Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Kembali Down


__ADS_3

"Berkali-kali aku meyakinkan diri ini untuk menerima kamu kembali, semua luka dan derita yang pernah kamu tancapkan padaku perlahan aku lupakan namun kamu melakukan hal keji itu lagi bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Untuk apa ada kata maaf jika akhirnya kembali menyakiti."


Ucap Mawar, sambil menyetir tatapannya kosong tak tahu arah semua yang ia lakukan selama ini sia-sia. Arka tak pernah ada habisnya melakukan hal bodoh.


"Kali ini gak ada lagi toleransi, aku bisa menghidupi kedua anakku tanpa campur tangan Mas Arka!" ucap Mawar dengan sesak didalam hatinya.


Mawar menghentikan motornya di sebuah taman kota, lalu duduk di salahsatu bangku di sana. Derai air mata tak mampu ia bendung lagi.


Sesak bahkan lebih sesak dari sebelumnya, kesalahan yang seharusnya dikubur dalam-dalam untuk tidak diulangi ini justru sebaliknya.


"Mas Dika, aku cape Mas. Aku mau ikut kamu aja," ujar Mawar.


Selang beberapa menit hujan deras turun, beberapa orang yang sedang duduk di taman itu pun mendadak sepi mencari tempat meneduh dan masuk ke dalam mobil mereka.


Kecuali Mawar, ia dengan sengaja duduk di bawah deras air hujan. Suara tangisan Mawar semakin kencang diiringi hujan yang juga deras sederas air matanya.


Beberapa mata tertuju padanya, melihatnya dengan tatapan aneh karena Mawar tidak ikut meneduh.


Tiba-tiba saja Mawar merasa dirinya tidak terkena air hujan, ia menengadahkan kepalanya ke atas.

__ADS_1


"Langit?" ucap Mawar.


Ya, laki-laki itu memayungi Mawar dengan penuh kasih sayang.


"Ngapain di sini ayo neduh, kasihan anak kamu," ucap Langit.


"Kamu yang ngapain di sini? Dimana-mana selalu ada kamu kenapa sih?" ujar Mawar.


"Aku tadi gak sengaja lewat mau berangkat ke rumah sakit dan gak sengaja lihat kamu di sini, ayo masuk mobil. Kamu jangan sakit kasihan anak kamu," tutur Langit.


"Aku cape mau mati aja!" tegas Mawar sambil menangis.


"Kamu gak boleh ngomong kaya gitu!" tegas Langit memeluk Mawar dengan erat.


Mawar menangis sejadi-jadinya dipelukan Langit, di bawah air hujan ia meluapkan semua sesak di hatinya.


"Kenapa semua ini harus terjadi sama aku Langit? Kenapa?" teriak Mawar dipelukan Langit.


Langit tak kuasa melihat wanita yang ia cintai menderita seperti ini namun ia tak punya kuasa untuk menentukan kehidupan Mawar selanjutnya, yang ia hanya bisa lakukan adalah selalu berada di samping Mawar tanpa dianggap siapa-siapa.

__ADS_1


"Masuk ke mobil aku yu, ujannya makin deras. Kamu harus sadar Mawar kamu lagi hamil tolong pikirkan anak-anak kamu." Tegas Langit.


Akhirnya Mawar mau ikut ke dalam mobil milik Langit. Setelah masuk ke dalam mobil Mawar tampak menggigil dan suhu badannya tinggi.


Langit berdecak kesal, ia tak mengerti mengapa Arka selalu menyakiti hati Mawar padahal Langit sangat ingin memilikinya namun sadar diri.


"Aku harus segera bawa kamu ke rumah sakit Mawar," ucap Langit.


*****


Mawar terbangun dari tidurnya, matanya mengelilingi setiap sudut ruangan.


"Di mana aku?" lirihnya.


"Ibu di rumah sakit, tadi dokter Langit yang membawa Ibu ke sini," ucap suster.


"Sekarang di mana dokter Langit sus?" tanya Mawar.


"Dia sedang berada di ruang operasi Bu, Ibu istirahat dulu saja tadi Dokter Langit meminta saya untuk menemani Ibu."

__ADS_1


**


__ADS_2