
Arka menjumpai pengacara keluarga Dewantara, rupanya mamanya sudah menuliskan wasiat bahwa semua harta warisannya jatuh kepada Mawar.
Saat itu Rita tidak mengetahui bahwa salah satu cucunya hidup. Pilihan satu-satunya adalah Mawar, perempuan baik-baik yang dinikahi kedua putranya lalu disia-siakan oleh anak bungsunya.
Sementara itu Arka hanya mendapatkan 20 persen dari semua harta kekayaan mamanya itu.
**
Setelah menemui pengacara ada perasaan lega di hati Arka karena mengetahui hal itu. Arka tahu Mawar perempuan baik-baik ia akan menjaga harta mamanya dengan sebaik-baiknya.
"Sebaiknya aku temuin Mawar di Villa buat bahas semua ini," tutur Arka.
Sementara itu Mawar sedang sibuk bermain dengan Matteo di dalam Villa, tak lama datang Langit mengetuk pintu.
Dari suaranya Mawar sudah kenal suara siapa di luar. "Masuk aja," ucap janda cantik itu.
Akhirnya Langit masuk, kali ini ia membawa sebuah buket bunga mawar.
"Pagi Mawar," sapa Langit.
"Pagi, tumben udah ke sini pagi-pagi ada apa?" tanya Mawar.
"Aku ke sini cuma mau ngasih bunga ini," Langit menyodorkan bunga itu pada Mawar.
Mawar tersenyum heran. "Ada acara apa bawain aku bunga mawar?"
Lantas pipi Langit memerah. "Ah cuma iseng aja buat kamu bunga mawar untuk perempuan bernama Mawar," tutur Langit.
Mawar tersipu malu lalu mencubit lengan kekar Langit. "Apaan si aneh banget," ujar Mawar.
"Ih serius, ini asli loh. Kamu pajang ya di kamar biar inget aku terus," goda Langit.
Mawar mengambil bunga itu dari tangan Langit lalu masuk kamar dan menyimpannya.
"Thanks," tutur Langit.
"Oke, tapi kok rasanya aneh ya dibawain bunga sama bujangan," goda Mawar.
Mereka berdua tertawa. "Umur kita sama kok,"
"Eh iya, boleh minta tolong gak jagain Matteo dulu aku mau keringin baju di mesin cuci bentar ya," ucap Mawar.
__ADS_1
"Siap bos,"
Mawar pergi ke belakang sementara Langit menemani Matteo yang sedang tiduran di tempatnya.
'Entah kenapa perasaan ini semakin kuat, bukan hanya pada Mawar tapi juga pada anak ini. Mereka berdua seperti hidupku saat ini.' Batin Langit.
Setelah Mawar selesai dengan pekerjaannya, ia kembali menemui Langit dan anaknya. Mawar melihat Langit sedang menatap Matteo begitu dalam, entah apa arti dari tatapan itu.
"Serius banget lihatin anak aku, ganteng ya?" ucap Mawar pada Langit.
Langit tersenyum. "Gak tahu, seneng aja bawaannya bikin adem lihat anak ini," tutur Langit.
Di sela-sela obrolannya tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. "Biar aku aja," tutur Langit.
Ia membukakan pintu, rupanya Arka yang datang. "Ada perlu apa datang ke sini?" tanya Langit.
"Mawarnya ada?" tanya Arka dengan wajah serius.
"Ada," jawab Langit lalu memanggil Mawar.
Mawar keluar sambil menggendong Matteo. "Mas Arka?" ucap Mawar.
"Aku perlu bicara sama kamu, berdua," tutur Arka.
"Tapi aku maunya berdua ini urusan kita gak perlu melibatkan orang lain." Tegas Arka.
"Langit bukan orang lain Mas, dia penting dalam kehidupan aku!" tegas Mawar.
Setelah berdebatan itu Mawar mengajak Arka dan Langit duduk di kursi yang berada di luar Villa.
"Ada perlu apa lagi Mas? Bukannya semua udah selesai?" tanya Mawar.
Arka menyodorkan sebuah dokumen yang berisi tentang harta gono-gini keluarga Dewantara.
"Kamu baca baik-baik isinya," tutur Arka.
Mawar membaca dokumen itu dengan seksama, matanya membulat saat tahu 80% harta kekayaan keluarga Dewantara jatuh ke tangannya.
"Aku gak bisa terima ini Mas, aku gak pantas. Aku cuma menantu bukan siapa-siapa seharusnya semuanya buat kamu aku gak perlu harta sebanyak itu," ujar Mawar.
"Mawar tapi ini semua dari mama, mama yang udah buat wasiat itu!" ujar Arka.
__ADS_1
"Ya tapi aku gak butuh semua itu, lagian aku gak bisa urus harta sebanyak itu aku gak paham. Kamu yang lebih berhak atas semuanya," jawab Mawar.
"Tapi di sini ada anak kita!" tegas Arka.
"Anak kita masih kecil dia gak akan mengerti soal ini, sebaiknya kamu urus kembali semuanya Mas."
"Aku gak bisa," tutur Arka.
"Ya udah kalo gitu rubah semuanya atas nama Matteo di saat ia berusia 17 tahun!" tegas Mawar.
"Terus kamu gimana? Ini semua buat kamu Mawar,"
"Mas denger ya, aku seneng kok hidup sederhana kaya gini lagian aku masih punya toko kue buat hidupin aku sama Matteo."
"Oke kalo itu mau kamu, semua harta warisan akan dibalik nama menjadi Matteo Dewantara setelah dia berusia 17 tahun," ujar Arka.
"Iya Mas, aku setuju."
Langit hanya diam sambil memangku Matteo, karena semakin tidak nyaman akhirnya Langit izin membawa Matteo masuk.
"Mawar aku izin bawa Matteo masuk ya, kayanya dia kedinginan," ujar Langit.
Mawar hanya mengangguk.
Setelah tinggal berdua Mawar malah merasa canggung. Tidak ada lagi rasa itu, semuanya sudah sirna ditelan rasa sakitnya selama ini.
"Gimana soal amanah mama itu apa kamu mau?" tanya Arka tiba-tiba saja.
Mawar tercengang mendengar pertanyaan itu. "Pertanyaan macam apa itu Mas, jelas aja aku menolak. Semuanya sudah selesai aku bilang tidak akan dimulai kembali," ujar Mawar sedikit emosi.
"Tapi gimana soal amanah itu? Kamu tega mengingkarinya?"
"Aku belum sempat mengiyakan permintaan mama itu kan? Permintaan itu terlalu berat buat aku," pungkas Mawar.
"Kita bisa memulai semuanya kembali, aku janji bakalan lebih baik lagi buat kamu sama anak kita," ujar Arka.
"Semua perasaan aku udah lenyap Mas, aku gak bisa memulai sesuatu yang udah selesai,"
"Tapi ..,"
"Sebaiknya kamu pulang Mas, dan asal kamu tahu hati aku udah bukan buat kamu lagi,"
__ADS_1
Buat siapa ya kira-kira readerss?? tebak ya di kolom komentar.