Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Hidup terus berjalan


__ADS_3

Setelah mengungkapkan isi hatinya Langit merasa lega ia pun berpamitan untuk pulang pada Mawar.


"Baik-baik ya di sini, kamu bisa hubungin aku kapan aja kalo kamu butuh," tutur Langit.


"Kamu juga hati-hati," ujar Mawar.


Tanpa aba-aba Langit memeluk Mawar dengan erat. "Aku .., sayang banget sama kamu," bisiknya pada Mawar.


Mawar tampak tenang dan nyaman dipelukan Langit.


"Makasih selalu support aku," ujar Mawar.


Langit melepaskan pelukannya lalu menatap Mawar begitu dalam. "Kebahagiaan aku ada di kamu, apa pun pilihan kamu selanjutnya itu terserah. Kalo emang kamu mau memberikan kesempatan sama Arka silakan, aku harap itu yang terbaik buat kamu," tutur Langit.


Mawar tersenyum tipis. "Aku gak pernah ada niatan buat balik lagi sama Mas Arka, kamu jangan berkecil hati ya," ujar Mawar.


Langit bernafas lebih lega setelah mendengar kalimat itu. "Aku pulang dulu ya," ujar Langit.


**


Mawar terus terngiang dengan ucapan Langit, entah kenapa akhir-akhir ini wajah laki-laki itu selalu menghiasi pikirannya.

__ADS_1


'Perasaan ini sama seperti saat kita masih sekolah dulu.' Batin Mawar.


"Apa jangan-jangan aku jatuh cinta yang kedua kalinya sama Langit? Astaga gak mungkin," gerutu Mawar.


Sementara itu Langit telah sampai ke rumah sakit, ia memiliki jadwal operasi hari ini.


Wajahnya begitu sumringah sampai teman kerjanya merasa heran selama ini Langit tidak pernah terlihat sebahagia itu.


"Pak, apa Bapak sehat?" tanya salah satu suster di rumah sakit itu.


"Sehat, emangnya saya kelihatan lagi sakit?" tanya Langit heran.


"Aneh kamu," tutur Langit.


Jadwal operasi sekitar 1 jam lagi, kebetulan pasien hari ini sedang sepi dan Langit masih punya waktu untuk bersantai.


Langit membuka laptopnya lalu mencari foto-foto sewaktu SMA. Ia berharap foto-foto nya bersama Mawar masih tersimpan dengan baik.


"Nah ini," ujarnya senang.


Langit membuka album foto itu satu per satu, mencari wajah Mawar kala itu.

__ADS_1


"Masih sama cantiknya gak menua," ujar Langit.


Lalu ia mengirim foto-foto itu ke ponselnya dan menerusnya pada Mawar.


(Kamu masih sama ya cantiknya.) Ujarnya di chat.


Apa pun keputusan Mawar nanti Langit tidak terlalu peduli yang jelas ia merasa lega karena telah berhasil mengungkapkan perasaannya selama ini.


Sejak sekolah di luar negeri Langit tidak pernah berpacaran dengan perempuan mana pun, hatinya masih untuk Mawar.


Sedangkan Mawar memiliki kekasih yaitu Dika, laki-laki yang baik bahkan Langit merasa Dika lebih baik darinya dan saat itu Mawar beruntung memilikinya.


Saat pertama kali bertemu di rumah sakit dengan keadaan Mawar sedang mengandung, hati Langit sedikit hancur karena ia tahu perempuan yang selama ini ia cintai itu sudah menikah.


Tapi dia harus tetap profesional sebagai dokter. Seiring berjalannya waktu entah kenapa semesta terus mempertemukan mereka secara tidak sengaja sehingga akhirnya Langit tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Mawar.


Hal itu semakin membuat Langit merasa bersalah, seharusnya saat itu ia tidak sekolah di luar negeri. Seharusnya saat itu dia tidak meninggalkannya.


Bagian paling hancurnya adalah melihat Mawar menderita karena suaminya, bahkan dia menjadi saksi penderitaan itu.


Guys jangan lupa baca cerita ku (Not Bad) juga ya, komen juga di sana ikutin alurnya. Happy reading

__ADS_1


__ADS_2