
Mawar kembali dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami pendarahan hebat. Usia kandungannya baru saja menginjak 6 bulan rasanya sulit sekali selamat dari keadaan sekarang.
Mawar berteriak kesakitan, darah mengalir semakin deras perutnya seperti diperas. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Mirna dan Langit begitu cemas dengan keadaannya saat ini, dokter mengatakan harus segera mengambil janin yang ada dalam kandungan Mawar karena jika tidak Mawar akan kehilangan nyawanya.
Dalam sekejap kejadian buruk itu bisa menimpa Mawar dan kedua anaknya, semua itu ulah suaminya sendiri.
Mirna menangis histeris entah apa yang harus ia jawab pada dokter itu, ia tak mau melihat adik satu-satunya pergi namun ia tahu betul Mawar akan semakin hancur ketika tahu anaknya tidak selamat dua-duanya.
"Dok, apa anak adik saya bisa selamat diusianya yang masih 6 bulan?" tanya Mirna sambil terisak.
"Saya tidak bisa menjamin apa-apa Bu, terlebih pasien memiliki bayi kembar," ucap dokter.
Hancur sehancur-hancurnya hati seorang kakak melihat adiknya terus menderita. "Lakukan yang terbaik saja Dok, saya percaya," tutur Mirna.
Sementara itu Langit ikut masuk ke ruang operasi bersama dokter lainnya.
Mirna menunggu diluar sendirian, ia segera menghubungi suami dan anak-anaknya agar segera datang ke rumah sakit menemaninya karena rasanya ia tidak sanggup menahan beban sendirian.
Tak lama Arya suaminya datang dan langsung memeluknya. "Gimana kondisi Mawar saat ini sayang apa dia baik-baik aja?" tanya Arya.
"Mawar lagi di ruang operasi Mas," jawab Mirna.
"Kamu yang sabar ya, kita doakan Mawar baik-baik aja." Ucap Arya.
"Anak-anak sama siapa Mas di rumah?" tanya Mirna.
__ADS_1
"Sama Omanya, tadi aku suruh Mama dateng ke rumah," jawan Arya.
**
Setelah hampir 1 jam dokter pun keluar.
"Gimana Dok? Apa adik saya selamat dan gimana keadaan anak-anaknya?" tanya Mirna.
Dokter menarik nafasnya berat. "Dengan berat hati saya harus mengatakan salah satu anak pasien meninggal dunia Bu, karena berat badannya hanya 660 gram sedangkan yang satu lagi kritis dan harus segera di inkubator," jelas dokter.
Seketika badan Mirna melemas dan bersandar dibahu suaminya. "Lakukan yang terbaik untuk adik saya Dok, berapa pun akan saya bayar," tegas Arya.
"Baik Pak, Bu kalau begitu saya permisi," ucap dokter.
Mirna tak henti-hentinya menangis meratapi nasib adiknya yang malang itu.
Sesampainya di sana, tak lama Mawar tersadar. Sambil merintih kesakitan meraba perutnya yang terasa kosong dan rata.
"Kak, anak-anak aku di mana kak?" lirih Mawar.
Mirna mendekati adiknya itu lalu menghapus air matanya. "Ada kok, anak kamu lagi di inkubator soalnya berat badannya kurang, kamu yang kuat ya sayang," ucap Mirna.
Mawar menghela nafas dengan lega. "Alhamdulilah ya kak, meskipun belum waktunya lahir mereka baik-baik aja," tutur Mawar lega.
"Iya kan mereka hebat kaya kamu," tutur Mirna.
Tak lama Langit pun masuk dan meminta Mirna untuk keluar sebentar.
__ADS_1
"Mawar sebentar ya kakak keluar dulu," ucap Mirna lalu mengikuti langkah Langit.
"Jenazah bayi Mawar mau dimakamkan di mana kak? Mau dibawa pulang atau diurus pihak rumah sakit?" tanya Langit.
Air mata Mirna kembali turun, sesak rasanya mendengar semua itu. "Dibawa pulang aja, biar kakak sama Mas Arya yang urus tapi kamu jangan bilang sama Mawar ya soal ini," tutur Mirna.
"Iya kak, tenang aja, Kak Mirna yang tabah ya kakak harus kuat demi Mawar," tutur Langit.
"Kamu temenin Mawar dulu ya kakak mau pulang mau urus jenazah anak Mawar,"
"Iya kak, tenang aja Mawar aman kok sama aku," ucap Langit."
Mirna masuk kembali ke ruangan dan berpamitan pada Mawar.
"Mawar sayang, kamu di sini sama Langit dulu ya kakak mau pulang dulu soalnya anak-anak pada nangis ditinggal terus dari kemarin kami gapapa kan sendirian?" tanya Mirna.
"Gapapa kok, makasih ya kak udah selalu ada buat aku dan Mas Arya makasih juga maaf udah ngerepotin kalian," ujar Mawar lemas.
"Kamu juga adik saya Mawar, gak usah sungkan," ucap Arya.
"Ada Langit kok kamu gak sendirian, kalo butuh apa-apa bilang ke dia aja ya," ucap Mirna.
"Iya kak, hati-hati di jalan," lirih Mawar.
Mirna dan Arya pergi meninggalkan Mawar diruangannya. Sementara itu Mawar terbaring lemas diranjang rumah sakit, Langit juga tidak bisa menemaninya setiap saat karena masih jam kerja.
..
__ADS_1