
Semenjak saat itu Langit tidak lagi menghubungi Mawar, begitu juga Mawar yang enggan memulai duluan namun tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya gelisah memikirkan keadaan Langit.
"Apa Langit semarah itu?" ujar Mawar.
Mawar melihat sosial media milik Langit yang selalu online, apa Langit mulai menjauh?
"Mawar kamu kenapa kok kaya gelisah gitu?" ujar seseorang.
"Kakak tumben dateng ke toko? Ada apa?" Mawar menyembunyikan ponselnya di sakunya.
"Gapapa kak, ayo duduk mau minum apa atau mau makan dessert?" tutur Mawar pada kakak satu-satunya itu.
"Gak usah, aku ke sini cuma mau bicara penting sama kamu,"
"Soal apa Kak?" tanya Mawar serius.
"Kita gak bisa ngobrolin semua di sini," tutur Mirna.
"Ya udah masuk ruangan aku aja," ujar Mawar.
***
"Sebenarnya ada apa Kak?" tanya Mawar ragu.
"Langit mau nikah Mawar," ujar Mirna.
Mawar terdiam sejenak lalu menarik nafas dengan tenang. "Kakak cuma mau ngomongin ini sama aku?"
"Kamu serius gapapa? Dia selama ini deket sama kamu loh," Mirna tak percaya dengan ekspresi yang Mawar tunjukkan.
__ADS_1
"Kita kan cuma temenan, kalo dia mau nikah bagus lah berarti dia bakalan punya kehidupan baru. Kasihan selama ini dia ngurusin aku terus Kak," ujar Mawar.
"Tapi kakak pikir kamu udah mulai membuka hati buat dia, kamu serius gapapa? Kamu baik-baik aja kan?" Mirna memastikan.
"Aku gapapa Kak serius, aku malah ikut bahagia kalo Langit menikah," tutur Mawar.
"Padahal selama ini kakak dukung banget hubungan kalian, tapi terserah kamu aja kamu yang berhak menentukan kehidupan kamu. Apalagi kamu punya trauma yang cukup berat di masalalu," ujar Mirna mengelus pundak Mawar.
Mawar hanya tersenyum tipis.
"Kalo gitu kakak pulang dulu ya," tutur Mirna.
"Yaudah kakak hati-hati,"
Setelah Mirna keluar hati Mawar menjadi kebingungan mendapati informasi itu. Ada sedikit kaget, tidak menyangka dan sedikit sesak.
"Enggak, aku gapapa. Langit berhak bahagia," tutur Mawar berusaha menenangkan dirinya.
"Hai Mawar, aku boleh bawa Matteo jalan gak sebentar aja kok," tutur Arka.
Mawar melihat sekilas anak semata wayangnya yang sedang tidur itu. "Hm, boleh Mas jemput aja Matteo di toko sama aku,"
"Kamu gak mau sekalian jalan?" tanya Arka di seberang sana.
"Aku masih ada kerjaan, nanti nyusul aja deh kamu duluan aja sama Matteo," tutue Mawar lembut.
"Yaudah aku tutup teleponnya bentar lagi aku jemput dia,"
***
__ADS_1
Tidak sampai satu jam akhirnya Arka datang, kebetulan Matteo sudah terbangun dari tidurnya.
Arka menghampiri Mawar yang sedang memomong anaknya itu. "Baru bangun tidur ya Sayang?" ujar Arka pada Matteo.
"Iya Papa, aku baru bangun," jawab Mawar dengan suara mirip anak kecil.
"Kamu yakin gak mau ikut?" tanya Arka menatap Mawar. Mata mereka bertemu seketika Mawar memalingkan wajahnya.
"Iya nanti aku nyusul takutnya Matteo nangis," ujar Mawar.
'Astaga kamu makin cantik Mawar.' Ujar Arka membatin.
"Gak akan nangis ya kan sama Papa," tutur Arka.
"Jangan jauh-jauh ya Mas, soalnya aku males nyusulnya kalo jauh," pungkas Mawar.
"Gak akan jauh cuma di Mall deket sini kok, nanti aku sharelok ya," tutur Arka.
Mawar hanya tersenyum tipis sebenarnya ia sedikit khawatir Arka membawa Matteo pergi tapi mau bagaimana pun juga Arka adalah ayahnya tidak mungkin dia mencelakai Matteo.
*****
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Mawar hendak menyusul Matteo. Ia membuka sharelok yang Arka berikan padanya.
Mawar melajukan mobilnya menuju Mall terbesar di kota itu. Tak sampai 20 menit ia sampai.
Sebelum turun ia melihat Langit bersama seorang perempuan baru masuk ke dalam Mall.
"Langit sama siapa ya?" ujar Mawar segera turun.
__ADS_1
Mawar berjalan menuju Langit namun seketika logikanya menghentikan langkahnya. "Gak usah ganggu gak usah kepo!" ujarnya pada diri sendiri.