Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Pernikahan Langit


__ADS_3

"Kamu yakin mau dateng?" tanya Mirna kepada adiknya itu. Mau bagaimana pun Mawar menutupi kesedihannya namun Mirna bisa melihatnya dari sudut mata Mawar.


"Aku harus dateng Kak, Langit kan temen baik aku," tutur Mawar.


"Hm, Langit mendadak gitu ya nikahnya. Padahal dia serasi sama kamu, kamu yang susah membuka hati buat orang baru," ujar Mirna.


"Kak ..." lirih Mawar.


"Kakak tahu perasaan kamu gak baik-baik aja kan?"


"Gapapa, Langit berhak bahagia dengan pilihannya. Sebenarnya beberapa hari yang lalu Langit meminta kejelasan tentang hubungan kita, tapi aku masih belum bisa jawab apa-apa dan sekarang tiba-tiba aku tahu dia mau menikah. Jujur aku kaget si Kak," ujar Mawar.


"Syukur lah kalo kamu bisa lebih lapang dada, Kakak rasa ini bukan salah kamu juga,"


***


Mawar berjalan diantara orang-orang yang sedang luluhlalang di pesta pernikahan Langit. Acaranya tidak begitu mewah sederhana tapi elegan, sesuai dengan selera Langit.


Ia melihat Bella yang begitu cantik nyaris sempurna dengan make up yang membuatnya begitu pangling. Seketika hatinya sakit tapi tak sesakit saat bersama dengan Arka. Mungkin sudah terlatih?


Mawar datang bersama dengan Matteo, Mirna tidak bisa hadir karena alasan tertentu.


"Kita bentar lagi pulang ya sayang, Bunda takut kamu gak betah di sini. Sabar ya ..." ujar Mawar pada Matteo.


Mawar menghampiri Langit di pelaminan yang sedang sibuk menyambut tamu undangan. Seketika ekspresi wajah Langit berubah setelah melihat Mawar.

__ADS_1


"Selamat ya semoga kalian selalu bahagia," tutur Mawar berusaha tegar.


"Ya ampun Mbak yang kemarin ya ternyata udah punya baby kirain masih perawan soalnya cantik banget," tutur Bella.


Langit tidak memberitahu soal masalalunya kepada Bella, begitu juga dengan Bella. Mereka hanya saling menerima keadaan sekarang tanpa harus tahu masalalu mereka.


Langit menatap Bella setelah itu menatap Mawar. Perasaannya semakin kacau, ia tak habis pikir kenapa Mawar bisa hadir dipernikahannya dengan keadaan tenang.


"Masa si? Ini anak aku loh udah setahun, kalian semoga cepet dapet momongan ya," tutur Mawar.


"Amin, makasih Mbak,"


Mawar hanya tersenyum setelah itu melenggang dari hadapan mereka berdua. Tak lama Mawar keluar dari gedung itu sambil menggendong Matteo.


"Mas Arka?" tutur Mawar melihat mantan suaminya itu berjalan mendekatinya.


Mawar terdiam sejenak. "Iya nih makannya cepet-cepet pulang," ujar Mawar berbohong. Padahal nyatanya ia yang tak tahan di tempat itu.


"Mas Arka diundang juga?" tanya Mawar.


"Iya, ayo masuk lagi yu temenin aku," tutur Arka.


"Aku mau pulang aja Mas, kamu sendirian aja ya permisi," Mawar hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Arka.


Mereka saling bertatapan sebentar hingga akhirnya Arka tersadar ada yang berbeda dari mata Mawar.

__ADS_1


"Mawar, are you oke?" tanya Arka.


"Aku gapapa Mas, lagi cape aja akhir-akhir ini banyak kerjaan belum lagi Matteo aktif banget," pungkas Mawar.


"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Arka.


"Kebetulan aku sama Matteo naik taksi,"


"Yaudah kalian tunggu di sini ya aku ke dalem bentaran,"


Mawar hanya mengangguk sama sekali tidak menolak niat baik Arka tapi bukan berarti ia mau menerima Arka kembali dengan mudah.


Tidak sampai 15 menit Arka keluar dari gedung dan segera menemui Mawar dan Matteo.


"Ayo pulang,"


****


Di perjalanan Mawar hanya diam dengan tatapan kosongnya, Arka paham betul dengan raut wajah Mawar yang seperti ini pasti ia ada masalah.


"Kamu gapapa serius?" tanya Arka melirik Mawar.


"Gapapa Mas, anterin aku pulang aja ya dan kalo kamu mau ajak main Matteo boleh kok aku pengen istirahat bentaran," ujar Mawar.


"Kamu kan di rumah sendiri, kalo kenapa-kenapa gimana? Aku temenin ya sekalian ajak main Matteo di rumah, aku jagain,"

__ADS_1


***


__ADS_2