Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
USG pertama


__ADS_3

Mawar berjalan menuruni tangga satu per satu, rumah itu terasa seperti kuburan tak ada kebahagiaan lagi di sana. Semuanya tampak hening, murung karena ulah Sherly kemarin.


"Non? mau kemana pagi-pagi?" tanya Inah yang sedang menyapu.


"Eu, aku mau ke dokter Bi." Balas Mawar.


"Sendiri, Non?" tanya Inah tak yakin.


Mawar tampak menyembunyikan kesedihannya. "Iya, iya sendiri. Mamah udah bangun Bi? aku mau izin." Ujar Mawar mengalihkan.


"Udah kok, Non. Tadi juga ibu nanyain Non."


"Yaudah kalo gitu aku ke kamar Mamah dulu ya Bi."


Mawar melihat Rita yang terbaring di ranjang dengan tatapan kosongnya.


"Mah?" panggil Mawar membuyarkan lamunan mertuanya itu.


"Eh, Mawar? kamu mau kemana udah rapi?"


"Mawar mau cek kandungan Mah. Mawar izin ya."


"Sendiri? Mamah anter ya,"


"Gak usah Mah, Mamah istirahat aja. Lagian aku udah biasa kok jalan sendiri."


"Mamah tuh kasihan sama kamu, Mamah malu sebagai mertua kamu Mawar. Mamah merasa gagal sebagai seorang ibu yang mendidik anaknya." Ucap Rita.


"Udah lah Mah, percaya aja nanti juga ada jalan keluarnya, Mawar permisi ya takut telat, soalnya udah janjian sama dokternya."


"Iya, kamu hati-hati ya Mawar."


Mawar pun berjalan keluar rumah untuk mencari taksi, ia melihat Arka yang baru saja pulang dari semalam.


'Aku harus kuat, aku gak boleh lemah.' Batin Mawar menguatkan hatinya.


"Mau kemana kamu?" tanya Arka cuek.


"Aku mau USG, Mas." Jawab Mawar.


"Kamu kok gak ngasih tahu aku kalo sekarang kamu mau USG? oh jadi kamu udah gak nganggap aku suami kamu lagi? mentang-mentang Mamah kemarin marah besar hah?"


"Apa sih Mas? kamu kok jadi ngaco sih? gimana aku mau ngabarin kamu sedangkan kamu juga baru pulang dari semalem. Udah ya aku capek tahu gak debat terus. Permisi." Mawar meninggalkan Arka yang baru saja pulang ke rumah.


***


Tanpa perlu menunggu lama nama Mawar sudah dipanggil.


"Selamat pagi, Bu. Hari ini jadwal USG pertama ibu ya?" tanya dokter ramah itu.


Mawar begitu terkejut melihat siapa dokter yang berada dihadapannya itu.

__ADS_1


"Langit?" panggil Mawar repleks.


Dokter itu mendongakan kepalanya pada Mawar.


"Mawar?"


Mereka berdua saling bertatapan cukup lama.


"Eu, apa kabar kamu Mawar?" tanya langit memecahkan keheningan.


Mawar tampak salah tingkah dengan Langit.


"Aku, aku baik. Kamu gimana?"


"Oh syukur, aku juga baik."


Mawar hanya menganggukan kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu kalau dokter yang akan ia temui itu Langit.


"Jadi kamu udah nikah?" tanya Langit lagi.


"Udah, udah. Aku udah nikah kok." Jawab Mawar gugup.


"Yaudah ayo kita mulai USG nya."


***


Selesai USG Mawar diberikan resep obat oleh Langit.


"Eu Mawar tunggu." Langit menghentikan langkah Mawar.


"Eh iya kenapa?"


"Aku cuma mau ngucapin selamat ya, atas kehamilan pertama kamu, dan selamat juga udah punya kehidupan baru."


Mawar hanya tersenyum tipis pada Langit lalu keluar dari ruangan itu.


Begitu terluka hati Langit ketika mengetahui ternyata Mawar sudah memiliki keluarga.


***


Sesampainya di rumah Mawar sudah melihat pemandangan yang tidak mengenakan matanya lagi. Ia melihat Sherly yang sedang duduk manis di ruang tamu.


"Hmm menantu keluarga ini abis dari mana ya? kasihan banget sendirian, padahal punya suami. Uppss aku lupa suaminya kan gak peduli sama sekali." Sindir Sherly.


Mawar hanya menghela nafas panjang lalu berjalan melewati Sherly.


Mawar berpapasan dengan Arka yang hendak turun menemui Sherly.


"Kamu gak kerja Mas?" tanya Mawar.


"Enggak, males. Lagian ada Fras." Ucap Arka singkat.

__ADS_1


"Oh oke."


"Gimana? Usg nya?" tanya Arka.


"Enggak gimana-gimana, anak aku sehat kok." Jawab Mawar singkat.


Mawar hendak melewati Arka namun Arka menahan lengannya.


"Kamu kenapa sih? aku belum selesai bicara kamu udah pergi aja! apa ini sopan santun kamu sama suami hah?" ucap Arka.


Mawar menepis tangan Arka. "Mas, bisa gak sih kamu ngomong sama aku pelan-pelan, aku ini capek baru pulang. Aku juga lagi hamil harusnya kamu lebih mengerti." Tandas Mawar.


"Ya aku cuma gak suka aja, kamu dingin kaya gini aneh tahu gak!" bentak Arka.


Lagi-lagi Mawar harus menahan emosinya. "Iya, Mas. Aku emang aneh, seaneh kamu yang izinin Sherly ke sini padahal kamu tahu kondisi Mamah sekarang. Kalo Mamah tahu gimana?" ucap Mawar.


"Aku gak nyuruh dia ke sini, dia yang mau dateng sendiri." Balas Arka tak mau kalah.


"Iya, terserah kamu. Terserah kamu mau apa dan gimana di luar sana, tapi jangan di rumah jangan kotorin rumah ini sama hubungan kalian. Hargain juga mamah. Aku udah biasa kok disakitin kaya gini, tapi Mamah dia gak berhak terluka." Tegas Mawar.


Arka terdiam dengan ucapan Mawar tersebut, lalu Mawar masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


'Mawar yang cuma menantu tapi dia begitu peduli sama perasaan mamah, terus apa kabar dengan aku? aku yang anak kandungnya sendiri sering bikin mamah kecewa. Tapi aku juga bingung harus berbuat apa sekarang Sherly terus meminta pertanggungjawaban, memaksa ingin terus diperhatikan. Aku gak bisa nolak karena aku juga sadar aku berkali-kali bercinta dengan Sherly, meskipun awalnya aku ragu tentang anak itu tapi aku juga sadar siapa lagi kalo bukan aku ayah dari anak itu, karena aku tahu Sherly begitu mencintai aku. Dia gak mungkin berbuat itu dengan orang lain.' Batin Arka.


Arka menemui Sherly yang sedang duduk santai di ruang tamu.


"Hei, Mas. Aku bawain makanan kesukaan kamu, kamu makan ya." Kata Sherly.


"Aku gak mood makan, kamu aja ya."


"Ih Mas, ini anak kamu loh yang minta, bukan aku."


"Sher, kita ngobrol di luar aja ya. Aku takut mamah denger suara kamu nanti ada keributan lagi di sini."


"Ya biarin aja lah Mas, kok gak adil banget sih, mamah kamu aja bisa baik sama Mawar kok sama aku enggak padahal aku juga lagi mengandung cucunya." Tegas Sherly.


"Udah lah, ayo di luar aja."


Arka menuntun Sherly ke luar dan membawanya ke taman.


"Di sini aja ngobrolnya, kamu ngapain sih ke sini lagi padahal baru aja kemarin kamu udah bikin keluarga aku ribut." Ucap Arka.


"Ya aku cuma mau ketemu ayah dari anak aku lah, emang salah?"


"Aku tanya sama kamu, berapa usi kehamilan kamu sekarang?" tanya Arka serius.


"Eu, aku, aku gak tahu lah, orang aku belum USG."


"Yaudah ayo kalo gitu kita USG."


"Udah lah Mas aku males nanti aja."

__ADS_1


..


__ADS_2