
"Ibu harus tahu ya, saya sedang mengandung cucu ibu anak yang akan berdarah Dewantara." Ucap Sherly.
Rita sangat syok dengan ucapan Sherly itu. "Apa? maksud kamu apa Sherly!!"
"Bu, saya sama Arka udah melakukan banyak hal selama saya pacaran jadi wajar kalo sekarang saya hamil." Balas Sherly.
"Arka!! jelasin sekarang sama Mamah apa maksud perempuan ini!!" tegas Rita.
Arka tampak terdiam tak menjawab apa pun.
"Aku permisi, Mah." Ujar Mawar. Mawar memilih meninggalkan keributan itu.
"Arka!! jawab Mamah!" teriak Rita.
"Iya, Mah iya! aku sama Sherly emang sering melakukan hal di luar batas!!" jawab tegas Arka.
Karena sudah tersulut emosi Rita membantingkan piring dan gelas yang ada di meja makan.
Prangg!!.. piring dan gelas kaca itu jatuh berserakan di lantai.
"Arka! kamu ini udah bikin Mamah malu! sikap kamu ini sangat tidak layak! sama sekali tidak pantas ada di keluarga Dewantara!!" teriak Rita.
Sherly tersenyum sinis dengan kekacauan yang terjadi itu.
'Bagus, rencana aku berhasil.' Batin Sherly.
"Mah, tolong jangan emosi seperti ini, aku bisa jelasin semuanya baik-baik." Ujar Arka.
"Apa lagi yang mau kamu jelasin hah? semuanya udah jelas! kamu itu bajingan! tidak terhormat Arka! di saat istri kamu sedang mengandung anak kamu, kamu malah menghamili perempuan lain juga!! apa tidak cukup satu perempuan saja di hidup kamu hah!!"
"Mah! cukup! aku juga gak mau semuanya terjadi seperti ini!! teriak Arka.
"Apa Mawar sudah tahu semua ini Arka?" tanya Rita dengan nada yang tinggi.
Lagi-lagi Arka terdiam.
"Jawab Arka!!"
__ADS_1
"Iya, Mawar tahu semuanya Mah!!" balas Arka.
"Keterlaluan!" Rita beranjak dari duduknya namun tiba-tiba saja tubuhnya tidak bisa dikendalikan dan ambruk.
"Mamah!!" Arka tampak histeris.
Inah yang sedari tadi menguntit keributan itu tiba-tiba saja keluar dari satu arah.
"Bi! bantu aku bawa Mama ke kamar!" ucap Arka tegas.
Arka dan Inah membopong Rita ke kamarnya.
"Maafin Arka, Arka emang laki-laki yang bodoh Mah." Ucap Arka.
Arka kembali menemui Sherly.
"Kamu kenapa sih tiba-tiba dateng dan mengacaukan semuanya!" teriak Arka pada Sherly.
"Mas, aku ke sini cuma minta pertanggungjawaban dari kamu! jangan mau enaknya aja dong giliran aku hamil kamu pura-pura lupa dengan apa yang pernah kita lakukan." Ujar Sherly.
"Ya tapi kenapa harus kamu bongkar semuanya depan mamah!!" teriak Arka.
"Mending sekarang kamu pulang."
"Oke, aku pulang tapi kalo kamu terus menghindar aku bakalan terus teror keluarga kamu. Bye!" ucap angkuh Sherly.
**
Arka meneriaki Mawar berkali-kali hingga akhirnya Mawar turun dari lantai atas.
"Astaga, kamu itu ngapain sih di kamar! kamu gak lihat mamah jatuh pingsan tadi hah?" ujar Arka.
"Apa! mamah kenapa Mas?" Mawar langsung berlari ke kamar mertuanya itu.
Terlihat Rita yang masih terbaring lemas karena syok mendengar berita tadi.
Mawar dengan lembut menggenggam tangan Rita. "Mah, bangun ada Mawar di sini." Tak terasa air mata Mawar bercucuran tak tega melihat mertuanya seperti itu.
__ADS_1
Rita perlahan membuka kedua matanya, lalu meminta Arka untuk pergi dari kamarnya.
"Sekarang kamu pergi Arka, Mamah gak mau lihat wajah kamu di sini!" tegas Rita.
"Ta-tapi Mah?"
"Pergi!! Mamah bener-bener kecewa sama kamu!!!" teriak Rita.
"Mah, udah. Jangan teriak-teriak Mamah baru aja siuman. Mas, aku minta tolong kamu keluar dulu mungkin Mamah perlu waktu." Mawar mencoba menjadi penengah lagi.
"Yaudah, aku pergi ke kantor dulu." Arka melenggang dari ruangan itu.
"Bu nyonya saya juga permisi keluar." Ucap Inah. Kini hanya tinggal Mawar dan Rita di sana.
Rita menatap kedua mata Mawar.
"Kenapa kamu menutupi semua ini dari Mamah?" tanya Rita.
"Mawar, Mawar cuma gak mau semuanya seperti ini Mah. Mamah dan Mas Arka bertengkar hebat." Jawab Mawar.
"Mamah masih gak habis pikir dengan semua ini, Arka benar-benar udah bikin Mamah malu."
"Waktu itu Mas Arka pernah bilang Mah, kalo dia gak yakin anak yang ada dalam kandungan Sherly itu anak dia."
"Tapi dia mengakui, kalo dia sama perempuan itu sering berbuat di luar batas Mawar."
"Iya, Mawar tahu Mah. Jalan satu-satunya cuma test DNA." Jawab Mawar.
"Tidak semudah itu Mawar. Test DNA bayi yang masih dalam kandungan itu resikonya besar sekali, kita bisa saja tidak sengaja membunuh bayi itu."
Mawar terdiam.
"Kenapa kamu bisa sesabar ini? kenapa Mawar?" tanya Rita lagi.
Mawar tersenyum tipis menutupi lukanya. "Mawar cuma mengikuti alur yang udah Tuhan buat Mah. Selama Mawar masih bisa sabar Mawar pasti terus bersabar."
"Arka sangat bodoh, menyia-nyiakan perempuan baik seperti kamu. Mamah tahu semua ini tidak mudah bagi kamu. Apa lagi Arka sangat jauh berbeda dengan Dika. Dika itu penyayang, lembut, dan selalu mengerti." Ujar Rita.
__ADS_1
"Hmm, ini semua demi amanah dari Mas Dika juga." Balas Mawar.