Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Sabar ada batasnya


__ADS_3

Mawar mencari Arka di kamar namun Arka belum juga pulang, Arka seperti menghindar darinya.


Dengan lemas Mawar duduk di ranjang. "Sayang, kayanya ayah kamu gak seneng sama sekali dengan kehadiran kamu tapi gapapa masih ada Bunda yang bakalan jagain kamu sebisa mungkin." Ujar Mawar mengelus perutnya yang masih rata itu.


Tiba-tiba saja Mawar mendengar keributan di lantai bawah. "Suara ribut-ribut?" gerutu Mawar, ia pun segera turun untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu itu ya gak ada bosennya gangguin keluarga saya!" bentak Rita. Ternyata suara keributan itu dari Rita yang sedang memarahi Sherly karena sudah berani datang lagi ke rumah Dewantara.


Mawar tak buru-buru turun ia melihat dari tengah-tengah tangga.


"Sampai kapan sih rumah ini dipenuhi keributan? capek juga lihatnya." Gerutu Mawar.


Tak lama Arka pun pulang kerja.


"Apaan lagi sih ini ribut-ribut?" ucap Arka.


Dengan tidak tahu malunya Sherly memeluk erat Arka. "Mas, masa mamah kamu marah sama aku gara-gara aku dateng ke sini terus padahal ini kan permintaan anak kamu."


"Halah, itu kan cuma alasan kamu aja buat ketemu sama anak saya!" bentak Rita.


"Mah, udah dong jangan teriak-teriak malu kalo kedengeran orang."


"Terus aja Arka kamu bela perempuan itu!"


"Aku ke sini cuma mau ngasih ini." Ucap Sherly, dia pun memberikan secarik kertas pada Arka.


Arka langsung membaca apa yang ada di kertas itu. Tertulis jelas di situ usia kehamilan Sherly lebih dari 2 bulan.


Arka terbelalak dengan isi surat itu. "Jadi, jadi usia kehamilan kamu 2 bulan lebih 3 minggu?"


"Iya, dulu kamu pernah bilang kalo usia kehamilan aku baru 3 minggu kamu yakin itu bukan anak kamu tapi sekarang usia kehamilan aku jelas kan 2 bulan lebih berarti ini anak kamu Mas."


"Ini apa sih maksudnya Arka? Mamah gak ngerti."


"Mah, aku sekarang yakin kalo anak yang ada dikandungan Sherly itu anak aku, karena usia kehamilannya 2 bulan lebih Mah, dan itu masa di mana aku sama Sherly masih sering berhubungan."


Mawar hampir saja terjatuh jika ia tak memegang railing tangga. "Astagfirullah jadi bener itu anak Mas Arka?" ucap Mawar dengan nada yang cukup keras, hingga Arka, Rita dan Sherly mendengarnya.


"Mawar?" ujar Rita.


Dengan berlari kecil Mawar menghampiri mereka.

__ADS_1


"Mawar? bagus lah kalo kamu denger semuanya, sekarang jelas kan kalo aku hamil anak Mas Arka." Ucap angkuh Sherly.


Air mata Mawar tak lagi terbendung mengetahui kebenaran yang menyakitkan ini.


"Dulu aja so santai banget, sekarang malah nangis. Katanya perempuan hebat dan kuat tapi kok cengeng?" sindir Sherly.


"Dulu aku masih belum yakin itu anak kamu Mas, karena kamu yang bilang sendiri kalo kamu gak yakin itu anak kamu tapi sekarang apa? semuanya terbukti itu darah daging kamu dan tega-teganya selama ini kamu gak mengakuinya."


"Aku mau kamu nikahin aku secepatnya Mas, karena kamu gak mau kan aku bongkar semuanya ke media?"


Mawar terbelalak dengan ucapan Sherly.


"Ini udah di luar batas Mas!" bentak Mawar.


"Terus? kamu mau apa hah?" balas Arka dengan ada tingginya.


"Mamah masih belum percaya kalo itu anak kamu Arka!"


"Mah, tolong. Aku yang tahu semuanya bukan Mamah atau Mawar!"


"Tega kamu Mas, kamu masih bisa bela diri kamu!" teriak Mawar.


"Udah lah Mawar, kamu terima aja jadi istri pertama daripada kamu di tendang dari rumah ini? mau tinggal di mana kamu hah?" cela Sherly.


"Kurang ajar kamu!" Sherly hendak menampar Mawar namun tangannya di cekal oleh Rita.


"Jangan pernah kamu sentuh menantu saya." Tegas Rita.


Dengan kasar Sherly melepaskan tangannya.


"Sekarang kamu pilih aku atau dia Mas? karena aku pantang buat dimadu!" tegas Mawar.


"Belagu banget sih." Cela Sherly.


Mawar tersenyum sinis. "Aku gak serendah kamu ya, rela dimadu hanya untuk mendapatkan cinta Mas Arka kembali."


"Oh ya? masih bagus Mas Arka mau nampung kamu di sini, kalo enggak? pasti kamu udah jadi gelandangan."


"Pokoknya Mamah gak setuju kalo kamu menikah sama Sherly!" potong Rita.


"Aduh, Bu Rita terima aja lah punya menantu secantik saya." Ucap Sherly.

__ADS_1


"Setuju atau enggak, Arka bakalan tetep nikah sama Sherly Mah. Kasihan lho anak Arka nanti gak punya ayah." Ujar Arka.


"Kamu tetep mau nikah sama dia Mas? berarti aku yang pergi dari rumah ini, kamu gak perlu cari aku apa lagi anak yang ada dalam kandungan aku!" tegas Mawar.


"Mawar? kamu gak boleh pergi! kamu jangan kalah sama perempuan licik ini."


"Aku gak bisa Mah, aku capek. Selama ini juga aku gak pernah ada harganya di mata Mas Arka." Ujar Mawar.


Mawar pergi meninggalkan ke tiga orang itu.


"Arka! kejar dong!" teriak Rita.


"Yaudah lah Mah, paling dia juga pulang ke rumah Mas Dika, rumah itu kan atas nama dia. Gampang juga nyarinya." Ucap enteng Arka.


"Jangan pernah membuang berlian hanya demi kerikil Arka!" tegas Rita.


Rita mengejar Mawar yang sudah menangis tersedu-sedu. Rita melihat Mawar yang sedang membereskan bajunya.


"Mawar? kamu gak boleh pergi. Mamah gak rela kamu pergi dari rumah ini."


Mawar mengusap air matanya. "Aku udah gak dibutuhin lagi di sini Mah, Mas Arka tetep mau nikah sama Sherly."


"Kamu gak boleh menyerah kaya gini, kamu harus pertahankan rumah tangga kamu Mawar." Bujuk Rita.


"Mah, Mamah tahu kan di rumah tangga itu ada 2 orang yang harus saling menghargai, saling mencintai, saling mempertahankan tapi yang aku rasakan cuma aku sendiri yang melakukan semua itu."


Rita memeluk Mawar erat. "Mamah minta maaf sama kamu Mawar."


"Mamah gak salah apa-apa, gak perlu minta maaf."


Mawar melepaskan pelukannya. Tiba-tiba saja Arka masuk ke kamar.


"Kamu kenapa sih gak tetep tinggal di sini aja? aku bisa kok adil sama kalian berdua."


"Cukup Mas. Seadil apa pun kamu gak akan pernah bisa mengobati sakit hati aku melihat suami aku menikah lagi!" tegas Mawar.


"Yaudah sana pergi, kita lihat aja nanti setelah uang kamu habis kamu bakalan mengemis-ngemis buat balik lagi ke rumah ini!"


Mawar mengambil kopernya lalu keluar dari kamar itu. Rita dengan lemas duduk di ranjang kamar Arka.


"Kamu laki-laki pengecut Arka!"

__ADS_1


Arka terdiam melihat langkah Mawar yang semakin menjauh, entah kenapa melihat Mawar pergi hatinya merasa sepi dan tak ingin ditinggalkan.


__ADS_2