Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Dilema


__ADS_3

Langit menepis tangan Mawar dari pipinya. "Kamu pulang aku mau sendiri, tolong!" tegas Langit.


Mawar terdiam melihat sikap Langit yang begitu berubah. "Tapi kamu gak boleh hilang kendali kaya gini Langit!" ucap Mawar nanar.


Langit menyeringai. "Oh ya? Bukannya ini juga termasuk salahmu?"


Mawar terdiam menatap Langit kemudian menundukan pandangannya. "Maaf," ujarnya.


"Aku gak butuh siapa-siapa buat diajak bicara, tolong pergi," ujar Langit.


"Baik,"


Mawar melenggang dari kamar itu dengan perasaan yang bercampur jadi satu. Kali ini ia sangat merasa bersalah karena membuat Langit jadi kacau begitu.


***


Mawar memilih untuk duduk di salah satu kopi coffee shop menenangkan jiwanya yang sedikit terguncang dengan kehidupannya itu.


Di sisi lain ada dua pasang mata yang melihat Mawar dengan tatapan penuh nafsu.


"Hai cantik sendirian aja," ujarnya pada Mawar tanpa permisi.


Mawar hanya tersenyum tipis tanpa mau menggubris orang asing tersebut.


"Boleh saya duduk di sini untuk menikmati kopi bersamamu?"


"Maaf saya kesini ingin menikmati kopi sendirian," tutur Mawar sopan.

__ADS_1


Laki-laki itu duduk di depan Mawar tanpa mendengarkan ucapannya.


"Sttt, wanita cantik dilarang sendirian nanti ada yang culik," godanya.


Mawar menatap laki-laki itu dengan tatapan malas, ia sama sekali tidak tertarik dengan ucapannya.


Tiba-tiba saja Arka datang dan merangkul pinggang Mawar dengan erat.


"Hai sayang, maaf aku telat," ujar Arka duduk tepat di samping Mawar.


Mata Mawar terbelalak mendapati perlakuan itu dari Arka namun ia harus terpaksa menikmatinya karena laki-laki di hadapannya itu.


"Sayang? Oh dia pacarmu?" tanya laki-laki itu.


"Saya suaminya, anda siapa?" ujar Arka dengan angkuhnya.


Melihat itu Mawar merasa lega. "Syukurlah," gerutunya.


"Sorry," ucap Arka menjauhkan tangannya dari pinggang ramping itu.


"Makasih Mas," tutur Mawar tulus.


"Kamu gapapa kan? Ngapain ngopi sendirian di sini, kamu gak boleh jalan sendirian bahaya. Semua laki-laki bisa terpikat sama kecantikan kamu," ujar Arka.


Ucapan itu membuat Mawar geli. "Apa sih ada-ada aja kamu,"


"Oh ya anak kita mana?" tutur Arka.

__ADS_1


Mawar terdiam sejenak dengan pertanyaan itu 'kita?'


"Maksud aku Matteo," sambung Arka lagi.


"Dia ada di rumah Mas,"


"Ya sudah aku antar kamu pulang ya, sekalian aku mau ketemu Matteo," tutur Arka.


Mawar tidak bisa menolak permintaan mantan suaminya itu.


***


Sesampainya di rumah Mawar mendapati hal yang kurang menyenangkan, Suster Inem terpaksa harus pulang ke kampungnya karena anaknya sakit demam berdarah. Ia menangis-nangis meminta izin cuti padahal baru bekerja belum lama, terpaksa Mawar harus mengizinkannya pergi karena ia masih memiliki hati nurani.


Setelah Inem berpamitan Mawar jadi kebingungan dengan Matteo. Ia duduk di sofa dengan pikiran yang kacau. Siapa yang akan menjaga anaknya jika susternya pergi?


Melihat itu ada duduk di sampingnya berusaha menenangkan Mawar.


"Kamu gak usah pikirin Matteo, sekarang ada aku yang bakalan jagain dia. Kamu tenang ya, dia juga tanggung jawab aku sepenuhnya," tutur Arka.


"Kamu juga sibuk sama pekerjaan kamu Mas, Matteo bakalan terlantar karena sekarang dia sedang aktif sekali gak bisa aku ajak ke toko lagi," keluh Mawar.


"Aku bakalan ambil cuti buat jagain Matteo sampe suster kamu kembali,"


"Ya tapi aku gak bisa jauh dari Matteo, aku mau dia tetep ada di rumah ini apa pun caranya," ujar Mawar keras.


Ya, setelah melewati hari-hari yang sulit sikap Mawar terbentuk sendiri menjadi lebih keras bahkan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2