
Mawar menghapus air matanya berusaha menguatkan hatinya yang hancur berkali-kali itu.
Sambil menarik nafasnya Mawar mengatakan. "Lebih baik kita selesai Mas." Ucapnya.
Arka tercengang dengan ucapan Mawar itu. "Maksud kamu apa Mawar? selesai?"
"Iya selesai, kamu dengan jalan kamu sendiri begitu juga dengan aku." Ujar Mawar.
Bagai teriris pisau mendengar ucapan Mawar itu, sakit yang dirasakan Arka mungkin tak seberapa dengan apa yang diderita Mawar selama ini karena ulahnya.
Arka beranjak dari duduknya lalu mendekati Mawar yang masih berdiri membeku.
"Kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya, tolong Mawar." Ucap Arka berkaca-kaca.
"Yang sudah hancur pasti sulit untuk diperbaiki apa lagi soal hati." Tegas Mawar.
"Kamu boleh hukum aku semau kamu tapi jangan pernah ucapkan kata itu lagi Mawar, entah kenapa aku sakit sekali mendengarnya."
"Kenapa Mas? bukannya ini mau kamu sejak awal, sejak awal kamu emang berniat untuk menceraikan aku." Tutur Mawar bergetar.
"Sekarang aku sadar Mawar kalau aku cinta sama kamu .., " lirih Arka.
Mendengar ucapan itu air mata Mawar kembali mengalir deras. "Cukup Mas cukup!!"
"Aku cinta kamu Mawar, aku janji bakal jadi suami dan ayah yang baik untuk anak kita nanti." Ujar Arka penuh emosi.
"Ucapan itu, ucapan manis itu yang selama ini aku tunggu dari mulut kamu Mas. Kenapa baru sekarang kamu bilang kamu cinta sama aku, di saat perasaan aku udah mati sama kamu." Ujar Mawar.
"Aku tersiksa menahan rindu sama kamu Mawar, karena kegengsian aku karena keegoisan aku kamu pergi aku emang bodoh! aku bodoh!"
"Semuanya udah selesai Mas, aku udah gak bisa lagi ngasih kamu kesempatan. Aku terlalu cape sama semuanya, jadi biarkan aku bahagia dengan jalan aku sendiri." Tutur Mawar.
"Aku mohon kasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku bisa lebih baik dari dulu, kamu percaya kan?" tanya Arka.
"Percaya kamu bilang? percaya? selama ini aku selalu percaya sama kamu Mas tapi kamu selalu mematahkan kepercayaan aku itu!" tegas Mawar.
"Kali ini aku serius, kasih aku satu kali lagi kesempatan." Rengek Arka.
"Mendingan sekarang kamu pergi Mas, kamu pergi jauh-jauh dari hidup aku karena selama ini yang membuat hidup aku menderita itu kamu." Ucap Mawar.
"Mawar tapi ..,"
"Pergi!!" teriak Mawar.
"Iya, aku bakalan pergi tapi aku bakalan balik lagi aku gak mau kehilangan kamu lagi Mawar, aku cinta kamu." Ucap Arka.
__ADS_1
Arka pun keluar dari ruangan Mawar, semua karyawan memperhatikan Arka. Beberapa dari mereka kenal Arka karena ia adalah pengusaha kaya raya dan juga suami Mawar.
Di sisi lain Mawar menangis sejadi-jadinya di ruangan itu, hanya dia sendirian yang mampu mendengar suara tangisan itu. Begitu sesak dadanya ketika berhadapan dengan Arka lagi, orang yang telah membuat hidupnya hancur berantakan sampai mentalnya down.
Sebenarnya Mawar tak ingin anaknya lahir tanpa seorang ayah tapi di sisi lain ia juga harus memikirkan mentalnya yang baru saja sembuh. Ia harus bahagia dengan hidupnya tanpa harus menahan beban lagi.
'Jalan kita sudah berbeda mas Arka, kamu yang membuat jalan itu buntu.' Ucap Mawar dalam hatinya.
Tiba-tiba saja ada seseorang mengetuk pintu ruangan Mawar, dengan sigap Mawar segera menghapus air matanya.
"Masuk." Ucap Mawar.
Ternyata yang masuk itu Langit. "Langit? ngapain kamu ke sini?" tanya Mawar bingung.
"Tadi aku lihat Arka keluar dari toko kamu, jadi aku ke sini cuma mau mastiin kamu baik-baik aja." Jawab Langit.
Tanpa berpikir panjang Mawar langsung memeluk Langit dengan erat lalu meluapkan tangisnya.
"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik aja Mawar." Ucap Langit yang juga membalas pelukan Mawar.
Langit memejamkan matanya, kerinduan yang selama ini ia pendam seolah mencair dengan peluk hangat Mawar. Langit mengelus-elus kepala Mawar.
"Gapapa luapin aja semuanya kalau itu bikin kamu tenang." Ucap Langit.
Mawar tak menjawab ia terus menangis sejadi-jadinya dipelukan Langit sampai jas Langit basah karena air matanya.
Mawar pun menganggukan kepalanya, Langit melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Mawar.
"Maaf." Ucap Mawar karena sudah lancang memeluk Langit.
"Gapapa, aku bakalan selalu ada buat kamu." Ujar Langit.
Mata Mawar sembab karena sejak tadi ia menangis tanpa henti. "Yaudah sekarang kita pulang ya." Ujar Langit.
Mawar kembali menghapus air matanya lalu memakai kaca mata hitam untuk menutupi mata sembabnya itu.
Langit membukakan pintu untuk Mawar, lagi-lagi karyawan memperhatikan mereka terutama Vina.
'Bukannya tadi itu suaminya kok sekarang malah sama laki-laki lain gatel banget sih jadi cewe kesel banget gue lihatnya pengen gue jambak.' Batin Vina.
Sesampainya keluar Mawar menghentikan langkahnya. "Makasih ya, tapi aku bawa motor kok kamu gak perlu anterin aku." Ujarnya.
"Motor kamu biar karyawan kamu aja yang anterin pulang, mereka tahu kan rumah kamu?" tanya Langit.
"Gapapa, gak usah repot-repot." Ujar Mawar.
__ADS_1
Langit memanggil salah satu karyawan Mawar lalu memintanya untuk mengantarkan motornya pulang setelah toko tutup dan karyawan itu pun setuju.
"Beres kan? ayo aku anterin, lagian mata sembab gitu gak baik bawa motor." Tutur Langit.
Mawar pun terpaksa mengikuti ucapan Langit. Mawar hendak membuka pintu mobil Langit tapi Langit lebih dulu membuka kan pintu untuknya.
"Makasih." Ucap Mawar.
Di perjalanan Mawar terus melamun dengan tatapan kosongnya, Langit berusaha mengajaknya bicara agar Mawar tak lagi melamun.
"Kamu udah makan?" tanya Langit.
"Aku gak mood makan." Ujar Mawar.
"Kamu kan lagi hamil, kasihan anak kamu loh nanti dia kelaperan." Ucap Langit.
"Nanti aku makan di rumah."
"Yaudah gimana kalau aku yang masakin?" tanya Langit.
Mawar tersenyum tipis. "Gak usah, gak enak. Aku kan masih istri sah orang lain."
"Aku tahu, tapi anggap aja aku temen kamu. Bukan bagian dari masalalu kamu." Jawab Langit.
'Langit? lagi-lagi kamu yang ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk menemani sepiku.' Batin Mawar.
"Gimana mau gak?" tanya Langit.
Selain dokter kandungan Langit juga hobi memasak sejak SMA jadi Mawar tidak perlu meragukan masakan Langit lagi.
"Yaudah tapi cuma kali ini aja ya."
"Oke gapapa." Ujar Langit.
Sesampainya di rumah Mawar, mereka langsung masuk dan Mawar menunjukan dapurnya di mana.
"Kalau gitu kamu duduk di sini, tungguin aku masak." Langit meminta Mawar duduk di kursi meja makan.
"Iya, tapi kamu mau masak apa buat aku?"
"Ada bahan apa di kulkas? boleh aku cari?" tanya Langit dengan sopannya.
"Kalo gak salah ada udang, cumi, terus wagyu." Jawab Mawar.
"Yaudah aku masak dulu ya. Jangan ngelamun lagi."
__ADS_1
Mawar pum merasa ada teman karena Langit di sisinya.