
"Maafin aku ya Mas, aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, aku masih sering ngerepotin kamu, bikin kamu marah, bikin kamu kesel, aku minta maaf." Ucap Mawar bersimpuh dihadapan suaminya itu.
Ada perasaan sesak di hati Arka mendengar ucapan Mawar itu, padahal selama ini Mawar selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya, malah Arka yang sebenarnya banyak salah kepada Mawar.
Arka mengangkat bahu Mawar dan menyuruhnya duduk disamping.
"Aku yang banyak salah sama kamu." Ucap singkat pria tampan itu.
Mawar dan Arka terdiam menatap satu sama lain. Tak terasa air mata Mawar mengalir begitu deras.
Arka menghapus air matanya lalu memeluk Mawar dengan erat.
"Gak usah cengeng, aku udah maafin kamu." Ujarnya menyebalkan.
Mawar melepaskan pelukannya lalu bertanya, "Mas gak minta maaf sama aku?"
"Iya, iya aku minta maaf." Balas Arka.
'Ih apaan sih gak ada romantisnya sama sekali, beda banget sama Mas Dika.' Batin Mawar.
"Kita ke rumah nenek sekarang, siap gak?" tanya Arka.
"Ayo Mas, aku juga kangen sama mama."
"Yaudah sekarang kamu siap-siap."
"Oke siap."
***
Di perjalanan Arka dan Mawar tidak bersuara sama sekali, Mawar pura-pura sibuk dengan ponselnya dan Arka sibuk dengan setirnya.
Tiba-tiba aja Mawar merasa mual dan muntah ke luar jendela mobil.
"Mawar! kamu jangan muntah ke luar jendela nanti kena orang, aduh kenapa sih." Ucap Arka panik.
"Mas aku gak kuat, perut aku mual banget." Balas Mawar.
"Yaudah sekarang kita cari rumah sakit terdekat, oke?"
"Gak, Mas. Aku takut."
"Takut kenapa sih, astaga Mawar perjalanan kita masih jauh loh kalo kamu muntah terus gimana aku mau fokus."
"Gapapa Mas, aku kuat kok aku mau duduk di bekalang mau tiduran."
Arka berdecak kesal. "Kenapa sih kamu keras kepala banget!"
Mawar tak menjawab Arka, ia malah memejamkan matanya sambil tiduran di kursi belakang.
"Oke, kalo sampe kamu merengek-rengek aku gak mau denger, dasar keras kepala!" gerutu Arka.
**
Setengah perjalanan Arka berhenti untuk membeli minuman dan juga makanan.
"Kamu mau apa? aku mau beli makan, aku tahu kamu pasti laper." Tanya Arka.
Mawar tak menjawab hingga Arka meninggikan nada suaranya.
"Mawar!!"
Mawar tetap tidak membalas ucapan Arka.
Arka pun turun dan mengecek keadaan Mawar. Tubuh Mawar dingin dan wajahnya pucat sekali.
__ADS_1
"Mawar? ya ampun kamu, kamu gak sadarkan diri?" Arka sangat panik dengan keadaan istrinya itu.
Arka pun segera mencari informasi rumah sakit terdekat dan ternyata yang paling dekat hanya lah klinik.
Tanpa pikir panjang Arka langsung menancap gasnya.
Sesampainya di klinik Arka menggendong Mawar.
"Sus tolong sus istri saya pingsan."
Perawat di sana pun langsung menangani Mawar.
"Mawar, Mawar ada ada aja sih orang mau ke Bandung malah pingsan. Bikin orang jantungan aja." Gerutu Arka.
Selang beberapa menit akhirnya dokter keluar.
"Dok gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arka.
"Bapak tenang aja, istri Bapak cuma kecapean."
"Ta-tapi dia baik-baik aja 'kan?"
"Istri Bapak cuma perlu istirahat, dan lebih baik di rawat inap sampai kondisinya pulih."
"Rawat inap?" Arka memijat dahinya.
"Iya,Pak. Memangnya kenapa? ada yang salah?"
"Gapapa, Dok. Masalahnya saya mau pulang kampung."
"Hmm, jika dipaksakan takutnya membahayakan janinnya juga." Ucap dokter.
Arka tercengang.
"Janin? maksud Dokter apa?"
"Mengandung? jujur saya gak tahu sama sekali."
"Istri Bapak hamil sudah 3 minggu, dan kondisinya saat ini itu efek hamil muda. Tapi Bapak tenang aja itu hal yang lumrah kok."
Arka masih tercengang dengan pernyataan dokter tadi.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak." Dokter pun meninggalkan Arka yang masih syok.
**
Arka melangkahkan kakinya menghampiri Mawar yang masih terlelap.
Matanya tertuju pada perut yang masih rata itu.
"Astaga, di dalam sana ada benih-benih aku yang akan tumbuh." Gerutu Arka.
Mawar menggerak jari-jarinya dan perlahan membuka kedua mata indahnya.
"Mas Arka ..," lirihnya.
"Kamu udah sadar? gimana sekarang perasaan kamu? apa udah baikan?" tanya Arka.
Mawar hanya mengangguki pertanyaan suaminya itu.
'Mawar sadar gak ya kalo dia hamil? masa sih dia gak tahu kalo dia hamil?' ucap Arka membatin.
"Mas ayo kita lanjutin perjalanannya, nenek sama mama pasti udah nungguin kita." Ucap Mawar lemas.
"Udah lah, kamu pikirin aja dulu kesehatan kamu nanti aku kabarin mama kalo kita gak jadi dulu kesana sampe keadaan kamu pulih."
__ADS_1
"Hmm, aku minta maaf ya Mas gara-gara aku semuanya jadi gagal."
"Santai aja, bukan keinginan kita juga kaya gini." Balas Arka.
***
Sudah malam hari Mawar merasa dirinya sudah membaik dan meminta Arka untuk melanjutkan perjalannya.
"Mas, aku udah baikan kita lanjutin yu ke Bandungnya." Ucap Mawar.
"Kita pulang aja," ucap Arka ketus.
"Kok pulang Mas, aku yakin aku pasti kuat."
"Mawar kamu jangan keras kepala, dengerin aku sebagai suami kamu!" tegas Arka.
Mawar terdiam mendengar ucapan suaminya itu.
"Sekarang kamu istirahat, besok kita pulang lagian aku udah kabarin mama kalo kita gak jadi kesana." Tegas Arka lagi.
"I iya Mas."
'Sebaiknya aku gak usah ngasih tahu Mawar kalo dia hamil, nanti dia juga sadar sendiri. Yang ada nanti dia tambah manja.' Batin Arka.
'Masalah aku sama Sherly belum selesai, dan kenapa Mawar hamil juga? tambah pusing aja.' Batin Arka lagi.
****
Keesokan harinya dokter mengizinkan Mawar untuk pulang.
"Bu, sebaiknya ibu jangan dulu melakukan perjalanan jauh dan istirahat yang cukup." Ucap Dokter sambil mencabut jarum infusan yang ada di tangan kiri Mawar.
"Hm, baik dok." Balas Mawar.
Setelah membereskan urusan dengan Klinik Arka membawa Mawar pulang.
Di jalan, Arka hanya terdiam memikirkan masalah yang tak kunjung usai.
"Mas?" tanya Mawar.
"Hmm."
"Sekali lagi aku minta maaf, karena aku-"
"Sttt, udahlah." Sela Arka.
"Mas, kenapa ya akhir-akhir ini aku sering mual-mual lemes juga."
Arka diam tak menjawab ucapan Mawar itu.
"Eu, kamu laper gak kita makan dulu yu." Ujar Arka mengganti topik.
"Aku gak laper Mas."
"Tapi kamu harus makan Mawar."
"Hmm, yaudah aku mau nasi kuning Mas."
"Yaudah kita cari."
Setelah beberapa menit akhirnya mereka menemukan tukang nasi kuning itu, tapi ada Sherly disana.
Arka turun lagi mobil ia belum sadar kalau disana ada Sherly.
"Pak, nasi kuning 2 bungkus." Ucap Arka dengan suara coolnya.
__ADS_1
"Mas Arka!!" Ucap Sherly sadar orang yang di sampingnya itu Arka, tanpa rasa malu Sherly memeluk Arka erat sekali.