
Sudah 3 bulan semenjak kepergian Mawar dari rumah Dewantara, Arka mulai merasakan kesepian tanpa kehadiran Mawar.
Ia sering membayangkan saat Mawar masih ada di dalam rumah itu, membayangkan ketika Mawar menyiapkan bajunya, sarapannya, ketika sedang bercinta dengannya.
Sekarang yang ia rasakan di relung hatinya adalah sepi, kosong dan hampa.
"Kenapa jadi sepi gini sih gak ada Mawar? padahal Sherly sering ke sini, malah tiap hari, kok rasanya beda banget." Gerutu Arka.
Perlahan Arka mencari kontak Mawar. Ia pun mencoba menghubungi Mawar namun nomornya sudah tidak aktif lagi.
"Sial! apa dia sengaja ganti nomor telepon?"
"Apanya yang sial Mas?" tiba-tiba saja Sherly datang ke ruang kerja Arka.
"Eu, enggak. Ini kerjaan aku gak kelar-kelar jadi sial." Ungkap Arka.
"Jadi kapan Mas? kamu nikahin aku, emang kamu pikir aku gak cape apa nungguin kamu peka?" ucap Sherly.
"Urusan aku sama Mawar aja belum selesai kamu udah minta nikah."
"Ya makannya kamu selesaikan secepatnya!"
Arka hanya diam dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Udah lah kamu gak usah gangguin aku, kamu tunggu di luar aja."
Sherly pun akhirnya keluar dari ruang kerja Arka, dan bergantian dengan Rita yang baru saja masuk, karena takut Sherly menguping pembicaraan mereka akhirnya Rita dengan sigap menutup pintunya.
"Arka?" sapa Rita.
"Iya, Mah? kenapa?"
__ADS_1
"Usia kehamilan Sherly itu kan udah cukup buat test DNA apa gak sebaiknya kita test DNA?"
"Boleh, nanti Arka ajak Sherly ke rumah sakit." Balas Arka santai.
"Ajak kamu bilang hah? kamu gak mikir apa Sherly itu licik!"
"Ya terus? kita harus apa?"
"Harus dengan cara yang sangat halus sampai-sampai dia gak sadar kalo dia di test DNA." Bisik Rita.
"Oke boleh juga ide Mamah. Tapi kalo misalnyai itu beneran anak Arka Mamah mau apa? emang Mamah setuju kalo Arka nikahin Sherly?"
"It's oke, kalo itu beneran anak kamu Mamah bakalan berusaha terima dia dan memaafkan semua kesalahan kamu sebaliknya kalo misalnya itu bukan anak kamu Mamah harap kamu jangan nangis darah karena sudah membiarkan istri terbaik kamu pergi."
Seperti sesak dada Arka mendengar ucapan dari Rita tersebut. "Mah, udah deh jangan bahas Mawar di sini."
"Kenapa? kamu takut hasilnya tidak sesuai yang kamu harapkan?"
"Jangan bohongi hati kecil kamu Arka, Mamah tahu kamu merindukan Mawar kan?" selidik Rita.
Arka menjadi salah tingkah dengan ucapan Rita. "Enggak, siapa yang kangen Mawar, paling nanti dia balik lagi ke sini minta hak anaknya lihat aja nanti."
"Oh ya? udah 3 bulan Mawar gak pulang, kayanya hidupnya baik-baik aja tanpa kamu."
"Baru 3 bulan. Nanti juga dia balik mungkin nanti setelah melahirkan? siapa yang tahu, karena biaya anak itu kan mahal dia gak akan sanggup hidup sendirian tanpa bantuan aku." Ujar Arka.
"Oh ya? kita lihat aja nanti." Rita pun segera keluar dari ruangan itu.
Arka terus memikirkan apa yang diucapkan Rita tadi, ia takut jika Sherly itu berbohong dan dia telah menyia-nyiakan istri terbaiknya. Arka pun bergegas untuk pergi ke rumah Dika untuk menemui Mawar.
"Aku harus cari tahu kabar tentang Mawar. Apa dia baik-baik aja? kok dia gak balik lagi ke rumah ini sih? aku pikir dia bakal kembali." Gerutu Arka.
__ADS_1
Arka meninggalkan rumahnya tanpa diketahui Sherly atau Rita. Ia tak ingin ada orang yang tahu jika sekarang dia mulai merindukan sosok Mawar disampingnya.
Setelah hampir 20 menit akhirnya Arka sampai ke rumah Dika, karena memang jaraknya tak begitu jauh dengan rumah Dewantara.
Dengan perlahan Arka melangkahkan kakinya lalu mengetuk pintu rumah itu.
Akhirnya seseorang keluar dan bertanya pada Arka untuk apa dia datang ke sana.
"Maaf, cari siapa ya Mas?" tanya Luki.
"Saya yang harusnya tanya anda siapa? kok bisa di rumah kakak saya?" ucap Arka.
"Oh jadi sebelumnya rumah ini milik kakaknya Mas? tapi sekarang rumah ini sudah jadi milik saya."
"Maksudnya gimana? saya gak paham kok tiba-tiba jadi milik anda ya?"
"Satu bulan yang lalu saya beli rumah ini dari seorang perempuan cantik gitu deh Mas, itu kakak Mas?" tanya Luki. Seorang pemilik baru rumah peninggalan Dika yang atas nama Mawar.
Arka terbelalak dengan ucapan laki-laki itu. "Yaudah, Mas maaf ganggu waktunya. Saya permisi."
Dengan hati yang sesak Arka menjauh dari rumah itu. 'Jadi Mawar jual rumah ini? terus dia pergi ke mana? apa dia gak akan pernah kembali lagi? astaga Arka kamu benar-benar bodoh. Di saat Mawar sudah pergi entah ke mana baru kamu mencarinya.' Ucap Arka membatin.
Arka benar-benar tak tahu harus mencari Mawar ke mana karena ia sama sekali tidak mengetahui satu pun teman Mawar. Laki-laki angkuh itu berkali-kali menghubungi kontak Mawar namun hasilnya nihil.
Penuh emosi ia mengendarai mobil dengan ugal-ugalan hingga hampir saja ia bertabrakan dengan sebuah truk besar.
"Woi buta lo ya! kalo bawa mobil hati-hati dong mau bikin orang mati apa!!" teriak sopir truk itu.
Untung saja Arka menginjak rem dengan tepat kalau tidak ia bisa bernasib sama dengan kakaknya.
"Maaf Mas maaf." Ujar Arka lalu kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1