Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 107


__ADS_3

Tiga bulan kemudian,,,


" Ibu. Laras mau pergi ke kota X ya. "


" Untuk apa ?"


" Laras mau ke makam Ibu kandung Laras. "


" Aku ikut. " sahut Joe yang baru saja sampai ditaman.


Sudah tiga bulan ini Joe mulai bekerja di perusahaan Pratama. Sedang Laras memilih bekerja di perusahaan Florist milik Nenek. Pratama tidak bisa membantahnya. Apalagi Azka dan Sam juga ikut bekerja di kantor Pratama.


" Ikut kemana ?" tanya Ratih dan juga Pratamaa bersamaan.


" Ke makam Ibu, Ma. " jawab Joe enteng.


Spontan Laras langsung melihat ekspresi Ratih berubah. Laras hanya tersenyum melihatnya. Bagaimana pun, kehidupan rumah tangga Ratih terlalu rumit bagi orang lain. Dan rasa nyeri itu masih ada.


" Iya. Kalian sudah lama tidak kesana. " jawab Ratih sendu.


" Kapan berangkat Ras ?"


" Hari Sabtu depan. Sekalian mau nengokin rumah ya Bu. "


" Iya. "


" Mama bagaimana ?"


" Mama ikut. Sudah lama juga kita gak kesana. " jawab Ratih.


Maksudnya ke makam anak pertamanya. Yang memang dimakamkan disana. Karena waktunya yang sudah malam waktu itu.


" Baiklah. Kita semua ikut. "


" Papa gak sibuk ? Kan aku bisa pergi sendiri. "


" Kan adaa kamu yang bantuin kalo pekerjaan Papa numpuk. "


" Issshh,, daasar. "


" Mama ke kamar dulu Pa. Semuanya. "


Pratama hanya mengangguk dan ikut duduk bersama Joe menikmati pisang goreng buatan Ibu. Laras berdiri.


" Mau kemana Ras ?"


" Mau ke toilet bentaar Bu."


Raatih menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya. Tangisnya pecah. Kenapa masih terasaa sakit ? Batinnya sambil memukul dadanya yang terasa sesak.


Suaras ketukan dipintu membuat Ratih menghapus air matanya dengan segera. Kemudian membuka pintunya yang dikira Pratama.


" Boleh Laras masuk Ma ?"


" Ada apa Ras ? Bukannya Papa ada dibawah ?" kata Ratih tanpa membuka pintunya.


" Jadi aku gak boleh masuk kalo gak ada Papa ya Ma. "


" Eeh,, bukan begitu. Masuklah. "


Laras masuk setelah Ratih membuka pintunya agak lebar. Kemudian menutupnya tapi belum juga tertutup dia sudah dikagetkan dengan pelukan Laras dari belakang.


" Maafkan kami Ma. " bisiknya.


" Ma,,af untuk apa ?"


" Aku tahu masih ada luka dihati Mama. Dan aku mewakili Ibu kandung Laras minta maaf pada Mama. "


Ratih kembali menangis tersedu-sedu. Laras melangkah maju ke depan Ratih dan memeluknya.


" Maafkan kami sudah mengungkit luka itu Ma. Aku gak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengunjungi makam Ibu sebelum aku menikah. "


" Mama mengerti Ras. Mama baik-baik saja. "


Laras melepaskan pelukannya dan membawa Mamanya ke sofa.


" Aku wanita seperti Mama. Aku juga bisa merasakan sakit itu Ma. Tidak ada satupun didunia ini yang sanggup diduakan oleh suaminya Ma. "


" Itu hanya masa lalu Laras. "


" Dan Mama belum sepenuhnya memaafkan Papa ?"

__ADS_1


" Apa maksud kamu. Dengan menerima kalian disini. Itu berarti Mama sudah memaafkannya."


" Mama,, memang sudah menerima kami disini. Tapi, Mama hanya memaafkan almarhumah Ibu. Bukan memaafkan Papa. "


" Sudahlaah Ras. "


" Ma,, Papa salah Ma. Biarkan Laras minta maaf atas nama orang tua Laras. " kata Laras sambil mencium punggung tangan Ratih dengan takzim dan lama.


Ratih menarik tubuh Laras kedalaam pelukannya. Dan menangis sesenggukan kembali.


" Bukan kamu yang salah. Kamu juga terluka karenanya. Kamu gak salah. Mama yang gak bisa seikhlas kamu untuk menerima dan memaafkannya sayang. Tolong ajari Mama ikhlas itu. Ajari Mama sayang. Rasanya masih sakit Ras. Sakit. "


Laras melihat kearah pintu. Ada Pratama dan Prita disana yang hendak masuk kekamarnya. Laras hanya menggeleng perlahan. Keduanya mengurungkan niatnya. Dan kembali menutup pintu yang masih terbuka itu.


" Bukan sakit karena Ibumu sayang. Karena Mama yakin, Ibumu pasti tidak tahu kalo Papamu sudah menikah. "


" Lalu,, kenapa sakit itu Ma ? Apa dulu Papa gak minta maaf sama Mama ?"


Ratih melepaskan pelukannya.


" Papa minta maaf sayang. "


" Lalu,, apa yang masih membebani Mama ?"


" Randy. "


" Kakak ??"


Ratih mengangguk sembari tersenyum.


" Satu kalipun, Papamu gak pernah bertanya dimana makam Kakakmu. Bahkan sampai detik ini Papamu belum pernah mengunjungi makamnya. "


Astaghfirullahaladhim,, Papa,,


Kini berganti Laras yang menangis dihadapan Ratih. Hatinya trenyuh mendengarnya. Apalagi Pratama, yang diluar sedang mendengarkannya. Dia bahkan dengan lemasnya tersandar didinding hingga jatuh ke lantai karena menyadari kesalahannya. Prita menangis bersandar di bahu Papanya sambil menggenggam tangan Pratama.


" Mama sudah memaafkan Papamu sayang. Sudah, jangan menangis lagi."


" Dimana makam Kakak Ma ?"


" Didekat makam Ibumu. "


Baik Laras dan Pratama tersentak kaget.


" Karena Kakakmu kecelakaan saat Papa menikah dengan Ibumu. Sikon waktu itu tidak memungkinkan untuk membawa jenazahnya ke Jakarta. Jadi, Rudy memakamkannya di makam yang sama dengan Ibumu."


" Bagaimana Mama tahu makam Ibu ?"


" Karena Papa selalu menyempatkan diri kesana setiap kali mencari keberadaanmu dan Joe. "


" Maafkan ketidak tahuan Papa Ma. "


" Mama memaafkannya. "


" Kenapa Mama tidak mengatakannya ke Papa ?"


" Untuk apa ? Papamu tidak pernah menanyakannya. "


Laras menunduk menyesali tindakan Papanya.


" Laras. Ini salah Mama. Selama ini Mama selalu ingin terlihat baik-baik saja. Mama sampai lupa bagaimana perasaan Mama dan perasaan Prita. Yang terfikirkan hanya Aku baik-baik saja. "


" Sampai aku bertemu dan tinggal dengan Bu Suci. Mama ingin meniru Ibu Suci. Mama ingin dikeluaraga Mama seperti keluargamu sayang. Setiap keluarga selalu tahu apa yang terjadi pada anggota keluarga yang lain. Akhirnya Mama jadi tahu kalo selama ini Prita kesepian, dan lebih memilih menulis untuk menghilangkan kesepiannya. "


" Apa Mama akan baik-baik saja kalo besok ikut ke Makam ?"


" Tentu saja. Mama baik sayang. "


" Aku bertanya yang disini Ma."


Ratih terdiam saat Laras meletakkan tangannya didadanya. Dia menghela nafas kemudian mengeluarkannya perlahan.


" Karena itu, Mama memintamu mengajari Mama agar bisa seikhlas kamu . "


" Berdaamai Ma. Berdamai dengan masa lalu. Mencoba memaafkan masa lalu Laraas. Itu yang Laras lakukan selama ini. "


" Mama akan mencobanya sayang. "


" Sekali lagi,, Laras minta maaf atas nama orang tua Laras Ma. Maafkanlah Ibu dan Papa. "


Ratih tersenyum. Kemudian mengangguk pasti.

__ADS_1


" Mama memaafkan Ibu dan Papamu sayang. Sudah jangan menangis lagi. Pergilah ke bawah. Nanti Papamu dan yang lainnya mencarimu. Mama akan cuci muka dulu. Setelah itu Mama akan menyusulmu. "


" Kita barengan aja Ma. Laras juga ikut cuci muka disini ya. "


" Baiklah. Sana cuci muka dulu. "


" Ayo,, barengan aja Ma. "


" Dasar,, manja ya. "


" Sekali-kali Ma. "


Ratih terkekeh kemudian menggandeng Laras kekamar mandi.


" Maafkan keegoisan Papa, Prita. Kamu dan Mamamu jadi seterlukaa ini. "


" Itu sudah berlalu Pa. Berdirilah Pa. Sebelum Mama tahu kita disini sedari tadi. "


Praatama mengangguk dan beranjak menuju ruang kerjanya. Sedangkan Prita sendiri menuju kamarnya karena mendengar baby Al menangis.


****


Laras dan Ibunya saling berpandangan saat melihat mobil Bram, mobil Nico dan juga mobil Astrid berdatangan kerumah Pratama. Belum lagi, Azka, Mei, Ruly, Prita dan Joe juga sedang menyeret kopernya kekuar rumah. Diikuti Nenek , Pratama, dan juga Ratih.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumslaam. "


" Ini,, semua mau kemana ?" tanya Laras bingung.


" Tentu saja kami akan ikut denganmu. " jawab Astrid. Apalagi Mahira yang sudah menggandengnya.


" Aku hanya ingin mengunjungi makam Ibu lho ini. "


" Sekalian mau datang ke grand opening mall Kak Damian Kak Laras. "


" Kamu bilang Mas Damian kalo kita mau kesana ?"


" Gak dooongg. "


Laras tersenyum senang.


" Ini gimana kita berangkatnya Pratama ? "


" Bram. Kamu kan pake mobil panjag. Jadi, keluargaku ikut dengan mobilmu. Mama Ayu dan Nenek bisa ikut mobil Nico. "


" Pratama, Laras biar ikut kami. " seru Astrid.


" Kamu bawa supir ?"


" Aku masih sanggup nyetir. "


" Sudah. Biar Joe dan Ryan saja yang nyetir. Bisa Joe ?"


" Siappp Pa. "


" Jangan ngebut nak. " tegur Ibu.


" Iya Bu. "


Pratama terkekeh melihat Mahira yang nampak celingukan.


" Kamu mencari Reymott ? Dia dan keluarganya sudah berada disana semalam. Aku meminta Rudy untuk menyiapkan penginapan buat kita semua. "


" Tapi, Pa. Kami bisa pulang ke rumah Ibu. " protes Laras.


" Dan bertemu dengan keluarga Darmaji ? Aku gak mau. Apalagi yang aku dengar, Akbar sudah bebas bersyarat. "


Nyali Laras menjadi ciut.


" Apaa ?! Semudah itu ?!" seru Bram tak terima.


" Kalian bisa melihat rumah kalian diwaktu pagi dan sore harinya kita pulang. Tidaka apa-apa kan Bu Suci."


" Tidak apa-apaa. Keselamatan kita paling penting. "


" Syukurlah. "


" Bram, Nico,, pastikan anak buahmu siaga. "


" Beres. "

__ADS_1


" Ayo kita berangkat. "


" Bismillahirrahmaninrrahim.. "


__ADS_2