Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 123


__ADS_3

Pratama melihat kesemua pasang pngantin yang berbahagia. Hari ini mereka akan pulang, karena besok akan kembali beraktifitas.


" Pa. Bisa kita mampir di alamat ini ?" tanya Damian.


" Alamat rumah siapa Damian ?"


" Rumah kita Pa. "


" Rumah kita ? Maksud kamu ?"


" Rumah yang jadi impian Laras. "


" Laras ?? Benarkah ? Kenapa kamu gak bilang Papa ? Kamu tahu kalo selama ini Laras selalu menolak pemberian Papa. "


" Karena itu, aku gak bilang padanya Pa. "


" Jadi,, Laras juga bekum tahu ?"


" Iya. Dulu aku hanya menanyakan tentang gambaran rumah yang diinginkan Laras Pa. Aku harap ini benar-benar sesuai dengan harapan Laras. "


" Papa iri mendengarnya Damian. "


" Rumahnya masih belum ada perabotannya Pa. Jadi, aku harap Papa dan tetua yang lain memakluminya. " jawab Damian sambil terkekeh.


" Untuk perabotannya,, eehhmm,, kalo kamu gak keberatan. Apa Papa boleh ikut andil ?"


" Kita bicarakan nanti saja ya Pa. Aku sendiri juga masih belum tahu apa saja yang akan dibuttuhkan. "


" Baiklah. Terima kasih Damian. "


" Sama-sama. Pa. "


" Papa, kita pulang sekarnag. Om Nico sudah check out Pa. " kataa Ruly.


" Baiklah. ayo. "


Pratama mengirimkan alamat rumah Damian ke Bram dan Nico yang menjadi supir di mobil yang lain.


" Kita mau kemana Nico ? Sepertinyaa ini bukan jalan menuju rumah Pratama ataupun Apartemen ?" tanay Nenek.


" Pratama menyuruh kita mengikutinya Ma. Ada surprise untuk Laras dari Damian. "


****


Empat mobil ituu sampai di depan mansion mewah di pinggiran Jakarta. bangunan besar dengan tiga lantai itu membuat semuanya berdecak kagum.


" Rumah siapa Damian ?" tanya Astrid heran.


" Rumah Laras Ma. " jawab Damian sambil mengeratkan dekapannya padaa bahu Laras.


" Rumaahku ??" seru Laras tak mengerti.


" Begini Ma. Ibu. Papa Pratama. Papi Bram. Papi Nico. Mami Sekar. Mami Cia. Mama Ratih. Nenek. "


Kesemua orang melihat Damian penasaran.


" Laras sangat menginginkan tinggal bersama kalian semua. Karena itu dia berrharap memiliki rumah dengan kamar yang banyak agar bisa membawa kalian semua tinggal satu atap dengan kami. "


Laras menggandeng lengan Ibunya yang tampak terhaaru dengan keinginan Larass.


" Karena itu,, kami,, aku lebih tepatnya sangat mengharapkan kalian semua mau untuk tinggal disini bersama kami nantinya. Aku sendiri sudah sangat nyaman dengan keberssaman daan kehangatan keluraga ini. Karena kalian tahu sendiri kalo aku anak tunggal dan sering kesepian. Berada d tengah-tengah keluarga ini aku tidak merasa kesepian lagi. "


Astrid mendekap Damiaan bangga dan juga terharu.


" Apa kami juga termasuk yang tinggal disini ?" celetuk Joe. Hingga mendapatkan jotosan dilengannnya oleh Ruly.


" Kalo kamu merasa masih menjadi bagian keluarga ini tentunya. " gurau Laras.

__ADS_1


" Iissshh,, Mbak Laras. Aapaan itu ngommongnya. " geruutu Joe.


" Terima kasih Laras. Ibu khawatir gak bisa bertemu kamu setelah menikah. "


" Aku pasti akan sangat merindukan Ibu kalo sampai itu terjadi. "


" Eehhmm,, tapi yang jadi masalahnya. "


Semuanya kembali fokus pada Damian.


" Furniturenya belum lengkap. " jawab Damian sambil tertawa.


" Itu,, biaar jadi urusan kami. Bukan begitu Ma. Bram, Nico. Iya kan Mama Ayu ?" seru Pratama.


" Tentu saja. " jawab Nenek senang.


" Waahh,, kalo udah kompak gini. Bisa-bisa furniture rumah ini kayak dihotel nanti. " seloroh Laraas yang mendapat tawa ddaari para tetuanya.


" Aku pasti akan ikut andil juga. "


" Betul. "


" Ayo kita tour house. " ajak Damian.


Kesemua orang mengangguk setuju. Sudah ada sepuluh orang pembantu yang disiapkan Damian.


" Rumahnya sangat indah Ras. Kayak istana. " puji Ibu.


" Iya Bu. Aku juga baru tahu ada rumah kayak gini. "


" Kamu gak taahu tentang rumah ini ?"


" Gak tahu Bu. Mas Damian tadi hanya bilang mau kasih kejutan. "


" Damian sangat mencintaimu Ras. "


" Kamu berhak bahagia Ras. Kamu dan anak-anak Ibu semuanya harus berbahaagia. Dan Samawa. "


" Amiinn,, aamiin ya robbal alamin. "


" Di lantai dasar. Adaa dua ruang makan. satu ruang makan dekat dengan dapur. Satu lagi didekat taman dan juga kolam renang dibelakang. "


Damian menuju lift disampingnya.


" Rumahnya ada liftnya ? Wahh Kak Damian dan Kak Laras hebat mendesain rumahnya. " puji Mahira.


" Aku gak tahu apa-apa Hira. Ini pure ide Mas Damian." elak Laras.


" Tapi ini ide kamu sayang. Ayo masuk. "


Keluarganya masuk lift itu.


" Ada tangga juga kalo memang yang muda mudi mau sekalian olah raga. Untuk para tetuaa, tentu sjaa aku harrap lift ini banyak membantu. "


" Tentu sangat membantu Damian. Orang tua speerti kami, harus ektra hati-hati urusan tulang. " gurau Nenek.


" Di lantai dua ini. Hanya untuk kamar-kamar saja. Terserah kalian maunya di kamar yang mana. Karena luas dan pemnadangan kamar sepertinya sama. "


" Lalu lantai tiga ?" tanya Sam.


" Ayo kita lihat sama-sama. " jawab Damian.


" Untuk lantai tiga. Ada ruang keluarga yang bersebelahan dengan balkon. Ada ruang gym. Ada ruang play ground untuk anak-anak nantinya. "


" Wahhh Damian sudah memikirkan tentang anak-anak. "


" Sepertinya sudah unboxing ini. " goda Bram.

__ADS_1


Laras hanya menunduk malu.


" Bukan begitu Pi. Aku pikir karena Mami Sekar dan Mami Cia kan lagi hamil. Jadi nanti anak-anaknya sudah bisa menggunakan play groundnya agar tidak harus keluar rumah. " jawab Damian keki.


Semuanya menjadi tertawa.


" Lalu yang ada di sebelah ruang gym itu untuk apa Damian ?" tanay Astrid.


" Itu untuk mushola Ma. Aku pikir keluarga kita bisa lebih dekat kalo kita jamaah setiap sholat. "


" Ide yang sanagt bagus Nak. " puji Nenek.


" Sudah hampir maghrib. Kita sholat disini ?" tanya Laras.


" Baiklah. " jawab Pratama.


" Kita akan makan malam dibawah atau di balkon saja ?"


" Kita makan malam disini aja. Kayakk barbeque. " cleetuk Mei.


" Aku akan menyuruh pembantu menyiapkannya. "


" Mas,, mukenanya ??" tanay Laras.


" Udah ada sayang. Ada di lemari yang ada di mushola."


Laras mengangguk. Kemudian menyiapkan mukena dan sajadah untuk keluraganya. Dibantu Mei, Mahiraa dan Prita.


*****


Setelah makan malam selesai. Mereka bersantai di balkon lantai tiga. Para tetua sudah mulai mengatur rencana untuk membeli furnuture apa saja.


" Mei,, bukannya kamu lulusan psikolog?" tanya Anggi


"Iya, Tante. "


" Apa kamu sudah bekerja ?"


" Sudah kirim cv ku ke semua rumah sakit sih Tante. Tapi belum ada panggilan. "


"Kebetulan di klinikku. Ada dokter yang baru resign karena akan ikut suaminya ke luar negeri. Kalo kamu mau. kamu bisa bekerja di klinik itu. "


" Benarkah ? Aku mau Tante. " seru Mei senang.


" Terima kasih Tante Anggi. "


" Anggap saja sebagai terima kasih Tante. Karena dulu memintamu untuk berbagi kasih sayang Laras pada kakak Tante. "


Joe terkekeh kemudian mengangguk.


" Damian, kamu masih merepotkan Kak Raka ?" tanya Rey tak mengerti.


" Aku sudah menyuruhnya untuk menghandle mall di kota X. Bahkan sudah menawarkan rumah Ibu untuk ditempati sementara. Tapi Kak Raka gak mau. Dia tetap mau jadi asistenku saja. "


" Raka masih merasa berhutang budi pada Marco, Papamu Damian. " jawab Anggi.


" Sepertinya begitu Tante. "


" Sama kyak Ryan. Papa sudah menawarkan untuk mengelola kantor cabang. Tapi Ryan maunya jadi asistenku saja." jawab Joe.


Para tetua sudah berada di balkon bergabung dengan yang lainnya. Mereka mengumumkan hasil raapat dan furniture apa saja yang akan dibeli.


Dan dilihat lokasinya yang strategis. Dan dekat dari manapun. Hanya dua puluh menit dari kantor Pratama. lima belas menit dari kantor Damian. Sepuluh menit untuk ke rumah Pratama. lima belas menit ke rumah Astrid. Membuat kesemuanya mengangguk setuju untuk tinggal di mansion ini.


" Terima kaasih Mas Damian. Aku bahagia. " ucap Laras tulus sambil memeluk Damian.


" Sama-sama sayang. "

__ADS_1


**** T.A.M.A.T. ****


__ADS_2