Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 108


__ADS_3

Laras mengernyitkan alisnya saat melihat Sekar sedang memijaat keningnya setelah keluar toilet. Mereka tengah berada di rest aarea untuk istirahat dan sholat. Mereka kini berada di sebuah restoran untuk makan siang.


Dia mendekaat ke arah Sekar. Dan mendekapnya.


" Mami , kenapa ?"


" Mungkin karena sudah lama gak bepergian sejauh ini. Mami jadi pusing. "


" Mami,,, !!!" pekik Laras saat Sekar tiba-tiba terhuyung dan pingsan dipelukan Laras.


" Maaf Nona. Kita bawa ke ruang tunggu di private room saja. Ada seorang dokter disana. " kata salah satu pegawai resttoran itu.


Laras nampak berfikir sejenak. Kemudian mengangguk mengiyakan. Dan beberaapa karyaawan wanita juga ikut membantu membopong tubuh Sekar. Karena Laras meminta tolong agar Sekar di bopong karyawan wanita saja.


Seorang dokter wanita yang sudah baya masuk ke private room dan segera memeriksa Sekar. Laras sudah menelpon Bram agar segera menyusul ke private room.


" Laras,, " panggil Bram dan segera masuk menggandeng tangan Sekar yang masih pingsan.


Semua keluarga juga ikut masuk. Nenek dan Ibu nampak cemas melihat Sekar yang masih belum sadar.


" Gimana keadaan istri saya dokter ?" tanya Bram panik.


Dokter itu hanya tersenyum. Melihat kearah keluarganya yang juga tengah panik.


" Istri anda tidak apa-apa. Wajar diusia trimester pertama kehamilan, Ibu pasti cepat merasa lelah dan pusing. Saya sudah menyuntikkan vitamin dan biarkan istri anda beristirahat lebih lama. "


" Hamil ???" seru semuanya tak menyangka.


" Sebentar,, sebentar,, maksud anda,, istri saya benar-benar sedang hamil ??" seru Bram tak percaya seolah mewakili pertanyaan semua yang ada disana.


" Iya. Jadi kalian semua tidak tahu kalo Ibu ini sedang hamil ? Atau malah Ibu ini juga tidak tahu kondisinya yang tengah hamil ?"


" Subhanaallahu,, ! Allahuakbar.. !" seru semuanya senang.


Dokter itu jadi memandang satu per satu keluarga disana dengan bingung.


" Anak saya sudah menunggu lima belas tahun untuk anugerah ini dokter. " jelas Nenek menjawab kebingungan dokter itu.


" Alllahu akbar. Saya ikut bahagia. Sepertinya masih sekitar lima mingguan. Tapi, untuk lebih jelasnya bisa memeriksakan ke dr. Kandungan. Ini saya resepkan vitamin agar bisa menguatkan kondisi Ibu itu. Saya permisi. "


" Terima kasih dokter. " ucap Nenek.


" Biar aku yang cari di apotek Nek. " kata Ruly setelah kepergian dokter itu.


" Iya Ruly. "


" Mas Bram,, ?? Ini,, kenapa semuanya disini ? Laras ,, kamu kenapa menangis ? Mas Bram juga,, semuanya juga,, " tanya Sekar beruntun sambil berusaha untuk bangun dibantu Bram.


" Alhamdulillah Mami,,, Alhamdulillah,,, " ucap Laras penuh syukur dan memeluk Sekar senang.


Sekar hanya mengusap kepala Laras dengan bingung. Dan menatap Bram meminta penjelasan.


" Alhamdulillah,, kamu hamil sayang. " bisik Bram dengan suara parau.


" Ha,,mil Mas ?? Aku hamil Mas ?? Tapi,, bagaimana mungkin,, ya Allah.. "


Sekar semakin memeluk Laras bahagia. Penantiannya selama ini. Aku gak mandul. Aku hamil. Batinnya.


" Laras,, Mami hamil sayang. " seru Sekar senang.


" Laras ikut bahagia , Mi. Selamat Mi. "


Laras melepaskan pelukannya dan memberi kesempatan Bram untuk memeluk istrinya.


" Kita akan segera memeriksakan kandungan kamu sesampainya dikota X. "

__ADS_1


Sekar hanya mengangguk senang.


" Bram. Kamu temani saja istrimu dibelakang. Biar aku yang nyetir. "


" Terima kasih Pratama. "


" Om Bram,, ini vitaminya. "


" Terima kasih Ruly. "


" Kita istirahat satu jam lagi. Sekalian tunggu ashar. Aku akan bilang pelayan restoran ini untuk memindahkan makanan kita kesini. " kata Nico sembari keluar ruangan.


Semuanya ikut duduk melingkari meja.


" Aku gak nyangka aku hamil Ma. Aku pikir aku mandul. " ucap Sekar saat Nenek memeluknya.


" Sssttt,,, kamu gak boleh mendahului kehendak Allah. Ada KunFayaKunnya yang harus kamu percaya."


" Selamat ya Ningrum. Aku ikut bahagia mendengarnya. "


" Semoga kita akan kembali ditakdirkan memiliki satu kesamaan lagi Vakencia. Semoga kamu segera nyusul. "


" Aammiinn. " jawab Mei senang.


" Harusnya aku mulai mengharapkan cucu ini. " gurau Valencia. Membuat Joe yang sedang minum menjadi tersedak.


Azka dan Laras menjadi tergelak, apalagi Mei yang wajahnya sudah memerah karena malu.


" Oh iya, sayang. Kemarin, ada relasi bisnisku yang menanyakan Mei yang seusia dengan putranya. " goda Nico memancing.


Spontan Mei langsung mendongak menatap Joe yang juga tengah menatapnya. Laras dan Azka kembali hanay terkekeh.


" Maksudnya apaan ini Pi. " ujar Joe gusar.


" Joe,, diantara pengusaha. Obrolan seperti itu memang sudah sewajarnya. Mungkin relasi bisnis Papi ingin menjodohkan Mei dengan anaknya. "


" Makanya,, buruan dipublikasikan. Sebelum para tetua memilih untuk menjodohkan mbak blasteran lho ya. Jangan lupa, kamu sendiri yang menjanjikan akan menikahi Mei setelah kalian sama-sama lulus. " bisik Laras memprovokasi yang terdengar oleh Tiwi yang duduk dibelakangnya. Dia hanya tersenyum geli mendengarnya.


" Kamu kenapa marah-marah Joe. Kan ini, urusan Nico sama Cia untuk menjodohkan Mei. " kata Ibu.


Joe semakin menunduk kesal.


Azka mendekat kearah Ibu dan membisiki sesuatu.


" Joe mencintai Mei Bu. "


" Ya Allah. " pekik Ibu tertahan. Hingga Nenek yang disampingnya menoleh dan mengangguk pada Ibu. Akhirnya Ibu sadar kalo mereka semua hanya ingin Joe jujur dengan perasaannya.


" Atau,, " kalimat Ibu menggantung. Membuat Joe menoleh kearahnya.


" Atau apa Bu ?"


" Atau ,, kamu mau meminta Ibu atau Mas Ruly untuk melamar Mei pada Mami Cia dan Papi Nico. "


" Iya Buuuu... !!" jawab Joe cepat.


Tentu saja membuat semua yang diruangan itu menjadi tertawa melihatnya. Joe memandang Mei yang makin tertunduk malu. Kemudian melihat Laras yang tertawa sampai memegang perutnya.


" Aaahh,, kalian semua ngerjain aku ya !!!" serunya kesal.


" Apa mau di cancel ini lamarannya ?" ancam Ruly.


" Yaa jangan dong Mas. Nanti keburu Papi Nico yang resek ini khilaf jodohin Mei sama anak relasinya. "


Nico melempar Joe dengan satu gelas air mineral.

__ADS_1


" Mau tidak aku restuin kami jadi menantuku. Bisa-bisanya bilang resek pada mertuanya. "


" Kan masih calon Pi. Gak apa-apa. Nanti kalo udah jadi mertua baru dibaikin. "


Joe hanya nyengir saat Ibu melotot padanya.


" Tengilnya kayak kamu dulu Pratama. "


" La memang turunanku ini."


Semuanya kembali tertawa. Laras menggenggam tangan Ratih dibawah meja. Saat senyum Ratih tak secerah tadi. Ratih hanya mengusap kepala Laras mengerti maksud Laras untuk meminta maaf kalo ada omongan Papanya yang menyinggungnya.


" Apa kita barengin semua aja nih Ruly,, Nico ??" tanya Astrid.


" Barengin gimana ?"


" Pratama,, kita nikahkan anak-anak kita dihari yang sama aja. Laras, Mahira, Azka dan juga Mei. "


" Itu ide bagus !!" seru Nico.


" Pi,, itu dua bulan lagi lho Pi. Masa harus secepat itu ?" protes Mei.


" Lhoo kan lebih lama dari yang aku janjikan lho. " protes Joe yang makin ditatap tajam Mei.


" Kok aku juga ikutan dibawa. Kan aku bisa tahun depan. "


" Aku setuju Pa. Kita nikahkan semuanya dihari yang sama aja. Gimana Bu ?" tegas Ruly.


" Lebih cepat lebih baik. Azka juga. " tegas Ibu.


Azka dan Mei hanya menunduk menggerutu tapi tidak berani berbicara. Membuat Laras tertawa senang.


" Alhamdulillah. " serunya senang.


" Laras,, !!" hardik Mei dan Azka kesal.


Laras mengeluarkan sebuah cincin yang selalu dibawanya. Cincin itu dititipkan Joe padanya sewaktu dia membelikan dua cincin emas dari gaji keduanya. Satu untuknya dan satu untuk Mei. Dan satu untuk Azka tapi sudah diberikan pada Azka. Sekarang malah keduanya tengah memakainya. Gaji pertamanya semuanya diberikan pada Ibu, meskipun awalnya Ibu tidak mau menerimanya.


" Joe,, ini cincinnya. Berikan pada Mei. "


" Mbak Laras membawanya ?"


" Iyalah. Kamu kan orangnya spontanitas banget. Gak bisa ditebak maunya kapan ngelamarnya. "


" Mbakku emang peka. " seru Joe senang.


Joe berdiri dan mengambil cincin itu dari Laras setekah mencium pipi kiri Laras sekilas. kemudian mendekat kearah Mei.


" Hey,, mau ngapain. Belum halal. " gurau Nico.


" Isshh, Papi ini ganggu aja. Sebentar doang Pi. "


" Sini,, biar Papi aja yang pasangin. "


" Ogah. Kan yang mau nikah aku. "


" Sayang sudah,, jangan digodain terus ah. "


" Bener tuh Mi. Tuh Pi. Dengerin kata Mami Cia. Memang Mami the best deh. "


" Kamu ya,, mau nikah sama anaknya kok Maminya juga dirayu. "


Joe tertawa mendengarnya. Kemudian memasangkan cincin itu di tangan Mei.


" Maaf,, sedikit terlambat my Sun." bisik Joe pelan hanya terdengar oleh Mei yang menunduk malu.

__ADS_1


Satu jam kemudian, perjalanan dilanjutkan. Mereka sudah sampai di mansion rumah Rudy. Ternyata Rudy sudah merenovasi rumahnya dikota ini dan menjadikannya penginapan. Karena letaknya yang memang tidak jauh dari lokasi mall terbesar milik Papa Damian. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit perjalanan kalo dengan jalan kaki.


Mereka semua langsung istirahat dengan fasilitas yang diberikan Rudy dari penginapannya.


__ADS_2