
Setelah hampir 3 hari akhirnya anak buah Arka menemukan tempat yang sama dengan foto Mawar. Arka pun segera pergi ke tempat itu dan meninggalkan pekerjaannya.
Satu jam akhirnya Arka sampai ke toko kue milik Mawar, Arka sengaja tidak keluar dulu dari mobilnya ia ingin mengamati dari kejauhan.
Terlihat dari kejauhan Mawar baru saja sampai dengan scootersnya.
"Mawar? dia kerja di sini?" ujar Arka.
Arka menarik nafasnya dalam-dalam kali ini ia tak ingin terbawa emosi, apa lagi ini pertemuan pertamanya dengan Mawar setelah 3 bulan lamanya.
Perlahan Arka melangkahkan kakinya menuju toko itu, ada perasaan haru, takut, sedih, menyesal semua menyatu di hatinya.
Ia pun menanyakan Mawar kepada kasir.
"Permisi, apa saya bisa bertemu dengan Mawar?" tanya Arka.
"Bu Mawar maksud Bapak? sebentar saya panggilkan."
Kasir itu pun memanggil Mawar di ruangannya. Mawar keluar betapa terkejutnya dia dengan apa yang ia lihat didepannya.
"Mas Arka?" ucapnya.
Mawar tak bisa menghindar di depan karyawannya ia harus menghadapi Arka. Mawar berusaha tenang di depan semuanya.
"Mawar aku perlu bicara sama kamu." Ujar Arka.
"Yaudah kita ngobrol di ruangan aku aja Mas." Balas Mawar.
Arka pun mengikuti Mawar masuk ke ruangannya. Tanpa basa-basi Arka langsung memeluk Mawar dengan erat.
Tak ada respon balik dari Mawar, ia hanya diam tanpa menolak atau pun memberi respon.
__ADS_1
Arka melepas pelukannya dan meminta maaf kepada Mawar. "Kamu ke mana aja Mawar kita semua nyariin kamu, sekarang kamu pulang ya."
"Aku udah punya rumah sendiri Mas, aku gak mau pulang." Ujar Mawar.
"Kamu harus pulang, mamah nungguin kamu pulang dia khawatir sama kamu."
"Mamah kan yang khawatir sama aku, aku bisa kok ngajak mamah ketemuan tanpa harus pulang ke rumah itu." Tegas Mawar.
"Aku tahu aku salah, tapi aku mohon kamu pulang ya demi anak kita."
"Anak kita? sejak kapan kamu peduli tentang anak ini Mas? bukannya kamu lebih peduli sama Sherly yang belum tentu anak kamu terus sekarang tiba-tiba kamu datang mengakui anak ini, dulu ke mana aja kamu Mas?" ucap Mawar.
Mawar menjauhkan dirinya beberapa langkah dari Arka.
"Kamu tahu betapa tersiksanya aku selama ini, aku yang selalu di salahkan mamah karena kepergian kamu belum lagi tuntutan pekerjaan aku yang sangat membuat aku stres." Tutur Arka.
"Terus apa kabar sama aku Mas? aku pergi dari rumah kamu sendirian, apa kamu peduli? apa kamu mencoba menahan aku? apa kamu berusaha mengejar aku? enggak kan. Setidaknya kamu peduli dengan anak yang ada dalam kandungan aku ini, nyatanya kamu lebih peduli sama Sherly kenapa? karena kamu cinta sama dia!" tegas Mawar.
"Untung apa aku memulai sesuatu yang memang sejak lama sudah berakhir? kamu tahu sejak aku pergi dari rumah kamu aku udah anggap hubungan kita berakhir."
"Kamu jangan egois, kamu gak mungkin melahirkan tanpa aku Mawar."
"Kenapa Mas? kenapa gak mungkin, buktinya sampai sekarang aku masih hidup dalam keadaan sehat tanpa bantuan kamu secuil pun!" bentak Mawar.
Arka terdiam sejenak. Mawar sudah tak kuasa membendung air matanya.
"Selama ini aku selalu berdoa agar kamu bisa mencintai aku dengan tulus, aku selalu berharap kamu akan menjadi laki-laki terbaik dalam hidup aku setelah kakak kamu Mas. Aku selalu sabar menghadapi apapun yang kamu lakukan terhadap aku, kamu sakitin batin aku, fisik aku, selama ini aku tahan .., tapi aku juga manusia biasa punya batas. Aku cape Mas, aku cape." Ujar Mawar dengan penuhi emosi dan deraian air mata.
"Aku tahu aku salah, aku bodoh, aku bajingan, tapi kenapa kamu harus pergi berbulan-bulan. Seharusnya kamu selesaikan masalah kita jangan seperti ini, kamu duduk berdua dengan laki-laki lain apa maksud kamu Mawar. Apa kamu udah lupa sama kenangan kita."
"Kenangan yang mana Mas? apa selama ini kamu pernah membuat kenangan indah bersama aku, yang aku tahu kamu selingkuh kamu tidur sama perempuan lain, kamu kasar, kamu main fisik. Itu yang kamu sebut kenangan." Sela Mawar.
__ADS_1
Untung saja ruangan itu kedap suara jadi hanya Mawar dan Arka saja yang menikmati pertengkaran mereka di dalam sana.
"Tapi bagaimanapun juga aku ini suami kamu, kamu harus pulang kita selesaikan semuanya di rumah."
"Suami yang penuh dengan kebencian? suami yang selalu menyakiti hati istrinya, apa itu bisa disebut suami, masih berani kamu menyebut diri kamu ini sebagai suami!" tegas Mawar.
"Kamu sekarang berubah ya? kamu berani bentak-bentak aku, apa karena laki-laki itu kamu jadi berubah."
"Mas! aku berubah karena kamu, aku cape jadi perempuan yang selalu terinjak-injak. Selama ini aku diam, aku mencoba bertahan berharap suatu hari keajaiban akan datang yang membuat kamu berubah tapi semua itu cuma angan-angan aku aja yang harus aku kubur dalam-dalam!" ucap Mawar dengan tubuh yang bergetar karena menahan emosinya.
Arka mendekati Mawar untuk memeluknya namun Mawar berteriak.
"Jangan deketin aku Mas!" teriaknya.
Arka pun menghentikan langkahnya. "Kita pulang ya kita selesaikan semuanya di rumah." Rayu Arka.
"Itu udah bukan rumah aku lagi Mas, aku udah pergi dan gak akan pernah kembali lagi ke rumah itu." Jawab Mawar.
"Terus sampai kapan Mawar? sampai kapan kamu menjauh dari aku, kita ini suami istri seharusnya kita gak berjauhan seperti ini." Ujar Arka.
"Aku pikir kamu ke sini menyesali semua perbuatan kamu, tapi ternyata kamu masih banyak menyangkal dan membela diri. Mendingan kamu pulang kamu jaga Sherly dan bayinya baik-baik." Tutur Mawar.
"Ternyata anak yang ada dalam kandungan Sherly itu anak Fras bukan anak aku, aku nyesel Mawar aku nyesel!" ucap Arka.
Mawar tidak terkejut sama sekali dengan apa yang Arka ucapkan baginya anak siapa pun yang ada dalam kandungan Sherly itu tidak penting sama sekali.
"Aku gak peduli anak siapa pun yang ada dalam kandungan Sherly yang aku tahu kamu tega membiarkan aku pergi demi mempertahankan perempuan itu. Sebegitu cintanya kamu sama dia sampai rela mengobrbankan istri dan anak kamu sendiri. Kamu pikir Mas, istri mana yang gak akan hancur dengan sikap suaminya yang seperti itu."
Arka melemas dan terduduk di lantai. "Aku bodoh! emang bener-bener bodoh!" ucapnya.
"Berbulan-bulan aku berusaha menyembuhkan mental aku yang down karena kamu, aku hampir aja gila karena menahan luka-luka itu. Apa peduli kamu Mas? sekarang dengan mudahnya kamu meminta aku pulang ke rumah itu lagi, rumah yang membuat aku down?" ucap Mawar.
__ADS_1
Arka diam dengan tatapan kosongnya, matanya memerah menahan tangisnya.