Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Penguat


__ADS_3

"Tolong tinggalkan saya sendirian ya Sus, nanti kalo ada apa-apa pasti saya bilang kok," tutur Mawar pada suster yang menemaninya.


"Tapi .. Ibu yakin mau sendirian di sini?" tanya suster.


"Yakin, maaf ya Sus saya tidak bermaksud apa-apa tapi saya butuh waktu sendirian."


Suster itu pun berusaha memahami ucapan Mawar. "Baiklah kalo begitu saya permisi, Bu."


**


Mawar menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan yang penuh penderitaan. Sesekali melirik jarum jam yang terus berputar pada arahnya. Ia merasa hidup ini tidak pernah adil baginya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. "Gimana udah enakan badannya?" tanya Langit. Laki-laki yang selalu ada, seperi namanya Langit. Ia akan senantiasa hadir dimana pun Mawar membutuhkannya.


Mawar melirik Langit dengan tatapan sayunya. "Makasih udah bawa aku ke sini," ucap perempuan itu.


"Kondisi kamu masih lemah harus rawat inap, gapapa kan?" tanya Langit.


"Buat apa sih kamu pertahanin hidup aku, lagian aku juga usah gak punya alasan buat hidup lagi," ucap Mawar.


"Tuh," Langit menunjuk perut buncit Mawar.


Mawar seketika meliriknya. "Mereka akan menjadi penguat kamu saat ini, dan juga ..." Langit tak melanjutkan ucapannya.


"Dan juga apa?" tanya Mawar.


"Ah udah lah lupain, sebentar ya aku minta perawat buat siapin ruangan rawat inap buat kamu biar lebih nyaman. Kamu juga jangan lupa kabarin kakak kamu atau suami kamu ya," ujar Langit.

__ADS_1


Mawar hanya mengangguki laki-laki yang menbawelinya itu.


**


Selang 15 menit Mawar sudah dipindahkan ke ruang rawat inap yang tentunya VIP.


"Makasih ya kamu udah banyak bantuin aku," tutur Mawar menatap lekat kedua mata Langit.


"Gapapa, aku seneng bantuin kamu. Kalo gitu aku lanjut kerja lagi ya masih banyak pasien soalnya, nanti aku balik lagi." Tutur Langit.


"Iya, semangat ya .." ucap Mawar ragu.


Langit hanya tersenyum tipis ke arah Mawar lalu keluar dari ruangan itu.


Lagi-lagi Mawar sendirian di ruangan itu, pikirannya kembali tertuju pada Arka yang dengan tega melukai hatinya lagi. Mawar membuka ponselnya berniat untuk memberitahu Arka jika ia sedang dirawat di rumah sakit.


Mawar lebih memilih menghubungi kakaknya Mirna agar segera datang menemuinya karena hanya Mirna yang saat ini ia miliki. Semenjak menikah mereka menjadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


Mirna sibuk dengan kebahagiaannya sedangkan Mawar sibuk menjahit hatinya yang telah dirobek berkali-kali oleh suaminya sendiri.


..


Mirna berjalan dengan cepat menuju ruangan Mawar dengan perasaan campur aduk. Setelah sampai di sana Mirna langsung memeluk Mawar dengan erat.


"Kami gapapa kan? Apa yang sakit cerita sama kakak?" ucap Mirna memeriksa semua badan Mawar memastikan tidak ada goresan luka di sana.


Mawar tersenyum lega kakak satu-satunya datang menemuinya. "Mawar gapapa kok, makasih kakak udah mau dateng ke rumah sakit. Maaf juga ya ngerepotin," ujar Mawar.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih, kita itu sodara dan harus saling bantu gak boleh ngomong kaya gitu," tutur Mirna.


"Iya Kak, anak-anak sama siapa di rumah?" tanya Mawar.


"Ada baby sister. Gimana sih ceritanya sampe kamu drop lagi kaya gini Mawar cerita sama kakak? Plis ya jangan ada yang ditutup-tutupi," tandas Mirna pada adiknya itu.


Mawar terdiam sejenak, membayangkan apa yang ia lihat tadi siang. Rasa sakit itu semakin dalam jika dijelaskan secara detail.


"Mawar gapapa kok cuma kecapean aja," jawab Mawar.


"Kalo kamu gapapa terus suami kamu mana? Daritadi kakak gak lihat suami kamu? Arka berbuat apa lagi Mawar jawab kakak?" Mirna mendesak.


Akhirnya Mawar menjelaskan semuanya kepada Mirna, tentang sikap Arka yang kembali memburuk seperti dulu, tentang Arka yang sangat dekat dengan sekertarisnya.


"Keterlaluan! Gak ada habisnya dia nyakitin kamu, kakak mau kamu cerai aja sama Arka. Kamu gak pantas disakiti kaya gini," tutur Mirna.


"Kak, sabar dulu ya. Soal itu nanti Mawar pikirin lagi, Mawar gak mau ngambil keputusan saat lagi emosi,"


"Terus kamu masih mau bertahan udah diinjek-injek kaya gitu? Mentang-mentang orang kaya ya bisa seenaknya aja!"


"Iya Kak, maksud Mawar bukan gitu. Mawar harus pikirin masa depan anak-anak Mawar gimana nantinya tanpa figur ayah dalam kehidupan mereka, Mawar juga udah gak mau lanjutin pernikahan ini cuma Mawar masih mikirin si kembar."


"Kamu punya usaha sendiri, mereka gak akan kelaparan dan inget kamu masih punya kakak hidup kalian gak akan sengsara kakak jamin itu. Kakak yakin suatu saat ada pengganti Arka yang bisa setia dan sayang sama anak-anak kamu,


Mawar terdiam sejenak mendengar ucapan kakaknya itu.


..

__ADS_1


__ADS_2