
Mawar selalu menjaga jarak dengan dunia luar, ia bahkan hanya sesekali pergi ke luar rumah selain ke toko kue miliknya.
Semenjak kembalinya Mawar ke toko membuat para pelanggan semakin banyak dan menambah varian kue lainnya. Mawar pun membeli sebuah sepeda motor vespa scooters berwarna lilac agar ia tak selalu naik taksi apa lagi sekarang Mawar sedang di sayembara kan.
..
Sesampainya di kantor Mawar duduk di kursi pelanggan sambil memainkan ponselnya. Mawar terus memantau perkembangan sayembara itu apakah masih lanjut atau tidak, ternyata sayembara itu masih terus berlanjut sampai seseorang berhasil menemukannya.
'Kenapa harus sayembara segala sih, udah kaya buronan aja. Aku kan jadi gak tenang pergi kemana-mana juga. Lambat laun karyawan di sini juga bakalan pada tahu soal ini dan aku takut mereka ikutan juga.' Batin Mawar.
"Pagi Bu Mawar." Sapa Emil.
"Eu pagi." Jawab Mawar kikuk.
"Itu motor di depan punya ibu ya?" tanya Emil.
"Iya punya saya."
"Bagus banget loh Bu, saya aja suka lihatnya."
"Makasih." Jawab Mawar simpel.
"Oh iya Bu, saya mau bilang kita ada pesanan kue tar besar banget."
"Oh ya? buat acara apa?"
"Ulang tahun Bu."
"Acara kapan?"
"1 minggu lagi."
"Kue ukuran besar emang bisa selesai satu minggu?" tanya Mawar.
"Kita usahain aja Bu, lumayan sekalian promosi."
"Yaudah kalau begitu. Ada desainnya gak?"
"Enggak Bu, orangnya bilang bebas desainnya seperti apa asalkan bagus dan elegan."
"Hmm yaudah kalau gitu saya pikirin ya gimana desainnya biar pelanggan itu suka."
"Baik Bu."
Mawar pun berpamitan kepada Emil untuk masuk ke ruangannya.
Mawar pun melihat tanggal satu minggu kedepan. "Kalau tanggal ini berarti sama kaya ulang tahun Langit dong?" gerutu Mawar.
"Dih kok aku jadi inget Langit sih? astaga apaan coba." Ucapnya lagi.
****
__ADS_1
Satu minggu kemudian kue yang dipesan orang tersebut sudah selesai berkat bantuan karyawan dan juga Mawar turun tangan.
Mawar sengaja ingin melihat siapa pembeli itu hingga ia duduk manis menunggu kedatangannya.
"Siang mba, saya mau ambil kue yang dipesan seminggu yang lalu atas nama Langit." Ujar Langit berdiri di depan kasir kue.
Mawar yang sedang fokus dengan ponselnya terperanjat mendengar nama itu lalu berjalan mendekati seseorang yang membelakanginya tersebut.
Tiba-tiba saja Emil datang. "Hai, Bro. Ternyata lo dateng juga ke sini, kirain bakalan nyuruh orang buat ambil."
"Enggak lah, gue kan pengen dateng sendiri ke sini."
"Oh ya kenalin ini Bu Mawar pemilik toko ini." Ucap Emil.
Langit dan Mawar saling menatap cukup lama.
"Hai saya Mawar." Ucap Mawar berpura-pura tidak mengenal Langit.
"Langit." Jawab Langit.
"Yaudah Bu saya permisi ke ruangan dulu ada hal penting yang belum saya kerjakan." Emil pun meninggalkan Langit dan Mawar.
Mawar hendak menghindar dari Langit namun Langit menahan tangannya.
"Jadi kamu di sini?" tanya Langit.
"Apaan sih jangan pegang-pegang." Mawar pun melepaskan tangan Langit.
"Apa urusan kamu nyariin aku hah?" tanya Mawar.
"Aku khawatir sama kamu, kamu tahu keluarga Dewantara sampai membuat sayembara karena mereka juga khawatir sama kamu Mawar." Ucap Langit.
"Sebaiknya kamu pergi dan bawa pesanan kamu, dan jangan pernah kamu balik lagi ke sini." Tegas Mawar.
"Kenapa? kenapa aku gak boleh balik lagi ke sini, kamu jangan egois kalau ada masalah keluarga kamu selesai kan baik-baik jangan menghilang kaya gini."
"Sebaiknya kamu gak perlu ikut campur tentang rumah tangga aku, kamu itu cuma orang lain yang sama sekali gak penting." Tegas Mawar.
"Tapi kamu itu penting buat aku!" bentak Langit.
Mawar tak menjawab ucapan Langit itu, ia memilih masuk ke dalam toko dan ke ruangannya kembali.
'Astaga aku ngomong apa barusan, aku terbawa emosi sampai mengatakan itu pada Mawar.' Batin Langit.
Langit ikut masuk untuk menyelesaikan pembayaran dan membawa kue itu pulang.
"Yang penting sekarang aku tahu kamu di sini Mawar." Ucap Langit.
**
"Pelan-pelan mereka mulai tahu aku di sini, apa lagi soal sayembara itu. Aku harus menyiapkan mental kalau suatu hari aku bertemu dengan mas Arka lagi." Ucap Mawar.
__ADS_1
'Langit? kenapa aku harus ketemu sama kamu lagi dan apa maksud kamu ngomong kaya gitu sama aku. Apa kamu lupa aku ini masih sah istri mas Arka. Apa kamu masih memiliki perasaan sama aku?' batin Mawar.
Mawar menarik nafasnya dalam-dalam, semakin lama ia menghindar malah membuat dirinya sendiri kesulitan untuk bersosialiasi.
Di sisi lain Vina membuka ponselnya dan sengaja melihat status whatsapp temannya yang berisi sayembara tentang Mawar.
'Astaga, jadi Mawar pergi dari rumah dan sekarang keluarganya lagi nyariin dia terus pake sayembara uang 500 juta? bisa kaya mendadak dong.' Batin Vina.
Vina pun tak ingin memberitahu yang lainnya karena ia punya rencana sendiri untuk memenangkan sayembara tersebut.
'Padahal selama ini gue tiap hari ketemu sama Mawar, bisa-bisanya gue gak tahu soal sayembara ini. Pokoknya gue harus menang.' Batinnya lagi.
'Lagian kenapa sih dia pake pergi segala dari rumah padahal udah di kasih hidup mewah gak bersyukur banget jadi orang.'
Vina izin pada temannya untuk keluar sebentar, namun karena orderan yang cukup banyak mereka pun tidak mengizinkannya.
'Ah sial! kenapa sih anak-anak pada rese padahal kan gue cuma mau cari tahu tentang sayembara itu!' gerutunya dalam hati.
Mendengar ada keributan di luar Mawar pun keluar. "Ada apa ya kok ribut-ribut?" tanya Mawar.
"Ini nih si Vina Bu, masa orderan lagi banyak dia mau pergi keluar." Ujar Inez.
"Lagian lo pelit banget sih gue kan cuma ada urusan sebentar." Balas Vina.
"Emang kamu mau ke mana Vina?" tanya Mawar.
"Keluar doang bentar kenapa sih?" jawab Vina sewot.
"Lo kalau sama atasan sopan dikit napa!" tegas Rio.
"Ya emang kenapa orang kita seumuran." Balas Vina.
"Iya seumuran tapi Bu Mawar bos di sini, kita itu cuma bawahan lo harus inget itu!" tegas Rio.
"Udah gak usah ribut, Vina kalau kamu mau keluar nanti aja istirahat bentar lagi kok." Ucap Mawar mencoba melerai.
'Apaan sih Mawar so ngatur banget, males deh gue.' Batin Vina.
Mereka akhirnya kembali bekerja ke tempat masing-masing. Ketika bosan Mawar sesekali masuk ke dapur dan membantun para karyawan di sana.
"Ada pesanan cupcake 200 pcs Bu." Ucap Rio.
"Syukur deh kalian semangat ya."
"Nyemangatin doang enggak bantuin." Sindir Vina.
Mawar yang mulai kesal pun akhirnya membuka suaranya.
"Kamu kenapa sih Vin? kalau kamu gak suka ada saya di sini silakan keluar dari sini saya gak keberatan kok." Tegas Mawar.
Vina pun hanya diam tak menjawab apa yang Mawar katakan itu.
__ADS_1