
Mawar merebahkan dirinya di ranjang, matanya begitu berat dan ingin segera tidur namun terganggu dengan suara dering telepon.
"Iya Hallo?" ucap Mawar menjawab dering telepon yang menganggu istirahatnya itu.
"Hallo, Non. Ini bi Inah."
"Oh iya Bi, ada apa ya?"
"Non, sebelumnya bibi mau mengucapkan minal aidzin yaa, maaf kalo Bibi banyak salah sama Non."
"Hmm, iya Bi, aku juga ya. Salam juga buat keluarga Bibi."
"Iya, Non. Besok Bibi pulang. Non gimana sehat-sehat aja kan?" tanya Inah.
"Sehat kok, syukur deh kalo Bibi cepet pulang soalnya aku lagi kurang sehat."
"Iya Non semoga cepet pulih ya Non, kalo begitu Bibi tutup dulu teleponnya."
"Iya Bi."
***
Tanpa Mawar sadari ia mengelus-elus perutnya.
"Oh iya sekarang tanggal berapa? kok aku belum haid sih?" gerutu Mawar.
Mawar pun segera mengecek hp nya, benar saja ia baru sadar bahwa sudah 3 minggu ia tidak datang bulan.
"Ya ampun aku udah telat 3 minggu, jangan-jangan aku hamil." Ucap Mawar dengan antusiasnya.
Sambil menunggu Arka kembali dengan anak laki-laki itu, Mawar mengambil tasnya lalu keluar naik taksi membeli test pack.
Kurang dari 30 menit Mawar sudah kembali dengan test packnya, namun Arka belum juga pulang bersama Adit.
Mawar berjalan setengah lari tak sabar ingin mengetahui apakah dia hamil atau tidak. Ia pun segera masuk kamar mandi.
Mawar menutup mulutnya, dengan perasaan haru ia memegangi test pack itu. Test pack yang tertera garis 2 merah.
"Alhamdulilah, ternyata aku beneran hamil. Ini betul-betul kabar yang bagus buat mamah sama mas Arka." Ucap Mawar.
Perempuan cantik itu sangat bahagia dengan kehamilannya. Ia menari dan terus tersenyum di depan kaca.
"Aku yakin, setelah ini mas Arka pasti makin romantis dan sikapnya gak lagi dingin sama aku." Ucap Mawar dengan percaya diri.
"Pokoknya aku bakalan ngasih surprise sama mas Arka dan mamah, aku bakalan siapin semuanya sendirian." Ujar Mawar lagi.
**
Di sisi lain Arka membawa Adit ke sebuah Mall terbesar di kota.
"Nah, sekarang kamu mau beli apa dulu Adit?" tanya Arka.
__ADS_1
"Wahh, barangnya bagus-bagus ya, Om? Adit bingung mau beli apa, tapi Adit cuma butuh makan buat Adit sama temen-temen." Balas Adit.
"Temen-temen? emangnya temen-temen kamu di mana?"
"Temen-temen Adit lagi mulung Om sama kaya Adit. Setiap hari yang cari jatah makan itu gantian, nah sekarang giliran Adit yang harus cariin mereka makan dari hasil mulung."
Hati Arka begitu tersayat mendengar pernyataan dari bocah kecil itu, di usianya yang seharusnya sedang mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tua, tapi Adit dan teman-temannya justru harus bekerja keras untuk menghidupi mereka sendiri.
"Temen kamu ada berapa? gimana kalo kita ajak mereka ke sini, Om bakalan bayarin semua yang kalian mau, gimana?"
"Wah beneran Om? tapii..."
"Udah kamu tenang aja, sekarang kita ke tempat kamu dan ajak semua temen kamu ya." Sela Arka.
"Tapi mereka lagi mulung Om, pasti gak ada di saung." Balas Adit.
"Saung? apa itu?" tanya Arka.
"Tempat tidur kami Om."
Arka tak ingin basa-basi lebih baik ia melihat sendiri apa itu saung yang Adit maksud.
"Yaudah kamu tahu kan temen-temen kamu suka mulung di mana? kita cari mereka dan ajak mereka ke sini." Ucap Arka.
"Hmm, yaudah ayo Om."
**
"Oke sekarang semuanya udah kumpul?" tanya Arka.
"Sudah, Om." Balas Adit antusias.
Setelah hampir setengah jam mereka sampai ke Mall kembali. Arka langsung mengajak 5 bocah itu berbelanja sepuas mereka.
"Kalian boleh ambil apapun yang kalian mau, pokoknya sepuasnya." Ucap Arka.
"Makasih ya, Om. Ayo temen-temen."
Adit mengajak 4 temannya ke tempat baju. Reno salah satu temannya tak sengaja melihat label harga baju yang ia pegang.
"Ini empat apa yaa? kok nol nya ada enam sih?" ucap Reno. Maklum saja Reno tidak begitu tahu aksara mau pun angka, karena tidak merasakan yang namanya pendidikan.
Di sisi lain Adit melihat sebuah jaket anak yang pernah ia lihat di pinggir jalan lewat kaca salah satu toko baju mewah.
"Ini kan jaket yang waktu itu aku mau, aku ambil ini aja ahh biar pas tidur enggak kedinginan lagi." Ucap Adit.
Setelah beberapa saat menunggu 5 anak itu kembali pada Arka.
"Om udah." Ujar mereka serentak.
"Yaudah ikut Om bayar yaa biar baju kalian enggak ketuker." Jawab Arka.
__ADS_1
..
Arka pun melihat anak-anak itu satu per satu memberikan belanjaannya pada kasir, namun Arka merasa terharu karena Adit hanya mengambil satu jaket saja di saat ia diperbolehkan mengambil sebanyak apapun yang ia mau.
Setelah selesai membayar Arka membawa mereka ke sebuah tempat mainan yang masih berada di Mall itu.
"Kalian pasti gak punya mainan kan? sekarang ambil apapun yang kalian mau ya, Om tunggu di sini oke?" ucap Arka.
Tanpa menjawab Arka ke lima anak itu pun langsung berlarian mencari mainan yang mereka suka. Hidup mereka terlalu keras hingga kehilangan masa kecil yang seharusnya indah dan penuh kasih sayang.
****
Setelah hampir 3 jam mengajak mereka belanja akhirnya semuanya selesai dan Arka akan mengantarkan mereka pulang, ia sangat penasaran di mana anak-anak itu tidur.
"Semuanya udah puas kan belanjanya? sekarang kita pulang ya." Ucap Arka.
"Baik, Om." Jawab mereka.
Di perjalanan anak-anak itu mengarahkan Arka ke sebuah kebun yang sedikit jauh dari keramainan.
"Loh anak-anak kok kita ke sini?" ucap Arka bingung.
"Rumah kami di situ Om." Balas Adit.
"Di mana?" Arka semakin bingung.
Setelah sampai di pinggir jalan, lima anak itu mengajak Arka ke sebuah kebun yang sudah mulai tak terurus, dahannya dan rantingnya rawan sekali jatuh sewaktu-waktu.
Arka melihat sebuah gubuk terbuat dari asbes bekas. Sesampainya di sana Arka sangat merasa tertampar dengan kondisi tempat anak-anak itu tinggal.
"Jadi kalian tinggal di sini?" tanya Arka.
"Iya, Om." Balas Adit.
"Kalian sendiri yang membuat rumah ini?" tanya Arka.
"Engga kok, Om. Kami dibuatin sama yang punya kebun ini." Sela Reno.
"Yang punya kebun ini? jadi dia udah izinin kalian tinggal di sini?" tanya Arka.
"Iya, begitu Om. Awalnya kami tidur di emperan toko tapi sering diusir karena katanya ganggu." Balas Adit.
Arka memijat keningnya. Ia begitu iba dengan keadaan lima anak itu. Mereka harus tinggal di rumah yang hanya terbuat dari asbes bekas. Tidur beralaskan kardus bekas.
"Om kami masuk dulu ya mau simpan belanjaan ini." Ucap Adit lalu masuk ke dalam rumah itu.
"Adit, Om boleh masuk engga?" tanya Arka.
"Boleh kok, Om masuk aja."
Arka masuk dan betapa sempitnya ruangan itu. Banyak yang bocor dan bolong di sana.
__ADS_1
'Astaga, aku dari kecil hanya tahu makan, tidur, di tempat yang enak. Berbeda dengan anak-anak jalanan ini.' Batin Arka.