Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bbab 111


__ADS_3

Pratama menatap menatap tajam ke arah Darmaji dan keluarganya yang juga tengah menunggu kedatangan Akbar di ruang tunggu penjara.


Saat Akbar keluar dari sel. Kaget karena sudah ada bannyak orang disana. Bukan hanya keluarganya tapi seorang Pratama Dirgantara.


Pratama langsung melayangkan pukulan pada Akbar. Rasanya belum puas kalo belum melihat Akbar babak belur. Untung saja keluarga Darmaji dan keluarganya berhasil menarik Pratama dari tubuh Akbar.


" Jangan pukul anakku lagi. " keluh istri Darmaji.


" Aku pastikan kali ini kamu akan membusuk dipenjara !!" bentak Pratama.


" Kenapa kamu sangat membenci adikku, Tuan ?" protes Maksum yang juga ada disana bersama Ummi Iiffaah.


" Kenapa ? Setelah apaa yang diperbuat adikmu pada anakku ?!"


" Anak ? Dia sama sekaali tidak mengenal anakmu. " prootes Darmaji.


" Laras itu,,, "


Joe mencengkram lengan Pratama untuk tidak mengatakan apapun. Pratama terdiam.


" Aku sudah menganggap Laaras sebagai anakku sendiri Darmaji !"


" Anakku hanya marah melihatmu mencabut investasimu tanpa ada kesalahan yang jelas. " jelas Darmaji.


" Tanpa ada kesalahan yang jelas ? Semua bukti kecurangaan yang dilakukannya sudah ada didepan mata dan kamu bilang gak ada alasan yang jelas ??!!"


" Kecuraangan ???"


" Tanyakan pada anakmu , berapa banyak keuntungan yang dia ambil dari proyek Mega Bintang selama dia menggantikanmu. " seru Nico marah.


" Dan tanyakan juga apa yang hampir dia lakukan saat menculik Laras dulu ?!" bentak Bram.


" Menculik Laras ?" tanya Maksum heran.


" Dia hampir melecehkan Laras saat menculiknya dulu." seru Nico.


Plaaakkk,,,!!!


Istri Darmaji menampar Akbar dengan keras.


" Ummimu seorang wanita Akbar ! Kenapa kau berani-beraninya melecehkan wanita !!!" bentaknya.


" Apakah aku yang harus mengotori tanganku untuk membelaa adikku ?? Belum cukup semua penghinaan dan fitnah kalian pada adikku ?! "


" Kita pergi Mas. Pa. " ajak Joe.


Dia mengikuti Papa dan kedua Papinya dan juga Kakaknya, hanya ingin memastikan keluarganya tidak bertindak lebih jauh lagi. Dia tidak mau Laras sampai kepikiran dan sakit.


" Bram,, Nico,, berikan semua bukti ke kejahatannya pada polisi. Juga, kejahatannya yang menyuruh orang untuk merusak rem mobilku hingga aku kecelakaan. "


" Siapp. " jawab keduanya.


Pratama pergi dengan raut wajah penuh amarah. Diikuti Joe dan Ruly. Mereka menunggu Bram dan Nico dimobil agar lebih tenang.


Darmaji menatap Akbar tajam. Tidak menyangka kecelakaan Pratama juga disebabkan oleh Akbar.


" Tidak henti-hentinya kamu mempermalukanku. Biarkan penjara yang mendewasakanmu. Kali ini, tidak ada yang boleh membebaskannya. " tegas Darmaji kemudian keluar dari ruang tunggu diikuti tatapan penyesalan Akbar.


" Aku akan membalasmu Laras,,!!! " teriaknya.


Tentu saja Bram yang masih ada diluar ruangan kaget mendengarnya.


" Nico,, pastikan kali ini dia dihukum seumur hidup. Aku takut kebebasannya benar-benar akan berakibat fatal pada Laras kedepannya. "


" Aku sudah memberikan semua bukti kejahatannya. Pengacara yang akan melanjutkan sisanya. Kita perkuat penjagaan untuk Laras kedepannya. "


Bram mengangguk setuju. Keduanya beranjak pergi setelah meminta pengacara perusahaan memastikan hukuman seumur hidup untuk Akbar.


****


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Tiwi membuka pintu kamarnya dan langsung kaget saat Laras ada disana sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman.


" Boleh aku masuk ?"


" Aahh iya Kak. Aku bantu Kak. "


" Gak usah. Kamu kan lagi sakit. "


Laras meletakkan nampan berisi makanan itu diatas meja disamping ranjangnya.


" Makanlah Wi. Kan kamu belum makan si,,, Ya Allah Tiwi !!! Kenapa kamu lepas perbannya ?!"


Tiwi tersenyum keki sambil menarik lengan bajunya agar menutupi lukanya yang dilepaskannya sebelum mandi.


" Risih Kak. "


" Kenapa kamu seceroboh itu. Nanti lukanya infeksi. Aku akan panggil dokter. "


Tiwi menarik tangan Laras dan menggenggam kedua tangan Laras. Hatinya kembali disergap keharuan luar biasa.


" Kak Laras,,aku baik-baik saja. Aku sudah tegaskan dari tadi, kalo aku benar-benar baik-baik saja Kak. Luka seperti ini sudah biasa untuk kami yang berada di level pasukan bayangan Kak. "


" Tapi,, kamu terluka karenaku Wi. Aku hanya mengkhawatirkanmu. "


" Jangan seperti ini Kak. "


" Kenapa ?"


" Aku,, nanti aku semakin lancang menganggap Kak Laras sebagai Kakakku sendiri. "


Tiwi tertunduk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.


" Gak pernah ada satupun yang sedemikian perduli padaaku seperti Kak Laras. Kekhawatiran Kak Laras berlebihan untukku yang hanya seorang,,, "


" Hanya seorang apa ?!! Kamu saudaraku Wi. Gak pernah sekalipun aku menganggapmu orang lain. Kamu sama seperti saudaraku yang lainnya. Kamu sama seperti Azka dan Mei. "


Tiwi memeluk Laras karena terharu dengan kata-katanya. Tidak mungkin orang biasa spertinya menjadi bagian dari keluarga besar Dirgantara.


Laras melepaskan pelukannya. Dan menyentuh luka di lengan Tiwi yang memang sudah menutup. Meski belum benar-benar mengering.


" Jangan terluka lagi Wi. "


" Aku gak bisa menjanjikannya Kak. Tapi aku akan lebih hati-hati ke depannya. "


" Aku gak mau dengar lagi. Keluarlah dari asrama Papi. Tinggalah bersama kami. "


" Kak,, aku bukan siapa-siapa. Aku juga betah di asrama Papi. "


" Kamu saudaraku, kamu adikku sejak memanggilku Kakak. Aku gak mau kamu terluka lagi. Aku mohon. "


" Dia akan keluar dari asrama Ras. Papi akan memastikannya." kata Bram yang berada di depan pintu kamar Tiwi.


" Papi ngusir Tiwi ?"


" Bukannya mengusirmu Wi. Tapi Mami Sekar sekarang kan lagi hamil. Papi mau kamu sedikit membantunya nanti. "


" Jadi, aku tinggal bersama Papi Bram dan Mami Sekar ?"


" Tentu saja, Wi. " jawab Mami Sekar.


Pratama masuk diikuti keluarga yang lain.


" Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga besar Dirgantara Wi. Kamu anak Bram dan Nico, tentu saja kamu menjadi anakku juga. Sama sepeti Azka dan Mei."


Tiwi menuutup wajahnya dan terisak. Laras hanya tersenyum penuh terima kasih atas pengertian semua keluarganya.


Pratama mendekat dan memeluk Tiwi.


" Terima kasih sudah menjaga dan menyelamatkan Kakakmu. Laras. Teruslah menjadi penjaga untuk kakakmu dan keluarga baru kamu ini. "


" Terima kasih ,, terima kasih,, "


" Sudah melownya ah. Ayo kita berangkat ke mall Damian. " seru Joe.


" Laras,, apa kamu mau dirumah saja ?" tanya Mami Ciia khawatir.


" Dan membiarkan sayangnya yang di mall gak konsen Mi ? Kayaknya bukan ide bagus Mi. " sindir Mei.


" Aku ikut Mi. " jawab Laras.


" Bisa-bisa Damian yang kesini nantinya kalo Laras tidak ikut. " celetuk Azka.


" Mau sampai kapan ini meledekku ? Jadi berangkat gak ? " geram Laras.


" Tiwi, bersiaplah. Kami tunggu dibawah." seru Mami Sekar sambil tersenyum.


Ibu mengulurkan tangannya dan Laras menggandeng lengannya dengan manja.


" Ibu, sekarang lebih sayang ke Laras daripada Azka. " bisik Azka sembari menggandeng lengan Ibu yang satunya.


Laras terkekeh melihat Azka sedang merajuk. Dan semua pasti tahu kalo dia sedang ada yang dibicarakan.


" Gak usah merayu Ibu. Pokoknya Ibu tetap dukung keputusan Masmu. Pernikahan kamu bareng sama Laras."


Azka makin cemberut karena Ibunya tidak bisa dirayu lagi.


" Ibuu,, kan Azka mmasih mau kerja. "


" Kerja ya kerja sono. Kalo hamil baru resign. Iya kaan Bu." sahut Joe.


" Kamu,, ikutan aja kalo ada orang ngomong. " hardik Azka kesal.


" Lhaa kan aku punya telinga. Pokoknya pernikahan kita tetap bareng." tegas Joe.


" Kamu itu,, udah siap apa dengan tanggung jawabnya. "


" Siap gak siap ,, harus siap. Ada anak gadis orang yang mau aku nafkahin. Masa mau gantungin hubungan gitu aja. Ogah ah. Aku mau jadi laki-laki tanggung jawab. Kan aku anak kesayangan Ibu."


Ibu menjadi tertawa. Terharu dengan kalimat Joe.

__ADS_1


" Kalian semua kesayangan Ibu. Kalian anak-anak hebat Ibu. Tetap rukun,, tetap saling menyayangi. Meskipun Ibu nanti sudah tidak ada. "


" Ibu itu ngomong apa. Ibu harus panjang umur. Sehat selalu. Ada doa Ibu yang selalu kami butuhkan. "


" Benar Bu kata Laras. Azka masih membutuhkan Ibu."


" Kalian kan mau menikah. Ada suami dan istri kalian yang akan menggantikan Ibu nantinya. "


" Gak ada yang bisa menggantikan posisi Ibu dihati kami. Ibu hebat,, Ibu baik hati. " kata Joe sambil berjalan mundur dengan berpegangan pada bahu Ryan.


Laras melihat Ryan. Bukannya dia kekasih Tiwi. Kenapa Papi gak menikahkan mereka dihari yang sama dengan kami nanti. Pikirnya.


" Joe benar Bu. "


" Iya. Kali ini Azka juga setuju. "


" Ibu tahu. Karena Ibu punya anak-anak hebat. Joe, berhenti berjalan mundur. Nanti kamu jatuh. Kasihan Ryan. Kamu jangan menyusahkan Ryan kedepannya. Dia seperti kakakmu sendiri lho. "


Joe tersenyum saat melihat ekpresi Ryan yang kaget kemudian tersenyum kikuk.


" Ryan sudah aku anggap kakak sendiri memang Bu. Menggantikan Mas Ruly yang sekarang makin terlihat kayak Papa. Kadang-kadang suka galak. "


" Aku mendengarnya ,, adik nakal. " seru Ruly sambil memukul lengan Joe hingga Joe hampir terjatuh karena kaget. Untung saja Ryan segera menangkapnya.


" Tuuhh kan. Apa Ibu bilang. "


" Ini gara-gara Mas Ruly Bu. " protes Joe.


" Mau aku pukul lagi. "


" Baby Al bangun tuh Mas. "


Ruly hanya melirik Joe sambil geleng-geleng saat melihatnya menertawakan dirinya yang sibuk mendiamkan baby Al.


****


Damian tersenyum puas melihat grand opening mallnya sukses besar. Bahkan sekarang sudah penuh mallnya. Semua barang per toko yang masuk big sale terjual habis.


" Selamat sayang,, " bisik Laras pelan sebelum berpindah tempat dengan Mahira yang terkekeh melihat Damian yang kesal karena tidak bisa menyentuh Laras.


" Selamat Damian. Mallnya sukses. " puji Pratama.


" Terima kasih Pa. "


" Almarhum Papamu pasti sangat bangga padamu. "


" Ini juga berkat support dari Mama. " jawab Damian saat Astrid mendekapnya.


" Iya. Tentunya. "


" Laras,, jalan-jalan yuk. " ajak Azka.


" Ehhh,, disini aja." seru Damian sambil menarik tangan Laras hingga bergeser ke sampingnya.


" Mas,, "


" Aku masih kangen, sayang. Kalo kalian mau jalan-jalan. Pergilah tanpanya. "


" Kok gitu sih. Gak mau. "


" Aku kasih kesempatan hari ini aja berduaannya. Ingat janjimu Damian. " celetuk Astrid.


" Iya Ma. "


" Jangan terlalu malam Laras. Besok kita berangkat pagi-pagi. Biar bisa mampir kerumah Ibumu. "


" Iya Pa. "


" Issshh,, Damian gak asyik ah. "


" Ttuh ada Kahfi. Ajak dia aja. " sindirnya.


" Lagi marahan,, " sindir Joe.


" Kenapa "


" Karena gak mau menunda pernikahan mereka. Hahah"


" Joe. Awas kamu ya. "


" Udah ah. Malu dilihatin orang. "


" Kak Laras,,, aku ikut mereka ya. Gak apa-apa kan aku tinggal ? Aku gak enak kalo harus tunggu disini. Jadi obat nyamuk nanti. "


" Ihh,, apaan sih. Kamu jalan-jalan sama Ryan gih. "


" Eh,, kenapa harus dengan Ryan ?"


" Mereka semua berpasangan lho. "


" Aku tinggal Kak Laras. " ujar Tiwi malu.


Laras terkekeh melihatnya. Kemudian tersenyum keki saat menyadari Damian tengah menatapnya.


" Mau kemakam Ibu kandungku Mas. Besok pagi Mas sibuk gak ?"


" Ehhmm,, aku ikut sayang. Besok aku free kok."


" Beneran gak lagi sibuk ? "


" Besok kan hari Minggu sayang. Lagipula aku punya istri yang cerdas. Bisa bantuin suaminya nanti. "


" Ca- lon,, " tegas Laras.


" Mau aku bawa ke penghulu sekarang ?!"


Laras menggeleng cepat. Damian mengusap kepala Laras gemas.


" Gimana perasaan Mas sekarang ? Pasti sangat puas dengan pencapaiannya kali ini. Bisa mewujudkan impian almarhum Papa. "


" Kalo bicaraa tentang kepuasan dan bahagia. Rasanya,, sangat,, sangat,, puas dan bahagia sayang. Gak bisa aku ungkapin pokoknya. Tapi sayang, ada satu yang kurang. "


" Apa itu ?"


" Aku belum mewujudkan impian Papa untuk mempunyai menantu. "


" Isshhh,,, "


Damian tertawa melihat ekpresi Laras yang kesal. Damian memegang tangan Laras dan mengeluarkan sesuatu dari jasnya. Kemudian memasangkan sebuah cincin berhias permata zamrud disana.


" Mas,, ini berlebihan. "


" Gak ada yang berlebihan sayang. Aku belum memberikan apapun padamu sayang. "


" Kan ada cincin waktu itu yang diberikan Mama. "


" Itu kan dari Mama. Itupun gak kamu pake sayang."


" Terlalu mewah Mas. Mungkin ini pun nantinya tidak akan aku pake Mas. Maafkan aku. "


" Heeemm,,, sebenernya aku kecewa sayang. Lalu, darimana cincin ini ?"


" Ini dibelikan Joe waktu dia terima gaji dari bekerja diperusahaan Papa. "


" Cincin ini simple. "


" Yah,, tapi didalamnya Joe mengukir namaku Mas. Lihatlah. " kata Laras sambil melepaskan cincin pemberian Joe.


Damian melihatnya kemudian tersenyum.


" Kamu ingin yang seperti ini sayang ?"


" Mas,, udah. Aku gak mau menerima hadiah seperti ini lagi. Ini terlalu mewah. "


" Sayang,, setelah menikah. Kamu mau kita tinggal dimana ? "


Laras tertawa sejenak membuat bingung Damian.


" Boleh kita tinggal dirumah kita sendiri Mas ?"


" Maksud kamu ?"


" Aku ingin punya rumah besar seperti Papa. Bukan masalah besar atau kecilnya sih. Tapi lebih ke,, eehhmm,, yang lebih banyak kamarnya. Mas kan tahu keluargaku dan Mama Astrid sendiri sangat posesif tentang keselamatanku. Aku ingin tinggal bersama mereka semua. Seperti sekarang ini. Tinggal disatu rumah. Setiap hari bisa berkumpul bersama. Aku pun juga gak akan kesepian kalo Mas tinggal kerja. "


Damian tertawa.


" Kok diketawain sih. Halu banget ya. " gurau Laras.


" Gak sayang. Mendengarmu bercerita. Membuatku sudah membayangkan kehidupan pernikahan kita nanti. Selama ini aku terbiasa sendiri karena aku anak tunggal. Setelah mengenalmu dan keluargamu, yang saling terbuka dan saling menyayangi satu sama lain. Aku iri,, aku ingin juga merasakannya. Aku bahkan lebih betah bersama keluargamu daripada dirumahku sendiri. Tentu saja aku akan memikirkan tentang rumah itu sayang. Aku juga ingin tinggal dan merasakan kehangatan satu keluarga sepeertimu. "


" Terima kasih Mas. Terima kasih. "


" Aku mencintaimu sayang. Entah seberapa besar rasa ini. Tapi aku janji tidak akan menyakitimu sayang. "


" Jangan menjanjikan apapun padaku Mas. Karena janji Mas nanti lebih berat tanggung jawabnya. "


" Maksud kamu sayang ?"


" Saat kalimat ijab kabul terucap, itu berarti. Kamu siap menerima tanggung jawab dari Papa. Bersedia menanggung semua dosa-dosaku. Bersedia untuk memberikanku nafkah lahir batin. Bersedia untuk membimbingku. Mengarahkanku menuju kebaikan, mencari ridho Allah. Eehhmm,, semacam kontrak dengan Allah untuk tidak menyakiti tulang rusukmu. "


" Ya Allah,, semoga Allah senantiasa memberiku kekuatan untuk itu Ras. Karena saat ini, kamu yang selalu mengingatkanku untuk beribadah. "


" Saling mengingatkan Mas. Aku juga gak sesempurna yang Mas bayangkan. "


" Aku juga sudah berkali-kali mengatakannya padamu, sayang. Aku juga brengsek sewaktu di London. "


Laras terdiam.


" Mas,, apa aku boleh tahu,, eehhmm,, itu,, "


" Yang aku lakukan di London ?"


Laras mengangguk. Damian melihat cafe di food court yang agak sepi.

__ADS_1


" Kita duduk disana ? "


Laras mengangguk kemudian membiarkan tangan Damian menggamdengnya ke arah cafe itu. Setelah memesan satu kopi latte dan satu hus alpukat. Damian kembali duduk di sebelah Laras.


" Maafkan aku sayang kalo apa yang aku katakan nanti akan menyakitimu. "


Laras kembali mengangguk. Padahal hatinya sedang berdebar kencang. Sangsi tidak akan merasa sakit dengan kejujuran Damian. Seorang pelayan mengantarkan pesanan Damian.


" Aku tidak tahu apakah waktu itu Ester, teman kuliahku. dengan sengaja menjebakku atau tidak. Dan aku juga gak tahu, aku sudah melakukan dosa itu atau tidak. "


" Maksud Mas Damian ? Siapa Ester ? "


" Ester teman kuliahku. Aku tahu kalo dia menyukaiku. Tapi aku gak terlalu menyukainya karena dia terlalu akrab dengan laki-laki. "


" Maksud Mas dengan menjebak ?"


" Waktu itu , satu orang dosen mengharuskan membuat satu kelompok belajar dengan empat orang anggota. Aku dan Rey. Ester dan juga Rose, teman Ester. Kami menunjuk apartemen Ester sebagai tempat belajar kami. "


" Dan, aku berani bersumpah sayang. Aku hanya minum jus jeruk yang dibuat Ester. Tidak ada alkohol sama sekali waktu itu. Dan aku gak tahu apa yang terjadi selanjutnya saat itu. Yang aku tahu, aku ada dikamar Ester tanpa sehelai bajupun. Dan aku lihat Ester baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrub."


Laras tiba-tiba bergidik membayangkannya.


" Kalo kamu tidak percaya. Kamu bisa menanyakannya pada Rey sayang. Karena aku sempat bertengkar dengannya karena membiarkanku melakukan dosa disana. Tapi, Rey bilang dia juga tidak sadar. Dan bangun juga tengah berada di kamar Ester satu lagi. Meskipun masih berpakaian lengkap. Tidak sepertiku."


" Eehhmm,, Mas gak bertanya pada Ester apa yang terjadi ?"


" Dia tidak menjawabnya. Dia hanya menyuruhku untuk segera pergi kekampus. Dan berjanji akan menjelaskannya dikampus. Tapi, dia mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat saat perjalanan ke kampus. "


" Innalillahiwainnalillahirojiun."


" Sampai detik ini, aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan waktu itu sayang. "


Laras hanya tersenyum. Setidaknya tak seburuk apa yang dipikirkannya selama ini.


Damian memegang tangan Laras. Wajahnya tengah diliputi ketakutan Laras akan membatalkan pernikahannya.


" Kamu kecewa padaku sayang ?"


" Maafkan aku Mas. "


" Kamu gak akan membatkan pernikahan kita kan sayang. Aku akan menculikmu kalo kamu membatalkannya. "


Laras tertawa sejenak.


" Apaan sih kok pikirannya ngawur gitu. "


" Lalu, kenapa kamu minta maaf sayang. Aku takut kamu akan membatalkan pernikahan kita. "


" Mas,, aku minta maaf karena aku sempat berpikiran buruk setiap Mas bilang kalo Mas brengsek selama di London. Aku pikir Mas jadi casanova beneran disana. Seperti yang Mama bilang. "


Damian menghela nafas panjang. Terasa lega dihatinya.


" Aku menyesal sayang. Aku gak mau melakukan kesalahan dua kali. Aku jadi lebih fokus belajar. Aku ambil semua sks agar kuliahku cepat selesai. Aku ingin segera meninggalkan London. Karena aku disana disambut dengan melakukan dosa. Aku gak mau terjebak dengan dosa-dosa yang lain. "


" Aku lega mendengarnya, Mas. Setidaknya aku gak harus menghadapi wanita yang tiba-tiba datang mengaku sebagai kekasihmu Mas. "


" Aku gak seburuk itu sayang. Dosa terindahku hanya menciummu waktu itu. "


" Iiiihhh,, dosa terindah Mas bilang ? Aku harus opname dirumah sakit. Dan Ibu harus tertabrak motor karena panik dengar traumaku kambuh Mas. "


" Iya,,, iya,, maafkan aku. Terindah karena akhirnya aku bisa menjadikanmu istriku. "


" Ca- Lon. "


" Aku serius akan membawamu ke penghulu kalo kamu terus saja menggodaku seperti itu sayang. "


Laras kembali menggeleng dengan cepat. Karena dia tahu seperti apa Damian. Semakin ditantang, dia akan semakin melakukannya.


" Makanya jangan memancingku. " guraunya sambil menarik hidung Laras.


" Iya. Gak lagi. Kita pulang sekarang Mas ?"


" Baiklah. "


Laras dan Damian keluar dari mall. Ternyata keluarganya masih dilantai dasar. Sedang melihat penampilan artis ibu kota.


" Mau pulang sekarang ?" tanya Ratih.


" Iya, Ma. Aku kira semuanya sudah pulang Ma. "


" Azka, Mei, Sekar dan Valencia sedang membeli makanan. "


" Tanpa ada yang menemani ?"


" Ada pengawal Bram mengikuti mereka. "


" Aah,, syukurlah. Papa, Papi Bram dan Papi Nico dimana ?"


" Sedang mengambil mobil. "


" Nenek sama Ibu ?"


" Mereka pergi dengan Astrid. Ingin membeli beberapa kain katanya."


" Kenapa Mama sendirian disini ?"


" Gak sendirian kok. Aku dan Mahira menemani Tante tadi. " sahut Rey.


" Kami membelikan Tante Ratih minuman Kak Laras. "


" Laras. Kamu pulang bareng kami ?"


" Iya Mi. "


" Sama aku sayang. Aku anterin." ralat Damian.


" Gak sibuk ?"


" Biar Raka yang handle. "


Laras hanya mencibir begitupun Mahira.


Akhirnya mereka keluar dari Mall saat semuanya sudah berkumpul. Tapi, diluar mall, Sekar tiba-tiba ditarik oleh laki-laki. Hingga semuanya berhenti. Joe mendekat dan menepis tangan laki-laki itu agar melepaskan Sekar.


" Sekar,, kamu ada disini ? Siapa dia ? Kenapa kasar sekali. "


Sekar melihat laki-laki itu sambil memegang bahu Joe agar tenang.


" Mas Adit ?"


" Iya. Ini aku. "


" Apa kabar Mas. Dimana Zuly Mas ?"


" Jangan sebut wanita ****** itu !"


" Istighfar Mas. Dia istrimu. "


" Aku sudah menceraikannya. Dia menipuku. Anak yang dikandungnya bukan anakku Sekar. Kembalilah padaku Sekar. Kita mulai semuanya dari awal lagi. " kata Adit sambil kembali memegang pergelangan tangan Sekar.


" Lepaskan Mas. Aku,,"


" Lepaskan tanganmu dari istriku. " hardik Bram sambil menepis tangan Adit dengan kasar.


" Awww.. "


Sekar mendekap Bram agar tidak emosi.


" Adit, kenalkan ini suamiku, Mas Bram. Mas Bram,, ini Mantan suamiku. Adit. " kenal Sekar dengan tidak lagi memanggil mantan suaminya dengan sebutan Mas. Dan menekankan kaata Mantan.


" Kamu menikah lagi Sekar ? Secepat itu ?"


" Secepat itu ? Gak salah ?"


" Jangan ganggu istriku lagi. Atau kamu akan tahu akibatnya. Ayo kita pergi. Anak kita gak rewel kan ?"


" Anak ? Kamu hamil Sekar ?"


" Alhamdulillah. "


" Ayo kita pergi Mi. Pi. " Seru Laras.


Mereka semuanya beranjak pergi menuju mobil masing-masing.


" Enak aja. Habis dibuang sekarang mengemis cinta lagi. Makan tu selingkuhannmu." gerutu Joe marah.


" Ssstttt,,, gak sopan ah membicarakan aib orang lain. Ngomel-ngomel sendiri kayak orang gila. " tegur Laras.


" Kesal aja lihat mantan suami Mami Sekar Mbak."


" Ya udah. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti Mami ikut kepikiran. "


" Iya, Mbak. Damian ikut ke makam besok ?"


" Tentu saja. Aku juga harus minta restu pada almarhumah Ibu. "


" Siiippp,,!! Kakak ipar yang baik. "


" Kalo udah tahu kakak ipar. Kenapa panggilnya gak pake embel-embel. "


" Iya, Bang Dami. "


" Kok Bang ??" tanya Damian heran.


" Mau aku panggil Mas kayk Mbak Laras ??"


" Ogah. "


" Tuh tauui,,, beda rasa kan. Hahaha " sinddir Joe.


Damian mengangguk sambil tertawa. Laras hanya menggelengkan kepalanya.


" Urusan hati sayang. " celetuk Damian diantara tawanya.

__ADS_1


__ADS_2