Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Rencana busuk


__ADS_3

Vina yang mendengar ucapan Mawar itu terdiam.


"Lagian lo ada masalah apa sih sama Bu Mawar kaya gitu banget ngomongnya." Ketus Rio.


"Udah deh Bu keluarin aja Vina dari sini, meresahkan aja." Ucap Inez.


"Loh jangan gitu dong, gue kan gak bermaksud kaya gitu." Ujar Vina.


"Terus kenapa lo kaya gitu emangnya pantes seorang pegawai bersikap kaya gitu sama bosnya?" ucap Inez.


"Nez? kok lo jadi mojokin gue sih!" protes Vina.


"Emang lo yang salah mau apa lagi. Meskipun gue temen lo tapi kelakuan lo ini gak bisa dibenarkan Vina, lo itu di sini kerja harusnya bisa jaga sikap bukannya kaya gitu." Ucap Inez.


"Ya gue juga gak bermaksud kaya gitu, Bu Mawarnya aja baperan." Ujar Vina.


Mawar tersenyum kecut. "Baperan kamu bilang? saya di sini atasan kamu loh gak sepantasnya kamu ngomong kaya gitu."


"Keterlaluan banget sih mulut lo!" ucap Rio.


"Kok jadi nyalahin gue semua sih, kalian tahu gak dulu gue itu orang kaya bokap gue tajir harusnya gue gak kerja di sini!" tegas Vina.


"Yaudah mendingan sekarang kamu keluar dari sini, saya gak mau gaji orang kaya." Ujar Mawar.


Mawar akhirnya meninggalkan Vina dan yang lainnya di dapur, namun karena Vina kesal ia mengikuti Mawar dan menarik rambutnya.


"Ah, sakit .., " rintih Mawar.


Vina melepaskan tangannya dan mengatakan, "Lo kenapa belagu banget sih lo lupa kalau dulu gue yang berkuasa di sekolah hah! sekarang lo mau pecat gue!" bentak Vina.


Inez dan Rio sangat terkejut dengan sikap Vina yang seperti itu. Tidak tinggal diam Mawar mendorong Vina hingga terjatuh ke lantai.


"Kenapa kamu gak suka kalau saya pecat kamu? di sini saya yang atasan dan saya berhak memecat siapa pun yang bersikap angkuh seperti kamu dan tadi apa? kamu berani sekali menarik rambut saya. Jangan pernah sama kan saya dengan saya yang dulu. Mungkin dulu kamu kaya tapi sekarang tidak. Seharusnya kamu lebih bersyukur karena masih bisa bekerja di sini." Tegas Mawar.

__ADS_1


Vina terdiam mendengar ucapan itu.


"Rio, bawa Vina keluar. Saya gak mau punya karyawan orang sok kaya seperti dia." Tegas Mawar.


Rio pun membawa Vina keluar dari toko tapi Vina bersikeras tidak mau keluar, hingga akhirnya ia bersujud di kaki Mawar.


"Plis jangan pecat gue, gue butuh banget kerjaan ini. Maafin gue tadi gue kebawa emosi gue punya ade di rumah yang butuh makan, tolong ya jangan pecat gue. Gue janji bakalan lebih menjaga sikap gue dan enggak kaya tadi lagi plis tolongin gue." Ucap Vina.


"Udah Bu jangan terima maaf dari Vina, dia udah keterlaluan banget sama Ibu." Ucap Rio.


"Rio, lo tahu kan gue punya ade baru 1 tahun dia butuh makan tolong bantuin supaya gue gak dipecat." Rengek Vina.


"Ade lo jangan dijadikan alasan, gue gak suka sikap lo kaya gitu Vin udah kaya orang gak di sekolahin." Tegas Rio.


"Udah lah Bu pecat aja, saya gak yakin Vina bisa berubah lebih baik. Saya gak terima bos saya diperlakukan kaya gitu." Ujar Inez.


"Nez tolongin gue, lo tahu kan ade gue masih kecil banget dia butuh gue banget tolongin gue." Rengek Vina.


"Kamu masih boleh kerja di sini, asal jangan pernah bersikap tidak layak seperti tadi lagi. Permisi." Ujar Mawar lalu meninggalkan Vina yang masih bersujud di kakinya.


"Masih untung Bu Mawar baik lo harusnya berterimakasih jangan pernah kaya tadi lagi, mungkin kalau bos lain lo udah dilaporin ke polisi atas tindakan tidak menyenangkan. Berani banget sih narik rambut atasan kaya tadi, cewe gak waras emang lo." Ujar Rio.


Vina berdiri kembali dan menghapus air matanya, tanpa menjawab ucapan Rio ia kembali ke pekerjaannya.


Di sisi lain Mawar keluar dari tokonya untuk menghirup udara segar, ia begitu suntuk menghindari dunia luar.


Mawar duduk di kursi depan toko untuk menenangkan dirinya yang sedikit terbawa emosi karena Vina.


'Ternyata Vina masih tetap gak suka sama aku, padahal selama ini aku gak pernah punya urusan sama dia.' Batin Mawar.


"Boleh saya duduk di sini Bu?" tanya Emil yang tiba-tiba saja datang.


"Boleh." Jawab Mawar.

__ADS_1


"Ibu kenapa kok kelihatan murung gitu, jangan sedih nanti anak Ibu ikutan sedih lo." Ujar Emil.


Mawar tersenyum tipis ke arah Emil. "Bisa aja kamu."


"Kalau boleh saya mau tanya sesuatu Bu."


"Apa?" tanya Mawar.


"Apa Ibu pergi dari rumah, soalnya saya lihat di media Ibu sudah sejak 3 bulan yang lalu tidak pulang. Saya pikir Ibu di rumah kakak Ibu hanya sedang menginap." Ujar Emil.


"Iya, itu urusan aku kamu gak perlu tahu soal kehidupan pribadi."


Mendengar kata aku dan kamu Emil sedikit syok.


"Kalau gak ada karyawan kita santai aja ya, kamu kan lebih tua dari aku." Ujar Mawar lagi.


Emil pun tertawa. "Tapi gak tua-tua banget juga kan?" ucapnya.


"Mungkin enggak." Jawab Mawar.


"Maaf kalau lancang, tapi sebaiknya kamu pulang selesaikan masalah kamu di rumah dulu. Kasihan pak Arka." Ujar Emil.


Mawar tersenyum tipis. "Aku pasti pulang kok tapi aku cuma butuh waktu."


"Pasti masalahnya besar ya sampai kamu gak mau pulang berbulan-bulan?" tanya Emil.


Di sudut lain Sherly yang tak sengaja mendapati Mawar dan Emil sedang berbicara berdua pun mendapat kesempatan untuk memotretnya. "Ini bakalan jadi bukti kalau Mawar itu punya pacar baru dan mas Arka bakalan marah dan menceraikan Mawar. Sekaligus aku juga bisa fitnah kalau anak yang dikandung Mawar itu hasil dari perzinahan dan bukan anak mas Arka, kalau gini kan adil aku gak bisa milikin mas Arka Mawar juga gak boleh. Enak aja aku udah diusir sedangkan dia malah dicari-cari." Ucap Sherly dengan penuh kebencinannya.


Setelah mendapat foto itu Sherly pun pergi dari sana, ia tak sabar ingin mengirim foto tersebut kepada Arka.


"Eh tunggu, kalau aku kirim pakai nomor aku langsung pasti mas Arka curiga dan gak bakalan percaya, sebaiknya aku pakai nomor baru dan setelah itu aku blok deh nomornya. Biar mas Arka kepanasan lihat istrinya kegatelan duduk manis sama laki-laki lain." Gerutu Sherly.


Sherly pun membeli sebuah kartu di salahsatu konter terdekatnya lalu dengan hitungan menit ia mengganti nomornya dna langsung mengirim foto itu kepada Arka.

__ADS_1


__ADS_2