
Pagi ini Mawar sudah bersiap-siap untuk pergi ke toko kuenya, ia tak mau berlarut dalam kesedihan di rumah.
'Lebih baik aku pergi ke toko kue, di rumah juga cuma bikin stres aja Mas Arka gak pernah berubah dia selalu nyakitin hati aku,' batin Mawar.
Mawar berjalan pelan membuka pintu kamar ia tak ingin Arka tahu ia pergi ke toko kue. "Biarin aja Mas Arka sibuk sama kerjaannya aku juga bisa." Tutur Mawar.
**
Sesampainya di toko semua karyawan menyambut kehadirannya, sudah cukup lama Mawar tak datang ke toko kuenya karena sibuk mengurusi rumah tangganya.
Ada satu mata yang melihat Mawar dengan tatapan kebencian 'Ngapain sih pake ke sini segala bikin muak aja lihat mukanya.' Batin seseorang itu.
"Pagi Bu," sapa Emil.
"Pagi," jawab Mawar.
"Wah kandungan Ibu udah kelihatan besar ya sekarang?" tanya Emil basa-basi.
Mawar tersenyum tipis. "Iya, kalau gitu saya permisi ke ruangan dulu ya," ucap Mawar lalu melenggang dari hadapan Emil.
Mawar merebahkan tubuhnya di kursi sambil mengelus perutnya.
"Sayang, nanti kalo kalian udah lahir Bunda gak mau kalian tau kalo ayah kalian punya sikap kaya gitu, Bunda pengen mental kalian selalu sehat," tutur Mawar.
__ADS_1
Sementara itu Langit baru saja sampai ke toko kue milik wanita pujaan hatinya itu. Ia memesan kue dan juga kopi best seller lalu duduk menyendiri di sana.
Akhir-akhir ini Langit sering merasa bersalah karena sudah membuat Mawar dan suaminya bertengkar, padahal niatnya hanya ingin menjaga Mawar tidak lebih.
Langit tahu diri, Mawar sudah menikah dan tidak mungkin ia bisa memilikinya seperti dulu.
'Aku harus minta maaf sama Mawar dan berjanji gak akan buat dia bertengkar lagi sama suaminya, kasihan dia sering nangis dan sedih," batin Langit.
Tiba-tiba saja Mawar keluar dari ruangannya dan tak sengaja melihat Langit ia pun segera menghampirinya.
"Langit?" tanya Mawar.
Langit sedikit terkejut dengan adanya Mawar, ia sama sekali tidak tahu Mawar ada di tokonya hari ini.
Mawar duduk di hadapan Langit. "Iya lagian bete di rumah, ngomong-ngomong kamu beli apa?" tanya Mawar.
"Eu, aku beli kopi sama kue best sellernya."
"Hmm, masalah kemarin maaf ya, kamu jadi sering terlibat diantara pertengkaran aku sama Mas Arka," ucap Mawar.
"O, gapapa gapapa. Itu real salah aku kok bukan salah kamu. Lagian emang gak pantes seorang laki-laki nganterin istri orang pulang wajar aja suami kamu marah," jawab Langit.
"Kamu gak perlu ngomong kaya gitu, kalo gak ada kamu aku pasti kerepotan dan setiap aku lagi susah pasti di situ ada kamu. Aneh ya?" tanya Mawar.
__ADS_1
Langit terdiam sejenak mencerna ucapan Mawar itu. Kebetulan atau tidak tapi mereka sering kali dipertemukan tidak sengaja oleh Tuhan.
"Masa sih?" ujar Langit simpel.
"Hm, iya maksud aku kita sering ketemu meskipun gak sengaja. Buktinya sekarang kita ketemu lagi,"
Langit tertawa kecil. "Iya kebetulan aja kali, oh iya kandungan kamu gimana sehat kan?" tanya Langit mengalihkan pembicaraan.
"Sehat kok alhamdulilah, kembar lagi."
"Wow, sekali dikasih 2 ya hebat banget loh papanya bikinnya," goda Langit.
"Apaan sih gak jelas deh," tutur Mawar salah tingkah.
Waitress pun datang mengantarkan pesanan Langit tak lupa Langit berterimakasih.
"Mata kamu sembab abis nangis ya?" tanya Langit.
"Enggak kok, mungkin cuma kurang tidur aja maklum ibu hamil kan pasti kebangun mulu," jawab Mawar.
"Masa sih? Pasti gara-gara kemarin aku anterin kamu ya sampe sekarang kamu sama suami kamu belum akur?"
"Udah lah gak usah dibahas minum aja tuh kopinya keburu dingin," ucap Mawar.
__ADS_1
Dibalik keakraban Mawar dan Langit ada mata yang sedang melihat mereka dengan penuh kebencian dan tak lupa memotret keakraban mereka. Siapa kah dia?