
Mawar sama sekali tidak tertarik dengan kalung yang diberikan oleh Arka.
Kebetulan hari ini ia libur bekerja, ia ingin menemui Arka untuk menanyakan soal kalung itu.
(Kamu ke rumah ya Mas, aku perlu bicara.) Tulis Mawar.
****
Tak butuh waktu lama akhirnya Arka datang.
"Kamu gak perlu ngasih aku apa-apa Mas, ini terlalu mahal buat aku," tutur Mawar tanpa basa-basi.
"Gak, ini limited edition khusus buat kamu. Tolong terima ya anggap aja sebagai tanda terima kasih aku karena kamu mau merawat anak kita dengan baik," ujar Arka.
"Matteo itu anak aku juga wajar kalo aku rawat dia dengan baik, Mas tolong lah kamu gak usah berlebihan kaya gini aku gak suka," protes Mawar.
Inem yang mendengar kegaduhan itu segera membawa Matteo ke taman belakang rumah.
"Ayo Nak kita main ke taman aja ya," ujarnya.
Arka menghela nafas panjang lalu duduk di sofa. "Kamu kenapa Mawar, ini cuma hadiah kecil buat kamu," tutur Arka berusaha tabah padahal hatinya sesak mendengar ucapan Mawar tadi.
"Ya buat apa kamu kasih aku kalung ratusan juta kaya gini, aku bilang kalo mau ngasih apa-apa buat Matteo aja jangan buat aku." Mawar duduk di samping Arka.
__ADS_1
"Iya, tapi kamu gak usah marah kaya gini lah. Sabar," ucap Arka lembut.
Mawar tersadar ia sudah terlalu keras pada Arka. "Maaf, aku cuma gak suka aja sama perlakuan kamu yang berlebihan kaya gini," lirih Mawar mengalihkan pandangannya.
Di sisi lain Langit sedang merenungi kehidupannya yang seperti roller coaster, mencintai Mawar, menikah dengan Bella lalu ditipu olehnya membuat hati Langit seolah diinjak-injak.
"Langit," panggil papanya.
Langit sama sekali tidak menoleh padahal ia mendengar suara panggilan itu.
"Kamu yang sabar ya, maafkan papa yang ceroboh memilihkan jodoh untuk kamu," ujar papanya.
Langit masih diam seribu bahasa lalu meninggalkan papanya sendirian.
"Semuanya brengsek!" sergah Langit memukul cermin hingga berserakan. Tangannya berdarah namun ia sama sekali tidak menyadarinya.
**
Mawar berusaha menghubungi Langit namun nomornya tidak aktif, hingga berkali-kali mencoba menghubunginya namun hasilnya tetap sama.
Karena memiliki waktu luang akhirnya Mawar berniat untuk mendatangi rumah Langit.
Setelah bersiap Mawar menitipkan Matteo pada Inem. "Astaga Langit kamu kemana si," gerutu Mawar.
__ADS_1
Hampir 30 menit akhirnya Mawar sampai ke kediaman Langit.
Mawar turun dari mobilnya sedikit berlari perasaannya campur aduk memikirkan keadaan laki-laki itu. Ia mengetuk pintu rumah Langit dengan keras.
"Cari siapa Non?" tanya salah satu Art nya.
"Langit Bi, ada kan?" tanya Mawar panik.
Arti itu terdiam sejenak.
"Kenapa Bi? Langitnya ada kan?" tanya Mawar sekali lagi.
"Anu Non, den Langitnya lagi ngamuk-ngamuk kayanya di atas soalnya dari tadi berisik," tuturnya ragu.
Mata Mawar membulat. "Saya izin masuk ya Bi, saya temennya Langit," ujar Mawar.
"I-iya Non, hati-hati ya. Biasanya den Langit gak pernah kaya gini," ujar Art.
Mawar berjalan cepat menuju lantai atas, setelah sampai ia segera membuka kamar Langit.
Betapa terkejutnya Mawar melihat Langit yang begitu kacau, tangannya berdarah, serpihan kaca dimana-mana.
"Langit!" teriak Mawar segera menghampirinya.
__ADS_1
"Kamu ngapain ke sini?" tutur Langit dengan tatapan penuh arti.
Mawar menyentuh pipi Langit dengan lembut. "Kamu kenapa kaya gini?"