Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Kejujuran


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu, kondisi Mawar kian membaik ia sama sekali belum bertemu dengan anak-anaknya.


"Aku udah enakan banget badannya, boleh gak sekarang ketemu anak-anak aku?" tanya Mawar pada Langit yang sedang memeriksanya.


"Anak kamu masih di inkubator nanti ya lihat ya sabar," jawab Langit.


"Hm, tapi mereka fine-fine aja kan?" tanya Mawar.


"Iya, mereka baik-baik aja kok tapi belum bisa dibawa pulang kalo mau sekarang juga udah bisa pulang," tutur Langit.


"Yaudah gapapa yang penting aku mau yang terbaik buat mereka, lagian aku masih bisa tengokin mereka ke sini sampe berat badan mereka normal," jelas Mawar.


"Yaudah aku keluar dulu ya, bentar lagi Kak Mirna dateng," ucap Langit.


"Makasih ya," ucap Mawar.


Ketika Langit hendak keluar ia bertemu dengan Mirna yang baru saja masuk.


"Kak aku mau ngomong penting di luar aja ya," ucap Langit berbisik.


"Hm yaudah ayo," ucap Mirna.


Tanpa mereka sadari Mawar mendengar bisikan mereka hingga akhirnya Mawar turun dari ranjangnya perlahan mengikuti langkah Mirna dan Langit.


"Kak, kita mau sampe kapan menutupi kematian anak Mawar, aku gak tega bohongin dia terus," ucap Langit pelan namun masih bisa jelas terdengar.


Hancur hati Mawar ketika mendengar kalimat itu. Seketika Mawar langsung menghampiri Langit dan Mirna.


"Jadi anak aku meninggal? Bener itu kak?" tanya Mawar seketika berderai air mata.


"Mawar?" ucap Langit dan Mirna.


"Kenapa kalian rahasiain ini semua dari aku, kenapa kalian beri aku harapan palsu kaya gini?" ucap Mawar.


"Mawar sayang kamu yang sabar ya, kakak sama Langit gak jujur sama kamu karena takut kondisi kamu makin lemah saat itu," ucap Mirna.

__ADS_1


"Tapi ini justru lebih menyakitkan Kak! Kenapa sejak awal kalian gak bilang aja anak-anak aku meninggal biar semua rasa sakit itu sekaligus! Kalo kaya gini aku makin terluka!" teriak Mawar.


"Enggak Mawar, salah satu dari mereka selamat dia ada di sini dia lagi berjuang buat kamu buat kita," ucap Mirna.


"Maksudnya apa Kakak mau bohongin aku lagi? Cukup Kak aku udah cape!" bentak Mawar.


"Salah satu dari anak kamu selamat Mawar, kita gak bohong kamu yang tenang ya," tutur Langit.


"Terus kalian pikir kalau satu dari mereka selamat rasa sedih aku akan berkurang gitu hah!" teriak Mawar.


"Setidaknya ada satu lagi penguat kamu jangan kaya gini Kakak mohon ya, kasih anak kamu semangat biar dia cepet pulih dan bisa cepet pulang ke rumah," tutur Mirna lalu memeluk adiknya erat-erat.


"Tapi kenapa anak aku gak terselamatkan semua Kak kenapa??" isak tangis Mawar.


"Karena berat badannya kurang dari 1 kilogram dan mustahil bisa diselamatkan, kamu harus tabah dan kuat ya Kakak sama Mas Arya udah urus semua pemakamannya nanti kita sama-sama ziarah ke sana," ucap Mirna menenangkan.


Mawar menganggukan kepalanya seraya setuju dengan ucapan kakaknya itu.


"Kamu mau lihat anak kamu kan? Ayo aku anter," tutur Langit.


Mawar melepaskan pelukannya. "Apa dia baik-baik aja?" tanya Mawar.


Mawar merasa sedikit lega lalu memeluk Langit dengan erat. "Makasih kamu selalu ada buat aku," ucap Mawar.


"Sama-sama," jawab Langit kikuk.


Sadar dengan apa yang ia lakukan Mawar segera melepaskan pelukannya. "Maaf aku gak sengaja," ucapnya.


"Gapapa, aku ngerti kok,"


Tiba-tiba saja Mirna mendapat telepon dari rumah kalau anaknya demam dan harus segera pulang.


"Mawar, Kakak harus cepet-cepet pulang soalnya ponakan kamu lagi demam tinggi maaf ya Kakak gak bisa anterin kamu pulang," tutur Mirna.


"Gapapa Kak, aku bisa pulang sendiri. Aku udah baikan kok," jawab Mawar.

__ADS_1


"Yaudah iya kalo sempet nanti Kakak jemput kamu ya," ucap Mirna lalu segera pergi.


*


Mawar masuk ke ruangan anaknya, ia melihat anaknya didalam inkubator. Ukurannya sangat kecil tidak seperti bayi pada umumnya.


Perempuan itu mendekati anaknya, air matanya jatuh begitu saja melihat anaknya yang sedang berjuang hidup dan mati.


"Cuma kamu yang sekarang Bunda punya, kamu harus kuat ya sayang," ucap Mawar.


"Dari hasil pemeriksaan beratnya udah naik 220 gram loh dan kondisi jantungnya juga sangat baik," tutur Langit.


"Aku seneng dengernya, meskipun satu sisi aku sangat terluka karena seharusnya aku memiliki anak kembar," tutur Mawar.


"Yang seharusnya kita lakukan sekarang adalah bersyukur, jarang banget ada bayi bisa bertahan diusia kehamilan 6 bulan ini suatu keajaiban juga," ucap Langit.


"Iya kamu bener, oh iya jenis kelamin anak aku ini apa?" tanya Mawar.


"Laki-laki dan yang udah pergi itu perempuan," jawab Langit.


Mawar melihat anaknya yang sedang tertidur pulas. "Semangat ya Nak, kamu penguat Bunda." Ucap Mawar.


"Kamu beruntung memiliki dua sayap di alam yang berbeda," ujar Langit menepuk pundak Mawar.


Mawar tersenyum tipis. "Jadi kapan anak aku bisa dibawa pulang?"


"Nanti kalo beratnya udah 3 kilogram, kamu sabar ya," tutur Langit.


"Aku bisa kan jengukin dia?"


"Bisa dong tiap hari kamu ke sini juga bisa kan ada aku di sini," tutur Langit.


*


Sementara itu Arka terbangun di sebuah Villa miliknya pribadi. Kepalanya pusing karena habis minum banyak semalam.

__ADS_1


Entah kenapa pikirannya kali ini tertuju pada Mawar, ia merasa menyesal karena sudah mendorong Mawar kemarin.


"Pengecut," ucapnya pada diri sendiri.


__ADS_2