Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
naluri


__ADS_3

Habis sudah masa Iddah Mawar dan Arka, namun rasa trauma di hatinya masih saja membekas.


Semenjak kejadian malam itu Langit dan Mawar menjadi berjarak, Mawar selalu melarang Langit untuk menemuinya di Villa. Memang Villa itu miliknya namun Mawar merasa canggung dan enggan bertemu dengan Langit kembali.


**


Di sisi lain kehidupan Arka semakin kacau setelah berpisah dengan Mawar, apalagi semenjak Rita memutuskan untuk tidak memberi sepeser pun harta warisannya kepada Arka kecuali hasil kerja kerasnya selama ini, Rita tidak mengambilnya.


Semakin lama Arka semakin yakin perasaannya begitu dalam kepada Mawar setelah mereka bercerai. Berbulan-bulan Arka mencari tahu keberadaan Mawar namun hasilnya nihil.


Satu hal yang Arka kini ketahui bahwa salah satu anaknya hidup. Arka sama sekali tidak berniat untuk merebut hak asuhnya karena ia sadar selama ini tidak memperlakukan Mawar dengan baik apalagi saat Mawar hamil anaknya, namun keinginannya untuk menemui anaknya itu begitu kuat.


*


Arka mendatangi rumah sakit tempat Langit bekerja dengan berharap mendapatkan informasi tentang keberadaan Mawar dan anaknya itu.


"Anda temannya Mawar kan?" ucap Arka menghentikan langkah kaki Langit.


Langit mengerutkan dahinya. "Ya, ada keperluan apa ya anda datang ke sini?" jawab Langit.


"Bisa bicara sebentar?" ajak Arka, matanya begitu sayu penuh harap.


"Maaf, saya ada jadwal operasi 10 menit lagi mungkin lain waktu." Tegas Langit hendak pergi meninggalkan Arka namun Arka berusaha menahannya.


"Saya mohon, saya cuma perlu bicara 5 menit," pinta Arka.


"Ini pasti soal Mawar kan? Anda menyesal telah menyia-nyiakannya?" ujar Langit to the point.


"Dimana keberadaan mereka sekarang? Tolong beritahu saya,"


"Maaf tapi saya tidak tahu soal itu," tegas Langit.


"Saya tahu salah satu anak saya selamat, saya hanya ingin bertemu dengan dia bukan berniat merebutnya."


Langit terdiam sejenak, bagaimana Arka bisa mengetahui soal Matteo?

__ADS_1


"Saya tahu kesalahan saya terlalu besar kepada Mawar, tapi apa anda tega tidak mempertemukan anak dan ayahnya?" ucap Arka lagi.


*


Setelah berfikir cukup lama akhirnya malam ini Langit mengantarkan Arka ke Villa.


'Biarkan Mawar menyelesaikan masa lalunya terlebih dahulu, aku sama sekali tidak berhak menyembunyikan seorang anak dari ayahnya. Mawar memang tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Arka setelah berpisah namun Matteo akan tetap menjadi darah daging Arka.' Batin Langit.


**


Sesampainya di sana, Langit meminta Arka untuk mengetuk pintu terlebihdahulu karena ia tidak ingin mengganggu momen mereka bertemu kembali.


Sejenak Arka melihat sekelilingnya, suasananya begitu sejuk dan indah.


"Ini Villa siapa?" ujarnya pada Langit.


"Milik saya, Mawar tidak ingin pulang ke rumahnya karena menghindari pertemuan dengan anda," jawab Langit dingin.


"Oh, thanks udah mau jagain anak saya." Ucap Arka.


Tubuhnya panas dingin, rasanya memang tidak pantas ia muncul di hadapan Mawar kembali.


Sebelum mengetuk pintu terdengar suara tangisan bayi. "Sayang kenapa, tenang ya kan kamu sama Bunda," ucap seseorang didalam sana yang tak lain adalah mantan istrinya, Mawar.


Arka segera mengetuk pintu, tak lama Mawar membuka pintunya ia pikir yang datang adalah Langit atau kakaknya namun ternyata dugaannya salah.


Mawar mematung sejenak melihat laki-laki yang berada di hadapannya tidak peduli suara nyaring Matteo dipelukannya, lalu dengan sigap ia hendak menutup pintu kembali tapi Arka menahan pintunya.


"Mawar, aku dateng ke sini mau minta maaf," lirih Arka yang penuh dosa itu.


Mawar menghela nafasnya berusaha berdamai dengan dirinya sendiri, perasaan sakit itu belum juga berkurang bahkan sampai detik ini.


"Duduk," ucap Mawar dingin.


Sambil berusaha menenangkan Matteo, Mawar berusaha bersikap tegar di hadapan mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Boleh aku gendong?" ujar Arka.


Mawar sebenarnya tidak rela Matteo digendong oleh Arka namun mau bagaimanapun juga Arka adalah ayahnya, dengan perasaan ragu Mawar memberikan Matteo ke pangkuan mantan suaminya itu.


"Hati-hati lehernya," ujar perempuan tegar itu.


"Sayang, tenang ya ini sama Papa," ucap Arka sambil menepuk-nepuk punggung Matteo dengan pelan.


Seketika bayi 3 bulan itu tenang, suara tangisan itu berubah menjadi ocehan yang sangat menggemaskan.


Melihat kebersamaan Arka dan Matteo membuat hati Mawar semakin sakit. Seharusnya pemandangan ini yang ia lihat sejak dulu.


"Ada perlu apa Mas kamu dateng ke sini? Dan kenapa kamu tahu tempat tinggal aku sama Matteo," tanya Mawar memulai pembicaraan.


"Berbulan-bulan aku mencari keberadaan kamu, sampai akhirnya aku tahu bahwa salah satu anak kita selamat. Hati aku semakin tersiksa mendengar itu, kamu menghilang begitu saja setelah pertemuan kita di sidang terakhir," jawab Arka sambil terus memomong Matteo.


Mawar berusaha menguatkan dirinya agar tidak mengeluarkan air mata di depan Arka. "Semuanya sudah berakhir Mas," lirih Mawar.


"Hubungan kamu dan aku memang sudah berakhir, tapi apa hubungan aku dan anak ini juga bisa berakhir? Kamu terlalu egois Mawar menutupi keberadaan anak kita," ucap Arka.


"Sejak aku hamil sampai melahirkan hanya aku yang berusaha untuk mempertahankan anak ini, kamu lupa? Bukannya kamu sama sekali tidak menginginkan keberadaannya didunia ini?" tegas Mawar.


"Aku tahu kesalahan aku terlalu fatal, kesalahan aku tidak bisa dimaafkan tapi tolong jangan jauhkan aku dengan anak aku lagi," ujar Arka.


"Matteo hanya butuh aku Mas, karena cuma aku yang selalu ada buat dia. Aku mohon kamu pergi dari tempat ini dan gak usah kembali lagi," ujar Mawar menyeka air matanya.


"Saat hakim memutuskan bahwa kita sah bercerai detik itu juga aku sadar aku cinta sama kamu Mawar," ucap Arka.


"Semuanya sudah berakhir Mas dan tidak akan dimulai kembali!" tegas Mawar.


Mawar merebut Matteo yang sedang anteng dipangkuan Arka. "Tolong jangan pisahkan aku dan Matteo, Mama bahkan belum tahu soal ini Mawar," pinta Arka.


"Sebaiknya kamu pergi Mas!" ujar Mawar lalu masuk ke dalam Villa dan menguncinya dari dalam.


Arka menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan. Ia paham betul kenapa Mawar bisa bersikap seperti itu padanya.

__ADS_1


__ADS_2