
Laras tersenyum saat melihat Mahira tengah menunggunya di depan ruangan.
" Aku kangeeeennn, Kak." seru Mahira sambil memeluk Laras erat.
" Aku juga Hira. Maafkan aku udah buat kamu khawatir. "
Mahira mengangguk kemudian melepaskan pelukannnya.
" Kak Laras bawa apa ?"
" Aku beli nasi padang tadi dijalan. Ini buat kamu dan Tiwi. Makanlah. Ini untuk Kak Damian. "
" Syukurlah Kak Laras membawakan makanan. Udah satu minggu Kak Damian memforsir diri dengan kerja. Pola makannya jadi gak teratur. Kalo gak salah. Kak Damian bahkan gak pernah makan siang seminggu ini. Malam pun kadang langsung tidur. "
" Ini salahku. "
" Kak Damian sedang tidur di sofa ruangannya Kak. Masuk aja. Tapi Tiwi disini aja ya. Temenin aku makan siang disini. "
" Iya. Aku ke ruangan Kak Damian dulu ya. Nanti kalo udah selesai. Aku kesini lagi Wi."
" Siaappp Kak. "
Laras tersenyum kemudian beranjak ke ruangan Damian. Mengetuk pintu sejenak. Karena tidak ada sahutan. Laras membuka pintu itu.
" Assalamualaikum. " sapa Laras.
Alisnya berkerut saat tidak melihat Damian dikursinya. Pndangannya beralih ke sofa. Dan melihat Damian sedang tertidur disana. Laras mendekat, meletakkan satu bungkus nasi padang itu di meja. Dia duduk dibawah agar tubuhnya sejajar dengan sofa.
Laras menatap wajah tampan didepannya. Matanya tampak ada lingkar hitam menandakan empunya kurang tidur. Bahkan jambang di sekitar wajahnya sudah mulai bertumbuhan.
Laras meletakkan tangannya di pipi Damian. Terasa hangat, mungkin karena Damian belum makan. Laras menyentuh alis Dmaian yang tebal, hingga menambah kesan wajah itu sadis dan arogan. Kemudian jari telunjuknya menyusuri hidung Damian yang mancung. Menoel-noelnya sejenak, Laras terkekeh saat melihat Damian menggeliat.
Mata Damian membelalak kaget saat menyadari ada wajah yang sangat dirindukannya berada di dekatnya. Tangannya terulur mengusap kepala Laras. Lalu menarik hidungnya dengan kesal.
" Awww.. Sakit Mas. " keluh Laras sambil memegang hidungnya.
Damian menahan untuk tidak tertawa. Dia memasang wajah datarnya, nampak sangat dingin dan arogan. Mengalihkan tatapannya dari Laras yang ada di depannya. Laras tersenyum geli melihat Damian yang pura-pura marah.
" Mas,, Mas Damian,, " panggilnya seraya mengguncang lengan baju Damian setelah duduk disampingnya.
Tapi Damian tak bergeming. Dia masih menatap lurus ke depan.
" Mas masih marah ? Udah satu minggu mendiamkan aku lho Mas. Udahan ya marahnya. "
Laras kembali menarik-narik lengan baju Damian.
" Mas,, aku minta maaf. Aku salah. Maafin aku ya. "
Laras memberanikan diri untuk menyentuh wajah Damian dan membuatnya berpaling padanya.
" Aku minta maaf. Aku salah. " pinta Laras dan air matanya menetes begitu saja.
" Kok nangis sih. " ujar Damian kaget dan menghapus air mata Laras.
" Habisnya Mas diemin aku kayak gitu. "
" Habisnya kamu membuatku khawatir sayang. Apa kamu sesayang itu pada mereka hingga melupakanku gittu aja. Satu minggu aku menunggu kabar darimu sayang. Aku khawatir, aku gelisah. Tapi kamu gak pernah perduli kan. "
Damian kembali mengalihkan pandangannya. Melihat Laras yang menangis, dia kembali harus menahan diri untuk tidak kehilangan kontrol untuk memeluk Laras. Dan mungkin akan lebih dari itu.
__ADS_1
Laaras menunduk, dia mengakui kesalahannya kali ini memang fatal. Bisa-bisanya dia larut dalam kesedihan hingga melupakan Damian.
Tangan Laras menarik tangan kanan Damian yang saling bertautan. Kemudian mencium punggung tangan Damian.
" Maafkan aku Mas. Aku salah. " pintanya.
Hati Damian serasa mencelos dari tempatnya. Rasanya sangat terharu melihat respon Laras kali ini. Rasa bersalahnya sebesar rasa khawatir Damian.
" Kamu sangat tahu betul aku menahan diri untuk tidak memelukmu, sayang" keluhnya sambil menarik tangannya. Dan mengusap kepala Laras lagi.
" Jangan seperti ini lagi sayang. Aku benar-benar sangat khawatir."
" Iya. Maafkan aku. " pintanya sedih.
" Aku memaafkanmu sayang. "
" Jangan pernah diemin aku lagi Mas. Sakit rasanya Mas diemin aku. "
" Maafkan aku, sayang. Habisnya kamu bandel. " seru Damian seraya menyentil kening Laras pelan.
" Mas makan dulu ya. Aku belikan nasi padang. " kata Laras sambil membuka nasi padang didepannya.
Damian mengangguk dan menerimanya.
" Kamu darimana mau kemana sayang ?"
" Dari rumah. Memang sengaja mau ke kantor Mas untuk minta maaf. "
" Sama siapa ?"
" Sama Tiwi, Mas. Sekarang sedang berada di ruangan Mahira. "
" Mas gak pernah menghubungiku. Aku kira Mas masih marah. Ternyata memang masih marah. "
" Aku bukannya marah sayang. Aku gak suka kamu selalu mengabaikan kesehatan kamu. "
" Iya. Aku salah. Aku minta maaf. Aku gak akan mengulanginya. "
" Tentu saja tidak akan mengulanginya. Kalo terjadi lagi, aku pastikan akan mengurungmu dirumah. Tidak boleh keluar-keluar lagi. "
" Iihh jahat ih. "
" Biarin. Daripada aku uring-uringan gak jelas karena khawatir sama kamu. "
Damian membuang bungkus nasi itu ke tong sampah diruangannya.
" Habis ini aku pulang ya Mas. "
" Kok cepet ? Aku kan masih kangen sayang. " serunya sambil menggenggam tangan Laras.
" Kata Ibu sama Nenek. Harusnya udah dipingit. Gak boleh ketemuan dulu. Papa saja sampai mengirim Joe, Sam dan Ryan ke kantor cabang di Bandung agar tiidak bisa ketemuan dnegan kami. Sebenernya aku gak boleh ketemuan sama Mas Damian. Hanya karena ingin menyelesaikan kemarahan Mas Damian, aku jadi memaksa pergi."
" Ya udah. Kita turuti kemauan para tetua. Daripada kita kualat. " gurau Damian.
Laras mengangguk mengerti.
" Mau aku antar ?"
" Gak usah Mas. Aku sama Tiwi dianterin Papi Bram kok. Mas harus selesaikan kerjaan Mas. Pernikahan kita tinggal dua minggu lagi lho. Atau mau diundur ? Aku pasti dengan senang hati menerimanya. "
__ADS_1
" Ogah !! Lebih cepat lebih baik. Biar kamu gak bandel lagi sayang. "
Laras terkekeh.
" Jangan marah-marah mulu dong. Dan ini,,, "
Laras menyentuh jambang Damian.
" Harusnya ini keren sih. Tapi masa mau jadi Pengantin gak kelihatan cakep sih. " sindirnya.
Damian tertawa kemudian mencubit pipi Laras gemas.
" Kenapa bisa sampai seminggu sedihnya ?"
" Sebenernya aku sudah mengikhlaskan kepergian si kembar Mas. Hanya saja,, "
" Hanya saja apa ?"
" Aku jadi teringat almarhumah Ibu.Disaat kami benar-benar bicara, setelah sekian lamanya aku menyalahkan takdir. Tapi, Ibu meninggal. Mungkin itu sebabnya aku sampai shock dan pingsan."
" Ingat apa yang aku katakan sayang. Kalo sampai nanti terulang lagi kamu bandel hingga pingsan. Aku akan mengurungmu dikamar. Lihat saja nanti. "
" Iihh jahat. !!"
" Biarin. "
Laras terdiam. Kemudian menatap Damian.
" Aku pulang ya Mas. "
" Aku temeni ke ruangan Mahira. "
Laras mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu beranjak dari sofa Damian.
" Ciyeee,,ciyee yang udah baikan. " goda Mahira.
" Anak kecil gak boleh berisik !!"
" Kak Laras,, jangan marahan lagi ya. Sedih aku. "
Laras mengangguk mengerti.
" Punya bos yang kalo malarindu itu ngeselin Kak. " sindir Mahira yang langsung sembunyi dibelakang Laras karena Damian hendak mencubitnya.
Laras tertawa.
" Udah ah Mas. Mahira, aku pulang dulu ya. "
" Kok cepet sih. Kan aku belum ngobrol. "
" Calon pengantin gak boleh capek. Jangan terlalu memforsir kerja ya sayang. " kata Laras diakhiri mencubit pipi Mahira sembari menatap Damian yang tengah tersenyum mendnegar sindiran halus Laras.
" Iihh,, itu kayaknya lebih tepat buat Kak Damian deh. Dia kalo malarindu suka lupa waktu Kak."
" Mahira,,!"
" Ya udah aku pulang ya. Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam. "
__ADS_1