
Hari ini Mawar kembali ke rumah lamanya, ia merasa tidak enak jika harus menumpang terlalu lama padahal ia sendiri memiliki rumah yang layak.
Langit tidak bisa mengantarnya karena sibuk bekerja, namun rupanya Arka datang menjenguk mereka.
"Kamu pulang sama aku aja ya?" tanya Arka.
"Iya Mas,"
Setelah selesai membereskan semua barang mereka bertiga pulang menuju rumah Mawar.
Di perjalanan Mawar merasa canggung karena hanya bertiga dengan Arka dan Matteo.
Mawar berusaha bersikap biasa saja dengan mengajak Matteo mengobrol agar anak itu tidak rewel.
Bagaikan pasangan yang masih utuh seorang suami fokus menyetir sedangkan istri dan anaknya duduk di samping menemaninya.
"Kamu udah sarapan?" tanya Arka.
Mawar melirik Arka sekilas. "Belum," jawab Mawar.
"Nanti mampir dulu ya buat makan, gapapa kan?" ujar Arka.
"Aku makan di rumah aja kayanya Mas,"
__ADS_1
"Keburu lambungnya sakit kalo harus belanja dulu terus masak dulu mendingan sekarang aja," ujar Arka.
Mawar tersenyum tipis. "Ya udah iya," ujarnya.
Setelah mencari tempat makan yang terlihat nyaman akhirnya Arka menemukan sebuah resto yang tempatnya nyaman untuk mawa bayi.
Arka memarkirkan mobilnya, setelah selesai ia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Mawar.
"Gak perlu repot Mas, aku bisa sendiri," ujar Mawar.
"Gapapa, sini Matteo biar Papa yang gendong," ujar Arka sambil memangku Matteo.
Mawar tertegun entah kenapa sikap mantan suaminya itu membuat hatinya sedikit mencair, andai saja dulu perlakuannya seperti ini tidak mungkin rumah tangga mereka berantakan seperti sekarang.
Setelah memesan makanan mereka berdua tampak makan tanpa adanya obrolan, sementara itu Matteo tiduran di stroller.
"Anteng ya dia," ujar Arka mencairkan suasa.
Mawar tersenyum. "Iya,"
Arka menatap Mawar yang sedang lahap makan, ia melihat ada sedikit noda di bibir Mawar dengan sigap ia mengelapnya dengan jarinya.
"Maaf ada sisa makanan di bibir kamu," ujar Arka.
__ADS_1
Mawar menjadi salah tingkah dengan perlakuan manis Arka. "Makasih," katanya.
Setelah Rita meninggal dan Arka kembali pada perusahaan, kini perusahaan kembali membaik juga Frans kembali menjadi tangan kanannya. Tak ada yang Arka khawatirkan lagi kecuali satu, Mawar dan anaknya.
Arka takut Langit akan merebut mereka darinya, ia paham betul kesalahannya tapi sepertinya usaha dia kali ini akan lebih keras lagi agar bisa menjalin rumah tangga kembali dengan Mawar.
Arka tahu tatapan Mawar padanya tidak semanis dulu, matanya tak lagi memancarkan cinta padanya tapi ia tidak mau mundur begitu saja.
Terlalu banyak waktu yang ia buang hanya untuk sekedar menuruti nafsunya.
"Kalo suatu hari aku mau ajak Matteo ke rumah kamu jangan larang ya," tutur Arka.
"Selama kamu jagain dia aku pasti izinin," tutur Mawar lembut.
"Aku pasti bertanggungjawab atas Matteo, dia gak akan kekurangan apa pun begitu juga kamu kalo kamu butuh apa-apa bilang aja," ujar Arka. Tatapannya begitu tulus pada mantan istrinya itu.
"Iya Mas, makasih,"
"Atau toko kue kamu mau aku perluas?" ujar Arka.
"Enggak Mas gak perlu, itu udah lebih dari cukup kok buat memenuhi kebutuhan aku,"
'Sejak awal seharusnya aku sadar, Mawar wanita baik-baik dia tidak pernah sedikit pun mengincar harta keluarga Dewantara. Dia hanya ingin dicintai dengan tulus tapi ah sudah lah semuanya sudah terjadi.' Ujar Arka membatin.
__ADS_1