Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 114


__ADS_3

" Mami Cia sedang apa ? " tanya Laras saat berada di dapur untuk minum.


" Ini,, Papi minta dibuatkan mi instan sama telor ceplok."


" Kenapa gak tunggu sekalian makan siang aja. "


" Gak tahu nih Ras. Padahal sepulang dari rumah kamu tadi, Papi minta mampir dulu ke bubur ayam langganan Mami dulu. Masa sekarang udah mau makan lagi. Baru juga setengah jam lho ini. Tapi Papi bilang udah lapar."


Laras mengernyitkan alisnya heran.


" Sejak kapan nafsu makan Papi jadi naik dua kali lipat gitu ?" gurau Laras.


" Eehhmm,, sepertinya sejak dua minggu terakhir ini. Dan yang lebih parahnya lagi. Di apartemen maunya makan dengan nasi lauk ayam geprek mulu Ras. Pokoknya harus pedes. "


Apa mungkin Mami Cia hamil ?? Pikir Laras.


" Waktu Mami ikut Mami Sekar periksa kandungan. Jadi, ikutan check up ?"


" Gak, Ras. Udah panik waktu anak buahnya telpon dan mengabarkan kalo Akbar menyerang kamu di mall. Bahkan Ningrum belum sempat menebus obatnya. "


Laras menghela nafas. Lagi-lagi karena dirinya semua orang jadi panik.


" Gara-gara Laras semuanya jadi panik berlebihan."


" Karena kami sayang sama kamu Ras. " kata Nico yang tiba-tiba muncul.


" Papi kenapa ? Sakit ? Kok pucat ?"


" Masuk angin, Ras. Barusan malah habis muntah-muntah."


" Gak ke dokter Pi ?"


" Biar nanti Mami yang kasi minyak kayu putih ke punggung Papi. " elak Nico.


" Mau Laras buatin kopi jahe Pi ?"


" Eehhmm,, boleh Ras. Makasi ya. "


" Mami mau juga ?"


" Iya Ras. Ini mi instannya gimana sayang ? "


" Perutku masih mual rasanya sayang. Tapi aku juga lapar sayang. "


Laras terkekeh melihat Nico yang terlihat lebih manja pada Valencia.


" Ya udah. Mami olesin minyak kayu putih dipunggung Papi dulu aja. Nanti mi instam sama kopi jahenya Laras bawa kekamar Mami. "


" Maaf ya Ras. Ngerepotin. "


" Gak apa-apa Mi. "


Valencia menggandeng lengan Nico yang masih terlihat lemah. Laras mengeluarkan ponselnya kemudian menelpon Joe yang tadi pamit keluar dengan Mei.


" Halo Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam Mbak. Ada apa ?"


" Mau nitip sesuatu. Tapi biar aku ngomong sama Mei aja. "


" Apaan sih. Mau nitip pembalut ? Sama adik sendiri aja malu. "


Laras tertawa.


" Bukan. Kamu loudspeaker gak nih. "


" Iya Ras. Aku juga denger kok. "


" Baguslah. "


" Mau nitip apa ?"


" Aku minta tolong belikan aku tespeck dong. "


Ccciiiiiiiittttt,,,, !!!!


" Joooooeeee,,,!!!!! " pekik Mei kaget.


" Kenapa ? Ada apa Mei ?!" tanya Laras panik.


" Apa yang sudah dilakukan Bang Dami ke Mbak. "


" Hahhhh, maksud kamu apa Joe ? "


" Lalu,, mbak beli tespeck buat apa ?"


" Hahahah,, kamu pikir itu buat aku ?"


" Kalo bukan buat Mbak, siapa lagi ? Kan yang ntitip Mbak Laras. "


" Enak aja. Aku masih tahu batasanku begitupun dengan Mas Damian, Joe. "


" Dia sampai ngerem mendadak Ras. "


Laras makin keras tertawa membayangkan reaksi adiknya.


" Lalu buat siapa Ras ?"


" Eehhmm,, aku hanya ingin memastikan saja. "


" Buat siapa Mbak ?"


" Buat Mami Cia."


" Mama ?? Kenapa dengan Mama ?"


"Feelingku sih kayaknya Mami Cia hamil deh."


" Benarkah ??!!"


" Aku bilang feelingku Mei. Karena itu aku nitip belikan. Biar kita bisa meyakinkannya. "

__ADS_1


" Oke,, Oke,, aku akan membelinya Ras. Aku udah gak sabar dengar kabar ini dari Mama. "


" Eiittss,, jangan dong. Nanti kalo kenyataannya gak sesuai perkiraan kita gimana. Nanti Mami Cia kecewa Mei. Kamu tahu Mami Cia kelihatannya sangat menginginkan hamil seperti Mami Sekar. "


" Iya. Aku ngerti. "


" Aku tutuup ya. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Laras memasukkan ponselnya ke saku gamisnya. Kemudian membuatkan kopi jahe untuk Valencia dan Nico. Setelah selesai, Laras membawa nampan yang disiapkannya bersama mi instan dan telor ceplok yang juga baru matang.


Tokk,,tokkk,,,


" Assalamualaikum, Mi. Pi."


" Waalaikumsalam Ras. Sini, biar Mami bantu. "


Laras menjauhkan nampan yang hendak diambil alih Valencia.


" Gak usah Mi. Laras bisa kok. Bantuin buka pintunya aja . Hehehe."


" Oh iya. Maaf. " kata Valencia sambil membuka pintu kamarnya.


Tampak Nico masih berbaring dengan bersandar di sofa. Aroma minyak kayu putih tercium di hidung Laras.


" Papi udah baikan ?"


" Lumayan Ras. "


" Ini . Mami sama Papi minum dulu jahenya mumpung masih anget. "


Nico dan Valencia tersenyum sambil menerima secaangkir kopi jahe buatan Laras. Dan segera meminumnya.


" Ras. Mami tinggal ke toilet bentar ya. "


" Bentar Mi. Nanti aja dulu. "


" Lha memangnya kenapa ?"


" Udah Mami disini dulu. Masa Laras ditinggalin berdua sama Papi. Nanti kalo Papi muntah lagi gimana."


" Adduuhh,, jangan Ras. Gak enak banget rasanya mulut Papi ini. "


Laras terkekeh.


" Dimana-mana yang namanya sakit itu gak enak Pi. Tapi Papi udah gak mual lagi kan. "


" Iya, Ras. Udah mendingan. "


" Papi, kenapa ? Sakit ?" tanya Mei cemas yang tiba-tiba masuk dan duduk di tepi ranjang disamping Valencia.


" Papi cuma masuk angin Mei. "


" Gak ke dokter Pi ?"


" Udah mendingan kok. "


" Isshh,, kamu itu,, calon menantu gak ada akhlak. "


" Lhoo kok gitu sih. Ini bentuk lain perhatian dari Joe lho Pi. Mami,, kita jalan-jalan aja. Mumpung Papi yang posesif ini lagi KO Mi. "


Nico melemparkan bantal yang ada disampingnya ke arah Joe yang tertawa diikuti Mei dan Laras. Valencia berdiri dan hendak kekamar mandi. Laras mendekat ke arahnya setelah Mei menyerahkan satu bungkus plasstik hitam ke tangannya.


" Ada apa Ras ? Mami udah kebelet. "


" Ini Mi. "


Valencia tercengang melihat isi plastik hitam itu.


" Buat apa ? Mami gak ha,, "


" Mi,, inget gak apa yang dibilang Nenek waktu Mami Sekar hamil. Ada kunfayakun Allah yang harus Mami percaya. "


" Taapi,, dulu Mami pernah divonis dokter tidak bisa hamil lagi Ras. "


" Hanya untuk memastikan saja Mi. Feeelingku kok kayaknya Mami lagi hamil. Apalagi perubahan Papi yang gak kayak biasaanya. Eehhmm,, anggap aja ini untuk menyenangkan Laras Mi. Mau ya Mi. "


" Sebenernya Mami takut kecewa Ras. Tapi,, yah, baiklah. Demi anak Mami ini. " sahut Valencia sambil mencubit pipi Laras.


Laras tersenyum senang. Berdiri di depan pintu kamar mandi. Melihat Joe dan Mei yang sedang menggoda Nico yang terlihat lebih baik.


Laras melihat jam tangannya. Udah hampir lima belas menit berlalu. Tapi Valencia masih juga belum keluar dari kamar mandi.


' Apa Mami kecewa karena hasil tespecknya negatif ? Ah,, mungkin feelingku salah. Maafkan aku Mi. ' batinnya.


Laras mengetuk pintu kamar mandi. Membuat Nico, Joe, dan Mei menoleh penasaran.


" Hehehe,, Laras juga mau kekamar mandi. " ujar Laras bohong.


" Dikamar Mbak aja gih. "


" Males ah. Kejauhan. Disini aja. Tunggu Mami. "


Melihat ketiga orang itu kembali ngobrol, Laras kembali mengetuk pintu kamar mandi. Di ketukan ketiga, pintu kamar mandi sedikit terbuka. Laras segera masuk dan memeluk Valencia yang tampak menangis.


" Maafkan Laras Mi. Udah membuat Mami sedih. " ujar Laras sedih.


Valencia memeluk erat Laras. Dan menangis sesenggukan disana. Dengan penuh penyesalan, Laras mendekap Maminya untuk keluar kamar mandi.


" Sayang,, kamu kenapa ?" tanya Nico kaget.


Sampai-sampai langsung berdiri dan mendekat ke arah Valencia. Memeluknya kemudian melepaskannya dan mengusap lengan Valencia agar lebih tenang.


" Maafkan Laras Pi. Ini salah Laras. "


" Salah kamu ? Memangnya apa yang terjadi ?"


Mei mendekat dan mendekap Laras.


" Perkiraan kita salah Ras ? " bisik Mei. Laras mengangguk pelan.

__ADS_1


" Laras. Apa yang terjadi ? Apa maksudnya dengan kesalahan kamu ?"


" Laras minta Mami untuk tes urin tadi Pi. Aku udah siapin tespecknya. Maafkan aku Mi. Pi. "


" Sayang. Sudahlah. Kamu tidak perlu keceewa. Aku bahagia bisa menikah denganmu. Itu sudah cukup bagiku sayang. Kita sudah mempunyai Mei dan anak-anka kita yang lain sayang. Aku tetap mencintaimu sayang. " hibur Nico sambil mengusap air mata Valencia.


Mei dan Laras semakin terharu dibuatnya.


" Aku,, aku hamil sayang. " kata Valencia dengan suara tercekat.


Mei dan Laras spontan menutup mulut mereka dengan telapak tangannya karena kaget.


" Apa ?? Kamu serius sayang ??"


Valencia hanya mengangguk dan langsung memeluk Nico saking senangnya. Mei pun dengan bahagianya memeluk Laras.


" Aku bahagia Ras. "


" Aku juga Mei. "


" Aku sangat bahagia, sayang. Terima kasih sayang. Terima kasih sayang. " kata Nico senang.


Joe mendekat kearah dua orang wanita yang disayaanginya yang tengah saling berpelukan. Mengusap kepala Laras dengan lembut. Bangga dengan kepekaan kakaknya pada orang disekitarnya.


" Kami ikut bahagia mendengarnya Mi. Pi. " seru Joe.


Laras dan Mei mengangguk mengiyakan. Nico melepaskan pelukannya pada Valencia dan memeluk tiga orang disampingnya.


" Terima kasih anak-anak. Terima kasih. "


" Terima kasih juga Papi udah menjaga kami dengan baik selama ini. " ucap Laras. Dan sedikit menjauh untuk memberi kesempatan pada Mei memeluk Papinya.


Laras kaget saat Valencia tiba-tiba mencium pipinya. Kemudian memeluk Laras lagi.


" Terima kasih Laras. Mami bahagia. "


" Selamat ya Mi. Laras ikut bahagia. " bisik Laras.


Valencia hanya bisa mengangguk penuh terima kasih.


" Ada apa ini ? Kenapa semuanya menangis. " tanya Nenek bingung.


Valencia langsung memeluk Nenek dan menangis di pelukannya.


" Maa,, aku hamil Ma. Aku hamil Ma. " kata Valencia disela tanginya.


" Alhamdulillah. Alhamdulillah. Mama ikut bahagia Cia. Mama bahagia. Selamat ya Nak. "


" Benarkah Valencia ?" seru Sekar tak menyangka.


Valencia melepaskan pelukannya pada Nenek dan memeluk Sekar.


" Kita punya satu kesamaan lagi Ningrum. "


" Alhamdulillah. "


" Kapan kalian ke dokter kandungannya ?" tanya Bram heran.


Mei dan Joe juga Valencia saling bersahutan untuk bercerita. Hingga semuanya melihat Laras dengan senang. Astrid mendekap Laras yang berada disampingnya. Membuat Laras tersenyum.


" Mereka semua itu terlalu berlebihan ceritanya. " celetuk Laras.


" Apa yang membuatmu merasa Valencia hamil Ras ?" tanya Astrid.


" Eehhmm,, mungkin karena perubahan Papi Nico. "


" Aku ? Berubah gimana maksud kamu ? Memangnya aku berubah sayang ?"


" Berubah jadi power rangers Pi. " gurau Joe.


Nico memukul lengan Joe kesal. Karena sedari tadi menggodanya.


" Aku tadi cuma bilang ke Laras kalo nafsu makan kamu bertambah. Juga sekarang sukanya makan pedes-pedes sayang. "


Nenek dan Ibu hanya tersenyum. Merasakan apa yang Laras rasakan.


" Itu kan wajar-wajar aja Ras. "


" Kalo muntah dan mualnya ? Papi gak merasa mual kan kalo ada Mami didekat Papi. "


Nico tampak berfikir sejenak. Kemudian mengangguk. Memang benar, dia selalu merasa ingin didekat Valencia.


" Itu berarti kehamilan Mama. Kehamilan simpatik. " jelas Mei.


" Apa itu sayang ?"


" Kehamilan simpatik. Dengan Papi yang akan mengalami morning sickness yang biasanya diraasakan ibu hamil. Itu terjadi karena empati dan simpati Papi pada Mama. "


" Jadi mual dan muntah-muntah it bukan karenna masuk angin ?" sahut Nico heran.


" Bukan Pi. Tapi Papi akan mengalaminya selama trimester kehamilan Mama. Eehhmm,, nanti kedepannya Papi juga bisa merasakan perubahan pola makan, pola tidur dan terkadang juga mengalami perubahan emosi Papi. "


" Pantas saja. Akhir-akhir ini kau terlihat tenang sekali menghadapi kasus Akbar. " gurau Bram.


" Seeperti biasa. Laras memang selalu peka dengan orang-orang disayanginya. " puji Nenek sambil mengusap kepala Laras.


" Eehhmm,, itu berart,, untuk sementara Papi gak mungkin bisa nyetir mobil kan. " sahut Joe.


" Biar nanti anak buahku yang nyetir mobil. Gak apa-apa kan sayang. "


" Iya sayang. "


" Atau ,, biar Joe yang nyetir Pi. "


" Halaahh,, paling kamu ingin berduaan dengan Mei kan Joe. " celetuk Rey.


" Isssh,, diam kau. "


" Tidak,, tidak,, aku lebih percaya pada anak buahku. Satu mobil dneganmu bisa-bisa makin pusing aaku. "


Semuanya menjadi tertawaa . Apalaagi melihat Joe yang cemberut karena kesal.

__ADS_1


__ADS_2