Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Awal kehancuran


__ADS_3

Pagi-pagi Arka bersiap untuk berangkat ke kantor, tadi malam ia menginap di rumah teman lamanya.


Sesampainya di kantor Arka hendak masuk namun ditahan oleh dua security.


"Maaf Pak, Bapak dilarang masuk karena mulai hari ini Bapak tidak lagi bekerja sebagai ceo disini," ucap security itu.


"Berani-berani kalian menghadang saya di sini, kalian lupa kalau saya ini ceo di sini! Siapa yang bilang saya gak lagi jadi ceo di sini hah!" teriak Arka naik pitam hampir saja ia menghajar kedua securty itu.


"Mama yang bilang kalo kamu berhenti bekerja di sini, karena ini perusahaan masih atas nama Mama," ucap Rita muncul dari belakang security.


Arka berdecak kesal. "Maksud Mama apa sih, Arka gak boleh kerja lagi di sini! Terus Arka harus kerja apa!" teriak Arka dihadapan Rita.


"Terserah kamu, anak yang tidak bisa diatur seperti kamu seharusnya memang dibebaskan begitu saja, kamu gak perlu pulang ke rumah Mama lagi atau datang lagi ke kantor. Oh iya kamu kan mau bikin skandal lagi sama sekertaris baru itu silakan kalo dia masih mau sama pengangguran kaya kamu," ucap Rita.


Tiba-tiba saja Jenni datang dan mengucapkan selamat pagi pada Arka, Jenni tidak mengetahui jika Arka sedang bertengkar dan masa depannya bagai diujung tandak saat ini.


"Pagi Pak Arka," ucap mulut manis Jenni.


"Jadi kamu sekertaris baru ceo di sini?" tanya Rita sinis.


Jenni mengerutkan alisnya. "Iya, kenapa ya Bu? Ada yang salah dari saya?" tanya Jenni tanpa rasa takut.


"Ini Arka? Ini yang kamu anggap sekertaris yang bisa diandalkan? Rok diatas lutut, bibir merah merona, bedak satu senti, dada menyongsong ke depan," ucap Rita sambil melipat kedua tangannya didada.


"Maksud Ibu apa ya ngomong dengan nada yang mengejek kaya gitu sama saya?" tutur Jenni tak nyaman.

__ADS_1


"Gak ada maksud apa-apa, kenapa kamu gak suka?" tanya Rita berani.


Jenni hendak masuk ke dalam kantor namun tangannya dicekal oleh Rita. "Mulai hari ini kamu dipecat dan jangan pernah kembali lagi ke kantor milik saya ini," ucap Rita.


Mata Jenni membulat. "Apa? Dipecat? Saya baru loh kerja di sini bisa-bisanya Ibu pecat saya seenaknya emang Ibu siapa!" bentak Jenni.


"Loh saya pikir kamu tahu saya siapa, Rita Dewantara pemilik perusahaan ini!" tegas Rita.


Jenni menelan ludahnya, ia pikir semua ini hanya milik Arka bukan atas nama orang tuanya.


"Kenapa harus dipecat Bu, emangnya salah saya apa?" Jenni menunduk karena baru tahu siapa yang berada dihadapannya saat ini.


"Kamu terlalu seksi dan pakaian kamu itu tidak layak dipakai bekerja." Tegas Rita.


"Dan kamu Arka, Mama udah beresin semua barang-barang kamu dikantor jadi sekarang kamu boleh pergi kemana pun kamu inginkan," ujar Rita lagi.


"Kamu tinggal aja nih sama sekertaris kamu ini, dia kan yang udah bikin kamu tergoda," ujar Rita.


"Maaf Bu, saya wanita karir dan gak mungkin mau sama pengangguran, permisi." Tutur Jenni lalu melenggang.


"Kamu lihat kan Arka gak ada perempuan yang mau sama pengangguran, kehidupan mewah seperti sekarang patut kamu syukuri dan pertahankan bukannya seenaknya main perempuan sana-sini. Kamu pikir semua aset ini milik kamu?" ujar Rita.


"Ma, atas dasar apa sih Mama giniin Arka. Kok ada ibu kandung yang tega usir anaknya sendiri,"


"Mama tanya sama kamu, sekarang di mana keberadaan istri dan anak kamu. Kamu tahu di mana mereka, gimana keadaan mereka sekarang?" tanya Rita membalikkan ucapan Arka.

__ADS_1


Arka membayangkan Mawar yang tadi ia dorong.


"Kenapa kamu diam Arka?" tanya Rita lagi.


"Jangan pernah sangkutpautkan perusahaan sama masalah pribadi Ma, tolonglah ngapain sih kaya gini nanti Arka cari Mawar tapi jangan usir Arka," Arka memohon.


"Kamu pergi sekarang juga Arka, Mama udah kehabisan rasa sabar sama kamu. Kamu gak mau diatur, bikin Mama malu terus, sekarang pergi dan hidup sesuka kamu," ucap Rita.


"Oke fine, Arka bakalan pergi dari kehidupan Mama dan jangan pernah menyesal udah usir Arka dari kehidupan Mama!" tegas Arka langkahnya perlahan menjauh.


*


Setelah memakamkan anak Mawar, Mirna kembali ke rumah sakit sedangkan Arya kembali bekerja. Entah harus mulai darimana Mirna mengatakan hal menyakitkan itu pada adiknya.


Mirna masuk ke ruangan Mawar, terlihat Mawar yang sedang disuapi oleh suster.


"Biar saya aja sus," tutur Mirna lalu suster pun keluar.


Tiba-tiba saja Mawar mengatakan ingin menemui kedua anaknya.


"Hm, nanti dulu ya anak kamu baik-baik aja kok yang penting kamu istirahat yang cukup biar cepet pulih nanti bisa ngendong anak-anak kamu," tutur Mirna.


"Aku udah gak betah di sini, pengen cepet pulang bawa si kembar. Aku juga mau urusin perceraian aku sama Mas Arka dia kan bilang sendiri gak mau urus apa pun," ucap Mawar yang masih terbaring lemah.


"Kamu yang kuat ya Mawar, suatu saat nanti pasti ada laki-laki terbaik buat kamu dan anak kamu," ucap Mirna.

__ADS_1


"Iya Kak, aku percaya itu kok. Aku juga udah cape nangisin semuanya mungkin udah saatnya aku berlapang hati aja, dari awal emang pernikahan aku sama Mas Arka emang gak berkah kali," tutur Mawar.


"Iya, semua itu karena amanah dari almarhum suami kamu kan, mau gak mau kamu harus merasakan menikah sama laki-laki bejat itu," pungkas Mirna.


__ADS_2