
Laras memeluk pinggang Sekar yang sedang berdiri di balkon. Rudy memang sengaja menempatkaan keluargannya dilantai atas. Dan memastikan penginapannnya sedang tidak ada ttamu agar lebih amaan dan private.
" Mami lagi mikirin apa ?"
" Aku hanya gak nyangka aku sekarang hamil Ras. Bertahun-tahun aku berusaha tapi belum juga berhasil. Sedangkan mantan suamiku menikahi wanita itu karena sedang mengandung anaknya. Dan,, "
" Dan,, Mami mendoktrin diri Mami sendiri kalo Mami mandul ?"
Mami mengangguk.
" Seperti yang Nenek bilang Mi. Ada Kunfayakun Allah yang harus kita percaya. Jalan cerita yang ditulis Allah, jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan Mi. Laras percaya itu. Karena Laras merasakannya sekarang. Dari Laras yang bukan apa-apa, hanya seorang pengamen. Sekarang Laras dikelilingi orang-orang hebat, orang-orang yang menyayangi Laras tanpa pamrih. "
" Kamu benar sayang. "
" Kalian, pagi-pagi udah melow aja. " celetuk Valencia sembari mendekap keduanya.
" Pagi Mami,, "
" Pagi sayang,, terima kasih Laras. "
" Hah,, terima kasih untuk apa Mi ?"
" Seperti yang kamu bilang tadi. Jalan cerita Allah selalu lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Karena Mami diberikan kesempatan untuk mengenal anak hebat sepertimu. "
" Selalu,, Mami itu, selalu pinter gombal. "
" Mbak. Kapan mau kemakamnya ?" tanya Joe yang keluar membawa satu gelas kopi.
" Kok cuman satu ? Mami mana ?"
" Heheheh,,, bentar lagi dibawakan Ibu. "
" Kok gak bantuin ?"
" Ada Om Rudy dan Reymot."
" Emang dasar kamu aja yang gak mau bantuin. " celetuk Rey yang membantu Lyra membawakan nampan berisi tiga teko. Satu berisi teh hangat, satu berisi kopi hitam, dan satu lagi berisi kopi susu.
" Kan kamu yang tuan rumah. "
" Sini Tante, Laras bantu. " kata Laras sambil menerima nampan berisi gorengan.
" Gak usah Ras. Ada pegawai penginapan yang membantu. Kalian duduklah. Kita sarapan disini aja."
Pegawai penginapan sudah menata semua makanan di atas meja. Saat keluarga Laras muncul bersamaan di balkon.
" Kapan mau ke makamnya , Ras ?" tanay Ruly.
" Tuh,, tuhh,, tanya Pak supirnya. "
" Jangan hari ini ya. Besok pagi saja. Tiba-tiba kolegaku minta rapat di hotel B. Kebetulan dia sedang berada di kota ini."
" Papa ini kebiasaan. Quality time kita jadi keganggu." omel Prita.
" Maaf sayang. Tapi kolega ini gak bisa ditebak kapan akan datang ke Indonesia lagi. Dia investor terbesar di perushaan Papa. "
" Ya sudah. Hari ini kita jalan sendiri-sendiri aja. "
" Kamu mau kemana, Mei ? " tanya Laras.
" Aku, Azka, Rey dan Sam mau maen ke sekolah kita dulu Ras. "
" Aku gak diajak ?"
" Oh iya,, lupa kalo kamu juga alumnus sana. " seru Azka.
" Tentu saja. Aku siswa berprestasi tauu !!"
" Sama dong !"
" Mulai deh. " sindir Laras.
" Kalo gitu, aku akan mengajak Sekar untuk memeriksakan kandungannya. "
" Apa aku boleh ikut sayang ?" tanya Valencia pada Nico.
" Tentu saja. Kita bisa sekalian check up kalo kamu mau. "
" Benarkah ?"
Nico mengangguk setuju.
" Terima kasih. "
" Nenek mau kemana ?"
" Nenek di sini saja. Uudah lama gak bepergian sejauh ini. Rasanya masih melelahkan. "
" Sama. Ibu juga disini aja. Masih capek. Kalo kalian mau jalan-jalan. Biar baby Al sama Ibu. "
" Gak usah Bu. Kami juga mau disini aja. Istirahat. " jawab Ruly.
" Mama sama Mahira mau ke kantor Damian. Kamu ikut ya Ras. Mama pengen jalan-jalan sama kamu. " pintaa Astrid penuh harap.
" Mama Ratih kemana ?"
" Mama ? Tentu saja dirumah saja. Mau belajar masak sama Bu Suci. "
" Iya, Mama Astrid. Kita jalan-jalan. Gak apa-apa kan kalo Tiwi ikut ya. Kalian tahu sendiri seposesif apa mereka-mereka ini. " kata Laras sambil menunjuk ke arah Papa, Joe dan kedua Papinya.
" Tentu saja sayang. "
" Grand opening mall Damian. Bukannya hari ini ?" tanya Rudy.
" Nanti sore lebih tepatnya. Karena ada artis ibu kota yang diundang. "
" Kita akan ketemuan disana ya. Kita akan datang nanti. " kata Nenek.
" Damian pasti senang karena Laraas dataang. " tebak Lyra.
" Damian tidak tahu kalo Laras berada di kota ini. "
" Kamu merahasiakannya Asterid ?"
" Tentu saja. Dia pasti akan meniinggalkan mall untuk datang kesini. " sindirnya.
Laras hanya terkekeh.
" Gak mungkinlah Ma. " elak Laras.
" Kamu gak percaya ? Kalian mau lihat sestres apa dia sekarang karena jauh dari Larass ?"
" Boleh Tante. " seru Rey lucu.
Astrid melakukan panggilan video pada Damian. Hanya beberapa deringan dia langsung mengangkatnya.
" Ada apa Ma. Jangan menggangguku. Aku lagi pusing." omelnya tanpa menghadap ponselnya dan masih menunduk mengerjakan sesuatu di laptopnya.
" Kamu gak mau tahu Mama sekarang ada dimana ?"
" Gak. Mama selalu memamerkan kebersamaan Mama sama Laras. Asal Mama tahu, aku jadi ingin segera pergi dari sini. Dan menemuinya. "
" Dasar bucin. "
__ADS_1
" Ini salah Mama. Karena mau menuruti Laras untuk menunda pernikahan kami. "
Laras menutup mulut Joe dengan tangannya saaat dia hendak tertawa.
" Ya sudah. Konsentrasilah. Grand opening nanti sore kan. Nanti Mama video call Laras biar kamu tenang."
" Isshhh,,, kalo video call, aku juga bisa Ma. "
" Lalu, kamu mau apa ?!"
" Paksa dia daatang kesini. Kalo perlu jewer aja. Biar dia tahu sekangen apa aku sekarang. "
" Dasarrr Kak Damian bucin. " ejek Mahira tak tahan.
" Diam kamu. Cepet kerjakan tugasmu. Awas aja kalo berantakan. "
" Tidak akan !! Aku minta bantuan Kak Laras aja nanti. "
" Enak aja. Gak boleh. Kalian enak-enakan bisa bersama dia disana. Gak boleh,, gak boleh,, !!"
" Irii,,, ?!!"
" Tentu saja !!" jawab Damian ketus masih tanpa menoleh.
" Sudah. Tuutup telponnya. Aku mau kerja lagi. "
" Iya. Iya. "
" Assalaamualaikum. "
" Waala,, tunggu Ma. Iitu Laras kan. "
" Sudah. Sana kerja. "
Aastrid memutuskan panggilan telponnya sepihak. Kemudian ikut terkekeh melihat Laras yang tengah mmenunduk. pura-pura sibuk dengan baby Al yang berada di panngkuannnya.
" Sekarang kalian tahuu, sebucin apa anakku itu. "
Semuanya kembali tertawa.
" Ya udah. Sarapan dulu. Laalu kita bisa menyelesaikan urusan kita. " kata Bram.
Semuanya mengangguk dan segera menyantap hidangan yang tellah disediakan Rudy.
***
Jam sembilan pagi Azka, Mei, Rey, Joe dan Sam pergi menuju ssekoolah mereka dulu. Sekedar mengunjungi para guru disana. Dan juga melihat sekolah mereka. Bram tetap memberikan pengawalan pada mereka. Meskipun anak buahnya teelah melakukan penyamaran sejak mereka mulai bekerja sebagai pengawal.
Pratama juga sudah berangkat menuju Hotel B dengan diantar oleh Rudy. Misi utama Pratama juga ingin mengenalkan agrobisninya dan juga perusahaan Florist.
Astrid, Mahira Laras dan Tiwi sudah berangkat diantarkan oleh Ruly. Karena nanti pulangnya akan diantar Damian. Laras sudah membawa bekal yang disiapakan Ibu untuk Damian. Meskipun Laras menolaknya. Tapi Ratihpun juga bersikeras memaksanya. Akhirnya Laaras mau membawanya juga.
" Kak Damian pasti gak nyangka kita datang dengan Kak Laras sekarang , Tante. "
" Tentu saja. Apalagi aku sudah melarang pengawal yang disuruh Damian untuk melaporkan keberadaan kita disini. "
" Raka,, kenapa kamu diluar ? Apa ada masalah ?" tanya Astrid.
" Ahh,, Nyonya besar. Pak Damian sedang marah. "
" Marah ? Kenapa ?"
" Ada kerja sama dengan perusahaan lokal, untuk mendesain lantai dasar agar nyaman pada saat artis ibukota nanti tampil. "
" Lalu,, ??"
" Pihak mereka tiba-tiba memutuskan kerja sama dan mengembalikan semua biaya yang sudah kita keluarkan. Dan juga mengambil semua properti mereka. Lantai dasar jadi tidak ada hiasan sama sekali Nyonya. Dalam waktu sesingkat ini, tentu saja kami kesulitan untuk mencari penggantinya. "
Astrid tersenyum kemudian mengangguk pada Raka. Lalu, Raka memberikan dokumen yang dibawanya. Laras segera melihat berkas itu.
" Ehhmm,, kalo konsepnya memang dibuat sesimpel ini harusnya tidak kesulitan mencari penggantinya. "
" Raka ?" tegur Astrid.
" Masalahnya, kami,, maksudnya,, saya,, tidak tahu dimana harus mencarinya di kota ini. "
Laras tersenyum.
" Sepertinya teman sekolah Joe dulu ada yang membuka usaha persewaaan seperti ini. Sebentar aku tanyakan pada Joe. "
Laras menelpon Joe, dan mempertanyakan apakah Ardi, teman SMPnya dulu masih membuka persewaan hiasaan pesta. Laras menjelaskan detail konsep yang diminta Damian. Dan Joe akan mengusahakannya.
" Nanti Joe akan kabari kalo sudah ditanyakan pada temannya. "
" Terima kasih,, terima kasih Nona,,, "
" Laras,, panggil saja Laras Kak Raka. "
" Bukankah,, nona ini yang satu tahun yang lalu bekerja di toko bunga disini ?"
" Iya. Kak Raka. Pasti Kak Raka yang dulu membantu Mami saya membawa saya ke rumah sakit. "
" Aahh,, syukuah Nona baaik-baik saja."
" Laras,, Laras, Kak Raka. "
" Dia calon istri Damian Raka. "
" Apaa! Benarkah ?"
" Kenapa kamu sekaget itu ?"
" Bukannya dulu Pak Damian sangat marah pada anda ?"
" Sekarang kebalikannya. Sangat bucin. " sindir Mahira.
Ada satu pesan dari Joe, yang mengatakan kalo Ardi sanggup menerima tawaran Joe.
" Kak Raka. Teman Joe. Setuju dan sanggup melaksanakan sesuai konsepnya. Ini nomor telpon dan alamatnya. Disana, sudah ada Rey. Tentu Kak Raka juga sudah mengenal Rey kan ?"
" Iya,, iya,, saya mengenalnya Nona. Terima kasih. Terima kasih. Saya permisi Nyonya besar, Nona Mahira. Dan Nona Laras. "
" Laras, Kak Raka."
Tapi Raka sudah beranjak pergi tidak memperdulikan omongan Laras.
" Mau sampai berapa kalipun Kak Laras menyuruh Kak Raka panggil nama. Dia tidak akan menurutinya. "
" Kenapa ?"
" Karena Raka merasa sangat berhutang budi pada almarhum Papa yang menurutnya sudah membantunya keluar dari jeratan preman dikotanya dulu. Dan sejak ditugaskan untuk mengawal dan melindungi Damian. Dia melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh meskipun Damian sangat kasar padanya. "
" Kak Damian kesal karena selalu diawasi Kak Raka yang memang disiplin."
" Tapi, sebenarnya Damian hanya menutupi perasaan senang karena dia merasa mempunyai seorang kakak yang selalu melindunginya. "
" Kak Damian dulu memang tidak bisa menyampaikan perasaan yang sebenarnya dengan kata-kata. Tapi sejak mengenal Kak Laras, Kak Damian berubah. Semua yang dirasakannya dengan mudah diungkapkan. Mama juga merasakan perubahan itu sedari awal. Karena itu, Mama sangat mendukung kebersamaannya dengan Kak Laras. "
" Ini semua juga berkat suport dari Mama, Mahira dan Tante Anggi. Bukan karenaku. "
" Terima kasih Laras. Mama memang merasakannya saat pertama kali kita bertemu. "
" Udah,, kita masuk aja ya. " kata Laras mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Kak Laras,, seperti biasa. Akan selalu menghindar. Bukan begitu Tiwi ?" sindir Mahira yang dijawab acungan jempol oleh Tiwi.
Astrid mengetuk pintu kantor Damian dan membuka pintu itu setelah terdengar Damian menyuruh untuk masuk.
" Mama,, ada disini ?" sapa Damian yang masih memijat kepalanya yang terasa pusing.
" Pertanyaan apa itu ? Bukanya menyambut kedatangan Mama. "
" Kak Damian sakit ?"
" Pusing Hira. Ada klien yang tiba-tiba memutuskan kerja sama disaat seperti ini. Dan dalam waktu singkat, gimana aku bisa mendapatkan penggantinya." jelas Damian tanpa membuka matanya.
Laras yang mendengar Damian sedang sakit, kemudian masuk ruangan. Saat melihat Damian yang masih terpejam sambil memijat keningnya, dia merasa kasihan.
" Assalamualaikum. "
" Aaahh,, aku semakin gila karena merindukan Laras Ma. Bahkan aku terus saja mendengar suaranya sedari pagi tadi. " keluhnya sambil memukul kepalanya pelan kemudian menggeleng-geleng.
Mahira menjadi tertawa tertahan.
" Kok salamku gak dijawab Mas ?"
Damian segera membuka matanya. Dan saat melihat Laras sedang tersenyum manis didepannya. Sakit dikepalanya terasa hilang begitu saja. Dia tersenyum simpul dan segera berdiri hendak memeluk Laras saking senangnya.
Tapi Astrid dan Mahira tentu saja langsung menghalangi langkahnya.
" Eeiitttsss,,, belum halal !!!" seru Mahira.
" Dari tadi Mama dan Mahira disini kamu cuekkin. Denger Laras salam saja kamu langsung sesumringah ini. Dasar kamu itu. " celetuk Astrid sambil memukul dada bidang Damian.
Damian menatap Laras yang tertawa seolah hendak membingkai wajah dan tawa itu dalam kepalanya. Dia meremas udara didepannya dengan gemas.
" Aaarrgghhh,,, Laras,, !!!" geramnya kesal karena tidak bisa memeluknya.
" Sabar. Dua bulan lagi. " goda Mahira.
Damian mencubit pipi Mahira melampiaskan kekesalannya.
" Assalamualaikum, Mas. Udah baikan ? Gak pusing lagi ?"
" Waalaikumsalam. Aku baik-baik saja. "
" Mas udah makan ?"
Damian mengusap perutnya. Kemudian tersenyum keki melihat Laras tengah menatapnya tajam.
" Aku lupa. Dari semalam aku belum makan. "
" Kamu makan dulu sana. Laras membawakanmu bekal. Mama akan mengecek pekerjaanmu. "
Damian tersenyum senang melihat bekal yang dibawa Laras. Kemudian duduk di kursi didepan Mamanya yang telah duduk di kursinya.
" Tante,, Kak Laras. Aku tinggal ke bawah sebentar ya. Ada Kak Rey. "
" Oke. Sayang. Hati-hati ya. "
" Iya Tante. "
" Salam buat Rey dan yang lainnya Hira. "
" Oke Kak Laras. "
" Gak usah Hira. Ngapain pake salam ke Rey segala. " omelnya marah.
" Iihh,, mulai bucinnya. " ejek Mahira.
" Kak, aku tunggu diluar aja ya. " pamit Tiwi sambil keluar bersama Mahira.
Damian masih menatap kesal pada Laras yang masih terkekeh melihat Damian yang cemberut.
" Masih marah ? Apa aku ikut Mahira aja tadi. " gurau Laras.
Damian menarik tangan Laras agar duduk disampingnya.
" Disini aja. Calon suami kamu ada disini. Bukanya disana." serunya ketus.
Astrid nampak menarik sudut bibirnya, lucu melihat anaknya yang seperti suaminya dulu. Posesif dan cemburuan.
" Damian, kamu cek laporan ini. Mama akan ngecek berkas ini. "
" Baik Ma. "
" Laras,, ehmm,, bisa kamu suapin Damian ? Mama takut dia gak fokus karena kelaparan. Laporan ini harus dikirim ke perusahaan Bramantyo. "
Tentu saja membuat Damian tersenyum senang mendengarnya. Aahh,, Mama . Terima kasih.
Laras menuruti permintaan Astrid untuk menyuapi Damian yang terus saja tersenyum sambil melihat Laras.
" Kalo Mas aja boleh lupa makan, kenapa aku gak boleh." omelnya.
" Karena aku gak selemah kamu, sayang. "
" Enak aja. Aku gak lemah kok. "
" Kamu kan udah berkali-kali pingsan sayang. Untung aja, ada aku yanh gendong kamu. Kalo orang lain yang melakukannya sudah aku patahkan tangannya sayang."
" Pingsan,, itu kan pengecualian. "
" Intinya kan karena kamu memang belum makan sayang. "
" Sekarang kan Mas juga pusing karena belum makan."
" Bukan karena belum makan. Tapi bingung mencari backdrop dikota ini sayang. "
" Mau makan sendiri aja. " gerutu Laras kesal.
" Gak mau sayang. Lebih enak disuapin. Besok-besok bawain bekal ke kantor lagi ya sayang. Terus suapin lagi. "
" Gak mau. "
" Harus mau sayang. "
" Enak aja. "
" Kan istri harus nuruti permintaan suami sayang. "
Laras menunduk tak bisa lagi mendebat Damian kalo sudah menyinggung bakti istri pada suami. Astrid kembali dibuat senyum sendiri melihatnya.
" Sudah selesai. Ma, Laras pulang sama Tiwi aja ya. "
" Gak boleh sayang. Aku antar kamu. Kita putar-putar mall ya. mumpung masih sepi. "
" Benar Laras. Kan kamu tadi mau nemeni Mama jalan-jalan."
" Tapi, Mama dan Mas Damian lagi sibuk. "
" Sudah selesai kok. " jawab Astrid sambil berdiri.
" Aku juga udah selesai kok sayang. Ayo kita jalan-jalan."
" Beneran udah selesai ?"
Damian dan Astrid mengangguk bersamaan. Kemudian menggandeng Laras keluar ruangan setelah meletakkan kotak makan itu diatas meja Damian.
__ADS_1