Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Pengadilan Agama


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit Mawar memberanikan diri untuk kembali datang ke Pengadilan Agama.


Hari ini ia memakai dress berwarna ungu mencerminkan dirinya yang akan menjadi single parent.


Mawar memilih untuk mengurus semua sendirian tanpa meminta bantuan Mirna atau siapa pun. Keputusannya yang sudah bulat untuk hidup sendiri membuat dirinya semakin kuat dan ingin segera menyelesaikan semuanya.


*


Sesampainya di sana Mawar turun dari taksi, berat sekali rasanya melangkahkan kakinya menuju gedung itu.


'Hari ini aku ingin menyelesaikan semuanya, cerita yang seharusnya memang tidak pernah dimulai. Kisah yang seharusnya tidak pernah ada sebelumnya. Sejak awal aku selalu berusaha bertahan berharap semuanya semakin membaik tapi rupanya semua itu sama saja dengan membunuh diri ini secara perlahan. Mas Arka aku tahu kamu orang baik, aku bahkan masih bisa melihat sisi baikmu sampai detik ini. Entah apa yang membuatmu sampai hati terus menerus melukai aku bahkan membuat anakmu pergi lebih dulu.' Batin Mawar.


Satu persatu kakinya menaiki anak tangga, sedih, kecewa, pilu semuanya bercampur jadi satu.


"Mawar?"


Langkahnya terhenti mendengar panggilan itu, suara itu tidak asing lagi baginya. Suara yang selama ini ia rindukan kelembuatannya namun tidak pernah tersampaikan.

__ADS_1


Mawar membalikan badannya mencari sumber suara itu, seketika tubuhnya kaku melihat siapa yang berada dihadapannya saat ini.


Begitu juga dengan seseorang itu ia bahkan tidak mampu berkedip melihat kecantikan Mawar dengan dress berwarna ungu yang ia kenakan.


Mereka berdua bertatapan cukup lama, hingga tanpa terasa buliran air mata jatuh di pipi mulus Mawar.


'Panggilan lembut itu yang selama ini aku harapkan namun tidak pernah terdengar sampai akhirnya di titik penghabisan ini aku baru mendengarnya. Terimakasih telah menggunakan nada itu untukku," batinnya.


"Are you oke?" tanya Arka Dewantara. Laki-laki yang entah di mana ia meletakkan hati nuraninya.


"I'm oke," jawab Mawar singkat lalu menghapus air matanya.


"Semuanya udah terjadi Mas, aku harap kamu gak pernah muncul lagi dihadapan aku setelah ini." Tegas Mawar.


"Aku pengecut dan suami yang tidak berguna buat kamu, aku gak pernah bisa melawan keegoisan dalam diri aku ini. Aku si bodoh yang udah menyiakan wanita setulus kamu," tutur Arka berkaca.


"Kamu gak perlu datang ke tempat ini Mas, semuanya akan aku urus sendirian." Tutur Mawar.

__ADS_1


"Iya, aku tahu itu makannya aku ke sini cari kamu. Kamu wanita hebat yang memiliki sabar tanpa batas sedangkan aku laki-laki yang bodoh mudah bagi kamu mendapatkan pengganti aku, sementara aku ..,"


"Cukup Mas, aku gak mau denger apa pun lagi dari mulut kamu, kita akan selesaikan semuanya secepatnya. Kamu bisa hidup tanpa aku yang selama ini membebankan kamu, kamu bisa hidup tanpa harus ada perempuan yang tersakiti lagi," ucap Mawar bergetar.


"Aku baru sadar kamu sama sekali bukan beban, kamu anugerah yang Tuhan beri untuk aku tapi aku gak pernah sadar akan hal itu," air mata Arka jatuh tak tertahankan.


"Kamu tahu Mas, aku kehilangan anak aku karena ulah kamu. Kamu dorong aku saat itu dan terpaksa dokter harus mengambil anak aku saat itu juga di usia mereka yang masih 6 bulan," jelas Mawar berderai air mata.


Arka melirik sekilas perut Mawar yang sudah tak sebesar minggu lalu.


"Astaga kenapa aku sebodoh itu," ucap Arka tak henti menangis.


"Bahkan aku sanggup datang ke sini sendirian di saat luka jahitan operasi aku aja belum kering, tapi Mas luka ini gak seberapa dibandingkan luka yang udah kamu beri selama ini!" tegas Mawar.


"Mawar, aku gak tahu harus bilang apa lagi sama kamu, aku bodoh dan gak berguna," ucap Arka lalu berusaha memegang tangan Mawar namun Mawar menepisnya.


"Kamu gak perlu bilang apa-apa Mas, cukup jangan pernah muncul lagi dihadapan aku. Ini kan selama ini yang kamu inginkan? Aku gak mau denger apa pun lagi, permisi." Ujar Mawar lalu masuk ke ruangan Pengadilan Agama itu.

__ADS_1


*


__ADS_2