
Setelah Arka pergi Mawar menghampiri Langit yang sedang menjaga Matteo.
"Udah selesai?" tanya Langit.
Mawar duduk di sofa menengadahkan kepalanya ke atas. "Kayanya semuanya gak akan semudah itu selesai," jawab Mawar.
"Kenapa?" lantas Langit duduk di samping Mawar.
"Sebelum mama pergi dia minta aku sama Mas Arka balikan, sampai kapan pun semuanya gak akan terjadi," ujar Mawar.
Hati Langit sedikit tergores dengan ucapan Mawar itu. "Kamu yakin?" tanya Langit.
Mawar mengambil Matteo dari Langit. "Aku bukan wanita sebodoh itu kali," tutur Mawar.
"Ini kan bukan soal bodoh atau enggak, ini soal cinta,"
"Cinta gak selamanya indah, apalagi selama ini cinta itu gak pernah dibangun," ujar Mawar.
"Tapi kayanya mantan suami kamu itu sekarang cinta sama kamu Mawar," ujar Langit serius.
"Semuanya udah terlambat bahkan sangat terlambat. Rujuk gak sesimpel yang dibayangin. Terlebih aku belum siap disakitin lagi," ujar Mawar.
"Loh jangan berharap disakitin lagi dong, berharap kalian bahagia dan lebih bahagia dari sebelumnya." Tutur Langit.
"Kamu suka lihat aku nangis-nangis lagi? Suka lihat aku menderita gitu?" ujar Mawar.
__ADS_1
"Ya bukan itu maksud aku Mawar,"
Tiba-tiba saja Mawar menatap Langit dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa lihatinnya kaya gitu?" Langit merasa salah tingkah dengan tatapan wanita cantik itu.
"Aku tahu tatapan kamu gak pernah berubah sejak dulu," tutur Mawar serius.
"Tatapan yang mana? Orang kamu dih yang natap aku kaya gitu," Langit berusaha mencairkan suasana.
"Kamu yakin kalo aku rujuk sama Mas Arka gak ada yang terluka dibagian tubuh kamu?" ujar Mawar.
"Kayanya itu semua gak penting, yang terpenting kamu sama anak kamu bahagia dan mendapatkan keluarga yang utuh kembali," tutur Langit.
"Keluarga yang utuh gak selamanya indah kok, buktinya aku cerai." Ujar Mawar ketus.
Seketika suasana menjadi hening, lalu tiba-tiba Matteo menangis.
"Sayang, haus ya mau mimi susu. Bentar yaa," ujar Mawar.
"Biar aku gendong dulu Matteonya," Mawar memberikan anaknya pada Langit lalu membuatkan susunya.
"Kayanya dia ngantuk," tutur Mawar memberikan susu pada Matteo.
Tak lama anak itu tertidur lelap lalu Langit menaruhnya di box bayi miliknya.
__ADS_1
Setelah Matteo tertidur Mawar kembali memulai pembicaraan itu.
"Aku tahu kok, tentang tatapan tulus kamu ke aku sama Matteo, tentang kamu yang selalu diam-diam curi-curi pandang. Aku tahu semuanya, iyakan?" tanya Mawar.
Langit sedikit salting. "Sepeka itu kamu?" tanya Langit.
"Apa .., perasaan kamu masih ...,"
"Sama?" potong Langit.
Mawar tak melanjutkan pertanyaannya. "Jujur aku gak pernah bisa memulai, tapi yang jelas gak pernah ada yang berubah dari perasaan aku. Kamu tetap pemenangnya," ujar Langit.
"Why? Aku cuma janda anak 1 gak pantas buat laki-laki berpendidikan kaya kamu," ujar Mawar.
Suasana menjadi serius.
"Gak ada yang salah dengan kamu apalagi Matteo, kalian berdua sama-sama bertahta di hati aku," ujar Langit yang baru berani mengungkapkan semuanya.
"Kenapa kamu gak pernah jujur sejak awal?"
"Karena kamu masih milik orang lain, kamu masih ada keterikatan sama orang lain," jawab Langit.
Mawar terdiam mendengar ucapan Langit itu.
"Kamu tahu gak? Gimana sakitnya perasaan aku menemani penderitaan kamu selama ini? Aku juga kasihan lihat kamu kaya gitu, aku capek lihatnya apalagi diri kamu," ujar Langit.
__ADS_1
Mawar meneteskan air matanya.
**