
" Ras, Joe dimana ? Kenapa gak ikut makan siang ?" tanya Pratama sambil celingukan.
" Joe pergi dengan Kak Ryan Pa. " Jawab Tiwi pelan.
" Ryan ? Kemana ?"
" Menjemput adik-adik panti asuhan Pa. "
" Tadi pamit sama kamu Rass ?"
" Gak sih Pa. Tapi tadi Laras lihat kepergian mereka."
" Kamu tenang aja. Ryan itu anak buahku di pasukan bayangan. Aku yakin dia bisa menjaga Joe dengan baik." hibur Nico.
" Baiklah. Aku hanya khawatir. "
" Persiapan nanti sore udah clear semua kan Pratama ?"
" Sudah Mama Ayu."
" Panti asuhannya sudah ada yang mau tempati ?" tanya Astrid.
" Iya. Ma. Disekitar sini, ada panti asuhan yang ditempati Ryan dan adik-adiknya. "
" Ryan ? Pengawal Joe ?" tanya Sekar.
Laras mengangguk.
" Kak Laras tahu kalo Kak Ryan besar di panti asuhan ?" tanya Tiwi.
" Papi sama Joe yang cerita."
Tiwi manggut-manggut mengerti. Kemudian menoleh saat Mahira menyentuh bahunya.
" Novelnya udah selesai aku baca. Aku membawanya satu. Apa kamu mau baca ?"
" Iya Kak Hira. " jawab Tiwi cepat.
" Siapin tisu sebanyak mungkin. Aku aja sampai bengkak mataku. "
" Benarkah ?"
" Iya. Kak Laras emang paling jago buat hatiku ketar ketir. " bisik Mahira sendu.
" Sampai segitunya Kak ?"
" Iya. Entahlah,, tapi aku ngerasa kayak sedang membaca perjalanan Kak Laras selama ini. Meskipun nama dan tempat dibuat berbeda. Bacalah dan kamu pasti mengerti. "
" Aku jadi gak sabar, pengen segera membacanya."
*****
Ba'da Ashar warga setempat sudah berdatangan didepan panti asuhan. Begitupun dengan adik-adik panti asuhan dimana Ryan dulu tinggal. Acara berlangsung dengan khidmat. Bahkan banyak warga yang juga bersyukur karena anak-anak panti asuhan yang tak jauh dari tempat mereka bisa ditampung disini.
" Terima kasih Tuan Pratama. Sudah mengijinkan adik-adik saya tinggal disini." kata Ryan saat acaranya sudah selesai.
Pratama yang sedang berdiri menoleh pada Ryan yang tengah mengulurkan tangannya untuk menjabatnya. Dilihatnya Ryan tengah gugup sekarang.
" Kenapa kamu harus segugup ini bicara dengan orang tuamu. " jawab Pratama sembari memeluk Ryan.
Ryan tercengang, lidahnya kelu. Seorang Pratama Dirgantara menganggappnya anak sendiri ??
Joe dan kedua papinya mendekat dan tertawa melihat Ryan yang terlihat gugup di peluk Pratama.
" Seperti halnya Tiwi, kamu sudah aku anggap sebagai putraku juga. Tolong jaga adikmu Joe. Bersabarlah dengan sikap tengil dan jahil anakku ini. " kata Pratama sambil meninju lengan Joe.
" Tidak usah segugup itu Ryan. Panggil saja kami seperti halnya Tiwi memanggil kami. " jawab Bram.
" Papi ??"
Ketiga Papa itu tertawa mendengar Ryan yang masih kaku memanggilnya.
__ADS_1
" Ryan,, " panggil seorang wanita baya dibelakangnya.
Semuanya menoleh. Bram dan Nico bersalaman lebih dulu. Begitupun dengan Joe yang memang sudah mengenal Ibu Sasi, ibu panti.
Prita, Laras, Azka, Mei, Tiwi, Mahira dan para tetuanya ikut mendekat. Begitupun dengan Ruly, Sam, Rey dan Damian.
" Perkenalkan beliau Ibu Sasi, Ibu saya sekaligus Ibu panti.
Pratama menjabat tangan Sasi. Dan tersenyum pada keluarga wanita disana.
" Ibu,, sudah mengenal Joe kan. Aku kenalkan dengan keluarga Joe Bu. " kata Joe sambil mendekap Ibu Sasi. Laras dan keluarganya tersenyum melihat keakraban itu. Tampak Joe yang terlihat senang.
" Ini Papa Joe, kedua orang ini, tentu Ibu sudah mengenalnya lebih dulu. Karena mereka lebih tua dari Joe. " kenal Joe jahil pada Bram dan Nico. Tentu saja membuatnya mendapatkan tinju di lengannya.
" Dan,, beliau Ibuku. Ibu Suci. Ibu paling hebat. " kenal Joe pada Ibunya.
Sasi menyalami Suci dan tersenyum.
" Dan, ini Nenek Ayu. Ini, Mama Ratih. Ini Mami Sekar, istrinya Papi Bram. Ini Mami Cia, istrinya Papi Nico. Mertua Joe Bu. "
Semua orang menjadi tertawa melihat Joe mengerling pada Valencia.
" Joe,, jangan genit-genit !!" hardik Nico.
" Iishh,, Papi kumat posesifnya. " gerutu Joe.
" Ini Mama Astrid, ini Tante Lyra. "
" Ini Tiwi, Ibu udah kenal dong. Kan calon mantu Bu. "
Tiwi hanya menunduk malu setelah mencium punggung tangan Ibu Ryan. Sassi kembali hanya tersenyum.
" Ini Mbak Azka dan itu calonnya Mbak Azka. Kahfi."
" Joe,, " tegur Laras.
" Eehh,, eeehh,, Bang Kahfi Bu. "
Ruly menarik hidung Joe gemas dengan jahilnya.
" Dan ini Mei Bu. Calon istri saya. Cantik kaan Bu. Blasteran soalnya. "
Sasi tertawa begitupun dengan yang lainnya sembari mencibir Joe. Membuat Mei malu.
" Ini Mahira dan calon suaminya Rey. "
" Daaann terakhir Bu. Ini Bang Damian, calon suami kakak kesayangan Joe Bu. "
Joe berpindah mendekap Laras yang membuat keki sejenak.
" Dan ini,, Mbak kesayangan Joe Bu. Mbak terbaik yang pernaah Joe miliki. "
" Lebay ah. " tegur Laras. Kemudian hendak mencium punggung tangan Sasi. Tapi tiba-tiba Sasi menarik Laras ke pelukannya.
Laras memandaang satu per satu keluarganya yang saat ini tengah berpandangan heran.
" Kayaknya kita tambah satu Ibu lagi Mbak Azka. " sindir Joe sambil mendekap Azka yang tertawa. Laras tersenyum kecut.
" Terima kasih Nak. Semoga kamu senantiasa diberi keselamtan dan kesehatan. "
" Aamiin.. Aamminn ya robbal alamin. "
Laras melepaskan pelukan Sasi yang tampak masih tidak rela melakukannya.
" Gimana bisa Bu Sasi tiba-tiba memeluk Laras. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya Ryan ?" tanya Nico.
" Tidak pernah, Pi. Ini pertama kalinya. " jaawab Ryan yang juga heran.
" Aku juga pernah merasakkannya. Ketika bertemu Laras dulu. Tiba-tiba saja aku merasa sedang bertemu dengan anakku sendiri. Entah. Rasanya seperti tiba-tiba sudah mengenal Laras dan menyayanginya. " kata Astrid sendu. Teringat dulu waktu bertemu Laras.
" Karena Laras memiliki aura positif. Dimanapun dia berada. Tidak sulit membuat orang-orang yang baru ditemuinya menjadi sayang padanya. " jelas Mei.
__ADS_1
" Bang Dami,, siap-siap saja berbagi dengan lebih banyak orang. " sindir Joe.
" Enak aja. Setelah menikah, Laras hanya punyaku. Bukan untuk semua. " gerutu Damian.
" Ini baru Ibu-ibu yang sayang. Gimana kalo ada yang mengenalkannya dengan laki-laki. " goda Sam.
" Dulu, secara gak langsung, aku mengenalkannya pada temanku dari Loondon. Bilangnya gak suka tapi,, " godaa Rey menggantung sambil melirik Damian yang sedang kesal.
" Sam. Bukannya kamu punya teman cowok yang mau kamu kenalkan pada Laras. Atau jangan-jangan nanti dia juga ,, " Rey sengaja menggantungkan kalimatnya lagi. Melihat ekspresi marah Damian.
" Kamu mau aku sembunyikan Hira lagi ?!" seru Damian makin kesal.
Spontan Rey menarik Hira dibelakangnya. Mahira memukul punggung Rey kesal.
" Udah, jangan membangunkan singa yang lagi tidur. " bisik Mahira takut.
" Maafkan aku. Entahlah,, melihat Laras jadi seolah melihat anakku yang sudah meninggal. "
Ryan mendekap Ibunya untuk sedikit menjauh. Tidak mau memperkeruh suasana. Takut orang-orang didepannya marah.
" Laras memang punya aura positif Bu Sasi. Tiap orang yang bertemu dnegannya pasti cepat menyaynginya. " hibur Nenek.
Damian menarik tangan Laras dan membuatnya kembali berada disampingnya dengan posesif. Tentu saja membuat Rey tertawa melihatnya.
" Jangan terlalu baik sama orang sayang. " bisiknya.
" Kok gitu sih. Jangan ikutan Joe ah. " omel Laras pelan.
" Pokoknya,, kedepannya nanti. Kalo gak sama aku. Kamu gak boleh kenalan-kenalan dengan orang. Apalagi laki-laki. "
Laras terkekeh mendengarnya, kemudian melihat ekpresi Damian yang terlihat jelas sedang cemburu.
" Dia seorang wanita. Ibu-ibu lho,, ini ngapain alisnya sampai berkerut kayak gini. "
Laras menunjuk ke arah alis Damian yang hanya mengalihkan tatapannya. Masih kesal.
" Padahal, rencananya aku akan ikut Papa meeting bersama klien-kliennya nanti lho. " gurau Laras sambil jari telunjuknya mengusap alis Damian agar tidak berkerut lagi.
" Sayang !!" geram Damian kesal.
Laras tertawa.
" Aku bercanda Mas. Udah dong, jangan marah lagi. Jelek nih. "
" Panggil sayang dulu. "
" Gak mau. Jelek aja deh terus. " gurau Laras sambil menepis tangan Damian dan mendekap Astrid yang tertawa melihat Damian yang secemburu itu.
" Jangan memaancingnya terus Ras. Kamu tahu dia saagat menahan diri untuk tidak memelukmu. "
Laras terkekeh.
" Maaf Ma. Habisnya ketularan Joe. Posesifnya udah tingkat akut. "
Joe yaang sedaang berada tak jauh dari Laras hanya tersnyum.
" Kalo gak gini. Bisa-bisa nanti dirumah udah menampung bapak-bapak dan Ibu-ibu. Aku gak kebagian sayangnya nanti." sindirnya.
Laras memukul Joe agar tidak memprovokasi.
" Maafkan saya,, Ryan sudah banyak bercerita tentang semua kebaikan dari keluarga kalian. Jadi, saya merasa sudah sangat mengenal keluarga ini. "
" Karena apa yang terdengar lebih cepat sampai dihati daripada apa yang terlihat. " kata Laras.
" Kamu benar Nak. " sahut Bu Sasi.
" Ya sudah. Ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang ke penginapan. Biarkan Ryan dan keluarganya membereskan panti asuhan. " kata Pratama.
" Terima kasih. " ucap Sasi tulus.
Mereka semua berjalan menuju ke penginapan untuk istirahat. Ryan dan Sassi masuk ke panti asuhan untuk membantu anak-anak yang lain membereskan barang-barangnya.
__ADS_1