Mas?" ujar Mawar ragu.
Arka menghentikan langkahnya. "Iya?" jawabnya singkat.
"Apa gak sebaiknya kamu tunggu Matteo bangun nanti dia nanyain kamu," tutur Mawar.
"Setelah meeting aku ke sini lagi, permisi," ujar Arka lalu pergi.
Ada hampa di hati Mawar mendapati sikap Arka yang dingin itu. Ia pikir semuanya akan baik-baik saja ternyata tidak.
Diperlakukan dingin tidak seperti biasanya memang sulit diterima meskipun kita tahu kita bukan siapa-siapa.
Namun menerima masa lalu kembali juga bukan hal yang mudah bagi Mawar.
Setelah Arka pergi ada seseorang yang mengetuk pintu kembali Mawar pikir Arka berubah pikiran.
Mawar dengan antusias membuka pintu, ternyata yang ada di hadapannya adalah Langit.
"Langit?" ujarnya.
"Mawar, aku kesini mau minta maaf soal kemarin," tutur Langit dengan wajah bersalah.
Mawar melengkungkan senyumnya. "Gapapa, aku udah maafin kamu," jawab Mawar.
"Dan aku juga mau pamit," lirih Langit seakan rak rela.
Mawar tampak bingung apa yang sebenarnya Langit maksud.
__ADS_1
"Pamit? Kemana?"
"Hari ini aku mau ke Amerika melanjutkan studyku yang sempa tertunda karena pulang dulu ke sini," ujar Langit.
"Hari ini?" ujar Mawar memastikan.
"Ya, hari ini. Makannya aku ke sini mau pamitan sama kamu," ujar Langit.
Mawar menarik nafas lalu membuangnya dengan perasaan sedikit sesak, entah kenapa.
"Kalo gitu kamu hati-hati ya, sukses terus buat kamu," ujar Mawar.
"Dan satu hal lagi yang mau aku sampaikan ke kamu,"
"Apa?"
"Soal Arka, aku kemarin ketemu dia. Dia cerita banyak soal kesalahannya sama kamu. Dia bener-bener menyesal, dia mau memperbaiki semua kesalahannya tapi kamu sepertinya tidak ingin itu terjadi," jelas Langit.
Mendengar itu Mawar hanya diam tak bisa berkata-kata.
"Aku tahu ini sulit buat kamu, tapi asal kamu tahu dia sering membatalkan meetingnya bahkan pernah rugi miliyaran demi ketemu kamu sama Matteo, dia sayang banget sama kalian berdua." Pungkas Langit lagi.
"Kamu pasti sulit percaya bahwa dia memiliki banyak usaha yang tidak terlihat demi kalian berdua, aku pamit." Ujar Langit tak mau membahasnya lagi.
"Kamu hati-hati," ujar Mawar.
Langit melangkahkan kaki pergi jauh dari Mawar, ia sadar bahwa hubungan Mawar dan Arka memang harus diperbaiki kembali. Tak ada salahnya menerima orang yang pernah melukai kita jika dia benar-benar sudah berubah.
Namun di sisi lain pilihan tetap ada di tangan Mawar, mau membuka lembaran dengan orang baru atau memperbaiki dengan yang sudah lama.
***
Mawar terbangun mendengar suara Matteo yang menangis di kamarnya ia pun segera berlari menuju Matteo.
"Sayang, kenapa? Ada yang sakit?" ujar Mawar lantas menggendongnya.
"Papa, papa," teriak Matteo.
"Papa di sini," ujar Arka yang entah kapan datangnya.
__ADS_1
Arka menggendong Matteo dan anak itu langsung tenang dipelukannya.
Melihat itu hati Mawar tersentuh, bagaimana bisa ia memisahkan ayah dan anak yang sudah memiliki ikatan itu? Tak ada ucapan yang keluar dari mulut Mawar mau pun Arka keduanya tak bertegur sapa.
"Mas aku keluar sebentar," pungkas Mawar hendak pergi namun lengannya di tahan oleh Arka.
"Aku mau ngomong sesuatu," ujar Arka.
"Ya, silakan,"
Sambil menggendong Matteo, Arka menghela nafas lalu mengatakan, "Aku minta maaf selama satu bulan gak ada kabar," ujarnya.
"Kamu gak perlu minta maaf," ucap Mawar.
"Entah sampai kapan aku bisa membuat kamu percaya lagi, tapi kali ini aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Aku tahu aku pengecut, aku berengsek, aku bajingan, tapi aku belajar jadi baik buat kamu buat Matteo. Aku sayang banget sama kalian," ujar Arka.
Seketika air mata Mawar menetes. "Mas cukup, aku percaya kamu," ujar Mawar.
Mendengar itu Arka merasa lega, perjuangannya selama ini tidak sia-sia untuk mendaparkan hari Mawar kembali.
Terkadang obat dari luka adalah orang yang memberi luka itu.
Arka memeluk Mawar erat-erat, sudah lama sekali rasanya ia tak mendapatkan pelukan itu. Pelukan yang selama ini ia rindukan, pelukan yang selama ini ia sia-siakan kini ia berjanji agar pelukan itu tak lepas kembali.
Keduanya menangis haru, butuh waktu yang lama untuk menyadari perasaan masing-masing, kehidupan mereka sangatlah rumit.
***
Semuanya berjalan dengan semestinya akhirnya Mawar dan Arka memutuskan untuk kembali menikah karena perasaan masing-masing dan tentunya demi Matteo yang sudah mulai paham sosok ayah.
Luka lama mungkin akan selalu membekas namun bukan berarti kebahagiaan tidak akan ada lagi.
Sementara itu Frans lebih memilih mengasuh anaknya dibandingkan menikahi Shery yang begitu jahat.
..
TAMAT
Author minta maaf kalo endingnya tidak sesuai harapan, ada yang mau request tema cerita tulis di kolom komentar yaa.. Nanti author bikinin ceritanya semenarik mungkin. Terimakasih sama yang udah setia nunggu setiap babnya karena pasti kesel dan hampir lupa alur ceritanya ya saking lamanya author gak update? Pokoknya sukses terus buat kita love you guys.
__ADS_1
tungguin cerita aku selanjutnya.. bye bye