
" Mami Sekar duduk aja disini sama Nenek dan Mama Astrid. Mami Cia tolong ditemani. " kata Laras sedikit kesal saat mereka ada diteras.
Karena sedari tadi Sekar, Nenek dan Astrid membantunya membersihkan rumah yang sudah sangat berdebu.
" Tidak apa-apa Laras. Biarkan Mama ikut mebantumu."
" Jangan, Ma. Masa owner perusahan Bramantyo disuruh bersih-bersih rumah ?" sindirnya.
" Lhaa terus kamu sendiri ?? Masa istri CEO Bramantyo bersih-bersih rumah gini ?"
" Ca - llon , Ma. " gurau Laras.
" Laras,, aku mendengarnya sayaang. " seru Damian dari dalam rumah.
Spontan Laras menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tentu saja membuat Nenek, Sekar, Astrid dan Valencia heran.
" Kenapa Ras ?"
" Mas Damian, selalu mengancamku akan membawaku dnegan paksa ke penghulu kalo aku katakan ca_lon setiap kali Mas Damian mengatakan kalo aku istrinya." jelas Laras setengah berbisik.
Asrtrid tertawa mendengarnya.
" Tumben kamu takut dengan ancaman seperti itu Ras ?" gurau Valencia.
" Mami belum tahu aja Dia seperti apa. "
" Maksudnya ?" tanya Nenek.
" Semakin ditantang akan semakin tertantang untuk melakukaannyaa. " jawab Laras dan Astrid bersaamaan.
Ketiga wanita itu menjadi tertawa lucu.
" Alhamdulillah. Sudah selesai. Mau duduk diruang tamu apa disini aja Ma ?" tanya Mei.
" Diruang tamu aja Mei. Gak enak ngobrol diliatin orang yang lewat. "
Semuanya berpindah ke ruuang tamu. Disana sudah ada Prita, Lyra, Ratih dan Ibu yang sudah duduk. Dibelakang rumah ini memang ada satu pohon pisang. Dan ternytaa ada yang sudah matang. Ibu menyuruh Joe dan Ruly mengambilnya agar bisa dibuat cemilan. Ibu sudah mulai memasak setelah membeli beberapa keperluan dapur yang dibutuhkannya. Laras heran melihat raut wajah Ibu sedikit berubah setelah dari warung terdekat.
" Azka. Bantu Ibu mmbawa cemilannya keluar. "
" Iya Bu. "
Azka, Mei, Prita, Mahira dan Laras saling membantu membawa cemilan yang dibuat Ibu. Ada es jeruk, kopi hitam, kopi susu, aneka gorengan, dan juga pentol yaang tadi dibeli Ibu sewaktu di warung ada abang tukang bakso yang juga berhenti.
" Ibu kenapa ? Kok wajahnya ditekuk gitu ?" tanya Laras sambil menunggu piisang goreng terakhir matang.
" Tadi sewaktu ke warung. Ibu bertemu dengan Ummi Iffah. "
" Lalu,, apa mereka bilang sesuatu Bu ?" tanya Azka yang ikut mendekat.
" Dia hanya bilang kalo Ummi Neni telah meminta cerai pada Juragan Maksum,,setelah kepergian Ibu dan Laras ke Jakarta. Ummi Neni merasa sangat berdosa karena tidak bisa mendapatkan maaf Ibu dan Laras. "
" Sudah gak usah dipikirkan Bu. " kata Azka.
" Tapi, tadi juga berpapasan dengan juragan Maksum. Sepeertinya memang sengaja menunggu Ibu. "
" Ada apa lagi orang itu ?! " seru Azka kesal.
" Juragan Maksum ingin menemuimu Ras. "
" Laras ?? Ada apa ?"
" Dia ingin minta maaf dan minta tolong membujuk Papamu untuk mencabut laporannya pada Akbar. "
" Ibu tahu sendiri gimana Papa dan Papi. Ditambah sekarang Mas Ruly dan Joe. Ini bukan kemauan Laras Bu. "
" Ada apa kenapa namaku disebut-sebut ?" tanya Joe yang baru saja masuk ke dapur.
" Ituu tuh,, juragann Maksum menemui Ibu dan mau menemui Laras. "
" Untuk apa ?"
" Minta tolong Laras untuk membujuk Papa agar mencabut laporannya tentang Akbar. " jelas Azka kesal.
__ADS_1
" Gak mungkin. Kalo mereka dengar masalah ini. Bisa-bisa juragan Maksum didatangi Papa sama Papi sekarang juga. "
" Joe. Jangan memperkeruh suasana. Biar hanya kita yang tahu tentang ini."
" Oke !"
" Ya sudah ayo kita keluar. Gak sopan membiarkan tamu menunggu kita. "
Mereka kemudian membawa gorengan terakhir. Dan menemui keluarga yang lain.
" Ruly,, apa tidak sebaiknya rumah ini dijual saja ?" kata Ibu tiba-tiba.
" Dijual ? Kenapa Bu ?"
" Ibu,, rumah ini banyak kenangannya Bu. " protes Azka.
" Apa Ibu sedang membutuhkan uang ?" tanya Joe
" Bukan begitu. Hanya saja, sayang kalo dibiarkan kosong. "
" Kan kita bisa sekali-kali datang kesini sekaligus ke makam Bu."
" Dan membuat Laras bertemu dengan keluarga juragan Maksum lagi ? Tidak,, Ibu gak ridho. "
" Waduuuhh,, kalo Ibu udah bilang gak ridho gini. Aku mundur Mas. Ngeri. " celetuk Joe.
" Tumben kamu bisa ngeri Joe ?" goda Valencia.
" Ibu kalo udah gak ridho,, suka terjadi hal yang gak diinginkan Bu. "
" Apa sebenernya yang sedang Ibu pikirkan ?"
" Itu,, Mas Ruly,, tadi,, "
" Azka,,," seru Laras mengingatkan.
" Mau Mas yang marah apa menuruti Laras ?!"
Tentu saja Azka menjadi takut.
" Kenapa lagi dengan keluarga itu ?!!" hardik Ruly.
" Mereka ingin menemui Mbak Laras dan meminta Mbak Laras membujuk Papa agar mencabut laporan tentang Akbar. " jawab Joe.
" Tidak akan pernah !! Aku akan memastikan dia membusuk dipenjara. " seru Pratama.
" Karena itu,, biar rumah ini dijual saja. "
" Tapi,, kenangannya itu lho Bu. " protes Azka.
" Apa gak sebaiknya direnovasi saja Bu Suci. Mungkin dijadikan kos-kosan mungkin. " usul Bram.
" Kalo dijadikan kos-kosan, mereka pasti akan tetap kesini untuk memeriksanya. "
" Tapi,, Azka benar Bu. Rumah ini banyak kenangannya lho Bu. " keluh Laras.
" Ibu gak mauu berurusan lagi dengan keluarga juragan Maksum. Ibu khawatir Laras. "
" Kan Laras gak harus kesini sendirian Bu. Kedepannya akan bersama-sama kayak gini. Sama-sama ppergi ke makam dulu lalu kita bisa ke rumah. Jangan dijual Bu."
" Tapi Ras,, "
" Bu Suci,, kalo memang berniat untuk menjualnya. Biarkan saya yang membelinya. Meskipun saya gak punya bagian dari kenangan Laras dan Joe dirumah ini. Tapi, dirumah ini anak-anak saya dididik dengan baik disini. Mereka telah menjadi anak-anak hebat." kata Pratama.
Laras menunduk, tidak menyangka Pratama akan membeli rumah ini. Laras memegang tangan Ibunya. Beegitupun dengaan Azka.
" Baiklah,, baiklah,, Ibu tidak akan menjualnya. Tapi, berjanjilah kalian tidak akan pulang kerumah ini sendirian tanpa ada yang menemani. "
" Mereka akan tetap dikawal meskipun mereka telah menikah Bu. Aku janji. " tegas Nico.
" Aku akan meenyuruh salah satu pegawai penginapaan untuk membersihkan rumah ini satu minggu sekali. " usul Lyra.
" Terima kasih Tante Lyra."
" Sama-sama sayang. "
__ADS_1
" Ehmm,, Pa. Aku boleh bawa komputer itu ?"
" Buat apa Mbak ? Laptop Mbak udah pentium terkini lho. Komputer ini sudah jadul Mbak. Susah kalo buat bekerja. " seru Joe.
" Beberapa naskahku masih tersimpan di komputer ini. Sayang kalo gak dilanjutkan. "
" Kamu lupa kalo punya Papi jago IT ??" sindir Pratama.
" Aaahh iya !! Papi, bisa minta tolong kan ?!"
" Tentu saja. Apa yang gak buat Nona Laras. "
" Isshh,, Papi,,!"
" Naskah apa Kak Laras ?" tanya Mahira.
" Hira,,, kakak kesayanganmu itu seorang Novelis." jawab Prita.
" Benarkah Kak Prita ? Apa aku boleh tahu judulnya ?"
" Itu di rak buku di belakang komputer, ada bukunya." jawab Azka.
" Boleh aku pinjam ??"
" Tentu saja Hira. "
Mahira segera berdiri dan melihat kearah buku-buku novel yang telah di terbitkan Laras.
" Boleh aku bawa semua ?!" seru Mahira takjub.
" Beli dooonnggg, Hiragana !!!" omel Rey.
" Kak Reymot yang gak peka. Beliin dong !!" seru Mahira kesal.
" Yang mana ?"
" Bawa saja Hira. "
" Asyiikk,, !!! " seru Mahira dan segera memasukkan novel Laras kedalam tasnya.
" Aku akan mengembalikannya di Jakarta nanti Kak. Makasi. " ucap Mahira sembari mencium pipi Laras.
" Hiragana,, aku dong. " goda Rey sambil menepuk pipinya.
" Ogah,, Kak Reymoot pelit. "
Semuanya jadi tertawa.
" Kak Hira,, habis Kakak. Aku juga mau baca. " bisik Tiwi pelan. Yang segera dijawab Mahira dengan anggukan.
" Kita mau pulang besok pagi apa hari ini juga Pa ?" tanya Joe.
" Memangnya kenapa ? Apa kamu memerlukan sesuatu ?"
" Gak sih Pa. "
" Kita pulang nanti setelah makan siang. Gimana ?" usul Bram.
" Oke. "
" Papi Nico ,, udah selesai ?" tanay Laras.
" Sudah dong. "
" Terima kasih Papi. "
" Sama-sama. "
" Ya sudah. Aku bereskan dulu. Setelah itu kita siap-siap pulang. " kata Ibu sembari membereskan piring bekas gorengan.
" Laras bantu Bu. "
" Gak usah. Biar Mama saja. " jawab Ratih sambil membantu membereskan piring dan gelas yang ada disana.
Prita dan Lyra juga dengan sigap membantu. Tidak memperbolehkan Sekar dan Valencia yang tampak seperti kurang sehat.
__ADS_1